Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: HARGA SEBUAH INTEGRITAS
Mentari pagi di Jakarta seringkali tertutup oleh lapisan polusi yang tebal, namun di lantai tiga puluh dua gedung Hardianto Group, cahaya itu tetap berhasil menembus kaca antipeluru, menyinari meja kerja Larasati yang kini dipenuhi oleh maket-maket bangunan sekolah. Di jari manisnya, cincin akar pinus itu masih melingkar, tampak kontras dengan jam tangan mewah yang ia kenakan. Bagi Larasati, cincin itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam arus keserakahan kota ini.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan yang formal. Baskara masuk dengan langkah lebar, wajahnya memancarkan kegembiraan yang jarang terlihat. Di tangannya, ia menggenggam sebuah map biru berlogo emas milik Nusantara Development, salah satu konsorsium properti terbesar di Asia Tenggara.
"Laras, kamu tidak akan percaya ini," ucap Baskara sambil meletakkan map itu di depan istrinya. "Mereka menawarkan proyek Smart City di Kalimantan. Mereka ingin Yayasan kita menjadi mitra utama dalam pembangunan fasilitas pendidikan dan sosial di sana. Ini proyek triliunan rupiah, Laras. Jika kita mengambil ini, kita bisa membangun seratus sekolah, bukan cuma satu."
Larasati membuka map tersebut perlahan. Matanya dengan cepat memindai angka-angka dan klausul yang tertulis di sana. Sebagai wanita yang dibesarkan di tengah intrik korporat, instingnya seketika berdenting pelan.
"Nusantara Development?" Larasati bergumam, keningnya berkerut. "Bukankah mereka yang dulu sempat dikaitkan dengan kasus lahan di Sumatera? Baskara, ini proyek yang sangat besar, hampir terlalu indah untuk menjadi kenyataan."
Baskara duduk di kursi di depan meja Larasati, tubuhnya condong ke depan. "Aku sudah memeriksa profil mereka, Sayang. Mereka sudah melakukan restrukturisasi besar-besaran. CEO barunya, Pak Harlan, adalah teman lama ayahku yang punya reputasi bersih. Dia bilang dia ingin menebus kesalahan masa lalu perusahaannya dengan melibatkan kita."
Larasati menatap mata suaminya. Ia melihat binar antusiasme yang murni. Baskara ingin berbuat lebih banyak, ia ingin bergerak lebih cepat untuk menolong lebih banyak orang. Namun, Larasati mencium aroma "siasat manis" yang sangat ia kenal—jenis jebakan yang dulu sering digunakan Tuan Kusuma untuk menjerat lawan-lawannya.
Sore harinya, mereka memenuhi undangan makan malam di sebuah restoran privat di kawasan Menteng. Pak Harlan, pria paruh baya dengan rambut perak dan senyum yang sangat kebapakan, menyambut mereka dengan hangat.
"Baskara, Larasati... suatu kehormatan," sapa Harlan. "Saya melihat apa yang kalian lakukan di Jakarta Utara. Luar biasa. Dunia butuh lebih banyak orang seperti kalian. Itulah sebabnya saya bersikeras melibatkan Yayasan Hardianto-Baskara dalam proyek Mahakam City."
Makan malam berlangsung dengan perbincangan yang tampak tulus. Harlan bercerita tentang visinya membangun kota masa depan yang ramah lingkungan dan edukatif. Namun, saat hidangan penutup disajikan, Harlan memberikan sebuah dokumen tambahan yang tidak ada dalam map biru pagi tadi.
"Ini hanya formalitas kecil," ucap Harlan sambil menyodorkan pulpen berlapis emas. "Untuk memulai pengerjaan lahan, kami butuh dukungan dana awal dari dana abadi Hardianto sebagai jaminan likuiditas. Sebagai gantinya, Yayasan akan mendapatkan kepemilikan saham 20% di seluruh kawasan komersial kota tersebut."
Gerakan tangan Larasati yang hendak mengambil sendok terhenti. Ia melirik Baskara yang tampak sedang mempertimbangkan tawaran itu.
