Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 4
Rumi akhinya pergi kembali ke rumah ibu mertuanya di antarkan oleh Fathur. Dia langsung menuju ke dapur sedangkan di ruang keluarga terdengar suara tawa Bu Sri dan juga anak menantunya yang lain.
"Dek ..." panggil Fathur saat melihat keadaan dapur seperti kapal pecah.
"Ini yang kamu inginkan kan, Mas! Aku di sini bukan sebagai menantu melainkan ba bu keluargamu! Menantu ibumu mereka di sana, pergilah Mas! Biasanya juga kamu langsung pergi ke sana bergabung dengan mereka dan ikut tertawa!" jawab Rumi sambil tersenyum tipis membuat hati Fathur berdenyut nyeri.
Rumi mulai membereskan meja makan yang susah tak jelas bentuknya. Fathur pada akhirnya mengambil lap dan ikut membantu Rumi. Rasa bersalah begitu besar dia rasakan. Dia tahu di banding dengan kedua kakaknya, dirinya belum mampu memberikan banyak kepada sang ibu. Namun, melihat istrinya terluka dan harus membersihkan bekas makanan mereka semua membuatnya merasa bersalah.
Rumi tak banyak bicara dan membiarkan suaminya membantu dia. Dia sudah terlalu kesal dengan perlakuan ibu mertua dan saudara-saudara suaminya. Yang terpenting dia sudah mendapat izin untuk bekerja.
"Fathur! Ngapain kamu di dapur dan ikut bersih-bersih! Biarkan saja si Rumi yang kerjakan sendiri! Lagi pula itu sudah tugas dan kewajiban dia! Cuci tangan dan ikut ibu mengobrol bersama dengan kakak-kakakmu dan keluarganya!" tegur Bu Sri.
"Tapi Bu, ini sangat ko-/tor dan berantakan! Kasihan Rumi kalau membersihkannya sendiri!" jawab Fathur, tapi Rumi hanya melirik mereka saja.
"Itu sudah tugas dia di sini! Jangan manjakan dia, maka nanti akan semakin besar kepala! Sudah cuci tangan kamu dan ikut dengan ibu! Ibu tak mau di bantah!" ajak Bu Sri.
"Dek ... " panggil Fathur saat akan pergi dari dapur.
"Pergilah, Mas! Tempatku memang disini dan akan selalu di sini selama aku bersamamu!" jawab Rumi tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Dek, maafkan Mas! Bukan begitu maksudnya, tapi ..." Fathur mencoba menjelaskan.
Dia merasa sangat bersalah namun tak bisa tegas dan memilih mengikuti langkah kaki ibunya menjauh dari sang istri dan ikut bergabung dengan keluarganya yang lain. Rumi mendongakkan kepalanya, mencoba menahan air mata yang sedari tadi menggenang.
Perjuangannya mendapatkan pengakuan dari keluarga Fathur sangatlah berat. Tiga tahun tetap tak di anggap, walau banyak pengorbanan yang sudah dia berikan kepada mereka. Sang suami, hanya bisa memberikan janji, namun sampai saat ini Fathur tak pernah berani membela dirinya terang-terangan di hadapan ibunya.
"Rasanya sesak sekali ya Allah ... Mas, sampai kapan kamu akan lebih memilih ibumu terus? Tiga tahun selalu begini, apa artinya aku untuk kamu?" ucap Rumi memegangi da-danya yang terasa semakin sesak.
Air mata yang sedari tadi coba dia tahan akhinya turun juga, tangannya membersihkan dapur yang sangat kotor. Sedangkan di ruangan lain, terdengar tawa canda dari mereka semua. Apalagi suara ibu mertuanya sengaja di tinggikan saat memuji dua menantu kesayangannya.
Intan dan Hani, mereka selalu menjadi menantu kesayangan karena berasal dari keluarga yang setara dan juga lebih berada dari keluarga Bu Sri. Sedangkan dirinya hanya dari keluarga miskin yang selam ini hanya hidup bersama dengan neneknya. Bahkan dia juga tak tahu di mana keberadaan kedua orang tuanya.
"Makanya Fathur kamu itu cari istri yang seperti Hani atau Intan! Mereka bisa membahagiakan ibu dengan cucu yang lucu-lucu, juga mereka sangat sayang kepada ibu. Mereka tak selalu memperhatikan kebutuhan ibu setiap bulan! Tidak seperti istrimu itu yang datang ke rumah kalau ibu panggil!" suara Bu Sri terdengar sangat nyaring.
