NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Dialog di Bawah Bayang-Bayang Sirap

​Lonceng tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi dengan nada sumbang, menggema menembus kabut sore yang mulai turun menyelimuti atap-atap gedung SMA Nusantara Lereng Marapi.

​Bagi murid-murid lain, suara itu adalah pembebasan. Mereka berhamburan keluar kelas, tertawa lepas, merencanakan tongkrongan sore di warung kopi depan balai desa, atau sekadar bergegas pulang menghindari rintik gerimis. Namun bagi Dara Kirana, suara lonceng itu terdengar seperti lonceng kematian yang menunda eksekusinya.

​Dara merapikan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan mekanis. Tangan kanannya masih sedikit gemetar jika ia tidak mengepalkannya kuat-kuat. Kulit di sekitar lehernya—titik di mana tangan Maya Bagaskara mencengkeram kerah jaketnya dengan kekuatan monster dan hawa panas yang menyengat—terasa kebas, meninggalkan memar kemerahan yang samar.

​"Ra, kamu beneran mau pulang sendiri?" Santi berdiri di ambang pintu kelas yang sudah setengah kosong, menatap Dara dengan raut wajah cemas. Gadis berambut ekor kuda itu sudah mengenakan jas hujan plastik berwarna kuning terang. "Jalanan ke arah rumah Kakek Danu itu sepi banget kalau sore. Mana gerimis lagi. Mending kuantar sampai pertigaan, ya?"

​Dara memaksakan sebuah senyum tipis, mengayunkan tas punggungnya ke bahu. "Nggak usah, San. Arah rumah kita kan berlawanan, nanti kamu malah kemalaman pulangnya. Aku bawa sepeda ontel Kakek, kok. Bisa cepat sampai."

​"Tapi... kejadian tadi siang..." Santi memelankan suaranya, melirik waspada ke ujung koridor seolah takut gerombolan Bagaskara akan tiba-tiba muncul dari balik tembok. "Kamu yakin nggak mau mampir ke rumahku dulu? Setidaknya sampai perasaanmu agak tenang. Wajahmu pucat banget, Ra. Kayak orang yang baru lihat hantu."

​Bukan hantu, batin Dara pedih. Hantu hanyalah roh penasaran yang tak bertubuh. Apa yang kulihat hari ini memiliki darah yang mendidih, otot yang bisa menghancurkan kayu jati, dan taring yang disembunyikan di balik senyum tampan.

​"Aku nggak apa-apa, San. Sungguh," Dara menepuk pelan bahu Santi. "Aku cuma kecapekan. Hari pertama sekolah selalu bikin stres, kan? Besok kita ketemu lagi di kelas."

​Setelah meyakinkan sahabat barunya itu, Dara berjalan menuju area parkir. Ia mengayuh sepeda ontel tua milik Kakek Danu membelah jalanan desa yang mulai sepi. Rintik gerimis yang dingin menerpa wajahnya seperti ribuan jarum es kecil, namun Dara tidak peduli. Rasa dingin di luar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai kebingungan yang berkecamuk di dalam kepalanya.

​Sepanjang perjalanan menanjak menuju rumah Kakek Danu, pepohonan pinus di kanan dan kiri jalan tampak seperti siluet raksasa yang saling berbisik. Setiap kali roda sepedanya melindas genangan air atau melibas ranting jatuh, insting Dara menjerit, memaksanya untuk menoleh ke arah hutan. Ia terus merasa diawasi.

​Peringatan Raka Bagaskara berputar-putar di benaknya bagaikan kaset rusak.

​Keberadaanmu saja sudah menjadi pemicu bagi kami. Baumu... aromamu... itu seperti melempar sebongkah daging segar yang berlumuran darah ke dalam kandang predator...

​Lalu, ancaman Maya yang dingin dan absolut: Kalau kau memicu transformasi Indra di luar waktu yang seharusnya, aku sendiri yang akan memastikan mayatmu tidak akan pernah ditemukan.