"Pak Harlan," suara Larasati terdengar tenang namun tajam. "Dana abadi ayah saya adalah dana sosial, bukan dana investasi komersial. Jika saya menggunakannya sebagai jaminan untuk proyek properti, meskipun tujuannya membangun sekolah, saya melanggar amanat wasiat ayah saya."
Senyum Harlan tidak memudar, justru semakin lebar. "Nona Larasati, dalam bisnis, batas antara sosial dan komersial itu sangat tipis. Pikirkan berapa banyak anak yang bisa Anda sekolahkan dengan dividen dari pusat perbelanjaan di sana. Ini bukan pengkhianatan terhadap ayah Anda, ini adalah eskalasi dari mimpinya."
Baskara menatap Larasati, lalu menatap Harlan. "Kami butuh waktu untuk mendiskusikannya, Pak. Ini keputusan besar."
"Tentu, tentu," jawab Harlan santai. "Tapi ingat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Banyak yayasan lain yang mengantre di depan pintu saya, tapi saya memilih kalian karena saya percaya pada nama Hardianto."
Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa kaku. Baskara menatap keluar jendela, sementara Larasati memegang erat kemudi (ia bersikeras menyetir sendiri malam itu).
"Kamu tidak menyukainya, kan?" tanya Baskara memecah keheningan.
"Aku tidak mempercayainya, Baskara," jawab Larasati jujur. "Harlan bicara soal visi, tapi matanya bicara soal angka. Dia ingin menggunakan nama bersih kita untuk melegitimasi proyek yang mungkin punya masalah hukum di belakangnya. Dana abadi kita adalah benteng terakhir kita, Baskara. Sekali kita menggunakannya sebagai jaminan utang pihak lain, kita kehilangan kendali atasnya."
Baskara menghela napas panjang, tampak sedikit frustrasi. "Laras, kadang aku merasa kamu terlalu waspada hingga kita tidak pernah melangkah maju. Kita butuh lompatan besar. Kalau kita cuma bangun sekolah satu-satu seperti ini, butuh waktu berapa puluh tahun untuk membuat perubahan nasional?"
Larasati menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Ia mematikan mesin dan menatap Baskara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baskara, aku menghabiskan sepuluh tahun hidupku dalam kepalsuan. Aku melihat bagaimana Tuan Pratama dan Tuan Kusuma hancur karena mereka ingin melompat terlalu tinggi dengan cara yang salah. Aku tidak ingin membangun sekolah di atas fondasi yang retak. Jembatan di desa itu kuat karena kita sendiri yang mengangkat batunya, bukan karena kita meminjam kekuatan dari orang yang ingin memanfaatkan kita."
"Tapi Harlan bukan Kusuma, Laras!" suara Baskara sedikit meninggi.
"Dia lebih berbahaya dari Kusuma, Baskara. Karena dia tahu cara bersikap seperti seorang ayah yang baik," balas Larasati. "Aku mohon, beri aku waktu besok untuk menyelidiki Nusantara Development lebih dalam melalui Aditama. Jika aku salah, aku akan meminta maaf dan kita akan menandatanganinya."
Baskara terdiam, ia melihat kesungguhan di mata istrinya. Ia kemudian meraih tangan Larasati dan mencium cincin akar pinus itu. "Baiklah. Besok. Tapi jika Aditama tidak menemukan apa-apa, kita harus berani mengambil risiko ini."
Keesokan harinya, Larasati bekerja seperti detektif. Ia meminta Aditama masuk ke dalam aliran dana Nusantara Development yang paling rahasia. Sementara itu, Baskara pergi ke lokasi kantor pusat mereka untuk meninjau maket sekolah.
Tengah hari, Aditama masuk ke ruangan Larasati dengan wajah pucat dan napas terengah-engah.
"Laras, kamu benar. Benar-benar benar," Aditama meletakkan setumpuk dokumen di meja. "Nusantara Development sedang berada di ambang kebangkrutan karena kegagalan proyek mereka di Vietnam. Mereka butuh dana abadi Hardianto bukan sebagai jaminan, tapi untuk menutupi utang jatuh tempo mereka besok pagi. Dan yang lebih mengejutkan... tebak siapa pemegang saham rahasia di balik perusahaan cangkang yang mendukung Harlan?"
