Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pelajaran di Bawah Hujan
Langit mulai mendung ketika mereka meninggalkan Desa Batu Hijau.
Awan kelabu bergulung-gulung di atas perbukitan, menelan birunya langit sedikit demi sedikit. Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma tanah basah yang khas—pertanda hujan akan segera turun.
Xiao Fan menatap langit sejenak, lalu mempercepat langkahnya. "Kita perlu mencari tempat berteduh. Hujan di daerah ini bisa turun berhari-hari."
Mereka menemukan sebuah gua kecil di lereng bukit, tersembunyi di balik semak-semak liar. Mulutnya sempit, hanya cukup untuk satu orang masuk dengan merunduk. Tapi di dalamnya cukup luas—mungkin bekas sarang beruang atau serigala yang sudah lama ditinggalkan.
Xiao Fan masuk lebih dulu, memastikan tidak ada penghuni yang tersisa. Setelah yakin aman, ia memberi isyarat pada Liu Ruyan untuk masuk.
Tepat saat gadis itu merunduk melewati mulut gua, hujan turun. Deras. Butiran-butiran air menghantam dedaunan dan tanah, menciptakan simfoni alam yang menenangkan sekaligus mengisolasi mereka dari dunia luar.
Xiao Fan duduk bersila di sudut gua. Liu Ruyan duduk di seberangnya, memangku pedang kayunya. Cahaya dari luar gua redup, hanya cukup untuk melihat bayangan satu sama lain.
"Guru," suara Liu Ruyan memecah keheningan yang hanya diisi suara hujan. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya."
"Apa yang Guru rasakan... saat pertama kali menyadari bahwa Guru adalah reinkarnasi Kaisar Pedang?"
Pertanyaan yang tidak terduga. Xiao Fan diam sejenak, mengingat malam itu. Malam ketika sistem di kepalanya aktif. Malam ketika ingatan sepuluh ribu tahun membanjiri kesadarannya seperti air bah.
"Sakit," jawabnya akhirnya. "Ingatannya datang sekaligus. Setiap pertempuran. Setiap kemenangan. Setiap kehilangan. Dan... pengkhianatan itu."
Liu Ruyan mendengarkan dengan saksama.
"Aku ingat bagaimana rasanya pedang itu menembus punggungku. Dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari es." Xiao Fan menatap tangannya sendiri. "Dan aku ingat berbalik, melihat wajah Ning Yao. Wajah yang dulu kucintai. Wajah yang tersenyum saat pedang itu masuk."
Gadis itu menggigit bibir. "Apakah Guru... masih mencintainya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara lembap gua.
"Aku tidak tahu," Xiao Fan menjawab jujur. "Cinta dan benci kadang terlalu mirip untuk dibedakan. Tapi yang pasti, aku tidak akan membiarkan perasaan itu mengaburkan penilaianku lagi. Tidak akan pernah."
Ia menatap Liu Ruyan. "Kenapa kau bertanya?"
Gadis itu menunduk, memainkan ujung pedang kayunya. "Aku hanya... ingin tahu. Bagaimana seseorang bisa bertahan setelah dikhianati oleh orang yang paling dipercaya."
Xiao Fan mengamatinya. Ada sesuatu dalam suara Liu Ruyan. Bukan sekadar rasa ingin tahu. Ada luka lama di sana.
"Siapa yang mengkhianatimu?" tanyanya pelan.
Liu Ruyan terdiam lama. Hujan di luar semakin deras.
"Ibuku," bisiknya akhirnya. "Dia yang mengusirku dari rumah. Dia yang bilang pada seluruh klan bahwa aku cacat. Bahwa aku aib keluarga. Ayahku ingin membelaku, tapi dia tidak punya kekuatan di klan."
Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan cahaya redup gua. "Aku ingat wajahnya saat dia menyuruhku pergi. Dingin. Seperti aku bukan anaknya. Seperti aku hanya barang rusak yang harus dibuang."
Xiao Fan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendengarkan.
"Setiap malam di Sekte Langit Biru, aku berharap dia akan datang. Menjemputku. Bilang bahwa semuanya hanya kesalahan. Tapi dia tidak pernah datang." Liu Ruyan menyeka air matanya dengan kasar. "Dan sekarang... sekarang aku bisa berkultivasi. Aku ingin dia melihatnya. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak cacat."
"Kau ingin balas dendam?"
Pertanyaan itu membuat Liu Ruyan terdiam. Ia menatap Xiao Fan dengan mata masih basah.
"Aku... aku tidak tahu. Aku hanya ingin dia mengakui bahwa dia salah."
Xiao Fan mengangguk pelan. "Itu lebih sulit dari balas dendam. Membuat seseorang mengakui kesalahannya butuh waktu. Kadang, mereka lebih memilih mati daripada mengakui bahwa mereka salah."
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Tapi kau tidak perlu membuktikan apa pun pada ibumu, Liu Ruyan. Kau tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun. Kau berkultivasi untuk dirimu sendiri. Bukan untuk pengakuan orang lain."
Gadis itu menatapnya lama. Lalu ia mengangguk. "Aku mengerti, Guru."
Hujan mulai reda. Cahaya dari luar gua sedikit lebih terang.
Xiao Fan berdiri. "Istirahatlah. Besok kita lanjutkan perjalanan. Masih dua hari ke Kota Giok."
Ia berjalan ke mulut gua, menatap hujan yang mulai berubah menjadi gerimis. Di belakangnya, Liu Ruyan merebahkan diri, menggunakan buntalan kain sebagai bantal.
"Guru," panggilnya sebelum memejamkan mata.
"Hm."
"Terima kasih sudah mendengarkan."
Xiao Fan tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Malam turun di atas perbukitan. Hujan berhenti. Dan di kejauhan, sesuatu bergerak di antara pepohonan. Sesuatu yang mengikuti jejak mereka sejak meninggalkan Desa Batu Hijau.
Sesuatu yang menunggu saat yang tepat.