NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Setelah kejadian di pabrik, dunia Aeryn terasa seperti berputar terbalik. Xavier masih dalam masa pemulihan di mansion, sementara Aeryn harus kembali berdiri di garis depan untuk menyelamatkan Valerine Jewels. Namun, di tengah kekacauan itu, Julian Vander muncul kembali sebagai sosok yang menawarkan pundak paling nyaman.

Pagi itu, Julian datang ke kantor Aeryn membawa buket bunga lili putih yang harumnya memenuhi ruangan, serta sebuah kotak kado elegan berpita emas.

"Aku mendengar tentang ledakan itu, Aeryn. Demi Tuhan, kau bisa saja terbunuh," ucap Julian dengan nada suara yang terdengar sangat tulus. Ia duduk di hadapan Aeryn, menatapnya dengan kekhawatiran yang mendalam. "Kenapa kau tidak meneleponku? Aku bisa mengirimkan tim medis terbaik dari Singapura jika kau mau."

"Aku baik-baik saja, Julian. Xavier melindungiku," jawab Aeryn pendek. Ia sedang menatap layar laptop, jemarinya lincah menari di atas keyboard, mencoba menghitung kerugian akibat emas yang terkontaminasi.

Julian mendengus pelan, senyum miring tersungging di bibirnya. Ia menyandarkan punggung, menatap Aeryn dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat. "Xavier lagi. Sampai kapan kau mau bergantung pada pria yang selalu membawa bahaya ke hidupmu? Kejadian di pabrik itu membuktikan bahwa berada di dekat Arkananta hanya akan membuatmu menjadi target empuk."

Aeryn mendongak, menghentikan aktivitasnya. "Apa maksudmu?"

"Dunia korporat Xavier itu kotor, Aeryn. Musuhnya ada di mana-mana, dari kelas kakap sampai tikus selokan. Sabotase itu mungkin ditujukan untuknya, untuk melukai asetnya, tapi kau yang terkena getahnya," Julian memajukan tubuhnya, suaranya merendah dan lembut, seolah-olah ia sedang membagikan rahasia paling berharga.

"Denganku, kau tidak perlu takut akan ledakan atau pengawal yang mengikutimu seperti bayangan. Aku menawarkan perlindungan yang lebih... manusiawi. Tanpa paksaan, tanpa kontrak yang menjerat lehermu seperti yang dilakukan Xavier."

"Kau menawarkan investasi lagi? Atau ini sekadar basa-basi simpati?" tanya Aeryn datar.

"Aku menawarkan keamanan total. Pindahkan pusat produksimu ke fasilitas milik Vander Group di Singapura. Di sana, keamanannya kelas satu, dikelola oleh mantan intelijen. Tidak ada yang bisa menyentuhmu atau karyamu," Julian meraih tangan Aeryn di atas meja sebelum Aeryn sempat menghindar, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Biarkan aku menjagamu dengan cara yang benar, Aeryn. Bukan dengan cara mengurungmu di mansion tua yang dingin itu."

Aeryn menarik tangannya perlahan, berpura-pura hendak merapikan rambutnya. Ada sesuatu yang terasa terlalu pas dalam ucapan Julian. Terlalu tepat waktu, seolah-olah dia sudah menyiapkan naskah ini jauh-jauh hari. "Aku akan memikirkannya, Julian. Kepalaku masih terlalu penuh dengan urusan asuransi dan buruh pabrik."

"Jangan terlalu lama berpikir, sayang. Waktu adalah kemewahan yang tidak kau miliki saat ini," Julian berdiri, memperbaiki letak kancing jasnya. Ia memberikan senyum hangatnya yang paling menawan, lalu meletakkan kotak kado di atas meja. "Bukalah nanti. Itu sesuatu yang bisa mengingatkanmu bahwa waktu terus berjalan, dan kau pantas mendapatkan yang terbaik."

