Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pria Bertato Berwajah Monster
...AWAS! TRIGGER WARNING!...
...Bagi kamu yang pernah mengalami kekerasan seksual, sebaiknya jangan teruskan membaca atau skip sama sekali. Karena akan meninggalkan trauma psikologis....
...********...
Mataku mengerjap beberapa kali. Kepalaku terasa bagai ditumpu beban berat. Aroma napasku merebak oleh alkohol. Aku menyeka kedua mataku dengan tangan agar pandanganku kembali normal. Ketika kesadaranku mulai penuh, aku mulai mengetahui bahwa faktanya aku kini berada di tempat yang asing.
“Aku di mana?” tanyaku lirih seraya menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
Tiba-tiba … aku merasa ada sesuatu yang begitu menyakitkan ketika aku mencoba untuk bangkit.
“Nggak … ini nggak mungkin, kan? Aku—” suaraku nyaris hilang saat aku mencoba meneruskan kalimat itu. Tubuhku bergetar, napasku terengah. Bagai mendengar berita yang mengguncang jiwaku.
Aku melangkah menuju cermin besar di pojok ruangan. Langkah yang gontai seakan menyiksaku ketika aku berjalan langkah demi langkah. Hujan di balik kelopak mata seolah enggan turun. Sebelum aku memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Aku memerhatikan sosok yang begitu menyedihkan di pantulan kaca tersebut. Sosok perempuan lusuh, dengan sebagian pakaiannya yang raib entah ke mana. Sebuah tangan melesat di pipiku. Ya, tanganku sendiri. Aku menghukum diriku yang bodoh. Keringanan yang semu malam ini, ternyata berbuah petaka. Kesucianku, kini telah musnah.
“Tidak! Tidak …” rintihku. Kubiarkan hujan itu tumpah dengan deras. Membasahi kedua pipiku yang telah memar karena ulah tanganku sendiri.
Hingga tiba-tiba … seseorang di dalam toilet berdeham. Mataku melotot kaget mendengar suara bariton, yang kini dipenuhi gema di dalam toilet sana. Aku lantas berlalu ke luar ruangan. Namun, sayang sekali pintunya terkunci. Kini, selimut tebal ini menjadi satu-satunya tempat teramanku untuk berlindung dari lelaki bejat di dalam toilet sana.
Gemetar yang tak bisa kuhindari terus saja menggerogoti tubuhku. Dinginnya ruangan ini sama sekali tak meredakan cucuran keringatku yang mengalir bagai hujan. Kecemasan merayap hingga bulu kudukku perlahan berdiri di tengkuk. Aku … benar-benar dilanda ketakutan.
Bunyi pintu berderit terdengar nyaring di toilet. Kemudian suara langkah kaki yang seolah menggema di telingaku, kini bagai alunan instrumen yang mengerikan. Kudengar, langkah kaki itu semakin mendekat. Hingga hawa hangat mulai terasa di dekatku.
Tanpa di duga … seseorang memelukku erat di balik selimut itu. Pelukannya membuat darahku berdesir hebat. Ia meraba apa saja yang ia bisa. Hingga ketika tangannya hendak meraih sesuatu yang berharga dari tubuhku, aku mulai berontak dan berteriak. Tiba-tiba … ia berkata …
“Ba!” Ia berhasil membuka selimutku sebagian. Hingga kini tampak sudah wajahku yang diliputi kecemasan.
Seorang pria dengan tiga anting di telinganya. Wajah yang gelap lagi keras, dengan tato yang memenuhi tubuhnya. Senyumannya yang memancarkan aura iblis yang kejam. Bulu kudukku semakin dibuat berdiri.
“Ha ha ha . Mumpung kamu bangun, Sayang. Ayo! Kita ulang sekali lagi.” Ia menarik kuat selimutku. Hingga aksi tarik menarik selimut itu terjadi. Aku terus mempertahankan keamananku di balik selimut ini. Rasa takut dan cemas kian menghantui. Sulit untuk menghalau badai ketakutan itu di tengah sendirinya aku saat ini.
“Tidak! Tolong!” teriakkanku memantul pada dinding ruangan yang aku yakin ini adalah apartemen.
Lelaki bejat itu tersenyum sambil tertawa lepas. Tangannya terus saja berusaha melepaskan selimut yang berusaha kutahan sedari tadi dari cengkeramannya. Ia pun kini bersuara.
“Berteriaklah! Dinding apartemen ini kedap suara.” Ia menyeringai seraya tawanya membuncah di dalam ruangan.
Tangannya terus mencari sesuatu dari tubuhku di balik selimut itu. Tiba-tiba, ia berhasil membuatku mengerang kesakitan saat ia menampar pipiku berulang kali.
Hingga tanpa sadar, aku hampir saja melepas selimut itu. Namun, rasa ingin tetap melindungi diri semakin kuat. Tanganku kembali menahan selimut itu.
