Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Preman Cari Mati
Pagi harinya, Alvian bangun seperti biasa. Tapi tidak langsung ke dapur, dia naik ke lantai dua, mengetuk pintu kamar Clarissa. Membangunkannya.
Ini pertama kali Alvian melakukannya. Meskipun beberapa waktu terakhir dia yang merawat istrinya, tetapi itu dalam keadaan khusus. Sedangkan sekarang, lakban sudah dilepas. Tidak ada yang harus dikhawatirkan ketika menaiki anak tangga.
Cklek.. .
Pintu terbuka, wajah polos istrinya tampak di depan mata. Cantik paripurna.
"Pagi, istri."
Alvian tersenyum lebar, menyambut dengan antusias. Namun Clarissa malah terkejut karena tak menyangka yang membangunkannya adalah Alvian.
"Kamu- ... Kenapa kamu?"
"Hehe.. Kan lakbannya sudah dilepas. Jadi tugas bangunkan istri tidak perlu Bi Irah lagi yang lakukan. Aku akan mengambil alih."
Clarissa spontan menatap ke bawah tangga. Dia mengingat kemarin malam, saat pulang dari rumah sakit. Entah apa yang dia pikirkan sampai melepas lakban pembatas itu. Apakah sudah terlambat untuk memasangnya kembali? Pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya.
Sementara Alvian, dia sudah turun ke dapur sambil bersenandung. Dia mulai masak, sementara Clarissa memperhatikannya dari atas.
"Istri, mau sarapan apa?"
Clarissa diam melamun. Memangku dagu di pagar pembatas, masih memandang ke dapur. Sampai suara Alvian bertanya kedua kalinya, baru Clarissa tersadar dan segera berbalik ke kamar sambil berkata, "Terserah".
"..."
Alvian selesai mencincang bawang. Dia mendongak ke belakang dengan ekspresinya yang sulit di kendalikan. Tersenyum, menyeringai dalam.
___
Jam delapan pagi, Alvian baru sampai di klinik. Mbak Sari sudah berdiri di depan pagar, muka terlihat panik, melambaikan tangan meminta cepat-cepat.
"Ada apa Mbak?"
Mbak Sari tak bisa tenang. Dia terus melihat ke dalam klinik sambil menunggu Alvian memarkirkan motornya.
"Tolongin, Dok... dibacok... katanya rampok."
Alvian melepas helm bogo tanpa kaca miliknya, turun, lalu ikut dengan Mbak Sari masuk ke dalam klinik. Di sana sudah ada seorang pria berusia empat puluhan, di atas bed, rebahan.
"Lidocaine, Mbak. Ini perlu dijahit."
Mbak Sari menyiapkan lidocaine seperti yang dibilang dan memberikannya kepada Alvian. Tanpa menunggu lama Alvian menyuntikkan lidocaine tersebut dan mulai membersihkan luka sebelum menjahit nya.
Sekitar 15 menit jahitan selesai. Rapi. Hampir tidak ada jejak.
"Sudah, Pak. Dua minggu ini jangan angkat berat-berat ya. Ini antibiotik. Jangan kena air dulu."
Sopir angkot bernama Deni itu mengangguk. "Makasih, Dok. Saya... nggak bisa bayar sekarang, Dok. Boleh ngutang dulu?"
Alvian melirik dompet Deni yang kosong. Kaos sobek seperti benar-benar dirampok. "Bayar kalo sudah sehat aja Pak. Angkotnya tarik lagi. Jangan gunakan uangnya buat judi."
Deni diam. Matanya mulai berkaca-kaca. "Makasih, Dok. Dokter... Baik banget."
BRAK!
Pintu klinik dibuka dengan tendangan.
3 orang, bertato, muka keras dan bau rokok. Yang depan bawa buku, buku bond.
"Di mana Deni?! Dia sembunyi di sini, kan? Keluar kau Deni!!"
Mbak Sari mundur, lalu berbisik: "Dok..."
