Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35 : PELABUHAN DI BALIK BADAI
Jakarta malam itu seolah sedang menyembunyikan rahasia besar di bawah kabut polusi dan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit yang tak pernah tidur. Di lantai teratas mansion Arkatama, suasana terasa sunyi namun berat oleh ketegangan yang menyesakkan dada. Anya Clarissa berdiri di balkon kamar, jemarinya meremas pagar besi dingin yang lembap oleh embun malam. Pikirannya melayang jauh pada puing-puing butik ibunya yang menghitam dan studio bunga miliknya yang kini dijaga ketat oleh pasukan keamanan berseragam hitam, tampak seperti benteng pertahanan di tengah kota.
"Masih belum ada kabar, Mas?" tanya Anya tanpa menoleh. Ia mengenali langkah kaki itu—langkah kaki yang berat namun selalu membawa rasa aman baginya.
Devan Arkatama melangkah maju dari kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur redup. Ia melepaskan dasinya dengan satu tangan, membuangnya asal ke atas kursi, dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya. Gurat kelelahan yang luar biasa tercetak jelas di wajah tampannya; lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa pria ini belum memejamkan mata selama empat puluh delapan jam terakhir.
Devan melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Anya dari belakang, menarik tubuh kecil istrinya agar bersandar pada dadanya yang bidang. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Anya, menghirup aroma stroberi dari rambut istrinya yang selalu menjadi candu baginya.
"Nihil, Sayang," bisik Devan, suaranya parau dan bergetar oleh frustrasi yang tertahan. Ia menggunakan panggilan Sayang dengan nada yang begitu dalam, sebuah janji perlindungan yang tulus di tengah badai yang tak kunjung reda. "Tim intelijen maritimku sudah menyisir setiap pelabuhan, setiap gudang kontainer di KBN Marunda, bahkan setiap apartemen atas nama perusahaan cangkang milik Om Bram. Mereka seolah-olah hilang ditelan bumi. Tidak ada transaksi kartu kredit, tidak ada sinyal ponsel yang aktif, bahkan tidak ada satu pun saksi mata yang melihat pergerakan mereka. Mereka benar-benar menggunakan protokol senyap yang biasanya hanya digunakan oleh buronan tingkat tinggi."
Anya mendesah panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan beban. Ia membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Devan, menatap mata elang suaminya yang kini meredup, kehilangan kilau otoritasnya karena rasa gagal yang menghantui. Anya mengalungkan lengannya di leher Devan, mencoba menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
"Mungkin kita terlalu mencari di tempat yang besar, Mas Devan," ucap Anya lembut. Panggilan Mas itu selalu berhasil membuat jantung Devan berdegup sedikit lebih kencang, memberikan rasa bangga yang tidak bisa dibeli dengan saham triliunan maupun kapal logistik terbesar sekalipun. "Om Bram itu licik. Dia tahu kita punya segalanya untuk melacaknya di kota ini. Dia pasti menggunakan celah yang tidak pernah kita pikirkan."
...****************...
Sementara itu, jauh dari jangkauan radar canggih milik Devan Arkatama, di sebuah pulau kecil pribadi di kawasan Kepulauan Seribu yang tidak tercatat dalam daftar aset resmi keluarga—sebuah properti tua milik mendiang istri Om Bram yang sengaja ia sembunyikan dari audit keluarga bertahun-tahun lalu—suasananya sangat kontras.
Om Bram dan Rico sedang bersantai di kursi malas di pinggir kolam renang yang airnya tampak berkilau terkena cahaya bulan, menghadap langsung ke laut lepas yang tenang. Musik jazz mengalun lembut dari speaker nirkabel, dan beberapa botol wiski langka seharga ratusan juta rupiah berserakan di atas meja jati yang mewah.
"Hahaha! Lihat ini, Pa!" Rico tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang, ia menunjukkan layar tabletnya yang memantau berita breaking news tentang kepanikan di Arkatama Shipping dan kerugian besar akibat sabotase. "Devan si CEO jenius itu sedang membuang-buang miliaran rupiah hanya untuk mengejar bayangan kita di Jakarta. Dia mengirim pasukan ke Bekasi, ke Tangerang, padahal kita ada di sini, hanya beberapa mil dari hidungnya, menikmati angin laut dan wiski terbaik."
