Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sekutu di Titik Buta dan Gema dari Bawah Tanah
Rasa kebas di lengan kiri Dara Kirana perlahan-lahan memudar, berganti menjadi sensasi berdenyut yang tumpul. Ia duduk di bangku barisan ketiga kelas Biologi, menatap papan tulis putih di depan kelas dengan pandangan yang tidak sepenuhnya fokus.
Gurunya, Pak Haris, sedang menjelaskan tentang sistem anatomi pertahanan mamalia. Namun, suara bariton guru paruh baya itu hanya terdengar seperti dengungan lebah di telinga Dara. Pikirannya masih tertinggal di gudang olahraga tua berdebu di sayap timur sekolah.
“Kau adalah Pawang Rimba. Kau terhubung dengan tanah, Dara! Jangan lihat tubuhku. Rasakan pijakanku melalui akar di telapak kakimu!”
Kata-kata Maya Bagaskara terus terngiang di benaknya. Latihan singkat namun brutal itu telah membuka sebuah gerbang pemahaman baru bagi Dara. Kekuatan darahnya bukanlah sekadar lampu senter biru yang menyala untuk membakar mayat hidup atau menenangkan monster. Kekuatannya adalah kesadaran spasial (spatial awareness) yang absolut. Dengan Napas Akar, ia bisa menggunakan bumi sebagai ekstensi dari sistem sarafnya sendiri.
Dara menundukkan pandangannya, menatap ujung sepatu ketsnya. Ia mencoba mempraktikkan pelajaran Maya secara diam-diam.
Ia menarik napas dari telapak kakinya, membiarkan energi dingin Marapi merayap naik menembus sol sepatunya. Alih-alih menarik energi itu masuk untuk disembunyikan, Dara membiarkan kesadarannya merambat keluar, menyebar melintasi lantai kelas, merayap menuruni dinding gedung, hingga menyentuh tanah pekarangan sekolah.
Dalam sekejap, dunia Dara berubah.
Matanya tetap terbuka melihat ruang kelas, namun "mata batin"-nya melihat hal yang sama sekali berbeda. Ia bisa "merasakan" getaran langkah kaki Pak Haris di depan kelas. Ia bisa merasakan ritme ketukan pulpen Santi di meja sebelahnya. Semuanya berdenyut dengan frekuensi kehidupan yang hangat dan normal.
Namun, ketika Dara memanjangkan jangkauan radarnya lebih jauh ke arah sayap barat sekolah—tempat proyek renovasi Van Deventer Corp berada—sensasi yang menghantamnya membuat ia nyaris tersedak napasnya sendiri.
Di sana, di balik pagar seng yang menutupi area perpustakaan tua, tidak ada kehangatan kehidupan. Yang ada hanyalah sebuah pusaran energi yang sangat dingin, pekat, dan berbau seperti logam berkarat yang direndam dalam darah busuk. Getaran di tanah sayap barat itu tidak seirama dengan detak jantung manusia; getaran itu kaku, mekanis, dan memancarkan niat membunuh yang sangat purba.
Willem van Deventer sedang menggali sesuatu yang sangat masif di bawah sana, dan apa pun itu, keberadaannya mulai meracuni tanah sekolah ini.
Teng! Teng! Teng!
Lonceng tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring, memutus konsentrasi Dara secara paksa. Ia tersentak, menarik kembali Napas Akar-nya dengan napas terengah pelan.
"Kamu pucat banget, Ra. Beneran nggak mau ke UKS?" tanya Santi sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. "Sejak dari perpustakaan tadi pagi kamu kelihatan kayak orang nahan sakit."
Dara memaksakan sebuah senyum, mengusap lengan kirinya yang tertutup jaket denim. "Aku nggak apa-apa, San. Cuma kurang tidur aja semalam."
"Pasti gara-gara kepikiran proyek di sayap barat itu, kan?" bisik Santi bergidik ngeri saat mereka berjalan keluar kelas. "Sumpah ya, tadi pas jam istirahat kedua, aku lihat salah satu pekerja proyeknya bawa gerobak pasir keluar pagar bentar. Kulitnya pucat kayak mayat, dan matanya merah banget. Pak Bon aja sampai lari ketakutan masuk ke pos satpam."
