NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Gimana rasanya bisa baca pikiran orang lain?"

tanya Hana memecah kesunyian mereka.

Semenjak duduk di hamparan rumput. Diam tanpa saling bicara. Hanya dua orang yang sama-sama menikmati keheningan alam. Langit biru cerah dengan hamparan awan putih yang berarak.

Sepoi angin yang menyejukkan.

Reiga menoleh agak terhenyak. Sejak tadi ia terhanyut suasana ini. Kalau dipikir, Reiga jarang punya kesempatan duduk bengong ini. Siapa yang menyangka kalau kegiatan ini menyenangkan juga.

"Seru," jawabnya singkat.

"Sejak kapan?"

"27 tahun yang lalu," jawabnya lagi.

"Pas 5 tahun?"

Dahi Reiga mengerut. Ada perasaan senang mendadak hanya karena Hana tahu usianya.

"It's a honour seorang Adrianne Hana yang terkenal bisa tahu usia aku," ucapnya.

"Dih, ge-er! Itu kerjaannya Nana," tukas Hana.

"Nana?"

"Arana Soediro. Salah satu kandidat yang mau dijodohin sama kamu."

"Alana. Arana. Kok yang satu bisa Adrianne?

Tanpa Soediro pula."

Hana malah tersenyum geli seakan pertanyaan Reiga lucu.

"Awalnya aku mau dinamain Adrian. Karena pas usg, i always give a sign as male, nggak tahunya yang lahir malah cewek."

Reiga ber-oh. Tanpa tawa. Kedua mata Hana membuka. Ini pertama kalinya ada manusia yang tidak tertawa mendengar kisah namanya.

"Terus Soediro-nya kenapa nggak ada?"

"Ayah aku bilang, sengaja nggak dikasih Soediro biar bisa pakai nama belakang suami," jawab Hana yang sampai detik ini selalu merasa jawaban almarhum ayahnya itu sebuah jawaban asal.

Reiga melihat pria tinggi tegap berdiri di belakang Hana. Berpakaian kemeja putih dengan jeans putih pucat. Tersenyum. Mengangguk padanya. Seakan mengiyakan ucapan Hana. Sosok yang Reiga tebak adalah almarhum ayah Hana.

"Almarhum ayah kamu visioner juga ya, Han."

"...?"

Hana memasang ekspresi bertanya.

"Karena Hana Reishard lebih enak didengar daripada Hana Soediro."

Hana terhenyak dengan dua mata membulat besar.

"Dih!"

Reiga terkekeh. "Setuju kan, Om?" Pria di belakang Hana itu ikut tertawa atas bualan Reiga.

"Kenapa kamu mau ikut perjodohan ini? Kamu itu populer banget sebagai suami idaman. Bukan tipe yang susah cari jodoh," ujar Hana lagi.

Ciri khas Adrianne Hana kalau udah penasaran sama orang. Ia akan terus bertanya seperti anak balita. Para sahabatnya sampai menyebutnya 'manusia kenapa' karena sifatnya ini.

"Mencoba berbakti sama Papa. He wants me date a girl, married, have two kids or more," jawab Reiga lugas dengan posisi duduk tegak dan bersila. Padahal tadi ia sedang selonjoran dengan dua tangan menyangga tubuhnya.

"Sama dong! Aku juga setuju ikut perjodohan ini demi Ibu. Ibu aku pengen banget dekat lagi sama Eyang Uti. Jadi kali ini aku mengalah," ucap Hana santai.

"Two check," tukas Reiga.

"Apanya?"

"Kecocokkan kita," jawab Reiga.

Hana tertawa canggung.

"Mantap, Pak. Usahanya!"

Reiga tertawa kecil.

"Geli nggak dengarnya?"

Hana tertawa.

"Tenang aja. Aku pernah dengar yang lebih cheesy dari kamu barusan," aku Hana.

"Dari Arnold?"

Hana mencibir.

"Kalau dia pernah sekali aja cheesy sama aku, then i will never end on this place with you, Reishard," jawab Hana masih kecewa.

Susah memang. Mana mungkin bisa menghilangkan rasa cinta yang dipupuknya begitu rajin penuh ketekunan selama 4 tahun ini.

"Then i have to thank him," ujar Reiga.

"Untuk?"

"Membuat kamu berakhir di tempat ini sama aku," jawab Reiga.

Kedua mata Hana membulat dan membuka.

Diikuti tawa geli dan gelengan kepalanya.

"Reishard...."

"Apa calon Reishard?"

Kedua mata Hana kembali mencuat berkat sahutan Reiga.

"Berhenti nggak, Rei."

"Berhenti apa? Mulai aja belum,"

Hana heran mengapa ia malah tersenyum lebar ketimbang marah dengan gombalan dangkalnya Reiga.

