"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Menaklukkan Langit Eropa
Malam berikutnya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta saksi bisu atas kemewahan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Di terminal jet pribadi, sebuah pesawat Boeing 787 Dreamliner yang telah dimodifikasi total menjadi istana terbang sedang menunggu. Badan pesawat itu dicat hitam dop dengan garis-garis emas yang membentuk inisial "A"—lambang baru kekuasaan Andra.
Andra melangkah di atas karpet merah yang dibentangkan dari limosin antipelurunya menuju tangga pesawat. Di belakangnya, 'Sang Jagal' memimpin dua belas pengawal elit yang kini mengenakan seragam taktis canggih yang disamarkan di balik setelan jas Italia.
"Tuan, rute penerbangan sudah dibersihkan. Kita akan mendarat di Zurich dalam tiga belas jam," lapor Sang Jagal sambil memberikan penghormatan.
Andra mengangguk singkat. Begitu masuk ke dalam pesawat, ia tidak disambut oleh kursi penumpang biasa, melainkan ruang tamu luas dengan lantai marmer ringan dan dinding yang dilapisi layar OLED transparan yang menampilkan pemandangan luar angkasa. Di tengah ruangan, terdapat meja kerja dari kayu jati kuno yang harganya bisa memberi makan satu desa selama setahun.
[Status Level 5: Aktif] [Pendapatan Selama Penerbangan: Rp 500.000 / Detik] [Estimasi Saldo Saat Mendarat: +Rp 23.400.000.000]
"Hanya dengan duduk diam di pesawat, aku menjadi lebih kaya daripada kebanyakan pengusaha sukses di negeri ini," gumam Andra sambil menyesap wine vintage tahun 1945 yang disediakan oleh pramugari pribadinya.
Namun, ketenangan itu terusik saat layar hologram di depannya menyala secara otomatis. Muncul wajah seorang pria paruh baya dengan aksen Inggris yang kental. Ia adalah Sir Alistair, salah satu petinggi The Sovereign Club.
"Tuan Andra," ucap Alistair dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Anda membawa cukup banyak 'peluru' untuk menghancurkan Blackwood. Tapi di Swiss nanti, kami tidak bermain dengan uang tunai. Kami bermain dengan sejarah dan pengaruh. Apakah Anda yakin tidak akan tersesat di antara para raja dan pemilik bank dunia?"
Andra meletakkan gelasnya, menatap layar itu dengan tatapan dingin yang membuat Alistair sedikit tersentak. "Sir Alistair, sejarah ditulis oleh pemenang. Dan pengaruh bisa dibeli jika harganya tepat. Jika klub kalian merasa terancam dengan kehadiranku, mungkin itu karena kalian tahu bahwa masa kejayaan kalian sudah hampir habis."
"Kita lihat saja nanti di meja makan malam, Tuan Andra," balas Alistair sebelum memutus sambungan.
Andra menyandarkan tubuhnya di kursi pijat otomatis. "Sistem, siapkan protokol 'Akuisisi Global'. Jika mereka mencoba mengintimidasi aku dengan sejarah mereka, aku akan membeli sejarah mereka."
[Ding! Perintah Diterima!] [Memulai Analisis Aset Anggota The Sovereign Club...] [Saran Sistem: Beli 30% saham Bank Sentral Swasta di Eropa untuk mendapatkan kursi suara permanen.]
"Lakukan," perintah Andra pendek.
Selama penerbangan di atas ketinggian 40.000 kaki, jemari Andra bergerak lincah di atas layar hologram, memindahkan triliunan rupiah seperti sedang bermain catur. Di bawah sana, dunia tidak sadar bahwa seorang pemuda dari Indonesia sedang mengatur ulang peta kekuasaan finansial dunia.
Saat matahari terbit di atas pegunungan Alpen yang tertutup salju, jet pribadi Andra mulai menurunkan ketinggian. Di kejauhan, sebuah kastil kuno yang megah tampak berdiri kokoh di puncak tebing—tempat pertemuan The Sovereign Club.
"Tuan, kita hampir sampai," ucap Sang Jagal.
Andra berdiri, merapikan dasinya di depan cermin emas. "Bagus. Mari kita tunjukkan pada para 'raja' itu, bagaimana rasanya melihat matahari baru terbit."