Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Kebenaran yang Menghimpit
Mansion Jacob tidak lagi terasa seperti rumah bagi Devan. Setiap sudut koridor kini seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Namun, ada satu hal yang kini menjadi misi hidupnya membuktikan bahwa pengakuan Viona adalah kebohongan besar. Devan tidak tahu mengapa ia begitu bersikeras—apakah demi harga dirinya, atau karena ia tidak sanggup membayangkan tatapan mata Vanya yang semakin menjauh jika ia benar-benar memiliki anak dari wanita lain.
Keesokan harinya, Devan mendatangi apartemen Viona. Ia tidak datang dengan bunga seperti biasanya. Ia datang dengan sebuah amplop berisi formulir dari sebuah laboratorium kesehatan ternama.
"Kita akan melakukan tes DNA, Viona. Sekarang juga," ucap Devan tanpa basa-basi begitu pintu terbuka.
Viona tertegun, wajahnya yang tadi tampak lesu mendadak berubah menjadi defensif. Ia mundur selangkah, menatap formulir itu seolah-olah itu adalah surat kematiannya. "Apa? Tes DNA? Devan, kamu meragukanku? Setelah semua yang kita lalui selama lima tahun ini?"
"Ini bukan soal ragu atau tidak ragu. Ini soal kepastian. Kalau itu benar anakku, aku akan bertanggung jawab. Tapi aku butuh bukti medis," tegas Devan.
Viona mulai terisak, air matanya jatuh dengan sangat dramatis. "Tega kamu, Devan! Masa kamu lupa? Malam itu... malam dua bulan lalu di vila. Kamu mabuk berat, kamu memaksaku tidur denganmu. Kamu bilang kamu sangat menginginkanku karena kamu muak dengan istrimu yang kaku itu. Sekarang setelah aku hamil, kamu mau lari?"
Devan mengerutkan kening. Ia memijat pelipisnya, mencoba memutar kembali memori malam yang dimaksud Viona. "Vila? Malam itu aku memang mabuk, Viona. Tapi aku ingat betul, saat kita baru saja masuk ke kamar, ponselku berbunyi. Ada telepon dari kantor tentang masalah audit. Aku keluar kamar untuk mengangkat telepon itu, udaranya dingin sekali, dan aku tidak pernah kembali ke kamar karena aku tertidur di sofa ruang tamu sampai pagi. Aku ingat terbangun dengan leher kaku di sofa, bukan di tempat tidur bersamamu!"
Wajah Viona sedikit pucat, namun ia dengan cepat membalas, "Kamu mabuk, Devan! Ingatan orang mabuk itu tidak bisa dipercaya! Bisa saja kamu kembali ke kamar tanpa sadar!"
"Justru karena ingatanku samar, kita butuh tes DNA!" seru Devan frustrasi. "Dengar, Viona. Ini serius. Kalau sampai anak itu benar-benar anakku, kita semua hancur. Bukan cuma aku, tapi kamu juga!"
Viona terdiam sejenak, ia menghapus air matanya dengan kasar. "Hancur kenapa? Bukankah kalau aku hamil, kamu punya alasan untuk menceraikan Vanya? Kita bisa menikah, dan kamu bisa mengambil kembali apa yang menjadi hakmu sebagai pewaris Jacob."
Devan tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri. Ia menatap Viona dengan tatapan kasihan. "Kamu belum mengerti juga? Viona, dengar baik-baik. Vanya yang memegang semuanya sekarang. Semua aset, semua saham, bahkan gedung kantor dan rumah yang kita tempati adalah miliknya secara hukum!"
Viona terdiam, matanya membelalak. "Maksudmu...?"
"Satu sen pun aku tidak punya, Viona!" Devan menekankan setiap katanya. "Waktu itu sudah kujelaskan, bukan? Kartu kreditku dibekukan, mobilku disita, apartemen ini pun sebenarnya sudah masuk dalam daftar audit perusahaan. Jatah bulanan keluargaku hanya sepuluh juta. SEPULUH JUTA! Untuk makan saja pas-pasan, apalagi untuk menghidupi bayi dan gaya hidupmu yang mewah!"
Viona ternganga. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Ia seolah baru saja tersadar dari mimpi indah tentang menjadi nyonya besar di Jacob Group. Pikirannya berputar cepat. Selama ini ia bertahan dengan Devan karena ia yakin Devan adalah kunci menuju kekayaan tak terbatas. Ia pikir, dengan membawa kabar kehamilan, ia bisa mendesak Vanya pergi dan ia masuk sebagai ratu baru.
"Jadi... kamu benar-benar pengangguran yang tidak punya harta?" tanya Viona dengan nada suara yang berubah drastis—dingin dan tajam.
"Secara teknis, iya. Aku sekarang menumpang hidup pada istriku," jawab Devan jujur, meski hatinya terasa perih mengakui kenyataan itu.
Viona berdiri tegak, isakannya hilang seketika. Ia menatap Devan dari ujung rambut hingga ujung kaki, bukan lagi dengan tatapan cinta, melainkan dengan tatapan penuh kejengkelan dan kekecewaan.
"Pergi," ucap Viona pendek.
"Apa?" Devan terkejut.