​Dara mencengkeram setang sepeda hingga buku-buku jarinya memutih. Kenapa dia? Apa salahnya? Selama delapan belas tahun hidup di Jakarta, ia hanyalah seorang remaja biasa. Ia suka mendengarkan musik indie, benci pelajaran kimia, dan sering berdebat dengan ibunya soal jam malam. Ia tidak pernah meminta dilahirkan dengan darah yang—menurut monster-monster itu—berbau seperti racun sekaligus penawar.

​Tiba-tiba, kenangan tentang ibunya menyelinap masuk. Dara teringat bagaimana ibunya selalu menolak keras setiap kali ayah Dara mengusulkan untuk berlibur ke pegunungan atau berkemah di hutan. Ibu tidak suka udara gunung, Mas, begitu ibunya selalu beralasan. Hutan terlalu sepi. Ibu lebih suka hiruk-pikuk kota.

​Kini Dara menyadari, ibunya tidak pernah membenci udara gunung. Ibunya sedang lari. Wanita itu sedang bersembunyi di tengah lautan manusia di ibu kota, mencoba menyamarkan 'aroma' darahnya dari sesuatu yang purba dan mematikan di tanah kelahirannya ini. Dan sekarang, pesawat nahas itu telah merenggut nyawa ibunya, memaksa Dara kembali ke titik nol dari kutukan keluarganya.

​Rumah Kakek Danu akhirnya terlihat di ujung jalan berbatu. Bangunan perpaduan kolonial dan rumah panggung itu tampak semakin muram di bawah siraman gerimis. Tidak ada lampu yang menyala di beranda depan, hanya kesunyian yang terasa berat dan mengungkung.

​Dara menyandarkan sepedanya di bawah pohon beringin raksasa, lalu melangkah naik ke beranda. Sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, hidungnya menangkap sebuah aroma yang sangat tajam.

​Bau kemenyan terbakar bercampur dengan aroma amis yang samar, seperti bau darah segar.

​Jantung Dara berdegup kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia memutar gagang pintu kuningan itu dan mendorongnya perlahan. Pintu tidak dikunci.

​"Kakek?" panggil Dara pelan. Suaranya tertelan oleh keremangan ruang tamu.

​Tidak ada jawaban.

​Dara melangkah masuk, meninggalkan jejak sepatu ketsnya yang basah di atas lantai kayu. Ia mengikuti arah datangnya bau tajam tersebut, menyusuri lorong yang mengarah ke bagian belakang rumah, tepatnya menuju sebuah ruangan yang selalu terkunci rapat saat Dara masih kecil—ruang kerja Kakek Danu.

​Pintu kayu ruang kerja itu sedikit terbuka, membiarkan cahaya kekuningan dari lampu minyak merembes keluar ke lorong yang gelap.

​Dara mengintip melalui celah pintu.

​Ruangan itu dipenuhi oleh rak-rak buku tua yang menjulang menyentuh langit-langit. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu panjang yang dipenuhi oleh gulungan perkamen kusam, mangkuk-mangkuk kuningan, dan beberapa botol kaca berisi cairan pekat.

​Kakek Danu berdiri membelakangi pintu. Pria tua itu tidak mengenakan kemeja, hanya sarung yang melilit pinggangnya. Di atas punggung Kakek Danu yang masih tegap, Dara bisa melihat sesuatu yang membuatnya nyaris memekik ngeri.

​Sebuah tato rajah kuno menutupi seluruh punggung pria tua itu. Tato itu bukan sekadar gambar mati; dalam keremangan cahaya lampu minyak, garis-garis hitam yang membentuk motif sulur dan aksara asing itu seolah bergerak, berdenyut pelan seirama dengan napas Kakek Danu.

​Di atas meja di hadapan kakeknya, terdapat seekor ayam jantan hitam yang sudah disembelih. Darahnya ditampung ke dalam sebuah mangkuk kuningan besar. Kakek Danu membakar segenggam bubuk kemenyan di atas tungku kecil, lalu mulai menggumamkan sebuah rapal dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami oleh Dara. Bahasanya terdengar serak, mengayun, dan dipenuhi oleh konsonan-konsonan berat yang membuat udara di sekitar ruangan itu terasa semakin padat dan dingin.

​"Kakek...?"

​Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibir Dara. Ia tidak bisa menahannya. Rasa takut dan kebingungannya telah mencapai batas maksimal.

​Gumam Kakek Danu seketika terhenti. Pria tua itu menoleh perlahan ke arah pintu. Matanya yang cokelat gelap tampak memantulkan cahaya api dari tungku, memberinya kilat buas yang sekejap terlihat bukan seperti mata manusia. Namun, kilat itu menghilang dengan cepat, digantikan oleh raut wajah datar yang selalu ia tampilkan.

​Kakek Danu mengambil sebuah kain lap kotor, membersihkan tangannya dari noda darah ayam, lalu meraih kemeja katunnya yang tersampir di kursi dan mengenakannya dengan tenang.

​"Masuklah, Dara. Jangan mengintip di balik pintu seperti pencuri di rumahmu sendiri," ucap Kakek Danu. Suaranya terdengar biasa, kontras dengan kengerian ritual yang baru saja ia lakukan.

​Dara mendorong pintu hingga terbuka lebar, namun ia tetap berdiri di ambang pintu, menolak untuk melangkah lebih dekat ke arah meja yang berbau amis tersebut. Matanya menatap tajam ke arah kakeknya, menuntut jawaban.

​"Apa yang Kakek lakukan?" tanya Dara, suaranya sedikit bergetar. "Tato di punggung Kakek... darah itu... apa ini semua? Ilmu hitam?"

​Kakek Danu menghela napas panjang. Ia mengambil mangkuk kuningan berisi darah ayam tersebut, lalu meletakkannya di atas sebuah nampan kayu kecil. "Bukan ilmu hitam, Nduk. Ini adalah upaya untuk memperpanjang batas. Memperkuat pagar gaib yang mengelilingi rumah ini agar... tamu-tamu tak diundang tidak bisa menembus masuk hingga ke kamarmu."

​Kalimat itu memicu percikan amarah di dada Dara. Amarah yang timbul dari rasa lelah menjadi bidak catur yang tidak tahu apa-apa di atas papan permainan yang mematikan.

​"Tamu tak diundang? Maksud Kakek monster bermata emas yang mengawasiku dari luar jendela tadi malam?!" suara Dara meninggi, menggema di ruang kerja yang sempit itu. "Maksud Kakek gerombolan manusia berdarah mendidih di sekolah yang bisa menghancurkan meja jati menjadi serbuk hanya dengan satu tangan?!"

​Kakek Danu terdiam. Tangannya yang sedang merapikan botol kaca berhenti di udara. Pria tua itu perlahan memutar tubuhnya, menatap Dara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada keterkejutan di sana, namun juga ada kepasrahan.

​"Kau bertemu dengan klan Bagaskara hari ini," Kakek Danu menyimpulkan dengan suara berat. Bukan sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan pahit.

​Dara melangkah masuk, menghiraukan bau kemenyan yang menyesakkan dadanya. "Bertemu? Kakak perempuan dari klan itu—Maya Bagaskara—mencekik leherku dan mengancam akan membunuhku kalau aku membuat adiknya bertransformasi! Dan adiknya, Raka, memberitahuku bahwa aromaku membuat mereka gila! Kakek, tolong jelaskan padaku! Tempat gila apa ini?! Siapa mereka sebenarnya?!"

​Dara nyaris berteriak di akhir kalimatnya. Air mata frustrasi yang sejak tadi siang ia bendung kini menggenang di pelupuk matanya.

​Kakek Danu tidak marah karena dibentak oleh cucunya. Pria tua itu justru berjalan mendekati Dara dengan langkah pelan. Ia menarik sebuah kursi rotan yang sudah usang dan memberi isyarat agar Dara duduk. Dara menolaknya dengan gelengan kepala keras.

​"Duduk, Dara," perintah Kakek Danu, kali ini suaranya mengandung otoritas magis yang membuat lutut Dara seketika lemas. Gadis itu menurut, jatuh terduduk di atas kursi rotan.

​Kakek Danu menyandarkan tubuhnya di tepi meja panjang, menyilangkan kedua lengannya di dada.