"Rei, udah ah. Capek."

"Capek ngapain? Dari tadi kamu cuma duduk bengong sambil liatin jembatan."

Hana tak tahan untuk tidak tertawa.

"Is this really you? Yang dijuluki monster ekonomi. Yang katanya susah dideketin. Misterius dan anti cinta sejati," ujar Hana menyebutkan semua informasi yang didapatnya dari Nana.

"Nggak susah dideketin. Cuma agak memilih orang yang boleh mendekat aja," ralat Reiga.

"Sombong maksudnya?"

"Kelihatannya?"

"Sedikit sih. Apalagi pas kamu lagi ngomong sama delapan manusia sinting di basement tadi."

Reiga terkekeh.

"Ya salah mereka kenapa gangguin calon anggota keluarga Reishard."

"Ih! Mulai lagi kan!"

"Apanya?"

"Reishard!"

"Aneh deh. Kok aku suka banget ya setiap kamu panggil aku begitu?"

Hana tertawa malu.

"Nggak jelas! Aku marah nih."

"Bukannya dari Jakarta juga udah marah-marah terus sama aku?" goda Reiga.

Kedua mata besar Hana kembali membuka.

"Heh!" tukas Hana malu sendiri.

"Sampai aku pikir kamu lagi PMS loh," tambah Reiga.

"Sok tahu! Suasana hati aku memang lagi buruk aja," aku Hana.

"Emangnya kita udah sedekat itu?"

"Maksudnya?"

Hana kini bingung beneran.

"Sampai kamu senyaman itu jadiin aku tong sampah emosi kamu," jawab Reiga tersenyum begitu menawan.

Mereka saling bertukar tatapan. Tersenyum. Hana mengulurkan tangan kanan.

"Apa nih?"

"Let's be friend."

Reiga menjabat tangan terulur Hana.

"I don't wanna be your friend, Han," tolaknya.

Hana terkesiap.

"Kalau nggak mau jadi teman terus kenapa jabat tangan aku???" bingung Hana dengan kening mengerut.

"Mana mungkin aku melewatkan kesempatan menggenggam tangan Adrianne Hana," jawab Reiga.

Hana terhenyak.

"Dih! Pervert!" seru Hana mengatai Reiga dengan wajah tersenyum geli.

Tangan mereka masih saling berpegangan.

Reiga melirik Denis yang masih berada di belakang Hana. "Just a kidding, Om."

"Ternyata ini ya rasanya jadi pervert."

"Maksudnya?" bingung Hana.

"Enak juga."

Hana terkesiap.

"Reisharddddddddddd!" pekik Hana berteriak dengan suara melengking.

Reiga tertawa lepas mendengar lengkingan suara Hana. Gadis itu melotot.

"Makasih udah ajak aku kabur," ucap Reiga tulus.

Berkat Hana, Reiga menemukan kegiatan menenangkan diri yang baru.

"Siapa yang ajak? Kamu yang paksa buat ikut sama aku."

"Two is better than one," ujar Reiga.

"With you?"

Hana memasang wajah sangsi.

"Why not?"

"Rei, udah ah," Hana tidak kuat lagi dengan sahut-sahutan gombalan dua jomblo menyedihkan ini.

"Kalau sama kamu, aku menolak udahan," ujar Reiga.

Hana gemas sendiri.

"Aku tampar ya," ancam Hana dengan muka geregetan.

"Kanan atau kiri?"

"Dua-duanya!" sewot Hana.

"Hari pertama udah kdrt," ledek Reiga.

"Apanya yang hari pertama? Jangan menyebar hoax ya! Kalau ada yang dengar bisa salah paham."

"Nggak mau ya?"

"Apanya? Dengar hoax?"

"Jadi Mrs. Reishard."

"Idih kok jadi ke situ sih!"

"Emangnya mau kemana?"

Hana tanpa sadar meremas kedua tangan Reiga saking gemasnya. Pria itu hanya tersenyum.

"Gimana kalau kita tanya jawab aja?" ajak Hana.

"Boleh. Tapi jawabnya jujur ya."

"Emangnya aku bisa bohong?" gumam Hana mengingat Reiga bisa baca pikiran.

Reiga tersenyum dengan nalar Hana.

"Aku kira kamu lupa kalau aku bisa baca pikiran."

"Aku bukan tipe orang yang mudah lupa."

"Three check."

Ah, ini pasti tentang kecocokkan mereka lagi.

"Reigaaaaa..."

"Hanaaaa..."

Mereka saling menatap. Dengan kedua bibir yang saling tersenyum.

"Terus gimana aku tahu kamu jawab jujur atau enggak?"

Reiga menyunggingkan senyum. Hana memang gadis yang pintar.