Dara menelan ludah. Willem semakin berani. Pasukan perintisnya tidak lagi repot-repot menyembunyikan diri. Mereka bergerak di siang hari, dilindungi oleh bayang-bayang pepohonan dan tenda terpal raksasa yang menutupi seluruh area ekskavasi.
Saat mereka menyusuri koridor menuju gerbang utama, mata Dara menangkap sebuah pergerakan ganjil dari lantai dua gedung seberang.
Sosok Raka, sepupu sekaligus pengawal setia Indra Bagaskara, sedang berjalan mengendap-endap. Pemuda bertubuh tegap dengan rambut cepak itu tidak bergabung dengan murid-murid lain yang berdesakan pulang. Sebaliknya, Raka bergerak berlawanan arah, menghindari jalur utama, dan menyelinap masuk ke arah lorong buntu yang berbatasan langsung dengan pagar seng proyek sayap barat.
Insting Dara mengatakan bahwa Raka tidak sedang membolos. Cindaku itu sedang menjalankan misi pengintaian. Harimau-harimau itu mulai bergerak.
Lima puluh meter dari posisi Dara, Raka menempelkan punggungnya pada dinding beton yang mengelupas.
Udara di area pembatas sayap barat ini terasa sangat berbeda. Kelembapannya hilang, digantikan oleh hawa beku yang membuat napas Raka mengeluarkan uap putih tipis. Pemuda Cindaku itu memejamkan mata, membiarkan indra penciuman harimaunya mengambil alih.
Bau tanah galian basah. Bau belerang. Dan yang paling menyengat: bau darah yang sudah berhenti berdetak selama ratusan tahun.
Indra telah memberinya perintah yang jelas: “Jangan serang mereka. Jangan biarkan mereka tahu kau ada di sana. Cari tahu seberapa jauh ekskavasi lintah itu telah menembus katakombe kolonial di bawah perpustakaan.”
Raka menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada manusia atau kamera pengawas yang melihatnya. Dengan kelincahan yang mustahil dilakukan manusia normal, Raka menekuk lututnya, lalu melompat setinggi tiga meter, mendarat dengan mulus di atas palang besi penyangga atap lorong. Dari posisi itu, ia bisa mengintip ke seberang pagar seng setinggi dua meter yang dibangun oleh orang-orang Willem.
Namun, tepat saat Raka akan memfokuskan pandangannya ke arah tenda terpal raksasa di tengah area proyek, telinga harimaunya menangkap sebuah suara gesekan yang sangat pelan dari arah dahan pohon ketapang yang berjarak hanya dua meter dari posisinya.
Srekk.
Raka menoleh dengan kecepatan kilat, kuku-kuku jarinya refleks memanjang menjadi cakar obsidian. Hawa panas menyembur dari tubuhnya.
Di atas dahan pohon ketapang itu, dua sosok pemuda bertengger dengan keseimbangan yang sempurna. Mereka mengenakan seragam sekolah yang acak-acakan. Mata mereka memancarkan pendar merah kecokelatan yang berkilat waspada.
Tio dan Adi. Si kembar serigala dari kawanan Ajag.
Mereka bertiga saling bertatapan dalam keheningan yang mencekam. Tiga predator tangguh, terjebak di posisi ketinggian yang sama, dengan misi yang sama, namun berasal dari dua klan yang telah saling membantai selama berabad-abad.
"Kupikir kucing bangsawan seperti kalian hanya tahu caranya duduk di singgasana sambil memerintah," bisik Tio dengan senyum miring yang memamerkan taring halusnya. Nada suaranya sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin, namun terdengar jelas oleh telinga Raka. "Ternyata kalian tahu caranya memanjat pohon juga."
"Menyingkir dari sini, anjing kampung," desis Raka tajam, otot-otot lengannya menegang siap menerkam. "Ini bukan urusan kawanan kalian. Willem menggali di tanah yang berbatasan langsung dengan teritori Utara."
