NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 PURNAMA TEBUSAN

TUNG .... TUNG!!!

Kenong dari Desa Larangan pecah langit.

Bersamaan itu, gue nusuk.

JLEB!

Taring Asu Kober nancep. Tepat di tanda lonceng. Di atas jantung Sinta.

Tidak ada darah.

Yg keluar dari dada Sinta... cahaya. Cahaya putih. Terang banget. Kayak lampu sorot 1000 watt.

“Aaaa...” Sinta mendesah. Tidak sakit. Kayak... lega.

Mata merahnya... padam. Ganti jadi mata normal. Coklat. Mata Sinta.

Dari lubang tusukan, asep keluar. Asep item. Bentuknya muka. Muka Lestari. Muka Mbak Dewi. Muka Ardi. Teriak bareng. Melengking.

Terus asep itu kesedot. Masuk ke taring.

Taring itu nyala merah. Panas. Tanganku kayak kebakar. Tapi gue tahan.

Sinta senyum. “Makasih, Min... utange... lunas...”

Terus... bruk.

Sinta jatuh ke belakang. Matanya nutup. Napasnya... hilang.

“HENING.”

Rendi langsung ngecek nadi. Bayu ngecek napas. Dina udah teriak. Fajar beku.

“Ga ada...” bisik Rendi. “Nadinya... ga ada...”

Sinta mati.

Gue cabut taring itu. Berat banget. Ujungnya netes. Bukan darah. Netes cahaya. Kayak air.

Tetes. Tetes.

Pas netes ke tanah, tanahnya tumbuh bunga. Bunga melati. Mekar seketika. Putih. Wangi.

Paklik Joyo sujud. Nangis. “Rampung... kutukane... rampung...”

Tiba-tiba, angin kenceng. Obor 4 penjuru mati semua. Gelap.

Dari kegelapan, suara.

Suara Ardi. Tapi beda. Tidak berat lagi. Suara normal. Suara Ardi asli.

“...Makasih... sob... akhirnya... bebas...”

Cahaya biru muncul. Di depan kami. Bentuknya Ardi. Utuh. Senyum. Pake kaos KKN bersih. Tidak rombeng.

Dia ngelambai. Ke kami berlima. Terus ke Sinta.

“...Titip... maaf... ke keluarga gue...”

Lalu dia pecah. Jadi kunang-kunang biru. Terbang ke atas. Hilang.

Bersamaan itu, dari arah Desa Larangan, suara gamelan. Tapi bukan Lelo Ledung.

Lagu Jawa. Gending Kebo Giro. Gending kematian. Tapi nadanya... damai.

Paklik Joyo berdiri. “Mbak Dewi... Lestari... Kuncen pertama... mereka pulang. Gerbang... ditutup selamanya.”

Terus dia nunjuk ke Sinta.

“Lihat.”

Di dada Sinta, luka tusukan... hilang. Nutup. Mulus. Kayak tidak pernah ditusuk. Tanda loncengnya juga hilang.

Tapi... Sinta masih tidak napas.

“Terus Sinta?” tanya Dina nangis. “Katanya bisa lahir lagi?”

Paklik Joyo ngangkat badan Sinta. Dielus kepalanya.

“Bisa. Tapi... ora saiki. Nyawane... dititipke. Nang...”

Dia nunjuk ke taring Asu Kober di tanganku.

Taring itu sekarang tidak panas lagi. Dingin. Di gagangnya, muncul ukiran baru. Ukiran lonceng kecil.

“Nyawane Sinta... nang kene. Dadi wiji. 10 tahun meneh... bakal lahir. Golekana wong wedok seng lahir... pas purnama. Tanggale podo. Kuwi... Sinta.”

10 tahun. Tanggal hari ini. 22 April. Purnama.

Gue genggam taring itu kenceng. “Gue bakal jaga. Gue bakal cari.”

Langit yg gelap... kebuka. Bulan purnama nongol. Bulat sempurna. Terang. Tidak serem. Adem.

Tiba-tiba, HP kami berlima bunyi bareng.

Notifikasi kalender.

“Pengingat: Purnama. LUNAS.”

Angka merah 0.

Semua chat, DM, foto Ardi di HP kami... hilang. Bersih. Kayak tidak pernah ada.

Hutang lunas.

Paklik Joyo ngubur taring Asu Kober di bawah pohon kamboja depan rumahnya. “Ben aman. Ben kelakon.”

Kami berlima bawa pulang jenazah Sinta. Bukan buat dikubur. Buat... didoakan. Kremasi. Abunya disebar di pantai. Biar bebas.

Di pantai, pas abunya disebar, ada angin. Angin muter. Bentuknya kayak orang. Melambai. Terus hilang ke laut.

Rendi pegang pundak gue. “10 tahun lagi, Min. Kita cari bareng.”

Gue angguk.

Arc 2... selesai.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!