Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Yang Pulang Bukan Sendirian
Pukul 05.18.
Akhirnya berubah.
Bukan 05.17.
Jarum jam di dinding bergerak pelan, normal. Tidak ada retakan. Tidak ada darah. Tidak ada suara aneh.
Segalanya… terasa biasa.
Terlalu biasa.
Kinasih berdiri di depan Bima. Masih di ambang pintu kamar.
Mereka saling menatap.
Lama.
Seolah memastikan— ini nyata.
“Kamu beneran…” bisik Kinasih.
Bima mengangguk pelan.
“Gue beneran.”
Suaranya… hangat.
Normal.
Tidak pecah.
Tidak berlapis.
Namun—
ada sesuatu.
Kinasih tidak langsung sadar apa.
Hanya rasa… ganjil.
Kecil.
Tipis.
Tapi ada.
“Masuk…” kata Kinasih pelan.
Bima melangkah masuk.
Pelan.
Namun saat kakinya melewati ambang pintu—
Kinasih melihatnya.
Sekilas.
Cepat.
Namun cukup.
Bayangan di belakang Bima—
tidak ikut masuk.
Ia tertinggal di luar.
Berdiri.
Diam.
Seolah…
menunggu izin.
Kinasih menegang.
“Bim…”
Bima menoleh.
“Kenapa?”
“Bayangan kamu…”
Bima melihat ke belakang.
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
“Kenapa emang?”
Kinasih terdiam.
Ia melihat lagi.
Bayangan itu sudah tidak ada.
Hilangkan diri.
Seperti tidak pernah ada.
“…nggak apa-apa.”
Namun hatinya tidak tenang.
Tidak sama sekali.
Siang.
Cahaya matahari masuk dari jendela.
Hangat.
Tenang.
Segalanya terlihat normal.
Kinasih duduk di ruang tamu.
Bima di depannya.
Mereka diam cukup lama.
Seperti dua orang yang baru keluar dari mimpi buruk… tapi belum yakin sudah benar-benar bangun.
“Kamu inget semuanya?” tanya Bima.
Kinasih mengangguk pelan.
“Semua.”
Ia menatap tangannya.
Masih ada bekas tipis.
Seperti retakan.
Namun samar.
Hampir hilang.
“Lo?”
Bima menghela napas.
“Gue cuma inget sebagian…”
Ia menatap lantai.
“…kayak ditarik… masuk… terus gelap.”
Sunyi.
Namun—
saat itu—
sendok di meja bergerak.
Sedikit.
Hanya bergeser satu milimeter.
Namun—
cukup.
Kinasih langsung melihatnya.
Membeku.
“Bim…”
Bima juga melihat.
Wajahnya berubah.
“Itu tadi…?”
Belum selesai kalimatnya—
sendok itu jatuh.
Ting.
Suara kecil.
Namun—
menggema.
Lebih lama dari seharusnya.
Mereka berdua diam.
Tidak bergerak.
Tidak bicara.
Hanya—
menunggu.
Namun tidak ada apa-apa lagi.
Semua kembali diam.
“Kebetulan…” kata Bima.
Cepat.
Seolah ingin menutup.
Namun—
Kinasih tidak menjawab.
Ia tahu.
Itu bukan kebetulan.
Sore.
Matahari mulai turun.
Cahaya berubah.
Lebih redup.
Lebih… dingin.
Kinasih berdiri di dapur.
Menuang air.
Namun—
air itu tidak berhenti.
Terus mengalir.
Padahal keran sudah ditutup.
Kinasih membeku.
Air itu jatuh ke gelas.
Meluap.
Namun—
tidak berhenti.
Seolah ada sesuatu yang menahannya tetap terbuka.
Kinasih perlahan mendekat.
Menatap keran itu.
Dan—
dari dalam lubangnya—
sesuatu terlihat.
Gelap.
Bergerak.
Seperti—
mata.
Kinasih langsung menjauh.
Air itu berhenti.
Sekejap.
Seolah tidak pernah terjadi.
“Nih…”
Suara Bima dari belakang.
Kinasih tersentak.
Hampir menjatuhkan gelas.
Bima berdiri di sana.
Membawa dua piring.
“Kamu kenapa?”
Kinasih menggeleng.
“Nggak… cuma kaget.”
Namun—
ia melihat lagi.
Sekilas.
Cepat.
Di belakang Bima.
Bayangan itu.
Kali ini—
lebih jelas.
Lebih panjang.
Dan—
tidak mengikuti gerakannya.
Ia berdiri diam.
Menatap Kinasih.
Tanpa wajah.
Tanpa bentuk jelas.
Namun—
terasa.
Sadar.
“Kamu lihat itu…?” bisik Kinasih.
Bima menoleh lagi.
Kosong.
“Nggak ada apa-apa…”
Bayangan itu menghilang lagi.
Seperti ditarik.
Masuk ke dalam tubuh Bima.
Kinasih menelan ludah.
Perutnya terasa dingin.
Malam.
Jam menunjukkan 23.11.