"Dan jika Willem berhasil membangkitkan tentara mayat hidupnya, dia tidak akan hanya menyerang Utara, tapi seluruh lembah ini," balas Adi dari dahan yang lebih tinggi, suaranya lebih tenang namun tak kalah tajam dari saudara kembarnya. "Alpha kami memerintahkan kami untuk mencari tahu jumlah peti mati yang sudah mereka angkat ke permukaan. Kami tidak akan pergi hanya karena seekor kucing merasa teritorinya tersinggung."
Raka menggeram rendah, sebuah suara purr mematikan yang bergetar di dalam dadanya. Ia bersiap melompat menerjang Tio untuk melempar serigala itu dari atas pohon. Gencatan senjata antara Indra dan Bumi memang telah disepakati, namun itu tidak serta merta menghapus insting membunuh di antara bawahan mereka.
Namun, sebelum Raka sempat menolakkan kakinya, sebuah suara dentuman logam yang luar biasa keras bergema dari balik tenda terpal di tengah proyek.
KLAAANG!
Bunyi itu diikuti oleh suara gesekan lempengan batu raksasa yang ditarik secara paksa.
Perhatian ketiga predator itu seketika teralih dari permusuhan mereka. Mereka serempak menoleh ke arah sumber suara, menyipitkan mata menembus keremangan di bawah tenda terpal raksasa yang menutupi ekskavasi.
Di sana, belasan pekerja pucat berkumpul mengelilingi sebuah lubang raksasa. Dua ekskavator mini yang sebelumnya digunakan untuk menggali tanah telah dimatikan. Di dasar lubang tersebut, para pekerja mayat hidup itu sedang menarik rantai besi tebal menggunakan katrol manual.
Rantai itu terhubung pada sebuah pintu batu andesit yang sangat besar. Pintu yang telah terkubur selama dua abad.
"Mereka menembusnya," bisik Raka ngeri, hawa panas di tubuhnya mendingin seketika digantikan oleh firasat buruk. "Mereka menemukan pintu masuk menuju katakombe pos militer Belanda itu."
Tio dan Adi menahan napas. Dari posisi mereka, ketiganya bisa melihat pemandangan yang membuat darah di nadi mereka berdesir dingin.
Saat pintu batu raksasa itu berhasil digeser sebagian, hawa dingin yang pekat layaknya kabut hitam menyembur keluar dari dalam lubang gelap tersebut. Bau kematian yang membusuk begitu kuat hingga Raka, Tio, dan Adi harus menutup hidung mereka secara bersamaan.
Dari dalam kegelapan katakombe itu, terdengar suara langkah kaki bergeretak. Bukan langkah kaki satu atau dua orang. Itu adalah suara barisan pasukan. Suara sepatu bot militer berderap dengan ritme yang monoton, lambat, namun dipenuhi niat membunuh yang tak terbatas.
"Itu Marsose Darah," gumam Adi, bulu kuduk di lehernya meremang. Serigala di dalam dadanya melolong ketakutan. "Kakekku menceritakan legenda tentang mereka. Tentara bayaran yang tidak memiliki rasa sakit dan tidak bisa dibunuh dengan cara biasa."
Seorang wanita bergaun merah darah melangkah keluar dari tenda proyek, memutar payung rendanya dengan anggun. Noni Anneliese. Wanita vampir itu berdiri di tepi lubang galian, menatap ke bawah dengan senyum sadis yang membeku.
"Bangkitlah, anak-anakku," suara Anneliese mengalun merdu namun mematikan, terbawa angin hingga ke telinga Raka dan si kembar. "Tidur panjang kalian telah usai. Saatnya kita merebut kembali lembah ini dari anjing dan kucing yang berkeliaran di atas tanah kita."
Tio menelan ludah. Ia menoleh ke arah Raka yang berada di palang besi seberangnya. Rivalitas klan mendadak terasa sangat sepele dan konyol saat dihadapkan pada ancaman kepunahan massal.
"Hei, Kucing," bisik Tio tegang, menghilangkan nada ejekannya. "Berapa banyak Cindaku tempur yang dimiliki Sutan Agung di Lereng Utara saat ini?"
Raka menatap Tio, menyadari bahwa serigala itu sedang berhitung peluang perang. "Tidak lebih dari dua puluh petarung yang sudah melewati masa Half-Shift."
"Kawanan kami hanya memiliki tiga puluh serigala dewasa yang siap bertarung malam ini," Adi menambahkan informasi taktis itu tanpa ragu.
