karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERA YANG PANIK INGATAN KEN MULAI SEMBUH
Ken terbangun dengan keringat dingin. “Kalung itu… Siapa kamu sebenarnya?” gumamnya. Ia yakin 100% bahwa kalung itu bukan milik Sera. Ia pernah melihat leher Sera, tak pernah ada kalung semacam itu.
Hari Minggu sore. Suasana di Sweet Key Bakery cukup ramai. Key sedang sibuk merapikan tumpukan dus kue pesanan untuk acara kantoran. Tiba-tiba, lonceng di pintu berbunyi menandakan ada tamu.
“Selamat datang,” sapanya ramah tanpa menengadah.
Namun saat ia akhirnya mengangkat wajah, dunia seakan berhenti berputar.
Ken berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak lebih sehat, namun wajahnya masih menyimpan tanda tanya besar. Matanya mengelilingi seluruh sudut toko, mengendus aroma vanila yang begitu menenangkan, seakan ia sedang mencari jejak ingatan yang hilang.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ken tiba-tiba, suaranya rendah.
Key menelan ludah dengan susah payah. “Mungkin… Salah lihat Pak.”
“Entah kenapa… ken merasa mereka sangat akrab. Rasanya seperti sering bertemu" gumam Ken. Ia melangkah perlahan mendekati meja pajangan.
Hujan di luar mulai turun lagi, menambah suasana menjadi dramatis.
Tiba-tiba, pintu terbuka kasar. Sera masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat dan tegang.
“Kak Ken! Aku udah bilang kan jangan sembarangan keluar dulu! Kamu kan belum pulih total!” serunya panik sambil langsung menarik lengan Ken.
Ken tersenyum tipis. “ Aku merasa ingin kue hari ini ser"
“Ayo pulang kak! Nanti sakit lagi!” Sera menariknya dengan paksa, berusaha secepat mungkin membawa Ken pergi dari sana.
Key hanya berdiri terpaku. Saat ia bergerak mundur karena kaget, kalung giok putih yang tergantung di lehernya ikut berayun cepat, terpantul oleh cahaya lampu toko yang terang.
KLIK.
Sesuatu tersambung di otak Ken.
Ia menatap lekat-lekat ke arah leher Key. Matanya membelalak, napasnya tertahan.
“Kalung itu…” suaranya pelan namun tegas, memecah keheningan.
Sera langsung menegang, tangannya gemetar.
“Kak, ayo cepat pergi!” desisnya.
Tapi Ken tak bergeming. Ia menatap wajah Key, lalu ke kalung itu, lalu kembali ke wajah Key.
“Kak, ayo cepat! Nanti masuk angin!” suara Sera terdengar panik, hampir seperti memekik. Tangannya mencengkeram lengan Ken dengan kuat, berusaha menyeret pria itu keluar dari toko secepat kilat.
Tapi Ken terpaku. Kakinya seakan tertanam kuat di lantai keramik. Matanya tak berkedip, menatap lekat-lekat ke arah leher Key. Di sana, di bawah cahaya lampu toko yang hangat, kalung giok putih itu berayun pelan. Batu giok itu memancarkan cahaya pucat yang begitu familiar, sama persis dengan kilatan yang ia lihat di tengah badai malam naas itu.
“Kalung itu…” suara Ken parau, nyaris tak terdengar. “Itu… kalung giok.”
Key yang berdiri di balik meja kasir merasakan sesuatu yang panas dan tajam menusuk dadanya. Hatinya terasa tersambar petir. Dunia seakan berhenti berputar. Ia tahu, saat ini adalah momen kebenaran. Saat di mana semua kebohongan mungkin akan terbongkar, atau semua perasaan akan hancur berkeping-keping.
“Kak Ken! Apaan sih! Ayo pulang!” Sera semakin panik. Ia menarik lengan Ken lebih keras lagi, berusaha memutuskan tatapan mata pria itu dari Key.
Ken akhirnya menoleh sedikit ke arah Sera, tapi matanya masih menyisakan tanda tanya besar. “Ser… kalung itu… aku yakin sekali. Itu yang aku lihat malam itu. Di tengah hujan dan petir.”
Wajah Sera pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. “Ah, itu kan… banyak juga yang jual model begitu, Kak! Kebetulan aja! Ayo pergi, please!”
Tanpa bisa menolak lebih jauh, akhirnya tubuh Ken yang masih belum sepenuhnya pulih terseret oleh desakan Sera keluar dari toko. Pintu kaca tertutup, dan lonceng kecil di atasnya berbunyi ting—suara yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Key.
Key berdiri mematung. Jari-jarinya gemetar, mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku jarinya memutih. Napasnya tersengal-sengal, seolah baru saja berlari maraton.
“Dia ingat…” bisik Key pelan, air mata mulai menggenang. “Dia ingat kalung itu, Ken. Tapi kenapa… kenapa kamu tetap ikut dia pergi?”
Hujan di luar semakin deras, seakan ikut menangisi perasaan Key yang hancur lebur. Di balik kaca toko yang berembun, ia melihat bayangan Sera yang sibuk membantu Ken masuk ke dalam mobil, seolah-olah dialah satu-satunya orang yang paling peduli di dunia ini.
Dan Key? Ia hanya bisa menjadi penonton di dalam cerita hidup orang yang bahkan nyawanya pernah ia selamatkan.
😉🤍