NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Antara Masa Lalu dan Masa Depan

"Ayo, kita keluar dari sini. Kau butuh udara segar," bisik Matteo. Ia tidak menuntut jawaban sekarang. Dengan sigap, ia keluar dari butik dan menuntun Chae-young menuju mobilnya.

Sepanjang perjalanan menuju restoran privat di daerah perbukitan Namsan, Chae-young hanya melamun. Matanya menatap kosong ke luar jendela, namun pikirannya tertuju pada malam di hotel itu. Bayangan ia yang kehilangan kesadaran karena obat pemberian Soo-hee, lalu masuk ke kamar Matteo secara tidak sengaja, terus menghantuinya.

Ia merasa kotor, sekaligus merasa bersalah pada mendiang ayahnya.

Ayah, andai saja aku tidak meminum minuman itu... andai saja aku tidak membiarkan Soo-hee menghancurkanku, mungkin kau masih di sini, batinnya perih.

Matteo sesekali melirik Chae-young. Ia menyadari ada sesuatu yang sangat berat yang baru saja terjadi. "Chae-young-ah, makanlah sedikit. Kau belum menyentuh makananmu."

Chae-young tersentak dari lamunannya. Mereka sudah berada di dalam ruangan privat restoran. Di depan mereka tersaji hidangan mewah, namun seleranya sudah mati sejak Soo-hee datang tadi pagi.

"Maaf Matteo, aku hanya sedang tidak enak badan," bohongnya pelan.

Matteo meletakkan sendoknya. Ia meraih tangan Chae-young di atas meja, menggenggamnya erat.

"Aku tahu kau berbohong. Tapi aku tidak akan memaksamu bercerita jika kau belum siap. Namun, ada satu hal yang ingin aku bicarakan secara serius."

Chae-young mendongak, menatap mata ice blue Matteo yang kini tampak sangat tenang dan penuh keyakinan.

"Ibu memintaku untuk menikahimu secara baik-baik," ucap Matteo tanpa basa-basi. "Dan jujur, aku pun menginginkan hal yang sama. Bukan hanya karena anak-anak, tapi karena aku ingin menjaga kalian secara resmi."

Jantung Chae-young berdegup kencang. Pernikahan? Dengan pria yang dulu pernah ia serang dalam keadaan mabuk obat?

"Berikan aku waktu, Matteo," bisik Chae-young parau. "Semuanya terjadi begitu cepat. Aku... aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Aku tidak ingin menikah hanya karena rasa bersalah atau karena paksaan ibumu."

Matteo mengangguk kecil, meski ada sedikit kekecewaan di matanya. "Aku mengerti. Aku akan menunggu. Tapi ingat, jangan pernah menanggung bebanmu sendirian lagi. Aku di sini."

Di sudut lain kota Seoul, di sebuah apartemen yang jauh dari kata mewah, suara barang pecah belah terdengar nyaring. Soo-hee sedang mengamuk, sementara suaminya, Han Tae-joon, berdiri dengan wajah merah padam karena amarah.

"Aku bilang cerai, Tae-joon! Aku tidak sudi hidup dengan pria bangkrut sepertimu!" Teriak Soo-hee sambil melempar vas bunga ke arah suaminya.

"Kau pikir kau siapa, Soo-hee?!" balas Tae-joon sengit. "Lima tahun lalu kau yang memaksaku meninggalkan Chae-young karena kau pikir aku kaya! Sekarang setelah aku jatuh, kau ingin lari? Tidak akan semudah itu!"

"Aku tidak peduli! Aku sudah menemukan sumber uang yang jauh lebih besar dari dirimu! Kakakku... dia sedang didekati oleh Matteo Smith! Kau tahu siapa dia? Dia pemilik M-Nexus!" Soo-hee tertawa histeris. "Jika aku bisa mendapatkan sedikit saja dari kekayaannya, aku tidak perlu lagi melihat wajahmu yang menyedihkan!"

Tae-joon tertegun mendengar nama Chae-young disebut. Rasa bersalah dan penyesalan mendalam tiba-tiba muncul di hatinya. "Chae-young? Dia didekati pria seperti itu? Kau pasti berbohong."

"Lihat saja nanti! Aku akan memastikan Chae-young memberiku bagian, atau aku akan menghancurkan mereka berdua!" Soo-hee mencengkeram kerah baju Tae-joon. "Tanda tangani surat cerai itu sekarang, atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas semua hutang judimu!"

Pertengkaran itu berakhir dengan Soo-hee yang mengunci diri di kamar, sementara Tae-joon terduduk di lantai dengan pikiran kacau. Di dalam kamar, Soo-hee menatap foto Matteo di ponselnya.

"Matteo Smith, kau sangat tampan dan berkuasa," gumam Soo-hee licik. "Jika kakakku yang cacat itu bisa mendapatkanmu, kenapa aku tidak? Kita lihat siapa yang akan menang pada akhirnya."

Malam itu, Matteo mengantar Chae-young kembali ke apartemennya. Saat Chae-young hendak turun, Matteo menahan tangannya sebentar.

"Chae-young-ah, besok aku akan menjemput anak-anak. Aku ingin mengajak mereka ke kantor. Bolehkah?"

Chae-young tersenyum tipis, teringat betapa antusiasnya Chae-rin bercerita tentang Daddy yang hebat. "Tentu. Mereka pasti senang."

Begitu Chae-young masuk ke dalam apartemennya, Matteo terdiam di dalam mobilnya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Soo-hyun.

"Soo-hyun, cari tahu siapa wanita yang keluar dari butik Chae-young siang tadi. Aku ingin data lengkapnya dalam satu jam. Dan satu lagi, selidiki kembali apapun semuanya mengenai Chae-young lima tahun lalu. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, dan aku harus tahu apa itu."