Larasati membaca nama yang tertera di dokumen itu. Tubuhnya seketika lemas. "Keluarga Wijaya... ini kerabat jauh Adrian Wijaya?"
"Bukan kerabat jauh, Laras. Ini adalah paman Adrian yang mengelola dana hitam milik Lastri yang belum sempat disita polisi. Mereka ingin menjebak kita dalam kasus penggelapan dana sosial agar yayasan kita ditutup oleh negara dan nama baik kita hancur selamanya," jelas Aditama.
Larasati segera mencoba menghubungi Baskara, namun ponsel suaminya tidak aktif. Ia panik. "Di mana Baskara?"
"Dia bilang ada pertemuan lanjutan dengan Harlan di lokasi lahan di pinggiran kota," jawab Aditama.
Larasati menyambar kunci mobilnya. "Adit, hubungi kepolisian divisi ekonomi. Sekarang! Mereka ingin melakukan eksekusi dokumen siang ini."
Di sebuah gubuk kayu di tengah lahan kosong yang luas, Baskara sedang duduk bersama Harlan. Pulpen emas itu sudah berada di tangan Baskara.
"Tinggal tanda tangan di sini, Baskara. Dan kita akan mengubah sejarah pendidikan Indonesia," ucap Harlan dengan nada yang sangat meyakinkan.
Baskara menatap kertas itu. Ia teringat kata-kata Larasati tentang fondasi yang retak. Ia juga teringat jembatan di desa. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Jika proyek ini begitu mendesak, kenapa Harlan membawanya ke tempat terpencil seperti ini hanya untuk tanda tangan?
"Pak Harlan," ucap Baskara sambil meletakkan pulpen itu kembali ke meja. "Saya ingin bertanya satu hal. Kenapa Anda begitu terburu-buru? Bukankah untuk proyek sebesar ini, kita harus melakukannya di depan notaris resmi dan dewan yayasan?"
Wajah ramah Harlan perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan yang dingin dan tidak sabar. "Waktu adalah uang, Baskara. Kesempatan tidak menunggu notaris yang lambat."
"Atau mungkin... Anda butuh uang ini sebelum bursa saham dibuka besok pagi?" tanya Baskara, mencoba memancing.
Harlan tertegun. Sebelum ia sempat menjawab, suara raungan mesin mobil terdengar mendekat. Mobil Larasati mengerem dengan keras di depan gubuk, diikuti oleh dua mobil polisi.
Larasati keluar dari mobil, berlari menuju Baskara. "Baskara! Jangan tanda tangan!"
Baskara berdiri, ia berjalan menuju istrinya dan menggenggam tangannya erat. Ia menatap Harlan yang kini tampak sangat ketakutan. "Aku tidak melakukannya, Laras. Aku mendengarkan suaramu di kepalaku."
Polisi segera masuk dan mengamankan Harlan serta dokumen-dokumen palsu tersebut. Ternyata, Harlan hanyalah pion yang dibayar mahal oleh keluarga Wijaya untuk melakukan serangan terakhir.
Sore harinya, mereka kembali ke kantor pusat. Suasana jauh lebih tenang, namun ada pelajaran besar yang mereka petik.
"Maafkan aku, Laras," bisik Baskara saat mereka berdiri di balkon, menatap matahari terbenam. "Ambisi membuatku buta sejenak. Aku hampir saja menghancurkan semua yang kita perjuangkan."
Larasati memeluk suaminya dari samping. "Jangan meminta maaf, Baskara. Ambisimu itu mulia karena kamu ingin membantu orang lain. Tugasku adalah menjadi mata yang menjagamu agar tidak terperosok. Itulah gunanya kita berdua. Kamu adalah penggeraknya, aku adalah remnya."
"Ternyata siasat manis itu belum benar-benar pergi dari Jakarta ya?" canda Baskara pahit.
"Siasat akan selalu ada, Baskara. Tapi selama kita jujur satu sama lain, tidak akan ada rahasia yang bisa menghancurkan kita," jawab Larasati.