"Kalau begitu lupakan tanya jawab ini."

"Kenapa?"

"Karena dari awal aja kamu udah nggak berniat untuk percaya."

Hana diam. Berpikir. Ah, Reiga benar juga!

"Yaudah. Apapun jawaban kamu, i will believe that," ujar Hana sepenuh hatinya.

Reiga bisa melihatnya jelas dengan kedua matanya.

"Bisa dimulai?" tanya Hana tak sabaran.

Entahlah apa yang ingin ditanyakannya. Reiga tidak menemukan apapun di dalam sana. Hana sepertinya tipe yang cepat belajar. Tak lagi menyimpan hal penting di kepala seperti tadi. Reiga paham sekarang. Hana belajar untuk menahan pikirannya. Secepat itukah gadis ini mempelajarinya? Sungguh Reiga ingin standing applause dibuatnya.

"Silahkan," jawab Reiga.

"Kenapa bisa disebut anti cinta sejati?"

"Karena aku memang nggak percaya ada cinta sejati."

"Kenapa?"

"I think this is my turn?" Reiga menatap Hana sambil senyum. Mengingatkan Hana akan gilirannya bertanya.

"Okay... Mau tanya apa?"

"Kenapa nggak lanjutin profesi kedokterannya?"

Hana tertegun mendengar pertanyaan itu.

Biasanya dia langsung dihakimi atas pilihan kontroversialnya ini. Terutama oleh keluarga besar Ayahnya. Kini seorang asing bertanya padanya dengan raut wajah tenang nan teduh. Hana menghela napas panjang sebelum menjawab.

"Panjang ceritanya."

"Itu nggak termasuk jawaban kan, Han?"

Hana tertawa kecil.

"Ya enggaklah. Aku nggak selicik itu."

"Syukurlah," ucap Reiga berlagak lega.

"Heh!" gemas Hana ingin merauk wajah tampan Reiga yang tengah berekspresi menyebalkan.

"Aku merasa nggak cocok aja jadi dokter. Menanggung beban seberat itu untuk menjadi perantara Tuhan menyelamatkan nyawa pasien. It's too heavy too carry. Dan benar aja kan, waktu lihat ayah meninggal. Betapa hancurnya hati aku. Hati ibu aku. Aku rasa aku beneran nggak sanggup menghancurkan hati anggota keluarga manapun seperti itu. Meski aku tahu itu semua takdir.

Kematian adalah takdir yang nggak bisa kita lawan atau hindari kan," jawab Hana panjang lebar.

Reiga melihat kenangan memilukan itu dari Hana. Juga raut wajah sedih Om Denis yang ada di belakang Hana. Kenapa rasanya ia ingin meraih Hana dalam sebuah pelukan detik ini juga? "Jangan konyol, Rei!"

"Terus kenapa kamu bisa nggak percaya cinta sejati?"

"Waktu usia aku delapan tahun, Papa-mama cerai."

Raut wajah simpati Hana muncul. "Tapi bukan itu sih inti alasannya," ucap Reiga.

"Terus?"

Hana kadung penasaran.

"Next turn!" ujar Reiga menggoda Hana.

"Ih curang!" sebal Hana merasa dipermainkan Reiga.

"Kamu yang bilang loh."

"Tapi bukan yang kayak gini, Reishard! Ini sih namanya kamu curangin aku!" protes Hana.

"Curangnya di mana?"

"Jawab setengah-setengah!"

"Emangnya ada aturannya?"

Hana cemberut. Memang tidak ada aturannya sih. Kedua mata Hana menyipit.

"Ayo lanjut!" seru Hana berencana membalas Reiga.

Reiga terkekeh. Lalu handphone-nya berdering. Dimas. "Boleh nggak aku angkat telepon dulu?" tanya Reiga.

"Boleh. Then it's my turn ya!" ujar Hana secara sepihak menganggap pertanyaan izin Reiga sebagai bagian dari permainan tanya jawab mereka. Reiga terkekeh. "Susah ya kalahin cewek pintar," puji Reiga sebelum akhirnya ia menggeser simbol berwarna hijau.

"Kenapa, Dim?"

"Urgent, Pak. Meeting sama Pak Naufal kayaknya nggak bisa diwakilkan. Beliau mau membahas kontrak yang baru," jawab Dimas.

Reiga menghela napas. Membuat Hana ingin tahu alasan dibalik helaan napas itu.

"Jam berapa?"

"3 jam dari sekarang di gedung utama Reishard Corporation, Pak," jawab Dimas.

"Oke kalau begitu."

Dimas menghela napas lega.

"Tugas yang saya kasih udah dikerjakan?"

"Beres, Pak. Udah saya ringkus semua begajulan itu sesuai dengan instruksi Pak Reiga."