"PERGI! Keluar dari apartemenku sekarang juga!" teriak Viona. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku sedang hamil dan stres, dan mendengar bahwa pria yang seharusnya melindungiku ternyata hanyalah seorang pecundang yang tidak punya modal... itu membuatku mual!"
Devan terpaku. "Viona, aku sedang mencoba menyelesaikan ini—"
"Selesaikan saja sendiri! Pergi, Devan! Jangan hubungi aku sampai kamu punya solusi nyata, bukan cuma omong kosong tentang kejujuran!" Viona mendorong Devan keluar pintu dan membantingnya dengan sangat keras.
Devan berdiri di lorong apartemen yang sepi. Ia menatap pintu kayu di depannya dengan perasaan campur aduk. Rasa sakit karena diusir oleh wanita yang ia puja selama lima tahun ternyata tidak sesakit yang ia bayangkan. Justru, ada sebuah kejernihan yang muncul di kepalanya.
Viona mencintainya karena hartanya. Dan saat harta itu hilang, cinta itu pun menguap.
Berbeda dengan Vanya. Vanya tetap bertahan meski ia tidak memberikan apa-apa. Vanya tetap menjaganya meski ia mengkhianatinya. Devan menyandarkan kepalanya di tembok, menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Ia baru saja diusir oleh "cinta sejatinya" karena ia miskin, sementara ia memiliki seorang istri di rumah yang sedang membangun kerajaan bisnis untuk masa depan keluarga mereka.
"Kamu benar, Vanya," bisik Devan pada kegelapan. "Aku memang bodoh."
Tanpa Devan ketahui, di dalam apartemen, Viona langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo? Rencana kita gagal. Devan tidak punya uang sama sekali. Semua dipegang istrinya. Kita harus cari cara lain untuk memeras wanita itu langsung, atau aku akan menggugurkan kandungan ini!"
Badai besar sedang bergerak menuju Vanya, namun kali ini, Devan tidak lagi berada di pihak yang berseberangan. Ia mulai belajar untuk berdiri di samping istrinya, meski ia belum tahu apakah Vanya masih mau memberinya ruang.
Tiga bulan telah berlalu sejak badai pengakuan Viona mengguncang Mansion Jacob. Selama itu pula, Viona menghilang bak ditelan bumi. Apartemennya kosong, ponselnya tidak aktif, dan semua jejaknya seolah dihapus secara profesional. Devan, yang awalnya didera rasa frustrasi luar biasa karena gagal membuktikan kebenaran melalui tes DNA, perlahan mulai terbiasa dengan kesunyian. Namun, kesunyian itu justru membuatnya semakin gelisah setiap kali melihat Vanya.
Vanya tetaplah Vanya. Ia tetap santai, tetap tenang, dan semakin bersinar. Jacob Group kini mendominasi pasar, dan nama Vanya Benjamin seringkali menghiasi tajuk utama berita bisnis sebagai "Wanita Bertangan Besi dari Timur".
Pagi itu, di ruang makan yang kini suasananya jauh lebih tertib, Vanya menyesap tehnya sambil menatap Devan yang sedang termenung memandangi roti bakarnya.
"Devan," panggil Vanya datar.
"Ya?" Devan mendongak, sedikit terkejut karena Vanya yang memulai pembicaraan.
"Mulai besok, kamu harus ikut aku ke kantor. Aku ingin kamu belajar bagaimana perusahaan ini bekerja, dari dasar. Kamu harus tahu bagaimana setiap sen yang kamu pakai itu dihasilkan."
Devan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kenapa harus aku? Kan ada kamu, Vanya. Kamu jauh lebih hebat mengurus semuanya. Aku cukup jadi pendukungmu saja di rumah."
Vanya meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan pelan yang berwibawa. Ia menatap Devan dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku hanya pemegang sementara, Devan. Aku tidak berencana menghabiskan seluruh hidupku terkunci di ruang kerja Jacob Tower."
Vanya bangkit dari kursinya, merapikan blazer mahalnya. "Lagipula, aku juga punya keinginan sendiri. Aku ingin santai, menikmati hidup, dan mungkin... mulai kencan dengan pria tampan yang sepadan."
Mendengar kata "kencan", jantung Devan seolah berhenti berdetak. Rasa panas menjalar ke dadanya—rasa cemburu yang jauh lebih hebat daripada saat ia melihat Billy Hutama di Paris.
"Hei! Aku ini suamimu!" seru Devan, ikut berdiri dengan nada bicara yang meninggi.
Vanya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruang makan. Ia menoleh sedikit, melirik Devan dari balik bahunya dengan senyum tipis yang terasa sangat merendahkan.
"Suami?" Vanya mendesis pelan. "Cih."
Hanya satu kata itu, namun efeknya bagi Devan lebih menyakitkan daripada tamparan. Vanya pergi meninggalkan Devan yang terpaku membisu. Kalimat itu seolah mengingatkan Devan bahwa status "suami" yang ia banggakan hanyalah sebuah kata di atas kertas yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia hargai sendiri.
Kini, saat ia mulai menyadari berharganya Vanya, wanita itu justru sedang bersiap untuk melangkah keluar dari lingkaran hidupnya, mencari seseorang yang benar-benar layak berdiri di samping sang ratu.