karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEN SAMPAI DENGAN BODYGUARD NYA DI RUMAH SERA
Hari yang selama ini dinanti—atau mungkin ditakuti—akhirnya tiba. Deru mesin mobil-mobil mewah memecah keheningan pagi di depan rumah Sera. Satu per satu kendaraan itu berhenti dengan presisi, memantulkan kilau cahaya matahari di bodinya yang mengilap. Orang-orang sekitar mulai berbisik, menebak-nebak siapa tamu istimewa yang datang dengan kemewahan seperti itu.
Pintu mobil utama terbuka perlahan. Ken turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Setelan jasnya rapi sempurna, sorot matanya tajam, seolah sudah mempersiapkan momen ini sejak lama. Di belakangnya, beberapa bodyguard ikut turun, masing-masing membawa kotak-kotak elegan berisi seserahan—perhiasan, tas bermerek, kain mahal, hingga kotak-kotak kecil yang tak diketahui isinya, namun jelas bernilai fantastis.
Pintu rumah Sera terbuka. Orang tua Sera menyambut dengan senyum lebar, meski terselip rasa tegang yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Ibunya menyapa hangat, sementara ayahnya mengangguk penuh hormat.
“Selamat datang, Ken. Silakan masuk,” ucap sang ayah.
Ken membalas dengan sopan, sedikit menundukkan kepala. “Terima kasih, Pak. Hari ini saya datang dengan niat yang sangat serius.”
Barang-barang seserahan mulai dibawa masuk, memenuhi ruang tamu dengan aura kemewahan yang mencolok. Setiap langkah para bodyguard seolah menjadi penegasan bahwa Ken bukan pria biasa—ia datang bukan hanya membawa cinta, tapi juga kekuasaan dan kepastian.
Di dalam, Sera duduk dengan anggun, meski jantungnya berdegup tak karuan. Gaun yang ia kenakan hari itu membuatnya tampak seperti seseorang yang siap menjadi pusat perhatian. Saat matanya bertemu dengan Ken, ia tersenyum tipis—senyum yang penuh makna, namun juga menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Ken duduk di hadapan orang tua Sera. Suasana menjadi hening sejenak, seolah semua orang menahan napas, menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
“Saya datang ke sini,” ucap Ken dengan suara tegas, “untuk melamar Sera. Saya mencintainya, dan saya ingin menjadikannya bagian dari hidup saya selamanya.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat namun jelas. Ibu Sera menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca, sementara ayahnya terlihat merenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk perlahan.
Namun, di saat yang sama…
Di lantai atas, Key baru saja keluar dari kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di bawah. Ia membeku. Nafasnya tercekat.
Ken… datang melamar Sera.
Semua terasa seperti tamparan keras yang tak terduga. Matanya menatap lurus ke arah ruang tamu, menyaksikan bagaimana Ken duduk dengan penuh keyakinan, bagaimana Sera menerima semua itu tanpa penolakan.
Hatinya bergetar.
Tanpa suara, tanpa sepatah kata pun, Key menggenggam erat pegangan tangga. Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya—sesuatu yang selama ini ia coba abaikan.
“Jadi… ini akhirnya?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia ingin marah. Ingin berteriak. Ingin menghancurkan semua kebohongan yang selama ini terjadi. Tapi yang keluar justru keheningan. Dingin. Menyesakkan.
Key menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik. Ia tidak sanggup melihat lebih lama. Setiap detik di sana hanya akan semakin menyakitinya.
Langkahnya cepat, hampir tergesa. Ia turun melalui pintu belakang, menghindari keramaian, menghindari tatapan siapa pun. Tak ada yang menyadari kepergiannya—atau mungkin, tak ada yang peduli.
Di luar, udara terasa berbeda. Lebih dingin, lebih menusuk.
Key berjalan tanpa tujuan selama beberapa saat, sebelum akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap kosong ke depan, pikirannya kacau.
“Lucu ya…” ia tertawa kecil, getir. “Orang yang sebenarnya menolong dia… malah jadi orang yang paling dia benci.”
Nama Ken berputar di kepalanya. Semua kenangan, semua momen, semua kesalahpahaman—semuanya terasa seperti jebakan yang perlahan menghancurkan dirinya.
Dan Sera…
Key mengepalkan tangannya. Ada amarah yang mulai membara, tapi juga rasa sakit yang lebih dalam dari itu.
“Kalau ini permainanmu, Sera…” bisiknya pelan, “aku nggak akan diam selamanya.”
Namun untuk saat ini, ia memilih pergi. Menjauh dari semua itu.
Key akhirnya melangkah menuju tempat kerjanya. Setiap langkah terasa berat, tapi juga penuh tekad yang mulai terbentuk.
Di sisi lain, di dalam rumah, suasana berubah hangat. Lamaran Ken diterima dengan penuh kebahagiaan. Senyum, tawa, dan ucapan selamat memenuhi ruangan.
Tapi tidak ada yang tahu—
Di balik semua kemewahan dan kebahagiaan itu, ada badai besar yang sedang menunggu untuk meledak.
😉🤍