Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Dar--der--dor
Frizka masih berada di kondisi dimana---ia gemas, senang sekaligus tak menyangka, greget saja dengan obrolan semalam di grup tentang Naka yang mengakui jika ketos mereka itu menyukai teman di sampingnya. Dan sepanjang langkah mereka berdua ke ruang UKS, obrolan tentang Naka suka Shanum masih terus dibahas. Bahkan mereka tak menyangka Naka yang pendiam, bisa seagresif itu menyebut sayang pada Shanum.
Berkali-kali pertanyaan tentang Naka yang sudah mengajak Shanum pacaran dilemparkan Frizka dan belum sempat dijawab Shanum. Langkah mereka mulai sedikit jauh dari kelas bahasa, dan kini mulai memasuki perkelasan MIPA, bahkan kelas Arjuna telah mereka lewati dan sempat bertegur sapa juga dengan beberapa siswa kenalan meski selintas.
Oke, sekali lagi...
"Num, jadi gimana? Naka udah nembak Lo, tanggapan Lo kalo iya gimana? Diterima?" tanya Frizka kembali, setelah sempat terjeda oleh sapaan teman.
"Gue.." Pandangan Shanum terhenti ke arah depan dimana selasar kelas Naka habis. Frizka turut membeku melihat gerombolan kecil yang ada disana.
Keduanya paham, jika gerombolan kecil itu bukanlah kelas MIPA 1, kelas Naka dan Pandu, melainkan kelas IPS 3 dan itu...gadis cantik dengan body goals layaknya model, adalah Readewi Nayana, diantara anak MAK BUTI dan circle kelasnya.
"Mainaka, i love you..."
Say, love you too...
Say, love you too...
Say, love you too...
Riuh teman-temannya disana, bersorak seolah jagoannya sedang mempertaruhkan nasib. Begitupun beberapa teman sekelas Naka yang ikut-ikutan heboh nan gemas, aksi mereka cukup memancing atensi sekitar.
Naka sendiri, ia cukup terkejut dengan kedatangan Rea. Pada awalnya gadis itu datang dengan maksud membahas ijin tema mading, tapi semua diluar ekspektasi jika nyatanya Rea justru membawa pasukan untuk menyatakan cintanya pada Naka?
Naka berjengkit bangkit, "bubar!"
Melihat Naka dengan wajah datarnya itu justru tak mengurungkan niatan Rea, ia bahkan lebih nekat lagi dengan---
"Naka gue suka sama Lo sejak dulu?"
Dalam gerakan cepat nan kilat, tanpa persetujuan siapapun gadis itu berjinjit dan, cup! Satu kecupan mendarat di pipi Naka yang langsung berjengkit memberi jarak, rahangnya justru mengeras, tapi otaknya yang ingin murka justru tertahan oleh image ketua OSIS yang melekat.
"Weyyy!" Savero sampai Canza terkejut pula diantara seruan pendukung Rea.
Shanum langsung membalikan badannya termasuk Frizka. Dengan tangan yang refleks memegang tangan Shanum, Frizka ikut terkejut untuk kali keduanya.
"Gue adalah orang pertama yang bakalan ralat ucapan gue. Jangan pernah terima Naka, Shanum..."
Ia tau Naka tidak menginginkan itu juga, ia tau Naka pun terkejut jika Rea senekat itu. Tapi jika boleh jujur, hatinya sakit, adegan kecupan Rea barusan...
Shanum mengeratkan kepalannya. Bagaimana jika ia muncul tiba-tiba disana dan menjambak Rea? Yeahhh memang harusnya begitu. Baru saja Shanum ingin melakukan apa kata hatinya, ia melirik Frizka yang sudah tak di sampingnya.
"Priss?"
Shanum melotot saat Frizka sudah berlari ke arah Naka lalu mendaratkan tamparannya di pipi Naka. Mengejutkan dan mengganggu acara say love you too pagi ini disana.
"Ka, gue ngga pernah marah Lo mau PHP in berapa orang cewek disini, pake laga so ketos Lo...tapi jangan temen gue!" tunjuk Frizka ke arah dirinya, dimana semua mata langsung jatuh pada Shanum yang berdiri di sana, yeah...semua pandangan terasa menembaknya yang seorang diri, berdiri di koridor dengan wajah pucat, rasa sakit di perut dan yeah...keringat dingin mulai menjalari Shanum.
Bunda, Sha pengen pulang aja.
"Sha?"
Shanum memilih berbalik badan dengan langkah yang mendadak cepat.
Naka turut berlari menyusul Shanum membuat semua orang kebingungan disana.
"Lo ngapain sih?" tanya Rea merasa jika kehadiran Frizka justru mengganggu acaranya.
Frizka menatap Rea muak, tak mempedulikannya dan lebih memilih Shanum dan Naka.