Sore harinya, Aeryn menerima kunjungan dari kepala tim investigasi internal yang ia sewa secara mandiri. Ia sengaja tidak menggunakan orang-orang Arkananta karena ia ingin jawaban yang objektif. Pria paruh baya bernama Pak Danu itu memberikan sebuah map cokelat yang tampak tebal.

"Nyonya, kami menemukan rekaman CCTV dari gedung di seberang gerbang belakang pabrik pada malam sebelum kejadian. Sudutnya cukup sempit, tapi cukup untuk melihat apa yang terjadi," ucap Pak Danu.

Aeryn membuka map tersebut. Beberapa foto buram menunjukkan sebuah mobil sedan perak tanpa plat nomor depan keluar dari area pabrik pada pukul dua pagi. Aeryn mengernyit, mencoba mengenali siluet kendaraan tersebut. "Itu bukan mobil Xavier. Mobil Xavier selalu hitam, dan dia tidak mungkin menggunakan kendaraan sekuno ini."

"Benar, Nyonya. Dan kami melacak plat nomor belakangnya yang sempat tertangkap kamera lampu merah dua kilometer dari pabrik. Mobil itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang bernama Skyline Logistics yang berafiliasi dengan pihak ketiga. Setelah kami telusuri lebih dalam melalui aliran dana pemasok nikel murah yang merusak emas Anda... semuanya bermuara pada satu nama melalui pencucian uang yang cukup rumit."

Aeryn menahan napas, dadanya berdenyut kencang. "Siapa?"

"Vander Group. Lebih tepatnya, asisten pribadi Tuan Julian Vander terlihat melakukan pertemuan dengan mandor gudang Anda tiga hari sebelum sabotase."

Jantung Aeryn terasa berhenti berdetak. Rasa mual menjalar di perutnya, membuat kepalanya berdenyut. Julian? Pria yang tadi pagi membawakan bunga lili putih dan bicara tentang perlindungan manusiawi adalah orang yang hampir membuatnya hangus dalam ledakan?

"Dia sengaja merusak pabrikku," bisik Aeryn pada dirinya sendiri, suaranya bergetar karena amarah. "Dia ingin aku merasa tidak aman. Dia ingin aku merasa putus asa supaya aku lari dan berlindung di bawah ketiaknya. Brengsek."

"Apa Anda ingin saya melaporkan ini ke kepolisian pusat, Nyonya?" tanya Pak Danu.

"Jangan dulu. Julian punya pengacara yang bisa memutarbalikkan fakta dalam hitungan detik. Aku butuh bukti yang lebih kuat, bukti digital yang menghubungkan langsung ke rekening pribadinya atau perintah tertulis. Dia terlalu licin untuk ditangkap dengan foto buram ini," jawab Aeryn, suaranya kini dingin seperti es, matanya menatap tajam ke arah foto mobil perak itu.

Malam itu, Aeryn kembali ke mansion dengan perasaan yang berkecamuk. Ia menemukan Xavier sedang duduk di ruang kerja pribadinya. Cahaya lampu meja yang redup menyoroti wajahnya yang pucat. Meskipun dokter melarangnya bekerja, pria itu tampak sibuk dengan tumpukan dokumen legal dan tablet di tangannya.

"Kau seharusnya istirahat, Xavier. Dokter bilang jahitanmu bisa terbuka kalau kau terlalu banyak bergerak," kata Aeryn sambil menutup pintu ruang kerja.

Xavier mendongak, matanya yang tajam dan sedikit kemerahan karena lelah menatap Aeryn lekat-lekat. "Aku tidak bisa istirahat saat tahu Julian terus berkeliaran di dekatmu seperti lalat. Apa yang dia berikan padamu hari ini? Rayuan murah atau janji-janji surga?"

Aeryn meletakkan kotak kado dari Julian di atas meja kerja Xavier, tepat di samping gelas wiski yang masih kosong. "Dia memberikan ini. Dan bunga lili yang baunya membuatku pusing."