Om Bram menyesap cerutunya dengan puas, asap tebal mengepul di udara malam yang bersih. "Biarkan dia lelah, Rico. Semakin lama dia mencari tanpa hasil, semakin dia terlihat tidak kompeten di depan para investor dan dewan direksi. Dan saat dia mencapai titik terendahnya, saat mentalnya hancur karena gagal melindungi Anya, kita akan muncul dengan bantuan dana dari Eleonora di Paris untuk mengambil alih segalanya. Bagiku, tidak masalah jika imperium Arkatama harus retak, asalkan aku yang memegang kendali atas reruntuhannya."
Mereka berdua tertawa puas, sama sekali tidak merasa berdosa atas butik yang mereka bakar atau studio yang mereka rusak. Bagi mereka, ini hanyalah sebuah permainan catur besar di mana Anya dan Devan hanyalah pion yang bisa dikorbankan demi kepuasan ego dan keserakahan.
...****************...
Kembali ke mansion Arkatama, ketenangan malam yang romantis di balkon kamar tiba-tiba pecah oleh suara gaduh dari arah koridor. Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) masuk ke kamar Devan dan Anya tanpa mengetuk pintu—sebuah kebiasaan yang tak pernah hilang meski menantunya sudah memohon berkali-kali.
Mama Sarah mengenakan daster sutra hitam bermotif macan tutul dan membawa sebuah benda berbentuk lingkaran besar yang terhubung dengan kabel ke sebuah kotak kecil. Itu adalah detektor logam industri yang entah ia dapatkan dari gudang mana.
"Sayang! Anya! Devan! Mama punya ide brilian yang nggak akan terpikirkan oleh detektif manapun!" seru Mama Sarah dengan semangat yang meledak-ledak.
"Ma! Mama ngapain malam-malam begini bawa alat konstruksi ke dalam kamar kami?" Devan memijat pelipisnya, merasa kepalanya mau pecah menghadapi musuh di luar dan ibunya di dalam.
"Lho! Mama pikir, siapa tahu Om Bram itu sebenarnya nggak kabur ke mana-mana! Siapa tahu dia bikin terowongan rahasia di bawah rumah kita ini, tepat di bawah ranjang kalian! Kan dia dulu yang bantu urus izin bangunan mansion ini, siapa tahu dia simpan ruang rahasia buat ngintipin kalian!" Mama Sarah dengan serius mulai mengarahkan piringan detektor itu ke kolong tempat tidur.
TIT... TIT... TIT... TIIIIIIIIIIIT!
Alat itu berbunyi melengking. Mama Sarah melompat kegirangan. "Tuh kan! Ada logam! Pasti itu pintunya! Devan, ambil linggis! Kita congkel sekarang!"
Devan menghela napas panjang, ia mendekat dan melihat ke bawah ranjang. "Ma... itu kaki ranjangnya terbuat dari baja. Tentu saja alatnya bunyi."
"Oalah... iya ya? Mama lupa," Mama Sarah menyengir tanpa dosa. "Tapi Papa Arkatama mana ya? Tadi katanya mau bantuin Mama bawa senter."
Papa Arkatama muncul dari ambang pintu dengan wajah pasrah, memegang sebuah senter besar yang baterainya sudah habis. "Ayo Ma, turun. Jangan ganggu Devan sama Anya. Mereka lagi pusing nyari jejak asli, bukan nyari terowongan khayalan Mama."
"Papa ini nggak ada jiwanya detektif pisan! Tahu nggak, kemarin Mama lihat di grup WhatsApp 'Ibu-Ibu Arisan Anti-Pelakor', katanya ada orang mirip Rico lagi beli martabak di ujung jalan tapi pakai kerudung buat nyamar jadi ibu-ibu! Mama yakin itu dia!" Mama Sarah bercerita dengan sangat meyakinkan.
Anya tidak bisa menahan tawa melihat tingkah mertuanya. "Ma, masa Rico pakai kerudung? Badannya kan setinggi Mas Devan, pasti kelihatan aneh."