​"Kau benar-benar mirip ibumu, Nduk. Keras kepala, penuh rasa ingin tahu, dan selalu menolak untuk tunduk pada ketidaktahuan." Kakek Danu menatap langit-langit kayu sejenak, mengumpulkan kepingan masa lalu. "Klan Bagaskara bukanlah manusia, dan mereka tidak pernah menjadi manusia. Setidaknya, bukan manusia seutuhnya. Mereka adalah Cindaku."

​Dara mengerutkan kening. Kata itu terdengar familier dari cerita-cerita rakyat Sumatera yang pernah ia baca sekilas. "Manusia harimau?"

​"Itu istilah bodoh dari orang-orang kota yang mencoba melogikakan sesuatu yang sakral," Kakek Danu mendengus pelan. "Mereka adalah entitas penjaga rimba. Penguasa puncak rantai makanan di hutan Sumatera. Garis keturunan mereka lebih tua dari kerajaan mana pun yang pernah berdiri di tanah ini. Mereka memiliki wujud manusia untuk berbaur, namun jiwa dan kekuatan mereka adalah murni milik sang Raja Hutan."

​Dara menelan ludah. Memorinya kembali memutar pemandangan jejak kaki raksasa di tanah berlumpur. "Pemuda yang bernama Indra... matanya yang keemasan, suhu tubuhnya yang membakar... dia Cindaku?"

​"Indra bukanlah Cindaku biasa," suara Kakek Danu berubah menjadi lebih kelam. "Dia adalah pewaris takhta klan Harimau Putih. Kekuatannya luar biasa besar, namun karena itu pula, insting binatang di dalam dirinya sangat sulit dikendalikan. Di masa remajanya seperti sekarang, kutukan 'Nafsu Rimba' sedang berada di titik puncaknya. Jika dia kehilangan kendali, dia akan melupakan sisi manusianya dan merobek siapa pun yang ada di dekatnya."

​"Lalu kenapa aku?" tanya Dara putus asa. Ia mencengkeram lututnya sendiri. "Kenapa dia bereaksi berlebihan padaku? Raka bilang darahku memicu mereka. Maya bilang darahku adalah racun sekaligus penawar. Apa maksudnya, Kek? Kenapa Ibumu... kenapa aku dilahirkan dengan darah ini?"

​Kakek Danu menatap tajam ke arah mata cokelat terang Dara. "Karena ibumu, dan sekarang kau, adalah keturunan terakhir dari garis darah Pawang Rimba."

​Ruangan itu seketika hening. Hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai menderas di luar jendela.

​"Pawang Rimba?" ulang Dara berbisik.

​"Dulu, saat dunia belum dibagi antara hitam dan putih, saat batas antara alam manusia dan alam gaib masih sangat tipis, ada satu garis keturunan manusia yang diberkahi—atau dikutuk—oleh alam semesta dengan darah penyeimbang. Darah Penengah," jelas Kakek Danu lambat-lambat.

​Pria tua itu berjalan menuju salah satu rak bukunya, menarik sebuah jurnal kulit yang sudah sangat tua, dan meletakkannya di hadapan Dara. Di sampulnya terdapat lambang aneh: perpaduan antara sulur pohon, cakar, dan setetes darah.

​"Kaum Cindaku, dan makhluk-makhluk purba lainnya di hutan ini, hidup dengan insting buas yang terus-menerus berusaha menelan akal sehat mereka. Mereka hidup dalam penderitaan konstan antara menjadi manusia dan menjadi monster," lanjut Kakek Danu.

​"Darah seorang Pawang Rimba memiliki frekuensi energi yang unik. Bagi makhluk seperti Indra Bagaskara, aromamu menjanjikan kedamaian absolut. Hawa dingin alami dari energi spiritualmu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang bisa memadamkan panasnya Nafsu Rimba di dalam nadinya. Itulah mengapa dia tidak bisa menahan diri untuk mendekatimu, Dara. Berada di dekatmu, menghirup aromamu, membuat penderitaannya hilang. Kau adalah obat penenang paling adiktif yang pernah ia temui seumur hidupnya."

​Penjelasan kakeknya membuat Dara merasa mual dan takjub di saat bersamaan. "Tapi Maya marah... dia takut aku memicu transformasi adiknya."