Kali ini, selimut itu berhasil robek. Setelah lelaki monster itu berhasil menarik kuat selimut itu dari tanganku. Hingga kini, menampilkan sebagian anggota tubuhku yang sebagiannya telah lenyap dari pakaian. Matanya membulat penuh gairah. Seolah ingin meraup semua kesenangannya di malam ini bersamaku.
"Nikmatnya. Ha ha ha." Ia tertawa. Tangannya kini mulai meraba bagian tubuhku yang kini terbuka. Aku mengerang kesakitan saat ia mencoba menggigit pahaku dengan kuatnya hingga menghasilkan memar.
Aku mencoba mencari cara agar bisa menyelamatkan diri. Terpikir olehku untuk menendang organ vitalnya. Saat ia hendak beraksi, aku lantas menendangnya. Hingga kini, ia terpental ke lantai.
Wajahnya memerah. Rahangnya terlihat mengeras. Aku berlari ke sudut ruangan. Mencari jendela untuk keluar. Tapi, yang kutemukan hanya dinding tanpa jendela. Aku kembali berlindung di balik selimut. Menutup setengah diriku sambil terus menyelidiki aksinya.
Di sudut ruangan itu, aku seolah tersudutkan. Jantungku berdebar lebih cepat. Darahku berdesir bagai mengalir hingga ke otakku. Aku menangis tersedu. Tapi, nurani lelaki monster ini nyaris hilang. Ia justru ... menamparku berulang kali.
Hingga tiba-tiba ... saat ia hendak beraksi kembali, sebuah nama terbesit dalam ingatanku. Nama yang belakangan ini sering kuabaikan dalam ingatan.
“Ya Allah! Tolong aku!” batinku bergema melafazkan nama Allah. Tiba-tiba ....
Tok … tok … tok ….
“Ah! Sialan! Siapa lagi sih?! Ganggu kesenangan orang saja.” Lelaki berwajah monster itu berlalu pergi. Tiba-tiba … ia berbalik kembali seraya menatapku dengan tatapan tajamnya.
“Jangan kemana-mana kamu! Kalau tidak ….” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Sebaliknya, ia memperagakan sebuah gerakan yang membuatku tertegun dan menelan ludah sendiri. Ia mengangkat tangan kanannya, menekuk sebagian jarinya. Lalu menarik jari telunjuknya perlahan melintasi lehernya sendiri. Ia, hendak menghabisi nyawaku jika aku nekat kabur.
Aku mengerang brutal. Tanganku dengan liar menjatuhkan semua benda di atas nakas dan kasur. Pria monster itu justru tertawa mengejek.
Senyum miringnya kembali terkembang sebelum ia membalikkan badan dan melangkah keluar. Aku bergegas mencari pakaianku yang lain. Kucari di segala sela. Membongkar lemari, seprei dan kolong kasur. Tapi tak kutemukan keberadaannya. Hingga sebuah pikiran terbesit di kepalaku.
"Apa jangan-jangan ...."
Aku bergegas menuju toilet dengan langkah terburu. Kutemukan bajuku tergantung di gantungan pintu toilet dalam kondisi basah. Aku meremasnya asal. Berharap pakaian ini setidaknya bisa lembab. Sepertinya monster itu sengaja membuat basah pakaianku agar aku tak bisa keluar.
Aku mengintipnya terlebih dahulu pada celah kecil yang ada di pintu ini. Ia, sudah tidak ada. Aku mencoba berpikiran positif. Mungkin saja ia lupa mengunci pintunya. Kuucapkan kalimat bismillah saat hendak membukanya. Tanpa kuduga, pintu itu terbuka. Aku bersyukur dan lantas berlalu dari ruangan mematikan tersebut.
Langkahku tertatih. Kuusahakan aku berjalan secepat mungkin. Walau aku tahu, tubuhku kini terasa sempoyongan. Aku mencoba kembali mempercepat langkahku. Hingga tiba-tiba … kakiku terkilir. Aku terduduk di atas lantai dingin apartemen ini. Gema ringisanku terdengar memantul. Kupaksakan untuk kembali berdiri dan berjalan dengan kaki telanjang.
Aku berjalan cepat menuju sebuah pintu lobi utama. Namun, kulihat pria monster itu ada di sekitaran lobi. Tengah berbincang entah dengan siapa. Aku tersenyum miris melihat aksinya. Lalu, berlalu menuju sebuah lift. Aku menaiki lift kembali—menuju lantai paling tinggi.
Di dalam lift, aku duduk melepas penat. Tubuhku melemah, gigilnya hampir saja membuatku jatuh pingsan. Namun, rasa takut mengalahkan rasa laparku.
Lift berdenting, membawaku ke lantai paling atas. Aku meluruh di depan pintu akses atap yang terkunci rapat. Gagang pintu itu bergeming. Harapanku runtuh seketika. Tangisku seolah tertahan di tenggorokan.
Tiba-tiba … sebuah langkah kaki terdengar di lorong sunyi itu.
“Tidak! Aku harus ke mana?”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?