NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Langkah kaki Calista terasa luar biasa berat saat ia melintasi pintu masuk utama penthouse mewah itu. Pikirannya masih tertinggal di kamar rumah sakit yang sunyi, pada wajah pucat Ibunya dan suara detak jantung dari monitor yang terus terngiang-ngiang layaknya melodi kesedihan yang tak kunjung usai.

Setiap jengkal perjalanannya pulang tadi diisi dengan lamunan tentang masa depan yang terasa kian kabur. Saat ini, ia hanya ingin segera masuk ke dalam kamar, melepaskan sepatu hak tingginya yang menyiksa, dan memejamkan mata sejenak untuk sekadar melupakan beban berat yang menghimpit pundaknya.

Namun, kedamaian adalah barang yang sangat mahal di kediaman Satrya. Baru saja ia melewati ruang tengah, sebuah bayangan muncul dari balik pilar marmer yang menjulang tinggi. Tanpa peringatan, hantaman air dingin mendarat tepat di wajah dan gaun sutranya yang berharga.

Calista terkesiap. Napasnya tertahan saat rasa dingin itu menusuk kulitnya yang sensitif, meresap hingga ke pori-pori dan membuat tubuhnya seketika menggigil hebat. Ia mematung di tengah ruangan, merasakan tetesan air mengalir perlahan dari dahi hingga ke dagunya. Rasa dingin itu bukan sekadar air, melainkan simbol kebencian yang terus dikucurkan oleh penghuni rumah ini kepadanya.

"Aduh! Ya ampun! Kak Calista!" suara melengking Puput memecah kesunyian, terdengar sangat dibuat-buat dan penuh kepalsuan yang amat kental. Puput berdiri di sana, memegang gelas kristal yang kini kosong, dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan binar kepuasan yang kejam.

Air terus menetes dari ujung rambutnya, merusak gaun mahal yang baru saja ia jaga agar tetap rapi di depan Ibunya. Ia menyeka wajah dengan punggung tangan, menatap Puput yang memegang gelas kristal kosong dengan wajah panik yang dibuat-buat. Kilatan lampu kristal di langit-langit memantulkan sisa air di lantai marmer, menciptakan suasana yang kian tegang di antara mereka berdua.

"Maaf, Kak! Sumpah, aku tidak sengaja!" Puput menutup mulut dengan telapak tangannya, namun matanya berkilat puas. "Tadi aku lihat ada serangga besar mau hinggap ke arah Kakak. Karena panik, refleks aku siram saja supaya serangganya pergi. Kakak tidak apa-apa, kan? Gaunnya jadi basah kuyup begitu. Sayang sekali ya, padahal itu gaun baru."

Beberapa pelayan di kejauhan menunduk dalam, tidak berani ikut campur. Mereka tahu ini adalah jebakan untuk memancing amarah Calista agar Susi punya alasan untuk menghukumnya. Namun, Calista hanya menatap tajam adik iparnya itu tanpa berkedip sedikit pun. Ia bisa melihat betapa rendahnya cara mereka bermain, seolah-olah ia adalah lawan yang hanya bisa diserang dengan trik kekanak-kanakan.

Ia melihat ejekan yang sangat kental di mata Puput. Jika ini hari biasa, ia pasti sudah membalas dengan kata-kata yang menyayat hati hingga gadis itu bungkam. Tapi hari ini, energinya telah habis terkuras di rumah sakit. Jiwanya sedang berada di titik terendah dan ia enggan meladeni drama murahan yang hanya membuang-buang waktu serta tenaganya yang tersisa.

"Sudah selesai sesi aktingnya?" tanya Calista dingin, suaranya sedatar es yang sanggup membekukan suasana seketika.

Puput terkejut. Ia tidak mendapatkan ledakan amarah yang ia harapkan. "Kok Kakak bicaranya begitu? Aku kan cuma mau menolong..."