Raka mengatupkan rahangnya. "Pasukan di bawah sana... dari gema langkah kakinya... jumlah mereka lebih dari seratus."
Ketiga remaja supranatural itu saling bertatapan dalam keheningan yang sarat makna. Jika Willem dan Anneliese berhasil memobilisasi seluruh pasukan Marsose itu keluar dari katakombe, pertahanan Cindaku dan Ajag akan disapu bersih dalam waktu kurang dari satu malam, bahkan jika mereka menggabungkan kekuatan sekalipun.
"Kita harus mundur," putus Raka mutlak. "Informasi ini harus segera sampai pada Indra dan Bumi. Jika kita ketahuan mengintai di sini, betina bergaun merah itu akan mengoyak kita bertiga sebelum kita sempat memberikan peringatan."
"Setuju," sahut Tio cepat.
Dalam sebuah momen yang sangat langka dan tidak pernah tercatat dalam sejarah Lembah Marapi, seorang pewaris Bagaskara dan dua prajurit Ajag mengangguk satu sama lain, menyepakati sebuah gencatan senjata taktis di titik buta musuh mereka. Persahabatan mungkin belum terbentuk, namun embrio dari sebuah persaudaraan seperjuangan—Bromance di bawah bayang-bayang kematian—baru saja lahir di atas dahan pohon ketapang tersebut.
Sementara itu, di depan gerbang utama sekolah, Dara Kirana berdiri mematung di bawah rimbunnya pohon beringin. Santi sudah pulang lebih dulu dijemput oleh ayahnya.
Dara menatap langit sore yang semakin kelabu. Ketegangan dari Napas Akar yang ia pertahankan sepanjang hari membuat otot-otot pundaknya kaku. Memar di lengan kirinya akibat tangkisan dari sikuan Maya tadi siang berdenyut nyeri setiap kali ia bergerak.
Sebuah bayangan menutupi sisa sinar matahari yang mengenai wajah Dara.
Bumi Arka berdiri di hadapannya. Pemuda itu tidak mengenakan jaket varsity-nya, hanya mengenakan kaus hitam polos yang mencetak jelas otot-otot di bahu dan lengannya. Rambut ikalnya sedikit berantakan tertiup angin sore.
Tidak ada senyum tengil yang biasanya selalu menghiasi wajah Alpha muda itu. Ekspresi Bumi saat ini sangat serius, memancarkan wibawa dan kehangatan yang membuat Dara merasa seolah ada selimut tebal yang dilingkarkan ke bahunya.
"Kau terlihat sangat lelah, Dara," sapa Bumi dengan suara rendah yang menenangkan. Pemuda itu tidak melangkah terlalu dekat, sangat menjaga jarak agar tidak memicu kewaspadaan gadis itu. Bumi adalah seorang Alpha, dan insting pertamanya adalah melindungi, bukan mendominasi secara paksa.
"Hanya hari yang panjang, Bumi," Dara memaksakan seulas senyum.
Mata cokelat terang Bumi memindai wajah Dara, lalu turun ke arah lengan kiri gadis itu yang sedari tadi dipegangi. Meskipun tertutup jaket denim yang tebal, penciuman tajam Bumi bisa mencium aroma samar dari memar dan pergeseran darah di bawah kulit. Terlebih lagi, ia mencium aroma asing yang sangat ia benci menempel pada pakaian Dara.
"Kau berbau seperti kucing bangsawan betina itu," rahang Bumi mengeras seketika. Pendar merah kecokelatan berkelebat di matanya. "Maya Bagaskara menemuimu hari ini? Apa yang dia lakukan padamu, Dara? Lenganku... lengan kirimu terluka."
Bumi mengambil satu langkah maju, tangannya terulur secara instingtif untuk memeriksa lengan Dara.
Dara tidak mundur. Ia membiarkan tangan hangat Bumi menyentuh sikunya dengan sangat hati-hati, seolah takut gadis itu akan pecah berkeping-keping.
"Dia tidak melukaiku karena benci, Bumi," jelas Dara cepat, menatap mata pemuda serigala itu untuk menenangkannya. "Maya melatihku. Dia mengajariku cara membaca pergerakan predator dan menggunakan energi bumi untuk menahan benturan fisik."