Matteo memacu mobilnya membelah malam. Ia tidak tahu bahwa pencariannya ini akan membawanya pada kebenaran yang jauh lebih gelap dari sekadar persaingan bisnis—sebuah kebenaran tentang bagaimana wanita yang mulai ia cintai dikhianati oleh darah saudaranya sendiri.

***

Ruang kerja Matteo di lantai teratas gedung M-Nexus biasanya adalah tempat yang paling hening di Seoul. Namun pagi ini, tawa melengking Chae-rin dan celoteh serius Chan-yeol mengubah atmosfer dingin itu menjadi hangat. Si kembar sedang asyik bermain di sofa beludru besar milik Daddy mereka, sementara Matteo duduk di balik meja kebesarannya.

Namun, fokus Matteo tidak sepenuhnya pada dokumen di depannya. Matanya terus melirik ke arah map cokelat tebal yang baru saja diletakkan Soo-hyun sepuluh menit lalu.

"Daddy, lihat! Aku menggambar gedung ini!" Chae-rin berlari menghampiri Matteo, menunjukkan kertas yang penuh coretan krayon.

Matteo tersenyum, mengusap puncak kepala putrinya. "Bagus sekali, Sayang. Kau ingin menjadi arsitek?"

"Aku ingin jadi bos seperti Daddy!" jawabnya riang.

Setelah memastikan anak-anak kembali asyik bermain, Matteo perlahan membuka map itu. Lembar demi lembar laporan Soo-hyun ia baca. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang saat ia sampai pada bagian tentang Park Soo-hee dan kematian ayah Chae-young.

Laporan Medis: Serangan Jantung Akibat Syok Berat. Saksi Mata: Tetangga melihat seorang kurir mengirimkan amplop tanpa nama sesaat sebelum kejadian.

Matteo memejamkan mata. Sosok wanita gila di butik kemarin—wanita yang ternyata adalah adik kandung Chae-young—adalah iblis yang sebenarnya. Ia kini tahu bahwa malam di hotel lima tahun lalu bukanlah sebuah kebetulan murni, melainkan sebuah pelarian Chae-young dari jebakan keji saudaranya sendiri.

"Binatang," desis Matteo pelan.

Tepat saat amarah Matteo berada di puncak, pintu kantornya terbuka tanpa ketukan. Soo-hyun masuk dengan wajah yang sangat pucat, seolah baru saja melihat hantu.

"Tuan Matteo, maaf saya menyela. Tapi ada seseorang yang memaksa masuk. Dia... dia tidak bisa saya hentikan karena dia memiliki kartu akses lama dari kantor Anda di Manila," bisik Soo-hyun gugup.

Matteo mengernyit. Kartu akses Manila? Sebelum ia sempat bertanya, suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama tegas terdengar di lantai marmer.

Seorang wanita cantik dengan busana sangat elegan—gaun merah yang memeluk tubuhnya dengan sempurna dan kacamata hitam besar—melangkah masuk dengan aura yang sanggup membekukan ruangan. Ia melepaskan kacamatanya, menampakkan mata yang tajam dan penuh pengalaman.

"Matteo Adrian Reins Smith, sudah lama sekali, bukan?"

Matteo membeku di kursinya. Nama itu hampir tidak pernah ia sebut lagi dalam dua tahun terakhir. Sosok wanita ini adalah bagian dari masa lalunya yang paling rumit di Filipina—wanita yang tahu persis betapa kacaunya Matteo sebelum ia menjadi "The Titan" di Seoul.

"Kau... apa yang kau lakukan di sini?" suara Matteo terdengar berat.

Wanita itu melirik ke arah sofa, di mana Chan-yeol dan Chae-rin menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar. Matanya yang tajam seketika melunak saat melihat wajah Chan-yeol yang sangat identik dengan Matteo.

"Wah, wah... sepertinya gosip yang kudengar benar," wanita itu tersenyum misterius, berjalan mendekati sofa. "Mata biru itu... kau tidak bisa menyangkalnya, Matt. Mereka benar-benar replikamu."

"Jangan mendekati anak-anakku," ancam Matteo, ia segera berdiri dan menghalangi langkah wanita itu.

"Tenanglah, aku datang bukan untuk membuat keributan," sahutnya sambil melirik Matteo dengan tatapan penuh arti. "Aku hanya merindukan rekan bisnis lamaku."

Chan-yeol berdiri, menatap wanita asing itu dengan berani. "Aunty siapa? Apa aunty teman Daddy?"

Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar mahal namun berbahaya. "Aku teman lama Daddy-mu, teman yang tahu semua rahasianya."

Matteo mencengkeram lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari anak-anak, menuju sudut ruangan. "Katakan maumu sekarang juga sebelum aku memanggil keamanan."

"Kau ini selalu saja terburu-buru, tidak berubah, masih sama seperti dulu."

Matteo menatap wanita itu dengan penuh selidik. Kehadiran sosok ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, dia sangat ahli dalam urusan pembersihan lawan, tapi di sisi lain, dia bisa menjadi ancaman bagi kedamaian yang baru saja Chae-young rasakan.

"Soo-hyun, bawa anak-anak ke ruang bermain di lantai bawah," perintah Matteo tanpa melepaskan pandangannya dari tamu tak diundang itu.

Setelah anak-anak keluar, Matteo berbalik dengan tatapan mematikan. "Katakan, kenapa kau datang kesini? Apa maumu?"

Wanita itu hanya tersenyum lebar, menyesap sedikit dari botol air mineral di meja Matteo. "Akhirnya kata-kata yang aku tunggu—akhirnya keluar juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!