''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suara detak jam dinding di ruang kerjaku terasa seperti dentuman palu hakim. Aku duduk tegak di balik meja, menatap layar monitor yang membiaskan cahaya biru ke wajahku. Di samping laptop, sebuah foto kecil Ibu yang sedang tersenyum di butik menjadi satu-satunya sumber kekuatanku.
Bayangan tawa mereka di depan gedung Wira Pratama Holdings kemarin sore kembali melintas. Tawa Ayah yang begitu lepas, dekapan hangatnya pada wanita itu, dan binar bangga di matanya saat menatap Bagaskara. Pemandangan itu telah membakar sisa-sisa nuraniku.
"Jika kamu bisa tertawa di atas air mata Ibu selama lima tahun, maka aku akan memastikan kamu menangis di atas kerajaan yang kamu banggakan," desisku pelan.
Aku menekan tombol interkom. "Maya, ke ruangan saya sekarang. Bawa draf kontrak final untuk Wira Pratama."
Tak butuh waktu lama, Maya masuk dengan wajah serius. Ia meletakkan map merah di hadapanku. "Ini, Mbak. Semua sudah sesuai dengan diskusi terakhir dengan Pak Bagaskara."
Aku membuka map itu. Jemariku berhenti di pasal mengenai distribusi dan pinalti keterlambatan. Di sana tertulis angka 5% untuk keterlambatan pengiriman bahan baku selama tiga hari berturut-turut. Angka yang standar, angka yang aman.
"May," panggilku tanpa mengalihkan pandangan. "Ubah poin 8.2 tentang margin bagi hasil dan poin 10.4 tentang pinalti operasional."
Maya mengerutkan kening, menyiapkan catatannya. "Diubah menjadi berapa, Mbak?"
"Naikkan margin keuntungan untuk pihak konsultan dan Abiwangsa menjadi 25%. Dan untuk pinalti keterlambatan logistik... ubah dari 5% menjadi 40% dari total nilai proyek per hari."
Maya tersentak, pulpen di tangannya hampir jatuh. "Empat puluh persen? Mbak, itu angka yang tidak masuk akal. Jika mereka telat dua hari saja, seluruh keuntungan mereka tahun ini bisa ludes. Pak Bagas pasti akan keberatan."
Aku mendongak, menatap Maya dengan tatapan yang dingin dan tak terbantah. "Mereka sedang terdesak, May. Mereka butuh nama besar Abiwangsa untuk distribusi nasional. Bagaskara akan melakukan apa pun agar ayahnya bangga. Masukkan kata-kata teknis yang rumit agar klausul ini terlihat seperti 'jaminan kualitas', bukan ancaman."
Maya menelan ludah, ia tampak ragu namun akhirnya mengangguk. "Baik, Mbak. Akan saya revisi sekarang."
Begitu Maya keluar, aku bersandar di kursi. Aku tahu persis titik lemah logistik Wira Pratama. Melalui data yang sempat kulihat di sistem Farez, gudang pusat mereka di Jawa Barat sedang mengalami masalah teknis. Kemungkinan besar, pengiriman bulan depan akan terlambat.
Dan saat itu terjadi, bom waktu ini akan meledak.
Aku mengambil kacamata bacaku, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Rasanya sepahit dendam yang kupupuk. Aku akan membiarkan Bagaskara datang padaku, membiarkan dia meminta saran sebagai seorang kakak kepada adiknya—meski dia tidak tahu itu—dan aku akan menuntunnya menuju jurang dengan senyum paling profesional yang kupunya.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Bagaskara masuk.
Bagas: "Ibu Rana, besok pagi saya mampir ke kantor Anda untuk konsultasi final sebelum tanda tangan kontrak ya. Saya percayakan semuanya pada Anda."
Aku menatap pesan itu dengan senyum tipis yang getir.
"Percayalah padaku, Bagas. Percayalah sampai kamu sadar bahwa orang yang paling kamu percayai adalah orang yang akan meruntuhkan duniamu."
Aku meletakkan ponsel itu dengan kasar. Malam ini, aku akan pulang ke rumah, mencium tangan Ibu, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Sementara di sini, di atas meja ini, nasib Wira Pratama Holdings sudah kutuliskan tamatnya.