Sedangkan Deni yang baru bangun langsung pucat. Dia buru-buru keluar dari dalam tirai. "Bang Diki... ampun, Bang. Ini baru..."
Dua dari tiga preman itu langsung menangkap kerah baju Deni. Menyeretnya. "Mana uangnya?! Katanya mau bayar hari ini, tapi di tunggu tidak datang-datang. Kau pikir kamu tidak punya urusan lain? Cepat bayar! Lima juta!"
Deni beringsut. Uang yang disiapkan untuk bayar utang baru saja di rampok. Itulah alasan kenapa dirinya terluka. Namun, Deni tahu jika ketiga preman itu tidak akan mau tahu urusannya.
"Bentar ya Bang. Bagaimana jika besok? Hari ini uangnya... Tidak ada."
Mata Bang Diki melotot. Cengkraman tangannya ke kerah Deni semakin kuat. "Apa katamu? Tidak ada? Tidak ada uang bagaimana mungkin kau bisa datang ke sini? Berobat?"
Saat itu Alvian di balik tirai mulai merasa kesal dengan keributan yang terjadi di kliniknya. Dia keluar sambil melepas sarung tangan, dan membuangnya ke tong sampah.
"Ini klinik. Tolong jangan buat keributan di sini."
Bang Diki nyolot. "Lah, bacot! Dokter kampung jangan sok ikut campur. Ini urusan antara aku dan orang ini," sambil tunjuk Deni.
"Katakan. Apa kau berikan uangmu itu untuk berobat?" Bang Diki membentak Deni. Sekalipun Deni bilang tidak memberikannya, Bang Diki tidak percaya. Dia malah menatap Alvian, menodongkan tangan, meminta uang.
"Berikan! Berikan uang yang digunakan orang ini untuk berobat."
Alvian menatap dia detik, aura Hades-nya keluar untuk waktu yang singkat. "Kalian tidak mengerti bahasa manusia ya. Dia bilang tidak, itu artinya menang tidak. Pergi dari sini, atau ...."
"..."
Udara dingin berhembus. Bang Diki tidak tahu bagaimana dirinya tiba-tiba merasa ngeri dengan sosok dokter kampung di hadapannya. Tubuhnya yang kekar penuh otot seperti melebur. Merasa lemas untuk waktu yang singkat.
"I-ini.. Tidak mungkin... "
Tepat bersama dengan itu rombongan pasien datang. Klinik langsung sesak dengan beberapa orang. Sedangkan Bang Diki dan dua anak buahnya melihat situasi tersebut merasa tidak bisa terus berada di sana.
"Sial! Kalian... Kalian berdua akan terima akibatnya! Tunggu saja!!"
Keluar. Motor gebar-geber.
"Maaf, Dok... gara-gara saya..." Deni meringis.
"Tak apa. Pulang saja lewat belakang," ucap Alvian sambil memberikan perban cadangan. "Besok jangan lupa kontrol. Tak perlu bayar. Gratis."
Deni menggaruk kepala sungkan, tapi tetap mengangguk. "Terima kasih, Dok. Dokter sungguh sangat baik."
---
Jam sembilan malam. Alvian sudah tutup klinik, pulang naik motornya. Dia melihat lampu di ujung gang mati tiba-tiba. Namun berpikir itu hanya kebetulan ada kabel yang putus. Sampai dua motor datang dan berhenti di depannya, membuatnya menyadari jika situasi tersebut bukanlah kebetulan.
Dua motor cross menutup jalan di depan. Sedangkan satu motor lagi muncul dari belakang.
Bang Diki turun sambil bawa golok. 2 lagi bawa kayu.
"Pagi tadi sombong ya, Dok? Sekarang, tidak sombong lagi?" Satu tertawa, yang lain ikut tertawa.
Alvian matikan motor, menurunkan standar dua. Dia memasukkan tangan ke jaket, meraih sesuatu yang tersimpan di sana.