Reiga tersenyum.

"Terima kasih ya, Dim. Kamu memang selalu bisa diandalkan," ujar Reiga.

Dimas terkekeh bangga.

"Konfirmasi ke Captain. Saya sampai di hanggar 30 menit lagi."

"Siap, Pak."

Telepon itu berakhir kemudian.

"Kamu disuruh pulang?"

"Iya. Ada meeting yang nggak bisa diwakili," jawab Reiga.

"Yaudah nggak apa-apa. Kamu pulang aja. Aku sendiri juga nggak masalah," ucap Hana serius.

"Kamu ikut aku pulang lah," ujar Reiga.

"Dih! Kok gitu?" Hana memajang raut wajah menolak.

"Aku bisa dimarahin kalau tinggalin kamu sendirian di sini," ujar Reiga melirik Denis yang tersenyum kearahnya.

Dahi Hana mengerut.

"Siapa yang marah? Kenal Ibu aku aja belum," heran Hana.

"Belum saatnya tahu," jawab Reiga sok misterius.

Hana membuat ekspresi jengah.

"Nggak jelas!"

"Emangnya udah siap kalau aku datangin untuk memperjelas semuanya?"

"Idih apaan sih, Rei!" sebal Hana.

Reiga tersenyum. Lalu mengulurkan tangan kanannya kearah Hana.

"Ayo pulang, Han," ajak Reiga dengan low tone gagah yang tidak pernah Hana dengar dari lelaki manapun.

"Sadar, Han! He is just good to everyone," ucap Hana dalam pikirannya.

Reiga kembali tersenyum.

"Aku memang baik sama semua orang, tapi baru kamu yang sampai segininya aku ajakin pulang bareng," sahut Reiga membalas pikiran Hana.

Hana menyipitkan mata sebal.

"Dilarang baca pikiran aku!" seru Hana sebal. Lalu tangannya menjabat uluran tangan Reiga.

"Semudah ini berubah pikiran. Aku kira aku harus salto sampai jembatan supaya kamu bilang iya," ledek Reiga.

Hana tertawa kecil. Cantik sekali.

"Sembarangan! Aku nggak semenyebalkan itu ya dan kamu nggak perlu se-usaha itu juga sih," komentar Hana.

"Kenapa nggak? Kamu itu pantas diperjuangkan," ujar Reiga.

Hana terperangah mendengarnya. "Jangan berdebar, Han. Jangan!"

"Curang banget," timpal Reiga.

"Apanya? Baca pikiran aku lagi ya?!" galak Hana.

Reiga mendekatkan wajahnya. Membuat dada Hana berdesir tanpa bisa dicegahnya.

"Kamu duluan yang buat aku berdebar, masa kamu nggak? Curang kan namanya?"

Hana canggung seketika. Ia buru-buru berdiri sampai tanpa sadar menyeret Reiga ikut berdiri bersamanya.

"Ayo pulang! Kamu ada meeting penting kan!?"

Kikuk Hana.

Reiga tersenyum lebar.

CEKRIK! CEKRIK!

Seseorang berkacamata hitam tampak mengambil foto Hana dan Reiga dari balik pohon. Tersenyum menyeringai seakan baru saja mendapatkan harta karun.

"This will be a big news!" serunya senang.

*

Sebuah Mercedes Benz berhenti di depan pintu masuk hanggar. Reiga menyapa supir mobil tersebut. "Siang, Pak Hanif," sapanya akrab.

"Siang, Pak."

"Tolong antarkan, Bu Hana selamat sampai mobilnya di alamat yang sudah diberikan Pak Dimas ya, Pak," ujar Reiga memberikan instruksi pada Pak Hanif.

"Siap, Pak. Akan saya pastikan Bu Hana selamat sampai tujuan," jawab Pak Hanif serius.

"Makasih ya, Pak," ujar Reiga yang kemudian membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Hana.

Hana yang sejak tadi memandanginya dalam diam. Hana yang tidak bisa melarang dirinya untuk tidak tergugah dengan sikap gentle Reiga sejak awal pertemuan mereka.

"Nggak mau masuk? Mau ikut aku aja?" ajak Reiga setengah meledek.

Hana tersadar.

"Dih!" Ia mencibir cepat menutupi malu hatinya. Lalu masuk ke dalam mobil. Reiga menutup pintu mobil. Hana menurunkan kaca jendela pintu mobilnya.

"Maaf ya, Han. Aku nggak bisa anterin kamu. Aku udah ditungguin," ucap Reiga dengan wajah kecewa.