​"Karena kau belum terlatih, Dara!" potong Kakek Danu tegas. "Energi Pawang di dalam tubuhmu masih liar dan tidak terkontrol! Alih-alih menjadi penawar yang menenangkan, keberadaanmu yang tidak terkendali justru memicu insting purba mereka untuk memilikimu seutuhnya, untuk mengklaimmu. Jika Indra kehilangan akal sehatnya karena hasrat untuk mengonsumsi energimu, dia akan berubah menjadi monster seutuhnya di tengah siang bolong, dan itu akan melanggar Perjanjian Lama yang menjaga rahasia desa ini."

​Dara tertegun. Pikirannya berdengung keras. Fakta bahwa ia adalah seorang Pawang Rimba—sebuah jangkar kewarasan bagi para monster—terdengar seperti dongeng yang dipaksakan ke dalam realitasnya yang sudah hancur.

​"Ibumu menyadari hal ini," suara Kakek Danu melembut, dipenuhi oleh penyesalan yang mendalam. "Dia tidak ingin kau hidup sebagai 'alat' bagi klan-klan gaib di Lembah Marapi. Dia tidak ingin kau diikat oleh takdir berdarah ini. Itulah sebabnya dia lari. Dia mencoba memutus rantai itu dengan membawamu jauh ke kota."

​Air mata akhirnya menetes dari pelupuk mata Dara. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan isak tangis tertahan keluar dari kerongkongannya. "Tapi mereka meninggal, Kek. Pesawat itu jatuh. Dan aku selamat... hanya untuk dibawa kembali ke tempat yang paling dihindari oleh Ibu seumur hidupnya."

​Kakek Danu berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas puncak kepala cucunya. "Kau selamat bukan karena kebetulan, Dara. Darah Pawang di dalam nadimu menolak untuk mati sebelum tugasnya selesai. Alam semesta menarikmu kembali ke Lembah Marapi, karena sesuatu yang jauh lebih gelap dari klan Harimau sedang bangkit dari tidurnya. Sesuatu yang ibumu pun tidak akan mampu menghadapinya."

​Dara mendongak, menatap kakeknya dengan mata basah. "Apa maksud Kakek?"

​Namun, sebelum Kakek Danu sempat menjawab, seluruh lampu minyak di ruangan itu mendadak padam. Bukan ditiup angin, melainkan mati secara serempak seolah oksigen di dalam ruangan itu baru saja tersedot habis.

​Udara yang tadinya hangat karena sisa bakaran kemenyan kini anjlok hingga ke titik beku dalam hitungan detik. Napas Dara berubah menjadi kepulan uap putih yang tebal.

​GRRRRR.

​Suara geraman itu kembali. Namun kali ini, tidak berasal dari batas hutan. Suaranya terdengar dari bawah lantai kayu rumah panggung mereka.

​Sesuatu yang masif, liar, dan memancarkan gelombang panas yang tidak masuk akal sedang mengitari pilar-pilar penyangga rumah. Hawa panasnya secara perlahan mengalahkan suhu beku ruangan, merayap naik melalui celah-celah papan lantai kayu jati, membuat bulu kuduk Dara meremang hebat.

​Kakek Danu melompat mundur, langsung menyambar parang pusaka yang tergeletak di atas mejanya. Mata pria tua itu berkilat penuh ancaman.

​"Dia tidak sabar," desis Kakek Danu tajam, matanya tertuju pada lantai kayu di bawah kaki mereka. "Pemuda sialan itu... dia membiarkan instingnya membawanya ke mari di saat hujan deras untuk menutupi jejaknya."

​Dara terpaku. Energi magnetis itu kembali menghantamnya dengan kekuatan penuh. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh dorongan gila yang mengalir dari darahnya, memerintahkannya untuk berlutut dan menyentuh lantai kayu itu—untuk memberikan kedamaian pada monster yang sedang tersiksa di bawah sana.

​Indra. Nama itu bergema di dalam kepala Dara, bukan sebagai sebuah ancaman, melainkan sebagai sebuah takdir yang kelam, panas, dan tidak mungkin lagi ia hindari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!