"Cari apa, Dok? Cari suntik?" tanya Bang Diki
Alvian menatap mereka. "Mumpung sekarang masih ada waktu, kalian bisa pergi sekarang."
Tiga preman saling pandang, kemudian tertawa.
Alvian yang sudah baik mengingatkan hanya mengedikkan bahu. "Nanti, jangan bilang aku tidak memperingatkan kalian."
"Bacot!" Bang Diki yang bawa golok langsung maju sambil mengayun ke kepala.
SRET!
Alvian sedikit menunduk, menghindari golok tersebut. Dengan respon yang cepat, dia menarik tangannya dari dalam jaket, mengeluarkan scalpel ukuran 10. Dia berkelit begitu cepat, menangkap tangan pria itu, lalu menggunakan scalpel untuk menggores sarafnya.
Plexus brachialis, C5-C6. Jaringan saraf yang berfungsi mengatur motorik, sensorik bahu, lengan dan tangan. Satu goresan, langsung menyebabkan kelumpuhan, nyeri, dan mati rasa
Bang Diki menjerit. Golok di tangannya tiba-tiba terlepas. Jatuh, "klontang".
"Tangan... Tanganku gak bisa gerak!"
Dua preman lain menatap Bang Diki sejenak, kemudian maju menyerang Alvian. Namun, dengan teknik dasar yang buruk, mereka bahkan tidak bisa mengayunkan kayu dengan benar.
Alvian sangat mudah menghindarinya. Berjongkok, melempar scalpel ke tangan kiri, menusuknya bagian paha.
Satu terjatuh, sisa satu. Namun karena sudah terlalu takut, dia hanya mematung saat Alvian berdiri di hadapannya. Matanya terbalik, langsung pingsan.
"..."
Alvian mengelap scalpel dan menyimpannya di jaket. Dia berjalan menghampiri Bang Diki yang masih meringkuk di tanah sambil memegangi tangannya, kesakitan.
"Kan sudah aku bilang. Kalian sih, keras kepala."
Bang Diki meneguk ludah. Matanya terus berkedut. "A-ampun... Dok... Janji gak berani lagi. Ampun ...."
Alvian menghembuskan nafas, melangkahi Bang Diki, berjalan ke motor beat karbu miliknya.
"Untung ini sudah malam. Istri pasti sudah pulang. Jika tidak... kalian ...."
"Ampun, Dok. Benar. Nggak berani lagi."
"..."
---
Baru keluar dari gang, Alvian langsung berhenti saat berpapasan dengan mobil Clarissa.
"Tunggu, berhenti!"
Clarissa langsung turun. Terlihat jelas khawatir di wajahnya. "Mbak Sari bilang kamu dicegat preman di gang ini. Kebetulan aku ada di dekat sini, jadi langsung datang."
Clarissa celingukan. "Mana premannya? Kamu baik-baik saja?"
Alvian hanya diam saat Clarissa mulai memeriksa setiap bagian tubuhnya. "Mana yang luka?"
Namun Alvian tak bicara yang membuat Clarissa menatapnya. "Kenapa kamu malah senyum-senyum tidak jelas?!" kesal Clarissa.
Alvian masih diam. "Istri... Kamu khawatir?"
Pertanyaan itu membuat Clarissa terdiam. Matanya menyipit, lalu menarik tangannya kasar, menjauh dari Alvian. "Jangan berpikir macam-macam. Aku... Aku hanya... Hanya khawatir jika kamu terluka klinik akan tutup. Kasihan warga yang mau berobat. Itu saja."
Tanpa menunggu jawaban, Clarissa berbalik badan. "Sudah. Aku mau pulang."
Dia langsung naik ke mobil, menutup pintu agak keras, langsung tancap gas tanpa menoleh ke belakang. Lampu mobilnya kemudian menghilang di tikungan.
Alvian masih di sana menatap ke arah perginya Clarissa. Dia menyalakan motor, menyusul pelan dari belakang.
"Khawatir klinik tutup ya... Alasan yang bagus."