"Nggak apa-apa. Makasih ya buat hari ini. Aku jarang... Ralat! Nggak pernah ngobrol se-enggak jelas kayak tadi sama siapapun. Sejauh ini, ini adalah perjalanan kabur terbaik yang pernah aku lakuin," ujar Hana jujur memperlihatkan rasa senangnya.

Persis seperti apa yang dipikirkan gadis itu dalam kepalanya.

"Four checked dong," goda Reiga.

"Bisa berhenti check list nggak?" sewot Hana.

"Kenapa? Takut menerima kenyataan kalau kita memang secocok itu?"

"Reisharddddd," gemas Hana.

Reiga terkekeh pelan.

"Kalau pacar udah aku cium nih," ujar Reiga mengutarakan inginnya.

Hana tergelak. Pak Hanif pun tersenyum mendengar untuk pertama kalinya bos-nya itu menggoda perempuan.

"Aku juga," timpal Hana.

Reiga terhenyak. Hana menatapnya dengan mata berbinar.

"Gimana rasanya digombalin balik?"

Bibir Reiga mengulum senyum.

"Tanggung jawab loh kalau aku ketagihan," tukas Reiga.

Hana memeletkan lidah.

"Tanggung sendiri akibatnya. Aku pergi duluan boleh?"

"Mulai minta izin nih?"

"Bagian dari tata krama, Pak!" tukas Hana cepat.

Reiga hanya menanggapinya sambil tersenyum.

Kaca jendela dinaikkan Hana. Mobil itu pergi meninggalkan hanggar. Reiga memandanginya sampai tak terlihat lagi. Lalu ia tersenyum atas kelakuan ajaibnya hari ini. Berulang menggombal pada Hana. Apa yang terjadi padanya? Bukankah aturan mainnya selama ini jelas? Ada jarak dan batas yang tidak boleh dilewatinya. Namun hari ini, demi Hana ia bagai manusia tanpa aturan. Yang paling gila dari semua itu adalah pembiaran akan jantungnya yang berdebar secara berbeda karena Hana.

*

"Udah berapa lama kerja sama Pak Reiga, Pak?" tanya Hana.

Sungguh ia dibuat penasaran akan sosok Reiga.

Setidaknya kalau bertanya pada Pak Hanif. Hana tidak perlu takut pikirannya dibaca kan.

"Udah tujuh tahun, Bu," jawab Pak Hanif.

"Lama juga ya. Orangnya galak ya, Pak?"

"Pak Reiga?"

"Iya."

"Pak Reiga itu orangnya ramah dan sopan sama siapa saja. Semua pegawainya diperhatikan kesejahteraannya. Baik banget. Nggak ada obat kalau kata anak sekarang mah," jawab Pak Hanif semangat.

Pertanda bahwa itu memang benar adanya. Setidaknya itu yang dirasakan Hana. Keyakinan samar yang mulai tumbuh dihatinya. Dan bukankah Hana sendiri sudah merasakan kebaikan Reiga.

"Pak Reiga udah punya pacar, Pak?"

"Loh bukannya Bu Hana ini pacarnya, Pak Reiga?" tanya balik Pak Hanif dengan wajah heran.

Hana jadi salah tingkah. "Ih kenapa gue salah tingkah sih!" sebal Hana akan diri sendiri dalam hati.

"Siapa yang bilang, Pak? Pak Reiga?"

Pak Hanif menggeleng.

"Nggak ada yang bilang begitu sih, Bu. Tadi Pak Dimas cuma bilang saya disuruh antar Bu Hana dengan selamat sampai hotel buat ambil mobil. Terus tadi lihat Pak Reiga juga serius banget titipin Bu Hana-nya. Ya, saya pikir karena Bu Hana pacarnya Pak Reiga. Soalnya saya nggak pernah lihat Pak Reiga seperhatian itu sama perempuan. Kayaknya Bu Hana yang pertama deh diajak naik jet pribadi bareng," jawab Pak Hanif panjang lebar.

"Masa sih?"

Pak Hanif mengangguk memberikan pembenaran.

"Emangnya Pak Reiga nggak pernah suruh Pak Hanif jemput perempuan siapa gitu, Pak?"

Sekarang Hana jadi benar-benar penasaran. Pak Hanif menggeleng.

"Baru kali ini, Bu. Sumpah deh!" aku Pak Hanif.

Hana mengernyitkan kening. Apa ini? Apa Reiga tengah melibatkannya dalam sebuah permainan besar yang tak diketahuinya? Baiklah, tidak ada salahnya waspada kan? Si anti cinta sejati itu pasti ada maksud dan tujuan dengan kebaikannya. Mana mungkin dilakukan Reiga secara percuma! Iya kan? Pasti begitu!

Denis yang duduk di sebelah kanan Hana tersenyum sambil geleng kepala atas pikiran liar dan tak berdasar putrinya pada kebaikan dan ketulusan Reiga. "Kamu memang nggak pernah berubah, Han."

