NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Kabar buruk.

Semenjak Darren dan Zinnia menjadi lebih dekat, Sejak itu juga sakit kepala yang Darren derita jarang sekali kambuh. Namun, Suatu malam, Darren baru saja selesai bekerja, entah karna terlalu stress dengan pekerjaannya atau bagaimana, tiba-tiba saja dirinya merasakan sakit kepala yang begitu hebat.

Kala itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, Dengan kekuatan yang tersisa, Darren nekat menyetir mobilnya menuju rumah kediaman Zinnia. Mencoba menahan semua rasa sakit di kepalanya. Untung nya jarak rumah mereka tak begitu jauh, hanya memerlukan sekitar 15 menit saja. Begitu ia sampai di gerbang rumah gadis itu, ia segera menelpon Zinnia, berharap jika gadis itu segera mengangkat.

Zinnia kala itu sebenarnya sudah tidur, hanya saja dia terbangun karna haus. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia melihat nama Darren di layar Ponselnya, jantungnya langsung berdebar kencang. Takut terjadi sesuatu pada cowok tersebut. Karna Darren memang jarang sekali menelpon tengah malam, jika bukan karna sesuatu yang mendesak. Dengan segera dia mengangkat telpon itu.

" Halo? Darren kenapa? " tanyanya cemas.

Suara parau dan berat terdengar dari seberang.

" Ziin... nia.. sakitnya kambuh... Sekarang... aku sudah berada di depan rumahmu... "

Belum sempat Zinnia jawab apapun, Darren mematikan telepon. Gadis itu langsung panik setengah mati, dia langsung berlari ke arah luar rumahnya. Dengan hanya memakai baju tidur panjang dan selimut tipis di bahu, tak peduli angin malam yang dingin menusuk tulang.

Begitu membuka pagar, matanya langsung menangkap sosok Darren yang berdiri bersandar di dekat mobilnya. Tubuhnya sempoyongan, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh dahi dan pelipisnya, kedua tangannya memegang kepala erat-erat seolah mau memecahkannya sendiri, dia terlihat tak berdaya, jauh berbeda dari sosok yang percaya diri dan keras kepala yang Zinnia kenal.

" DARREN!! "

Zinnia langsung berlari mendekat, memeluk erat pinggang dan bahu lelaki itu, menopang tubuhnya yang hampir jatuh. Wajahnya penuh kekhawatiran.

" Mau aku siapkan teh hangat gak? Atau ambil obat? " tanyanya cepat dan panik.

Darren langsung membalas pelukan itu erat sekali, membenamkan wajahnya di leher Zinnia, napasnya terengah-engah.

" Tak perlu, aku hanya butuh kamu. tetaplah disini beberapa saat. "

" Kamu yakin? Nanti makin parah lho sakitnya. Kamu sudah minum obat pereda nyeri belum? "

" Aku yakin. "

Dia mulai menghirup dalam-dalam aroma khas bunga mawar yang selalu menempel di tubuh Zinnia, aroma yang jadi satu-satunya penawar, satu-satunya ketenangan di tengah rasa sakit yang menyiksa itu. Dan benar saja, perlahan tapi pasti, ketegangan di tubuhnya hilang, rasa nyeri yang berdenyut makin redup, napasnya jadi teratur kembali, otot-ototnya yang kaku perlahan rileks sempurna. Aneh tapi nyata, cuma dengan memeluk gadis ini saja semua penderitaannya lenyap begitu saja.

Setelah merasa jauh lebih baik, Darren mengangkat wajahnya, tangannya terangkat mulai membelai lembut helaian rambut Zinnia yang sedikit berantakan karena tadi lari tergesa-gesa. Senyum tipis terukir di bibirnya meski wajahnya masih terlihat lelah.

" Maaf ya... aku malah ngerepotin kamu tengah malam begini... ganggu tidur nyenyak kamu... " ucapnya pelan, penuh rasa bersalah.

Zinnia menggeleng cepat, tangannya mengusap pelan pipi Darren.

" Gak sama sekali, lagian aku baru saja terbangun karna haus. Yaudah, kita kedalam dulu, disini dingin. "

Dia lalu menarik tangan Darren membawanya masuk ke dalam rumah, Agak susah payah, karna sakit kepala Darren masih belum sepenuhnya hilang. Zinnia kemudian membantunya duduk dengan nyaman di atas sofa ruang tamu.

" Mau teh hangat gak? Biar makin enak badannya? " tawarnya lagi.

Darren menggeleng, matanya menyipit nakal seperti biasa.

" Gak mau... aku maunya kopi tanpa gula. "

" Ngaco kamu !! Jangan minta kopi, Nanti kalau minum kopi kamu malah makin melek terus ujungnya gak bisa tidur lagi. " protes Zinnia.

" Ya juga sih... " jawab Darren santai seolah baru sadar, membuat Zinnia mendengus kesal.

