Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Tak Terduga di Tengah Hutan
Penerbangan menuju Jakarta seharusnya menjadi akhir dari babak Milan dalam hidup Ziva. Namun, di dunia Aiden Volkov, rencana jarang berjalan sesuai garis lurus. Baru saja jet pribadi itu melintasi wilayah udara perbatasan antara Italia dan Slovenia, guncangan hebat menghantam kabin. Bukan karena turbulensi cuaca, melainkan ledakan dari mesin sayap kiri. Seseorang telah menyabotase jet tersebut—sebuah serangan terakhir dari sisa-sisa kartel Crimson Fang yang mengetahui bahwa Ziva adalah titik terlemah sekaligus paling berharga bagi sang Naga Hitam.
"Nona Ziva! Pakai parasutnya sekarang!" teriak pengawal senior yang mendampinginya.
Dunia menjadi kabur. Suara alarm yang memekakkan telinga, tekanan udara yang menyedot oksigen, dan detik berikutnya, Ziva merasakan dirinya terlempar ke angkasa yang dingin sebelum kegelapan menelannya.
Ziva terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Parasutnya tersangkut di dahan pohon cemara yang tinggi di tengah hutan lebat pegunungan Alpen yang terisolasi. Salju tipis mulai turun, menusuk kulitnya yang hanya terbalut jaket tipis.
"Aduh... Bang Don... lu kalau mau buang gue jangan lewat udara gini juga kali," rintih Ziva sambil berusaha melepaskan tali parasutnya.
Ia terjatuh ke atas tumpukan daun kering dengan suara gedebuk yang keras. Hutan itu sunyi, hanya ada suara angin yang bersiul di antara celah pohon. Ziva sendirian. Tidak ada Marco, tidak ada jet mewah, dan yang paling menakutkan: tidak ada Aiden.
Ziva berjalan tertatih, memeluk dirinya sendiri. "Gue nggak mau mati jadi es mambo di sini. Mana laper lagi, belum sempet makan mi instan di pesawat."
Tiga jam ia berjalan tanpa arah. Kakinya mulai membeku, dan mentalnya yang tadi pagi sempat "ingin bebas" kini hancur berkeping-keping. Di tengah hutan yang asing ini, kebebasan terasa seperti hukuman mati.
Sementara itu, di Milan, Aiden Volkov hampir meratakan markasnya sendiri saat mendengar kabar jatuhnya pesawat tersebut. Kemarahan yang ia rasakan semalam tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ketakutan murni yang menghantam jantungnya sekarang.
"Cari dia! Jika ada satu helai rambutnya yang hilang, aku akan memastikan wilayah itu tidak akan pernah ada di peta lagi!" raung Aiden kepada Marco.
Aiden tidak menunggu tim penyelamat. Ia melompat ke atas helikopter pribadinya, memegang kendali sendiri, dan terbang menuju koordinat terakhir pesawat. Ia tidak peduli pada protokol keamanan atau risiko serangan susulan. Baginya, dunia tanpa Ziva adalah tempat yang tidak layak untuk ditinggali.
Malam mulai turun di hutan Alpen. Suhu anjlok drastis. Ziva terduduk di bawah sebuah tebing batu kecil, mencoba menyalakan api dengan pemantik yang ia temukan di saku jaket pengawalnya yang ikut jatuh (namun tidak selamat). Tangannya terlalu gemetar.
"Bang Don... maafin gue ya. Gue emang egois," bisik Ziva sambil menangis. "Gue bilang lu monster, padahal gue yang pengecut. Gue sayang lu, Bang... tapi kayaknya gue bakal mati kedinginan sebelum sempet minta maaf."
Tiba-tiba, suara deru helikopter terdengar di kejauhan, diikuti oleh suara langkah kaki yang berat dan cepat di atas salju. Ziva mengira itu adalah serigala atau musuh yang datang untuk menghabisinya. Ia menggenggam ulekan batu yang entah bagaimana masih terselip di tas ranselnya—senjata terakhirnya.
"Sini lu! Maju lu monster hutan! Gue ulek lu jadi sambel!" teriak Ziva parau, suaranya hampir hilang karena kedinginan.
Sesosok bayangan tinggi muncul dari balik kabut. Pria itu mengenakan jaket taktis hitam, napasnya memburu, dan wajahnya penuh dengan goresan dahan pohon. Matanya yang abu-abu berkilat tajam, namun saat melihat sosok kecil yang menggigil di bawah tebing, tatapan itu hancur menjadi kelegaan yang luar biasa.
"Ziva?"
Ziva terpaku. Suara itu. Suara berat yang selalu menghantuinya setiap malam. "Bang... Don?"
Ziva menjatuhkan ulekan batunya. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Sebelum ia terjatuh ke tanah, Aiden sudah menerjang maju dan menangkapnya.