Hana mengambil handphone lalu tampak mengirim pesan pada Juni, asistennya.

Hana

Jun, gue ada kerjaan buat lu

Juni

Nongol juga akhirnya.

Dari mana aja sih lu, Han?

Gue hampir telepon polisi takut lu nekat bunuh diri di pohon toge.

Hana berdecak membaca balasan chat Juni.

Emangnya dia sebodoh itu sampai mengorbankan diri sendiri demi cinta? Cinta bertepuk sebelah tangan pula!

Hana

Jangan sembarangan kalau ngomong ya!

Gini-gini gue lebih tua dari lu!

Juni

Lebih tua sebulan aja bangga banget

(눈눈)

Hana

Cari tahu soal Reiga dong!

Temen lu kan banyak.

Lu juga hobi gibah kan.

Juni

Idih cieeee

Tiba-tiba mau cari tahu soal calon suami

Hana

Gue tampar ya!

Juni

Kenapa nggak sih, Han?

Kalau sama Reiga, lo bakal memukul dua bola

sekaligus.

Hana

Maksudnya?

Juni

Lulusan Harvard tapi beginian aja nggak paham

Hana

Hati gue masih bersih.

Nggak kayak lu!

Juni

Sialan!

Tapi iya sih.

Lu tuh emang terlalu nggak mau ikut campur urusan orang sih.

Hana

Korelasinya di mana?

Juni

Lu bisa bales Arnold dan bikin keki Lana dalam satu pukulan, Nyet!

Ih gemas deh gue sama lu!

Hana terdiam. Juni ada benarnya sih. Ini kesempatan emas! Mendompleng Reiga untuk mengompori Arnold dengan bonus membuat Lana kesal. "Reiga nggak pantas kamu perlakukan begitu, Han," ucap Denis meski ia tahu putri semata wayangnya tidak mungkin bisa mendengarnya.

Hana menggeleng pelan. "Enggak! Gue bukan orang jahat!" pekik Hana.

"Apa, Bu?" sahut Pak Hanif.

Hana sontak kikuk seketika.

"Ah enggak kok, Pak. Lagi ngomong sendiri juga," jawab Hana bicara asal dengan cengengesan.

"Oh, kirain lagi ajak ngomong saya," ucap Pak Hanif lalu kembali serius menyetir mobil.

Hana

Reiga terlalu baik untuk diperlakukan sejahat

itu

Juni

Eits!

Tahu dari mana Reiga terlalu baik???

Mencurigakan banget!

Hana

Bawel!

Pokoknya lu cari tahu soal Reiga.

Juni

Mau tahu tentang apanya nih?

Hana ragu mengetiknya. Karena ia yakin 100% sehabis Juni membacanya, dia akan habis diledek.

"Masa bodo!"tukas Hana dalam hati.

Hana

Daftar mantan pacarnya

Juni

Tuh kan!

Kalau sudah begini Hana memilih memasang muka tembok. Apalagi kalau Juni sampai tahu dia habis jalan sama Reiga.

Hana

Nggak usah ribut!

Buruan cari!

Juni

Siap!

Mau cari tahu apalagi?

Hana

Image dia selama ini di muka umum

Juni

Wuidih berat!

Ada apaan sih nih?

Lu beneran mau nikah sama dia, Han?

Hana terkejut sendiri membaca pesan terakhir Juni. Terkejut akan bayangan ngaco yang barusan muncul dikepalanya. Bayangan dirinya sebagai Mrs. Reishard. "Udah mulai kacau sih lu, Han!" tukasnya dalam hati. Lagian dari tiga kandidat. Bukankah 100 persen, Reiga akan memilih Lana?

*

Reiga membaca dengan serius berkas meeting yang diberikan Dimas. "Pak Reiga serius amat ya. Padahal mau tanya kebenaran Adrianne Hana. Jangan sampai gue salah kasih informasi ke Pak Rahardian dan bikin karir gue end!"

Akibat suara hati Dimas itu, Reiga mengangkat kepalanya untuk menatap aspri-nya.

"Meeting tadi pagi ketemu Papa?"

itu. Dimas bak orang cengo mendengar pertanyaan

"I Iya, Pak."

"Papa tahu saya pergi kemana dan siapa?"

Dimas mengekeret dengan wajah pucat.

"Sebelumnya saya mohon maaf, Pak. Tapi saya satu kalipun nggak menyebut nama Bu Hana ataupun Singapura. Hebatnya, Pak Rahardian bisa tahu seakan beliau membaca pikiran saya, Pak," ujar Dimas seraya menunduk.

Reiga mendengus.

