Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERLIAN WIJAYA
Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi di luar sana.
Berita tentang kelahiran cucu perempuan kelurga Wijaya sudah menyebar seperti api.
Bahkan harga saham Wijaya Group tiba-tiba melonjak naik hanya dalam hitungan menit setelah pengumuman libur nasional tersebut.
"Thomas, siapkan pengawalan paling ketat. Aku tidak mau ada satu pun kamera yang bisa mengambil foto cucu perempuan ku tanpa izinku. Dia adalah permata tersembunyi Wijaya," ucap Tuan Bastian kembali ke mode seriusnya.
"Sudah, Pa. Seluruh lantai ini sudah diaman kan, tidak ada yang bisa masuk kecuali tenaga medis kepercayaan kita," jawab Tuan Thomas mantap.
Tuan Bastian mengangguk puas, lalu dia mengelus dahi Lyra dengan jari telunjuknya yang besar.
"Lyra Clarissa Wijaya... selamat datang di dunia, Sayang. Dunia ini mungkin keras, tapi selama Kakek masih bernapas, dunia ini akan bertekuk lutut di depan kakimu," bisik Tuan Bastian penuh janji.
Lyra perlahan mulai merasa mengantuk. Energi besar yang terkunci di tubuh kecilnya membuatnya cepat lelah, dia memejamkan matanya, merasakan kecupan lembut dari Daddy dan kakeknya secara bergantian.
"Tuan Muda Steven dan Tuan Muda Jerome sudah tiba di lobi rumah sakit, Tuan Besar," lapor seorang ajudan dengan nada berbisik, namun tetap terdengar jelas di keheningan ruangan itu.
Tuan Bastian mendengus pelan, namun matanya tetap tertuju pada wajah tenang Lyra.
"Biarkan mereka masuk, tapi peringatkan mereka, katakan pada mereka, letakkan senjata mereka di luar. Aku tidak ingin aroma senjata tajam mereka mengganggu tidur cucuku," ucap Tuan Bastian, datar.
Sementara Tuan Thomas hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan ayahnya yang sama sekali tidak main-main itu.
Ceklekk
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan, dua pria tinggi dengan garis wajah tegas yang sangat mirip dengan Tuan Bastian melangkah masuk. Mereka adalah Steven Wijaya si sulung yang kaku dan dingin, Jerome, anak kedua yang memimpin organisasi Mafia kelurga Wijaya.
"Mana? Di mana keponakan cantikku?" tanya Jerome datar, namun matanya berbinar antusias.
"Sstt! Pelan kan suaramu, Jerome," tegur Steven sambil membenarkan letak jas nya.
Kedua kakak beradik itu mendekat ke arah ranjang Nyonya Arin, dua pria dingin dan berbahaya itu tertegun melihat sosok mungil yang dibalut selimut sutra berwarna merah muda itu.
"Luar biasa... Thomas, kau benar-benar hebat bisa menghasilkan anak perempuan, aku punya tiga anak laki-laki dan rasanya setiap hari rumahku seperti medan perang," bisik Jerome sambil terkekeh pelan.
"Ini keajaiban, Thomas. Papa sudah menunggu momen ini selama puluhan tahun. Lihatlah wajah Papa, dia terlihat sepuluh tahun lebih muda," ucap Steven, melirik ayahnya yang masih betah berdiri di samping ranjang.
Tuan Bastian menoleh ke arah kedua putranya dengan tatapan tajam dan penuh kesombongan itu.
"Kalian berdua, dengar baik-baik, kehadiran Lyra mengubah segalanya. Aku ingin kalian memastikan anak-anak kalian, kelima cucu laki-lakiku itu menjaga adik perempuan mereka dengan nyawa mereka sendiri. Jika ada satu helai rambut Lyra yang jatuh karena ulah nakal mereka, kalian yang akan aku minta pertanggungjawaban," ucap Tuan Bastian, dingin.
Steven dan Jerome hanya diam dengan raut wajah datar mereka, lalu mengangguk serempak. Mereka tahu betul, di keluarga Wijaya, kasta tertinggi kini telah berpindah ke tangan bayi mungil bernama Lyra Clarissa Wijaya, ini.
"Papa tidak perlu khawatir, ketiga Putra ku sudah sangat menantikan kehadiran princess Wijaya," jawab Tuan Jerome, tersenyum miring.
"Dan kedua putraku juga sudah menyiapkan hadiah, meskipun menurutku hadiah mereka, sangat kecil," imbuh Tuan Steven, datar.
Nyonya Arin, yang meskipun masih merasa lemas, tidak bisa menahan rasa penasaran, mengingat kelurga suaminya ini tidak ada yang waras.
