Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Sejak hasil tes kehamilan dinyatakan positif, sikap Arka mulai menunjukkan perubahan yang sangat nyata. Namun, perubahan itu bukan bermula dari rasa suka atau cinta pada Aluna sebagai wanita.
Segala perhatian dan kelembutan yang ia berikan murni karena ada nyawa ahli warisnya yang sedang tumbuh di dalam rahim gadis itu.
Arka menjadi sosok yang sangat protektif dan menuntut kedisiplinan tinggi. Ia tidak lagi membiarkan Aluna bergerak semaunya sendiri. Segala aktivitas gadis itu diawasi ketat mulai dari apa yang dimakan hingga jam tidur yang harus dipatuhi dengan ketat.
"Jangan banyak bergerak atau melakukan pekerjaan berat," ucap Arka tegas saat mereka duduk berdua di meja makan pagi itu.
"Tubuhmu sekarang bukan milikmu sendiri lagi. Itu adalah tempat tumbuh kembang anakku dan kamu harus menjaganya seperti menjaga nyawamu sendiri."
Aluna mengangguk patuh meski sedikit merasa tertekan. "Baik Tuan. Aluna mengerti dan akan berhati hati."
"Bagus," Arka menatapnya sekilas lalu kembali menyantap makanannya.
"Dokter akan datang dua kali seminggu untuk memeriksa kondisi janin. Jangan pernah menolak atau mengeluh sakit apa pun itu rasanya."
Hari hari berikutnya Arka mulai sering pulang lebih awal dari biasanya. Ia membawa berbagai jenis makanan mahal dan suplemen kesehatan yang direkomendasikan oleh ahli gizi terbaik.
Ia memastikan Aluna mendapatkan asupan terbaik agar bayi yang dikandungnya lahir dengan sempurna.
Mereka sering menghabiskan waktu duduk bersama di ruang keluarga. Arka biasanya sibuk dengan berkas berkas kerjanya, namun sesekali matanya akan melirik ke arah perut Aluna yang mulai sedikit membuncit. Ada kilatan bangga dan harapan yang sulit disembunyikan di sana.
Suatu sore, hujan turun lagi, namun kali ini tidak disertai petir yang menakutkan. Aluna duduk di sofa sambil membaca buku cerita dongeng dengan suara pelan.
Ia sengaja membacakan cerita itu agar bayi di dalam kandungannya bisa mendengar suara ibunya.
Arka yang baru pulang kerja berdiri mematung di pintu melihat pemandangan itu. Wajah Aluna tampak bersinar dan sangat damai saat berbicara pada perutnya sendiri. Pemandangan itu membuat hati Arka yang keras terasa tersentuh tanpa ia sadari.
"Kamu sedang melakukan apa?" tanya Arka memecah keheningan sambil meletakkan jasnya di sandaran kursi.
Aluna tersentak kaget lalu segera menutup bukunya dan berdiri memberi hormat.
"Maaf Tuan. Saya hanya... sedang membacakan cerita untuk bayi. Kata orang itu bagus untuk perkembangan otak anak di dalam kandungan," ucap Aluna.
Arka berjalan mendekat lalu duduk di sofa tepat di sebelah gadis itu. Ia tidak marah, justru ia terlihat tertarik.
"Benarkah begitu caranya? Lanjutkan saja. Aku ingin mendengarnya juga."
Aluna terkejut, tapi senang. Ia kembali duduk dan melanjutkan membaca dengan suara yang lembut dan menenangkan.
Arka duduk diam mendengarkan meski tatapannya tidak lepas dari wajah Aluna dan perutnya yang mulai membesar.
Tanpa sadar, tangan Arka terulur perlahan. Ia meletakkan telapak tangannya yang besar dan hangat itu di atas perut Aluna dengan sangat hati hati, seolah menyentuh benda paling berharga di dunia.
"Dia menendang..." bisik Arka tiba tiba dengan mata terbelalak sedikit.
"Iya Tuan. Bayinya sangat aktif kalau malam atau saat mendengar suara Tuan," jawab Aluna tersenyum bahagia.
Arka mengusap perut itu pelan pelan dengan gerakan yang sangat lembut. Ini adalah pertama kalinya ia menunjukkan sisi kelembutan yang begitu nyata.
"Kau harus kuat, Nak. Tumbuhlah menjadi besar dan kuat agar bisa menggantikan posisi Ayah nanti."
"Kenapa Tuan terlihat sangat ingin punya anak? Apa karena takut sendirian atau takut harta habis?" tanya Aluna memberanikan diri bertanya pelan.
Arka menghela napas panjang lalu menatap jauh ke arah jendela yang basah oleh air hujan.
"Aku tumbuh di dunia yang kejam Aluna. Di mana kekuatan adalah segalanya dan yang lemah akan dimakan hidup hidup. Aku butuh seseorang yang bisa meneruskan garis pertahanan ini agar tidak runtuh saat aku sudah tiada."
"Tapi aku tidak ingin anakku tumbuh menjadi monster sepertiku," lanjut Arka dengan nada yang terdengar sedih.
"Aku ingin dia tumbuh dengan kasih sayang yang murni seperti yang kamu berikan sekarang. Itulah kenapa aku memilihmu menjadi ibunya."
Aluna terdiam mendengarnya. Ia sadar bahwa saat ini Arka baik padanya hanya karena ia adalah wadah bagi anaknya.
Namun, di lubuk hati terdalam ia berharap suatu saat nanti pria itu bisa melihat dan mencintai dirinya bukan hanya sebagai alat tapi sebagai wanita yang benar benar ia sayangi.
"Aluna janji akan mendidik anak Tuan dengan penuh cinta," ucap Aluna tegas.
"Agar dia tumbuh menjadi orang baik dan tidak seperti dunia kejam yang Tuan jalani."
Arka menoleh menatap mata gadis itu dalam dalam. Ia menggenggam tangan Aluna yang berada di atas perutnya.
"Terima kasih Aluna. Untuk saat ini kau telah melakukan tugasmu dengan sangat sempurna."
Meskipun kata kata itu terdengar seperti pujian pada seorang karyawan, tetapi Aluna bisa merasakan getaran berbeda di sana. Ia tahu bahwa tembok tinggi yang dibangun Arka mulai retak sedikit demi sedikit.