Bumi terdiam. Tangannya yang besar masih menggenggam siku Dara dengan lembut. Sorot matanya berubah dari kemarahan menjadi sebuah kepedihan yang ditahan rapat-rapat.
Alpha muda itu sangat menyadari apa artinya latihan tersebut. Dara sedang mempersiapkan dirinya untuk perang. Gadis manusia yang seharusnya menikmati masa remajanya dengan pergi ke bioskop atau makan es krim ini, kini sedang melatih tubuhnya untuk tidak mati dicabik-cabik monster. Dan fakta bahwa Maya Bagaskara—seekor Cindaku—yang mengambil peran untuk melatihnya, menampar harga diri Bumi sebagai pelindung.
"Maafkan aku," bisik Bumi parau, menundukkan kepalanya hingga poninya menutupi matanya. "Seharusnya kau tidak perlu melalui semua ini, Dara. Seharusnya kawananku bisa menyelesaikan ancaman Willem sebelum lintah itu membahayakanmu."
Dara merasakan hatinya mencelos melihat penyesalan tulus dari sang pemuda. Berbeda dengan Indra yang api amarahnya selalu meledak keluar saat melihatnya terluka, Bumi menyerap rasa sakit itu ke dalam dirinya sendiri. Bumi menanggung beban lembah ini di pundaknya yang masih muda.
Dara melepaskan tangannya dari genggaman Bumi, lalu ganti meletakkan telapak tangannya di atas bahu kokoh pemuda itu. Sebuah sentuhan sederhana yang memancarkan resonansi penenang dari sang Ratu Penengah.
"Ini bukan salahmu, Bumi. Ini adalah takdir darahku. Aku tidak bisa selamanya berlindung di balik punggungmu atau punggung Indra," Dara berucap lembut namun sarat akan ketegaran. "Aku harus belajar menjadi tamengku sendiri."
Bumi mengangkat wajahnya. Mata cokelatnya menatap Dara dengan intensitas kekaguman yang begitu besar, sebuah cinta yang tumbuh berakar dari rasa hormat, bukan sekadar insting primal. Di detik itu, Bumi menyadari bahwa ia tidak sedang menatap seorang gadis rapuh yang perlu diselamatkan; ia sedang menatap seorang Ratu yang siap memimpin pasukannya.
Bumi memiringkan kepalanya, membiarkan pipinya bersentuhan pelan dengan punggung tangan Dara yang berada di bahunya. Ia menutup mata, meresapi kedamaian murni dari sentuhan itu, mengisi ulang tenaganya yang terkuras oleh ketegangan politik kawanannya.
Namun, momen rapuh dan indah di bawah pohon beringin itu tidak luput dari sepasang mata pengintai.
Di seberang jalan, bersembunyi di balik bayang-bayang warung kopi yang sudah tutup, Gendis berdiri mematung. Gadis serigala berambut bob itu mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Gendis melihat bagaimana Alpha-nya—pemimpin yang seharusnya tidak pernah tunduk pada siapa pun—kini menyandarkan wajahnya pada tangan seorang gadis manusia dengan begitu rapuh. Bagi Gendis, itu bukanlah sebuah adegan romantis; itu adalah pemandangan yang menjijikkan dan berbahaya. Seekor Alpha yang kehilangan ketajamannya karena cinta adalah kelemahan fatal bagi keselamatan seluruh kawanan.
"Kau pikir kau bisa mengendalikan Bumi dengan wajah sucimu itu, Gadis Kota?" desis Gendis, matanya menyipit penuh dendam. Taring halus menyembul dari bibirnya. "Aku tidak akan membiarkan kawanan kami hancur karena Alpha kami dibutakan oleh seorang manusia. Kau harus pergi dari lembah ini. Dengan cara apa pun."
Gendis berbalik dan menghilang ke dalam kabut sore, menyusun sebuah rencana sabotase di dalam kepalanya. Sebuah rencana berbahaya yang akan memicu reaksi berantai mematikan, memaksa rahasia-rahasia terdalam Lembah Marapi terungkap lebih cepat dari yang dijadwalkan oleh takdir.