"Hadiah apa yang Kak Steven maksud?" tanya Nyonya Arin.
"Ehem!"
Steven berdehem sedikit canggung.
"Putra sulungku, Kenzo, membelikan sebuah pulau kecil atas nama Lyra, dan adiknya, Kenzie, memesan satu set perhiasan berlian langka dari London," jawab Tuan Steven santai.
"Pulau? Dia bahkan belum bisa merangkak, Kak!" seru Nyonya Arin tak percaya.
"Iya."
Jawab Tuan Steven, mengangguk ringan.
Nyonya Arin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas nya panjang.
Di tengah percakapan itu, Lyra yang sedang tertidur sebenarnya bisa mendengar sayup-sayup suara di sekitarnya, darah Leo Alistair di dalam jiwa nya berdesir.
"Aku rasa aku juga perlu memberikan hadiah untuk cucu perempuan ku ini," ucap Tuan Bastian, tidak mau kalah.
"Jek! Pesan videotron di Times Square di negara F, L, dan B. Tampilkan nama Lyra Clarissa Wijaya di sana selama seminggu penuh dengan ucapan selamat datang!" perintah Tuan Bastian, pada asisten pribadi nya.
"Papa, itu terlalu berlebihan!" protes Nyonya Arin, menggeleng kan kepala nya tidak percaya dengan rencana gila mertua nya.
"Tidak ada yang berlebihan, ini cucu perempuanku! Kalau perlu, aku akan membeli maskapai penerbangan dan mengecat semua pesawatnya dengan warna kesukaan Lyra nanti!" jawab Tuan Bastian dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Nyonya Arin hanya bisa bersandar di bantalnya, menatap bayi di pelukannya dengan penuh cinta, dia tahu, kehidupan putrinya tidak akan pernah kekurangan cinta dari keluarga besar nya dan juga dirinya.
"Arin, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, untuk keamanan, aku sudah menempatkan dua tim penembak jitu di gedung seberang. Tidak ada lalat pun yang bisa terbang masuk ke lantai ini tanpa izin," ucap Tuan Steven terdengar agak rendah saat menatap adik iparnya.
Nyonya Arin hanya tersenyum tipis, sudah terbiasa dengan cara keluarga Wijaya mencintai anggota keluarganya.
"Terima kasih, Kak Steven," jawab Nyonya Arin, lemah.
Tiba-tiba, mata bayi dalam pelukan Arin itu sedikit terbuka, tapi tidak menangis, mata bulat itu hanya menatap Tuan Steven dan Tuan Jerome bergantian.
Jiwa di dalam tubuh kecil itu merasakan aura yang sangat dikenalnya dari kedua paman nya itu, Aura Predator.
Dingin, waspada, dan haus kuasa!
Tuan Bastian yang menyadari tatapan cucunya itu kembali mendekat, menatap wajah kecil Lyra.
"Lihat mata itu, dia tidak berkedip menatap kalian berdua, dia sedang menilai kalian, apakah kalian layak menjadi pelindungnya atau tidak," ucap Tuan Bastian, tersenyum miring.
"Dia punya mata seorang pemimpin," gumam Tuan Jerome, kini terlihat sedikit lebih tertarik.
"Biasanya bayi akan menangis merasakan aura Kak Steven yang kaku, tapi dia, dia seperti sedang menantang," lanjut Tuan Jerome, tersenyum miring.
"Bersihkan semua media yang mencoba menggali informasi lebih dalam soal Lyra. Siapa pun yang berani mengambil foto wajahnya secara ilegal, pastikan mereka menghilang sebelum matahari terbit," perintah Tuan Bastian dingin.
"Baik Tuan," jawab Jek, mengangguk sopan.
"Dan soal pengumuman libur itu?" tanya Jek memastikan.
"Tetap jalankan, biar dunia tahu keluarga Wijaya sedang merayakan sesuatu, tapi biarkan identitasnya tetap menjadi misteri yang mematikan. Dia adalah permata yang akan kita simpan di balik sangkar emas Wijaya, sampai dia siap menghancurkan dunia dengan tangannya sendiri," jawab Tuan Bastian.
"Dunia ini kejam, Lyra Clarissa Wijaya, tapi jangan khawatir... Kakek akan memastikan kau menjadi orang yang paling kejam jika ada yang berani mengusik mu," ucap Tuan Bastian, menatap cucunya, mengelus pipi lembut Lyra.
Lyra menggeliat pelan, lalu kembali memejamkan mata, seolah tahu dia merasa aman, bukan karena kelembutan, tapi karena dia tahu dia berada di tengah-tengah kawanan serigala yang paling kuat di dunia ini.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,