"Pikiran kamu memang dibaca, Dim," komen Reiga yang sudah lelah duluan membayangkan rentetan pertanyaan Papa-nya nanti begitu bertemu.

"Maksudnya gimana, Pak?"

"Kamu tuh orangnya terlalu polos. Gampang dibaca," kilah Reiga.

"Masa sih, Pak?" Dengan mudah Dimas mempercayai ucapan Reiga.

Bos-nya itu mengangguk. Reiga mengulurkan berkas yang dipegangnya pada Dimas.

"Dim, saya butuh alamat rumah Hana. Cariin ya," ujar Reiga yang merasa bodoh sekali tidak minta nomor handphone Hana dan ia terlalu tidak sabar menunggu jadwal pertemuan perjodohan lagi hanya untuk bisa bertemu Hana.

"Mulai gawat sih lu, Rei!" keluhnya sendiri dalam hati. Namun bertukar pikiran dengan Hana memang secandu itu.

Kegawatan yang dimaksud Reiga itu

terbenarkan dari raut wajah Dimas yang seakan berkata 'HAH!?' saking syoknya mendengar bos-nya untuk pertama kalinya sepanjang karir pengabdiannya pada Reiga di Reishard Corporation menyuruhnya mencari alamat seorang wanita.

Samanta melambaikan tangan kearah Hana yang baru masuk melewati pintu toko pastry bernama Levant Boulangarie. Toko pastry di bilangan Cipete yang mengadopsi gaya Perancis. Tempat favoritnya Samanta dan Hana untuk mengobrol sambil makan coissant yang mereka pesan secara berulang.

"Kirain masih di Orchard," tukas Sam seraya bercipika-cipiki dengan Hana.

Mereka berdua duduk berdampingan di salah satu kursi rotan yang ada di bagian outdoor toko pastry ini. Pojok kesukaan Sam nomor dua. Karena yang nomor satu sedang diduduki pelanggan lain. Kontan saja, desainer papan atas itu sedari tadi tampak badmood.

"This is not yours, Sam. Biasa aja sih liatinnya," ledek Hana melihat Sam begitu sinis kearah sepasang muda-mudi yang sedang lunch bersama.

"Shut up deh lu, Han!" ketus Sam.

Hana tak ambil pusing dan sibuk memilih menu yang akan dipesannya. Tadi pagi cuma makan satu bomboloni. Hana menyesal tidak mencicipi makanan yang disajikan pramugari di jet pribadi Reiga tadi. Sekarang perutnya keroncongan.

"Cara lu melototin mereka udah mirip istri tua pergokin lakinya selingkuh sama bini muda," ledek Hana.

Sam tertawa karenanya.

"Jokes lu emang nggak ada lawan sih ya, Nyet!" puji Sam.

Hana cuma nyengir. Sam lantas memandangi Hana. Sahabatnya yang dikenalnya sejak kuliah fashion design bareng di Paris. Hana yang baru kehilangan sosok ayah. Hana yang meniti karir. Hana yang keras kepala. Hana yang akhirnya jadi aktris kenamaan. Hana yang membuang waktu percuma dengan bucinin kampret bernama Arnold selama 4 tahun. Samanta sudah melihat berbagai macam Hana. Tapi, Hana hari ini tampak berbeda dari biasanya. Raut wajah yang sudah amat lama tidak dilihatnya dari Adrianne Hana. Terlebih sejak Om Denis meninggal.

"Normalnya orang yang patah hati itu mukanya lecek, kusam, dan bikin eneg buat diliat. Apakah Adrianne Hana yang seorang aktris papan atas itu mengalami pengecualian?" komen Sam.

Hana tersenyum.

"Padahal hari ini gue bare face loh. Nggak pakai make up," bangga Hana.

Samanta menoyornya.

"Bukan itu maksud gue, Nyet!" sebal Sam.

Hana tertawa. Sejujurnya dia juga bingung kenapa mood-nya sebagus ini. Apa ada kaitannya dengan Reiga? "Ya Allah, Han. Reiga lagi. Reiga lagi!"

Sewot Hana akan diri sendiri.

"Pasti Juni ya? Si lambe turah yang kasih tahu lu soal Arnold," tebak Hana.

Samanta menatap sinis Hana.

"Bagus si Juni lambe turah, kalau dia amanah, wah bisa putus persahabatan kita saking lu sok rahasia-rahasiaan sama gue dan Na," ujar Sam sekalian menyindir Hana yang malah cengar-cengir ketimbang merasa tersindiri.

"Gue tuh bukan sok rahasia. Gue cuma nggak mau ngeribetin lu berdua. Lu sibuk rekonsiliasi hubungan sama Niyo. Sementara Na sendiri aja masih berusaha sembuh dari luka batin. Masa gue mau tambah-tambahin."