"Sha..." panggil Naka mengejar Shanum bahkan sampai ke kelas gadis itu, dimana Shanum masuk ke arah bangkunya yang masih ada teman-teman geng ceriwis.
Adit yang mencomot bekal buah potong Chika, begitupun Jemima yang menge muutt lolipop sepagi ini, sementara Pandu...entahlah sejak kemarin terpilih, dirinya selalu so sibuk dengan melihat catatan-catatan Shanum mengulang dan mengulang lagi, khawatir setiap langkahnya ada kesalahan, maklumlah! Ini kali pertamanya menjadi seorang ketua di acara besar.
Shanum masuk dengan terburu-buru, jengkel, kesal dan emosi yang membuat jantung hati, empedu dan kepalanya nyut-nyutan ikut meluruhkan air mata.
Mereka cukup terkejut dengan kedatangan Shanum yang dar-der-dor ini, "eh, kenapa Num? Makin sakit ya? Mau ijin?" tanya mereka mendadak khawatir dan panik.
Tapi Shanum tak menjawab, ia justru menarik tasnya dari belakang badan Jemima yang kebetulan duduk di bangkunya.
"Gue mau ijin ke guru piket, badan gue makin ngga enak, Ndu...sorry, hari ini gue absen dulu."
Shanum merapatkan resleting tasnya. Namun langkah besar Naka mencegahnya, "Sha..."
Semakin saja mereka syok, sepagi ini harus dibuat menganga-nganga melihat adegan film genre harus mereka tentukan apa genre tontonan kali ini? Horor kah?
Adit bahkan menghentikan kunyahannya.
"Sha, gue ngerasa perlu jelasin yang barusan..." tahannya.
Shanum mengangguk memakai tasnya panik, "gue tau, Ka...gue tau, emang gue yang salah. Ngga apa-apa." Jawab Shanum mulai merasa jika bagian celananya becek dilelehi sesuatu, dan sialnya ia belum memakai pembalut.
"Terus lo mau kemana, hah?" tanya Naka sudah cukup kesal juga, ia lelah Shanum dengan segala sikap dan pemahamannya.
"Ngapain Lo nahan-nahan temen gue?!" Frizka datang dengan wajah murkanya, semakin saja geng ceriwis ini dibuat mengernyit, Frizka bukan penyebab layangan putus kan?
"Temen yang Lo maksud itu, tunangan gue..." suara Naka bagaikan petir untuk semua yang ada disana, bahkan Pandu yang sejak tadi so sibuk dengan catatan Shanum mendadak tersedak semua kata kata di buku, dan menjatuhkan buku notes milik Shanum.
Senyap.
"Haa?!!! Apaan Lo, Ka?!!"
Biji mata Chika hampir menggelinding keluar dari tempatnya mendengar kenyataan itu. Sementara Shanum, ia menghela nafasnya dalam sekarang.... ia sudah mengira Naka akan mengakuinya secepat itu, jika kondisi membuatnya lelah. Ia tau seorang Mainaka.
Bersamaan dengan lelehan dari pangkal pahanya yang mulai membasahi celannaa dalammmnya.
"Mima, bisa tolong gue ngga? Gue kayanya tembus." Lirihnya menatap Jemima yang masih lost soul disana, pluk! Lolipopnya jatuh ke lantai.
Alih-alih membantu, Jemima masih tertegun, ini beneran kan?
Naka melepas jas OSIS yang sejak tadi pagi dipakainya, lalu membelitkan itu di pinggang Shanum, "ngga bawa pembalut?"
"Lupa." Shanum menggeleng.
"Heh kacangggg!" teriak Chika baru tersadar.
"Lo....Lo berdua? An jinggg?" Adit yang kini kerasukan. Frizka ia mengernyit masih dibuat lost soul juga.
Savero, ia dan kedua lainnya cukup penasaran dengan drama pagi ini menyusul, ia tertawa melihat kehebohan yang dibuat Naka dan Shanum.
"Emang bang satt kan nih manusia dua..." Lutfi bahkan mengumpat. Pasalnya ia dan Canza pun baru tau dari Savero yang memang sudah notice sejak awal.
"Tunggu di toilet, gue bawain pembalut dari UKS." Pinta Naka pada Shanum, "sekalian bawain ibuprofen."
Canza tergelak melihat ekspresi dan reaksi geng ceriwis, "muka Lo semua kaya liat setan."
"Tenang guys, ini terjadi hanya beberapa detik. Beberapa detik kemudian kalian bakalan ngerasain sensasi pengen ngumpat, pengen nimpuk nih anak dua."
.
.
.
.
kalau kakak nya kalem adeknya pasti petakilan.
kakak nya nurut adeknya pasti punya pendirian kuat