GREP!
Aiden memeluk Ziva dengan kekuatan yang seolah-olah ingin menyatukan tubuh mereka. Itu bukan pelukan biasa. Itu adalah pelukan penuh keputusasaan, kemarahan, kerinduan, dan cinta yang tidak bisa lagi disembunyikan di balik topeng mafia.
Aiden menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ziva, menghirup aroma stroberi yang kini bercampur dengan bau asap dan keringat. Tubuhnya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, Ziva merasakan Sang Raja Dingin sedang menangis.
"Jangan pernah... jangan pernah kau pergi lagi dariku," bisik Aiden, suaranya serak dan pecah. "Aku bersumpah, jika kau menghilang lagi, aku akan membakar dunia ini hanya untuk menemukanmu."
Ziva terisak, melingkarkan lengannya di leher Aiden, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu yang kokoh. "Maafin gue, Bang... gue nggak mau pergi. Gue takut. Gue sayang banget sama lu, tapi gue takut jadi kelemahan lu."
"Kau bukan kelemahanku, Zivanna," Aiden melepaskan pelukannya sedikit, memegang wajah Ziva dengan kedua tangannya yang kasar namun hangat. "Kau adalah kekuatanku. Tanpamu, aku hanyalah mayat yang berjalan di atas tumpukan uang. Aku tidak peduli dengan musuh, aku tidak peduli dengan bahaya. Aku hanya peduli padamu."
Di tengah hutan yang membeku, di bawah cahaya bulan yang menembus celah pepohonan, Aiden mencium dahi Ziva dengan sangat lama. Semua amarah semalam, semua ego yang membuat mereka berpisah, luntur seketika oleh kehangatan pertemuan itu.
Aiden segera menyelimuti Ziva dengan jaket taktisnya yang hangat. Ia menggendong Ziva menuju area terbuka di mana helikopternya bisa mendarat. Sepanjang jalan, Ziva tidak melepaskan genggamannya pada kemeja Aiden.
"Bang Don... kok lu bisa tahu gue di sini?" tanya Ziva lemas.
"Aku selalu tahu di mana kau berada, Ziva. Ada pelacak di dalam pistol bunga matahari yang kuberikan padamu," Aiden mengaku tanpa rasa bersalah.
Ziva tertawa kecil di sela isakannya. "Pantesan... lu emang mafia posesif tingkat dewa."
"Diamlah dan tetap hangat. Kita akan pulang."
"Pulang ke Jakarta?" tanya Ziva pelan.
Aiden berhenti melangkah, menatap Ziva dengan tatapan yang kini penuh janji. "Pulang ke rumah kita. Ke Milan. Aku akan membangun benteng yang lebih kuat, aku akan mengubah hidupku, aku akan melakukan apa pun agar kau merasa aman. Tapi tolong... jangan minta aku untuk melepaskanmu lagi."
Ziva tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Aiden. "Ya udah, tapi lu harus janji satu hal."
"Apa pun."
"Lu harus beliin gue stok permen jahe satu truk. Sama ulekan batu gue tadi tolong diambilin, itu kenang-kenangan dari emak."
Aiden menoleh ke belakang, melihat ulekan batu yang tergeletak di salju. Ia menghela napas, namun sudut bibirnya terangkat. "Marco akan mengambilnya. Sekarang, fokuslah untuk tetap hidup."
Saat mereka naik ke helikopter, Aiden tidak melepaskan Ziva dari pangkuannya. Ia terus memeluk gadis itu, seolah-olah jika ia lengah sedikit saja, Ziva akan menghilang kembali ke dalam kabut hutan.
Di dalam kabin helikopter yang bising, Ziva merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya. Ia menyadari bahwa kedamaian bukan berarti tidak adanya tembakan atau bahaya, melainkan adanya seseorang yang bersedia melintasi neraka dan hutan Alpen hanya untuk memeluknya kembali.
"Bang Don," panggil Ziva.
"Hmm?"
"Pelukan lu... lebih anget dari kompor seblak."
Aiden hanya mencium puncak kepala Ziva, membiarkan gadis itu tertidur dalam pelukannya saat helikopter itu terbang kembali menuju Milan, meninggalkan hutan yang dingin menuju masa depan yang penuh dengan tantangan, namun kini mereka akan menghadapinya bersama.
Rahasia Naga Hitam kini benar-benar terbuka: ia tidak hanya memiliki taring untuk membunuh, tapi juga memiliki pelukan yang mampu menghangatkan jiwa yang hampir beku. Dan bagi Ziva, pelukan tak terduga di tengah hutan itu adalah tanda bahwa ia tidak akan pernah benar-benar "pulang", karena rumahnya sudah ada di sana, di dalam dekapan sang Raja Mafia.