"Ya namanya juga penyamaran, Sayang! Siapa tahu dia niat banget! Pokoknya Mama Sarah nggak akan tidur tenang sebelum si ulat bulu itu ketangkep!" Mama Sarah akhirnya ditarik keluar oleh Papa Arkatama, namun suaranya masih menggema di koridor, "Besok Mama mau sewa dukun pinter dari Banten buat nerawang lewat kopi!"
...****************...
Setelah kekacauan yang diciptakan Mama Sarah mereda, keheningan kembali menyelimuti kamar. Devan menatap Anya, rasa bersalah muncul di hatinya melihat wajah lelah istrinya yang masih berusaha tersenyum demi menghibur sang mertua. Devan menarik Anya kembali ke dalam pelukannya, membawa mereka berdua duduk di sofa besar yang menghadap langsung ke arah langit Jakarta.
"Maafkan aku, Sayang. Aku CEO Maritim, aku punya ribuan mata di setiap samudera, tapi aku tidak bisa menemukan dua pengkhianat di kotaku sendiri," bisik Devan sambil mencium jemari Anya satu per satu dengan penuh pemujaan.
Anya menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Devan, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas Devan. Kita akan menemukan mereka. Mungkin bukan hari ini, tapi kita akan menang karena kita punya sesuatu yang tidak mereka miliki."
"Apa itu?" tanya Devan, suaranya berat dan rendah.
"Cinta yang tulus dan doa dari Mama Sarah yang bawa detektor logam," goda Anya, membuat Devan akhirnya tertawa pendek, tawa pertama yang tulus setelah berhari-hari.
Devan menatap bibir Anya yang sedikit melengkung membentuk senyum. Godaan itu begitu kuat di tengah kesunyian malam. Ia meraup bibir Anya dalam sebuah ciuman yang awalnya lambat, penuh dengan kerinduan dan rasa syukur, namun dengan cepat berubah menjadi panas dan menuntut. Devan mengangkat tubuh Anya dengan mudah, membawanya ke atas ranjang pengantin mereka yang luas.
Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, Devan melepaskan kemejanya, memperlihatkan otot-otot bidangnya yang selalu membuat napas Anya tertahan. Anya membelai dada suaminya, merasakan detak jantung Devan yang berdegup kencang seirama dengan detak jantungnya sendiri.
"Hanya kamu, Anya... hanya kamu yang bisa membuatku merasa hidup di tengah badai ini. Tanpamu, aku hanyalah mesin yang tidak punya arah," bisik Devan dengan suara serak yang penuh gairah.
Setiap sentuhan Devan di kulit Anya terasa seperti api yang membakar semua ketakutan, kelelahan, dan kesedihan yang mereka alami sepanjang hari. Mereka melebur dalam keintiman yang mendalam, sebuah perayaan cinta yang menjadi satu-satunya pelabuhan aman bagi jiwa mereka yang sedang bertempur hebat di dunia luar. Di malam yang sunyi itu, mereka saling memiliki seutuhnya, membuktikan bahwa tekanan keluarga manapun tidak akan pernah bisa memutus benang merah yang sudah terikat erat oleh takdir.
...****************...
Keesokan paginya, Devan terbangun lebih dulu saat sinar matahari pertama menyelinap lewat celah gorden. Ia melihat laporan terbaru di tabletnya yang diletakkan di meja nakas. Hasil pencarian dari tim intelijen khusus di kawasan Kepulauan Seribu masih bertanda "Aman/Kosong". Om Bram benar-benar telah menyuap penjaga mercu suar dan menghapus koordinat GPS pulaunya dari sistem navigasi publik.
Pencarian yang susah ini masih terus berlanjut tanpa titik terang. Devan tahu, ia tidak sedang berhadapan dengan pencuri amatir, melainkan dengan bagian dari darahnya sendiri yang tahu setiap langkahnya.
Sementara di pulau persembunyiannya yang mewah, Om Bram sedang menelepon Eleonora di Paris, tertawa puas sambil merencanakan serangan ketiga yang akan jauh lebih menyakitkan bagi hati Anya.