Xavier menatap kotak itu dengan kebencian murni, seolah benda itu adalah bom yang siap meledak. "Kau menerimanya? Setelah semua yang terjadi?"

"Aku hanya ingin tahu apa permainannya, Xavier. Kita tidak bisa mengalahkan musuh jika kita tidak tahu kartu apa yang dia pegang," jawab Aeryn tenang. Ia mengambil kotak kado itu, membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mewah bertahtakan berlian dengan strap kulit berwarna hitam. Desainnya sangat elegan, klasik, dan tentu saja, sangat mahal.

"Hadiah yang manis untuk seorang wanita yang hampir mati karena perbuatannya sendiri," gumam Aeryn sinis.

Xavier mengerutkan kening, ia menegakkan duduknya meski tampak meringis kecil menahan sakit di punggungnya. "Perbuatannya? Apa maksudmu? Kau sudah menemukan sesuatu?"

"Aku punya mata-mata sendiri, Xavier. Jangan kira hanya kau yang punya intelijen," Aeryn menatap jam tangan itu di bawah cahaya lampu. Tiba-tiba, ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Saat ia memutar bagian samping jam, bobotnya terasa tidak seimbang. Bentuk cangkang belakangnya sedikit lebih tebal beberapa milimeter dari model asli yang pernah ia lihat di katalog.

Aeryn mengambil obeng kecil untuk perhiasan dari laci meja Xavier. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai mencongkel bagian penutup belakang jam tangan itu dengan hati-hati.

Klik.

Penutup emas itu terbuka, namun tidak ada gerigi jam atau mesin mekanis di dalamnya. Yang terlihat justru sebuah sirkuit elektronik mikro yang sangat kecil dengan lampu merah mikroskopis yang berkedip setiap lima detik sekali. Bukan hanya jam tangan, tapi sebuah perangkat mata-mata canggih.

Aeryn terdiam, wajahnya pucat pasi. Nafasnya tercekat di tenggorokan. "Ini..."

Xavier merebut jam itu dari tangan Aeryn. Ia memeriksanya dengan tatapan ahli, lalu dengan wajah yang mengeras, ia menghancurkan perangkat kecil itu dengan sekali tekan menggunakan ibu jarinya yang kuat. Suara remukan sirkuit itu terdengar nyata di ruangan yang sunyi.

"Itu alat penyadap suara aktif dan pelacak GPS, Aeryn," suara Xavier terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. "Dia tidak hanya ingin memilikimu secara bisnis. Dia ingin memantau setiap helaan napasmu, setiap pembicaraan kita di dalam rumah ini, bahkan mungkin detak jantungmu. Dia ingin memastikan kau benar-benar berada dalam genggamannya tanpa kau sadari."

Aeryn merosot duduk di kursi kulit di depan meja Xavier. Rasa takut, jijik, dan marah bercampur menjadi satu di dadanya. Julian bukan hanya seorang predator bisnis yang ambisius; dia adalah seorang sosiopat yang berbahaya.

"Xavier," ucap Aeryn, menatap suaminya dengan pandangan yang kini penuh dengan api dendam. "Ajari aku cara menghancurkannya. Aku tidak peduli lagi soal harga diri atau berdiri sendiri. Aku ingin melihat Julian Vander jatuh sejatuh-jatuhnya sampai dia tidak bisa merangkak lagi."

Xavier menyeringai tipis—sebuah seringai predator yang telah menemukan kembali taringnya yang hilang. Ia mengulurkan tangannya yang besar, mengusap pipi Aeryn dengan lembut namun posesif.

"Dengan senang hati, Little Queen. Besok pagi, kita akan mulai membedah setiap perusahaan cangkangnya. Mari kita tunjukkan padanya apa yang terjadi jika dia berani mencoba menyentuh apa yang telah menjadi milik Arkananta."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!