Hana si pemikir.

"Hmm, bisa aja ya Adrianne Hana cari alasan. Okay, gue terima alasannya. Sekarang lu jawab pertanyaan ini ya, Han. Sejujur-jujurnya!" serius Sam.

Hana menatap Sam meledek. "Apa sih!? Nggak lucu! Eh tapi boleh nggak gue pesan dulu? Tadi cuma makan bomboloni," ujar Hana.

"Yaudah sok pesan atuh," ucap Sam.

Hana mengangkat tangan memanggil waitress yang kemudian menghampirinya. Hana memesan minuman Indochine yang berisi jus wortel, berani pada Arnold kemarin mungkin adalah akhir dari kengototannya mengejar cinta Arnold Baskara Mahendra. Walau hatinya masih senyeri ini setiap kali ingat wajah sumringah Arnold yang begitu semangat menyuguhkannya pada Reiga hanya agar Lana berpaling padanya. Emang dasar cowok sialan!

"Dibanding Lana, gue memang payah ya, Sam," ucap pelan Hana.

"Mulai ngaco kan lu, Nyet!"

"Lu tahu nggak, Nyet? Bagian yang paling nyakitin gue apa?"

"Dia sadar gue suka sama dia, tapi dia sengaja berakting nggak peka hanya agar bisa terus dekat dengan Lana. I feel very very stupid everytime i remember it!"

"Then forget it, Han! I know you can do it!" ujar Sam seraya merangkul Hana.

"Entahlah. Apa iya gue masih bisa sehebat itu berakting nggak apa-apa saat gue udah tanda tangan kontrak film baru yang diproduseri sama dia?"

Raut wajah Sam berubah tak yakin.

"Yah celaka dua belas kalau begitu sih," ujarnya.

Hana mendesis.

"Sangat tidak solutif sekali ya opini anda, Ibu Samanta Adiguna," sebal Hana.

Sam terkekeh.

"Yaudah gimana kalau lu ikut refreshing aja sama gue," ajak Sam dengan mata berbinar.

"Perasaan gue nggak enak."

"Dih lebay!" cibir Sam.

"Niyo lagi pegang program olahraga artis lawan artis gitu. Ada bagian founder Cuy Entertainment juga sih yang ikutan. Lu ikut dong, Han. Tolongin Niyo. Event-nya sih udah gede tapi pasti akan lebih viral kalau seorang Adrianne Hana ikut. Hitung-hitung bantu cowok gue sih," ujar Sam membuka iPad miliknya dan menunjukkan outline gambar event yang tadi dia bicarakan.

Kedua mata Hana membuka melihat wajah tak asing sebagai salah satu pemilik Cuy Entertainment. "Reiga Reishard," ujar Hana membaca nama yang tertera di atas foto Reiga. Samanta cengengesan.

"He ... iya. Cowok yang dijodohin sama lu, Nana, dan Lana. Reiga Rahardian Reishard, sahabatnya Niyo dari SMA. Orangnya baik kok, Han. Friendly dan sekalipun konglomerat, nih anak satu nggak sombong. Ya, wajarlah kalau sepupu lu yang merasa dirinya spesial itu mengincar Reiga," ujar Sam seakan mempromosikan Reiga pada Hana.

"Ya. Gue percaya kok," ujar Hana.

Samanta menatap Hana tak percaya.

"Kenapa lu?" Hana sampai kaget sendiri.

"Kok bisa lu semudah itu percaya kalau Reiga sesuai dengan yang gue bilang? Lu udah dinner sama dia ya, Nyet?!" tuduh Sam.

"Bukan dinner, Sam. Gue barusan aja traveling singkat sama tuh orang." Tentu itu hanya dalam hati Hana dan tak berani diungkapnya.

"Bilang sama Niyo, kalau memang masih boleh, gue bersedia ikut. Tinggal bilang sama Juni aja kapan jadwalnya," ujar Hana mengalihkan perhatian Sam.

Kedua mata Samanta membelalak. Ia memeluk Hana erat. "Hana emang yang terbaik. I love you!! Gue doain semoga lu dapat laki yang bucin sama lu, yang mau aja ikutin mau lu, yang ganteng, banyak duit, penyayang, dan sama gilanya kayak lu!!" pekik Sam senang.

Pekikan yang sukses menjadikan mereka berdua tontonan. Hana yang biasanya malu banget dengan tingkah laku Samanta mendadak tak berkomentar karena dikepalanya sekarang terbayang wajah Reiga sebagai sosok yang didoakan Sam untuknya.

"Mampus lu, Han!" umpat Hana pada dirinya dalam hati.

***

1
𝐀⃝🥀Weny
thor, kok blm up lagi😪
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!