" Ih... kamu lagi sakit begini aja masih aja bercanda ya?" ucap Zinnia sambil mencubit dan menarik pipi Darren agak keras, tapi matanya tetap penuh perhatian.

Darren tertawa kecil menahan sakit cubitan.

" Eh siapa bilang aku bercanda? Orang yang aku pikirin emang cuman kopi kok, serius aku. "

" Hah yaudah terserah kamu aja deh! " Zinnia memutar bola matanya malas.

" Aku buatin teh chamomile aja ya, biar kamu makin rileks dan cepet tidur. Duduk sini jangan kemana-mana. "

" Nanti aja... kepalaku masih sedikit sakit, masih pengen kamu manja sedikit lagi... " rayu Darren manja, tangannya menarik tangan Zinnia supaya tetap duduk di sampingnya.

" DARREN!! Udah deh gak usah manja berlebihan! Aku buatin teh dulu ya... lagian buatnya bakalan agak repot buat aku... " jawab Zinnia sambil melepaskan tangannya, dia langsung berdiri mau pergi ke dapur.

" Bikin teh kan gampang, Apanya yang susah?.. " gumam Darren heran.

" Gak buat aku... " jawab Zinnia pendek sambil melangkah pergi.

" Aku pasti gemetar bikinnya... "

Darren terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum geli.

" Yaudah bikinin sanaaa... " katanya membiarkan Zinnia pergi.

Zinnia masuk ke dapur, dan Darren penasaran, akhirnya mulai beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengikuti dari belakang, bersandar di kusen pintu sambil mengawasi dari jauh. Dia baru ingat, gadis di depannya ini adalah putri emas manja yang dari lahir sampai besar segala kebutuhannya diurus orang, jarang sekali pegang peralatan dapur, apalagi bikin minuman sendiri.

Yang seharusnya hal simpel dan cepat selesai, di tangan Zinnia jadi kacau balau.

Menuangkan gula saja, dia pegang sendoknya gemetar, sampai butiran gulanya tumpah kemana-mana di atas meja dan di luar gelas, dan yang masuk malah kebanyakan. Lalu saat menuangkan air panas, tangannya goyang-goyang, cipratan airnya kemana-mana, kena meja, tapi beruntung tak sampai kena kulitnya sendiri, Dan gelasnya hampir terjatuh kalau saja dia tidak cepat-cepat memegangnya.

Melihat tingkah laku Zinnia itu, Darren akhirnya tak bisa menahan lagi.

HAHHAHAHAHAHA!!!

Dia tertawa ngakak sampai bahunya berguncang-guncang, sampai air matanya mau keluar, sampai dia lupa kalau tadi kepalanya sakit parah, sekarang justru hilang entah kemana.

Zinnia menoleh tajam, pipinya mengembung kesal.

" KENAPA MALAH KETAWA SIH!!! "

" Gimana gak ketawa, kamu lucu banget... " jawab Darren masih menahan tawa.

" Udah gak usah ketawa kamu. aku kesusahan nih. Mendingan kamu diem aja. "

" Ok Fine. I Try.. "

Beberapa menit kemudian, Zinnia akhirnya datang membawa segelas teh, disodorkan ke Darren dengan wajah cemberut.

" Nih udah selesai, coba kamu minum, Soal rasa gak usah di pikir lah, lagian aku udah coba yang terbaik. "

Darren menerimanya dengan senyum jahil, lalu menyesapnya sedikit.

BLEHHHH!!

Dia hampir saja muntahkannya keluar, matanya membelalak kaget, rasanya manisnya sampai ke tenggorokan, sampai ke otak, seperti meminum sirup gula murni, bahkan lebih manis dari itu.

" Astaga Zinnia... ini manis bangettttt... kayak orang yang buatnya... Manisnya sampe ke ubun-ubun tau gak. " ucap Darren jujur terus terang, tapi nadanya bercanda.

Mendengar itu, wajah Zinnia langsung turun drastis, dia membuang muka dan bergumam pelan.

" Ya, Aku emang gak becus sih bikinnya, apapun kayaknya aku gak bisa !! "

Melihat gadisnya langsung murung, Darren cepat-cepat menarik tangannya.

" Eh eh jangan ngambek dongggg!! Aku barusan muji kamu tau gak!! "

" Iyaaa... " jawab Zinnia masih mendengus, tapi pipinya mulai memerah.

Darren tersenyum puas, lalu menggenggam erat tangan gadis itu, suaranya perlahan berubah jadi serius, wajahnya yang tadinya ceria mulai redup, ada kesedihan mendalam yang mulai muncul di matanya.

" Besok temenin aku yah... "

Zinnia mengerutkan keningnya.

" Kemana? "

Darren menelan ludah, matanya menatap lurus ke mata Zinnia, napasnya dihembuskan panjang sekali seolah berat banget mengucapkan kata-kata itu.

" Zinnia... Ibunya Rion meninggal.. " Jelas Darren dengan nada pelan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!