Rumi menunggu suaminya menjawab ucapan sang ibu, namun percuma. Karena sepetinya Fathur hanya bisa diam saja. Tanpa mau membela dirinya. Dia tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka dan kedua kakaknya. Kedua kakak iparnya memiliki pekerjaan, sedangkan dirinya selama menikah selalu di larang bekerja oleh Fathur dengan berbagai alasan. Alhasil hal itu selalu menjadi alasan Bu Sri menjadikan dirinya pembantu gratisan di rumahnya. Tiga kali dalam satu Minggu dirinya harus membersihkan rumah mertua.
Rumi tertawa getir mendengar pembicaraan mereka yang lebih banyak mencemooh dan mengejek dirinya yang jelas-jelas ada di sana. Suami yang seharunya membela harga diri istrinya hanya diam saja. Seolah membenarkan semua ucapan keluarganya. Rumi memilih pulang sendiri saat siang menjelang. Dia tak menunggu Fathur juga tidak pamit, yang penting pekerjaannya selesai.
"Jangan sedih Rumi! Sekarang kamu harus fokus mencari pekerjaan! Setidaknya kamu punya penghasilan sendiri!" Rumi memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Selama ini nafkah yang dia dapat dari Fathur harus di bagi dua dengan mertuanya. Bagaimana mereka bisa memiliki rumah atau menabung? Untuk biaya sehari-hari saja pas-pasan.
Rumi mencoba mencari pekerjaan dari satu toko ke toko lainnya. Dari satu cafe ke cafe lainnya. Namun sampai sore menjelang hasilnya nihil. Hari ini dia belum bisa mendapatkan pekerjaan. Dia memilih untuk pulang.
"Semoga besok aku bisa dapat pekerjaan," ucap Rumi memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
"Dek, kamu kemana saja? Kenapa pergi dari rumah ibu nggak bilang-bilang sama, Mas! Mas nyari-nyari kamu dan khawatir. Nomor kamu juga malah nggak aktif!" Fathur sudah menunggu dirinya di teras.
"Aku nggak bawa ponsel, Mas! Lagian mas sedang asik mengobrol dengan keluarga, Mas. Aku nggak aku menganggu kesenangan kalian. Lagi pula aku sudah selesai dengan tugasku, beres-beres di dapur sebelum pergi!" jawab Rumi membuat Fathur menunduk.
Dia baru menyadari kalau dirinya tanpa sengaja sudah ikut menyakiti hati istrinya. Dia hanya terbawa suasana saat mengobrol dengan keluarganya. Hingga akhirnya ikut tertawa bersama mereka. Dia tak tahu jika istrinya di dapur menangis mendengar tawa bahagianya.
"Maafkan Mas, Dek!" hanya itu yang bisa Fathur katakan.
"Sudah biasa, Mas! Tidak perlu minta maaf!" jawab Rumi.
"Kamu dari mana? Kenapa baru sampai ke rumah?"
"Cari kerja, tapi belum dapat. Besok akan coba lagi!" jawab Rumi.
"Apa tidak lebih baik kamu urungkan saja mencari kerja, dek. Kamu lihat sendiri kalau cari kerja itu sudah sekali, apalagi kamu ..." Fathur tak meneruskan ucapannya saat melihat tatapan tajam istrinya.
"Nafkah yang kamu berikan apa cukup untuk kita berdua mas? Bahkan gaji kamu saja harus aku bagi rata dengan ibu? Bagaimana kita bisa apunya tabungan? Untuk makan saja kita kesulitan!" jawab Rumi.
"Aku memang cuma lulusan sekolah rendah. Tapi setidaknya aku bisa menggunakan kedua tenagaku ini untuk menghasilkan uang, Mas! Dari pada aku hanya gunakan untuk menjadi ba bu di rumah ibumu! Aku lelah, semua pengorbanan aku tak pernah ada artinya. Tolong jangan di lanjutkan lagi pembicaraan kita! Dari pada kita kembali cekcok! Karena akhinya akan sama, kamu akan tetap membela ibumu, surgamu, Mas!" ucap Rumi sebelum masuk ke dalam kamar.
"Dek, tangan kamu ..." Fathur mencoba meraih tangan Rumi.
Tapi Rumi menepis lembut dan meninggalkan suaminya. Fathur hanya bisa duduk dengan lemas menatap punggung Rumi yang menjauh. Mata lelah istrinya terlihat dengan jelas, tangannya terlu-ka.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/