Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Utusan di Pagi Hari
Pagi di Kota Giok datang dengan kabut tipis yang menyelimuti jalanan.
Xiao Fan duduk bersila di kamarnya, mata terpejam. Ia baru kembali dari kompleks klan dua jam lalu, tapi tidur bukan prioritas. Meditasi sudah cukup memulihkan tenaganya. Di lantai bawah, suara aktivitas dapur mulai terdengar—Bibi Chen menyiapkan sarapan untuk tamu-tamunya.
Pintu kamar Liu Ruyan terbuka. Langkah ringannya mendekat, lalu ketukan pelan.
"Guru. Aku sudah bangun."
"Masuk."
Gadis itu masuk dengan wajah yang menunjukkan ia juga tidak banyak tidur. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Tapi matanya sendiri waspada—siap menghadapi apa pun yang akan terjadi hari ini.
"Apa yang Guru temukan semalam?"
Xiao Fan membuka mata. "Banyak. Tapi tidak semua bisa kuceritakan sekarang."
Liu Ruyan ingin membantah, tapi ia menahan diri. Ia belajar bahwa gurunya tidak menyembunyikan sesuatu tanpa alasan.
"Duduk. Latih Qi Kematianmu sebelum sarapan."
Gadis itu duduk di lantai kayu, mengambil posisi bersila. Qi Kematian tipis mulai berputar di sekujur tubuhnya. Xiao Fan mengamati. Kemajuannya pesat. Dalam beberapa hari saja, ia sudah mendekati lapis kedua Kondensasi Qi. Bakatnya luar biasa—hanya saja terkunci.
Suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Banyak. Teratur. Langkah para kultivator terlatih.
Xiao Fan bangkit dan berjalan ke jendela. Di jalanan depan penginapan, sepuluh orang berjubah hijau berbaris rapi. Mereka membawa pedang di pinggang, dan di dada kiri jubah mereka tersulam lambang Klan Liu—daun bambu emas.
Di depan mereka, berdiri Liu Chen. Wajahnya masih menyimpan kemarahan, tapi kali ini ada kepercayaan diri di sana. Ia membawa sepuluh orang. Merasa aman.
Di samping Liu Chen, seorang pria paruh baya berjubah lebih mewah—sulaman perak, bukan emas. Wajahnya dingin, angkuh. Liu Zhen, Kepala Cabang Kedua, ayah Liu Chen.
"Mereka datang," kata Xiao Fan.
Liu Ruyan membuka mata. Ia berdiri dan ikut melihat dari jendela. Wajahnya menegang saat melihat Liu Chen, lalu berubah aneh saat melihat sosok lain di belakang rombongan.
Seorang pria kurus, berambut setengah putih, berjubah sederhana. Ia berdiri paling belakang, tidak membawa senjata, dan wajahnya tampak gelisah.
"Ayah," bisik Liu Ruyan.
Liu Shan. Ayahnya. Rupanya ia dipaksa ikut.
Xiao Fan berjalan ke pintu. "Kau tetap di sini. Aku yang akan bicara dengan mereka."
"Tapi—"
"Mereka ingin mengambilmu. Jika kau muncul, itu mempermudah mereka." Xiao Fan menatapnya. "Percayalah padaku."
Liu Ruyan menggigit bibir, lalu mengangguk.
Xiao Fan turun ke lantai bawah. Bibi Chen sudah gemetar di balik meja resepsionis, tidak tahu harus berbuat apa. Xiao Fan memberinya isyarat untuk tenang, lalu membuka pintu depan penginapan.
Udara pagi yang dingin menyambutnya. Sepuluh pasang mata menatapnya.
"Kau," desis Liu Chen. "Kau masih berani muncul."
Xiao Fan menyandarkan bahu ke kusen pintu. Sikapnya santai. "Aku menginap di sini. Kenapa aku tidak berani muncul?"
Liu Zhen melangkah maju. Suaranya berat, penuh wibawa. "Pemuda. Aku tidak tahu siapa kau atau dari mana asalmu. Tapi kau telah melukai putraku dan mengalahkan orang-orang yang ia sewa. Itu bisa kumaafkan jika kau menyerahkan Liu Ruyan sekarang juga."
"Atas dasar apa?"
"Dia anggota Klan Liu. Dia tidak punya hak untuk pergi tanpa izin klan."
Xiao Fan nyaris tertawa. "Kalian yang membuangnya ke Sekte Langit Biru. Kalian yang bilang dia tidak berguna. Sekarang kalian ingin dia kembali? Untuk apa?"
Liu Zhen menyipitkan mata. "Itu urusan internal klan. Bukan urusan orang luar sepertimu."