Untuk pertama kalinya—
waktu berjalan jauh dari 05.17.
Namun—
justru itu yang terasa salah.
Kinasih tidak bisa tidur.
Ia duduk di ranjang.
Menatap pintu.
Sunyi.
Namun—
terlalu sunyi.
Seperti sesuatu sedang… menunggu.
Dan tiba-tiba—
ponselnya menyala.
Sendiri.
Tanpa disentuh.
Layarnya terang.
Dan—
menampilkan sesuatu.
Video.
Tanpa ia buka.
Video itu langsung berjalan.
Kinasih membeku.
Di layar—
terlihat kamar.
Kamarnya.
Namun—
gelap.
Lebih gelap dari sekarang.
Dan di tengah—
ada seseorang berdiri.
Membelakangi kamera.
Kinasih menahan napas.
Karena—
ia tahu siapa itu.
Dirinya sendiri.
Perlahan—
sosok di video itu menoleh.
Dan—
tersenyum.
Senyum yang sama.
Yang pernah ia lihat di cermin.
Yang bukan miliknya.
Kinasih menjatuhkan ponselnya.
Video itu berhenti.
Layar mati.
Namun—
suara itu muncul.
Bukan dari ponsel.
Dari belakangnya.
“Kamu pikir sudah selesai?”
Kinasih membeku.
Pelan.
Sangat pelan—
ia menoleh.
Dan—
ia melihatnya.
Dirinya sendiri.
Berdiri di sudut kamar.
Namun—
berbeda.
Matanya gelap.
Kulitnya sedikit retak.
Dan—
senyumnya.
Lebih lebar.
Lebih dalam.
Lebih… hidup.
“Kamu…”
Suara Kinasih gemetar.
Sosok itu tertawa kecil.
“Aku yang tertinggal.”
Ia melangkah mendekat.
Pelan.
“Yang lain pergi…”
Ia berhenti.
Sangat dekat.
“…aku tidak.”
Kinasih mundur.
Jantungnya berdebar keras.
“Apa yang kamu mau…”
Sosok itu menatapnya.
Lama.
Lalu—
mengangkat tangan.
Menyentuh pipi Kinasih.
Dingin.
Namun—
lembut.
“Aku cuma butuh…”
Ia tersenyum.
“…sedikit tempat.”
Sekejap—
lampu mati.
Gelap.
Total.
Dan dalam kegelapan itu—
Kinasih merasakan sesuatu.
Masuk.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Seperti ada sesuatu yang… bangun.
“Kinasih…”
Suara Bima terdengar.
Dari luar kamar.
Nyata.
Dekat.
“Kamu kenapa?”
Lampu menyala lagi.
Seketika.
Dan—
tidak ada siapa-siapa.
Kamar kosong.
Kinasih berdiri sendiri.
Terengah.
Keringat dingin di seluruh tubuhnya.
Ia menatap sudut tadi.
Kosong.
Namun—
tidak terasa kosong.
Ia membuka pintu.
Bima berdiri di luar.
“Lo teriak tadi?”
Kinasih mengangguk pelan.
“Masuk…”
Bima masuk.
Menatap sekeliling.
“Lo lihat apa?”
Kinasih diam.
Beberapa detik.
Lalu—
berbisik.
“Dia masih ada…”
Bima menegang.
“Siapa?”
Kinasih menatapnya.
Dalam.
“…yang nggak ikut hancur.”
Sunyi.
Dan saat itu—
Bima tersenyum.
Pelan.
Sangat pelan.
Namun—
senyum itu…
tidak tepat.
Tidak seperti biasanya.
“Ya…”
katanya pelan.
“…aku tahu.”
Kinasih membeku.
Darahnya terasa berhenti.
“Bim…?”
Bima mengangkat kepala.
Dan—
matanya.
Gelap.
Sama seperti yang lain.
“Aku juga… lihat dia.”
Suaranya berubah.
Sedikit.
Lebih dalam.
Lebih berat.
“Kita… sama sekarang.”
Kinasih mundur.
Perlahan.
“Tidak…”
Namun—
Bima melangkah mendekat.
Dan bayangan di belakangnya—
kembali muncul.
Lebih besar.
Lebih gelap.
Lebih jelas.
Dan kali ini—
tidak menghilang.
Ia berdiri.
Tegak.
Dan—
tersenyum.
Tanpa wajah.
“Kita bawa sesuatu pulang…”
bisik Bima.
“…dan sekarang… dia ingin tinggal.”
Kinasih gemetar.
Air matanya jatuh.
“Bim… lawan…”
Namun—
Bima menggeleng.
Pelan.
“Udah nggak bisa…”
Ia tersenyum.
“…karena dia bukan di luar.”
Ia menunjuk kepalanya.
“…dia di sini.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Kinasih merasa sesuatu yang lebih buruk dari takut.
Pengulangan.
Siklus.
Yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dan suara itu—
muncul lagi.
Dari dalam dirinya.
Dari dalam Bima.
Dari dalam bayangan itu.
Serentak.
“Kita…”
“…sudah pulang.”