"Simpan ceritamu untuk Mas Denis nanti malam jika kau memang punya cukup nyali," potong Calista tanpa memberi kesempatan Puput untuk membela diri lebih lanjut. Ia tahu Denis tidak akan tinggal diam jika tahu aset kesayangannya diperlakukan seperti ini, tapi ia juga tahu Puput adalah pengecut yang hanya berani saat Denis tidak ada.

Ia melangkah melewati Puput dengan anggun, membiarkan ujung gaunnya yang basah meninggalkan jejak di lantai marmer yang berkilau. Ia memilih mengalah bukan karena takut, melainkan demi menjaga kewarasan batinnya sendiri. Setiap langkahnya meninggalkan sisa air, seolah-olah ia sedang membasuh semua kehinaan yang coba dilekatkan kepadanya.

Baginya, Puput hanyalah kerikil kecil dibanding gunung masalah yang harus ia daki setiap hari demi kesembuhan sang Ibu. Ia tidak ingin mengotori pikirannya yang sedang kalut dengan urusan remeh-temeh ini.

Calista berhenti sejenak di dekat area dapur. Dua pelayan berdiri gemetar melihat kondisinya yang mengenaskan namun tetap memancarkan aura wibawa yang kuat. "Tolong siapkan makan siang untukku sekarang," perintahnya tegas.

"Bawakan ke meja makan dalam lima belas menit. Aku ingin menu yang hangat untuk memulihkan tubuhku," tambahnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah para pelayan yang sedang kebingungan itu.

"Baik, Non Calista," jawab mereka serempak, segera bergegas melaksanakan perintah tersebut. Mereka bisa merasakan ketajaman dalam nada bicara Calista, sebuah tanda bahwa sang nyonya muda tidak sedang ingin diajak bercanda.

Calista terus melangkah menuju kamar utama dengan dagu tetap terangkat tinggi. Ia tidak akan membiarkan percikan air murahan ini memadamkan api kekuatannya yang sedang ia bangun dengan susah payah. Di dalam kamar, ia segera melepaskan gaun yang kini terasa berat dan dingin itu, melemparkannya ke lantai tanpa penyesalan.

Di dalam kamar, ia harus segera berganti pakaian dan memulihkan diri. Keheningan kamar yang luas menjadi saksi betapa ia harus menelan semua pahit ini sendirian tanpa ada tempat untuk mengadu. Ia memandang dirinya di cermin, wajahnya sedikit merah karena hawa dingin, tapi matanya memancarkan tekad yang lebih keras dari berlian.

Ia tahu malam nanti tantangan lain yang jauh lebih besar sedang menantinya. Denis akan pulang, dan ia harus kembali bertransformasi menjadi Nyonya Satrya yang tanpa cela, anggun, dan penuh kendali. Tak boleh ada tanda-tanda rapuh yang ia tunjukkan pada siapa pun di rumah ini, termasuk pada suaminya sendiri.

Perang di kediaman ini masih sangat panjang, dan ia butuh asupan tenaga serta ketenangan mental untuk memenangkannya. Ketenangannya adalah senjata paling mematikan bagi Susi dan Puput yang haus akan kekacauan di istana megah namun dingin ini. Ia harus memastikan bahwa setiap tetes air yang jatuh hari ini akan ia bayar dengan kemenangan yang mutlak di masa depan. Ia akan bertahan, bukan karena ia lemah, tapi karena ia tahu bagaimana cara memenangkan peperangan yang sesungguhnya.

Tatapan matanya di cermin seolah berjanji bahwa ia tidak akan pernah membiarkan air mata jatuh karena tindakan konyol seperti ini. Ia menghela napas panjang, mengusir sisa dingin yang masih tertinggal di tulang selangkanya, dan mulai menyiapkan diri. Ia akan menyambut Denis dengan keanggunan yang sempurna, membuat Puput terlihat semakin kecil dan tidak berarti di mata pria itu. Strateginya kini adalah diam yang mematikan, sebuah serangan balik yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar cacian atau teriakan histeris. Ia adalah nyonya rumah yang sesungguhnya sekarang.

Mohon dukungannya ❤🥰🙏

1
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!