"Aku bukan orang luar." Xiao Fan melipat tangan di dada. "Aku gurunya. Dan sebagai guru, aku bertanggung jawab atas keselamatannya."
Liu Chen mendengus. "Guru? Kau hanya sampah dengan pedang berkarat!"
Ia melangkah maju, tangan kanannya menyentuh gagang pedang. Tapi Liu Zhen mengangkat tangan, menghentikannya.
"Pemuda," kata Liu Zhen, nada suaranya lebih tenang tapi lebih berbahaya. "Aku mencoba bersabar. Tapi kesabaranku ada batasnya. Serahkan gadis itu, atau aku akan mengambilnya dengan paksa."
Xiao Fan menatapnya lurus. "Coba saja."
Ketegangan memuncak. Sepuluh penjaga klan meletakkan tangan di gagang pedang masing-masing. Liu Chen menyeringai, senang akhirnya akan melihat Xiao Fan dihajar.
Tapi sebelum siapa pun bergerak, suara langkah kaki cepat terdengar dari dalam kota. Seorang pelayan klan berlari menghampiri Liu Zhen, wajahnya pucat, napasnya terengah.
"Tuan Liu Zhen! Perpustakaan! Tetua Liu Yuan... dia keluar!"
Liu Zhen membelalak. "Apa?"
"Tetua Liu Yuan keluar dari perpustakaan! Dia sedang dalam perjalanan ke sini!"
Keheningan jatuh di antara rombongan Klan Liu. Bahkan Liu Chen kehilangan senyumnya. Liu Yuan, penjaga perpustakaan yang tidak pernah keluar selama puluhan tahun, tiba-tiba bergerak? Itu pertanda sesuatu yang besar.
Xiao Fan mengamati reaksi mereka. Ternyata Liu Yuan lebih berpengaruh dari yang ia kira.
Dan dari ujung jalan, sesosok pria tua berjubah hijau pudar berjalan perlahan. Langkahnya pelan, tapi setiap orang di jalanan menyingkir memberinya jalan. Liu Yuan, sang pertapa klan, datang dengan membawa gulungan kitab hitam di tangannya.
Ia berhenti tepat di depan penginapan. Matanya yang tua menatap Liu Zhen.
"Zhen. Kau mau menantang tamuku?"
Liu Zhen menelan ludah. "Tetua... pemuda ini... dia menyembunyikan anggota klan kita."
"Aku tahu." Liu Yuan menatap Xiao Fan, lalu ke jendela lantai dua di mana Liu Ruyan mengintip. "Dan aku mengizinkannya."
"Tapi Tetua—"
"Kau ingin membantahku, Zhen?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi bobotnya menghantam Liu Zhen seperti palu godam. Pria itu menunduk. "Tidak, Tetua. Aku tidak berani."
Liu Yuan mengangguk. "Bagus. Sekarang, bawa anak buahmu pulang. Ada hal-hal yang tidak kau mengerti. Dan lebih baik kau tidak mengerti."
Liu Zhen membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia menoleh pada anak buahnya dan memberi isyarat untuk mundur. Rombongan itu berbalik, meninggalkan penginapan dengan wajah-wajah kebingungan.
Liu Chen menatap Xiao Fan dengan kebencian, tapi ia tidak berani melawan perintah Liu Yuan. Ia mengikuti ayahnya dengan langkah gontai.
Hanya Liu Shan yang tersisa. Ia berdiri di sana, menatap jendela lantai dua. Air mata menggenang di matanya.
"Ruyan..." bisiknya.
Jendela itu terbuka. Liu Ruyan muncul, menatap ayahnya. "Ayah..."
Liu Shan ingin melangkah maju, tapi ia menahan diri. Ia hanya mengangguk—satu anggukan yang penuh arti: Aku bangga padamu. Maafkan aku. Lalu ia berbalik dan mengikuti rombongan.
Liu Ruyan menutup jendela. Xiao Fan bisa mendengar isak tangis tertahan dari atas.
Liu Yuan menatap Xiao Fan. "Aku tidak bisa melindungimu selamanya. Cepat selesaikan urusanmu di kota ini, lalu pergilah. Ada mata-mata yang mengawasi."
"Mata-mata siapa?"
Liu Yuan tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan kembali ke arah perpustakaan, langkahnya pelan tapi pasti.
Xiao Fan menatap punggungnya. Mata-mata. Ancaman yang disebut Liu Yuan semalam—para Penyegel yang menginginkan Putri Kegelapan tetap terkunci.
Mereka sudah mengawasi. Waktu semakin sempit.