NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Adrian Turun Tangan

Kania mencoba menahan langkah Sabrina di tangga dengan dalih tata krama pesta.

Dua anak tangga pertama terasa seperti memanjat tebing es berduri. Napas Sabrina tersengal. Rasa manis bercampur anyir darah merambat naik ke pangkal lidahnya. Korset yang mengikat perut bawahnya basah. Cairan hangat merembes menembus lapisan perban bedah. Setiap kali otot panggulnya berkontraksi untuk mengangkat kaki, nyeri tajam menyobek jahitan jalan lahirnya tanpa ampun.

Di luar jendela kaca setinggi lima meter, kembang api terus meledak. Cahaya merah dan emas menyinari pualam tangga. Di sela-sela dentuman itu, telinga Sabrina menangkap isakan Sebastian yang semakin serak dari lantai dua.

"Berhenti lo di situ!" Kania merentangkan kedua lengannya. Gaun merah marunnya memblokir jalur karpet sepenuhnya.

Ujung stiletto Kania berpijak mantap di anak tangga ketiga. Matanya melotot liar. Efek alkohol bercampur sisa ketakutan menggerakkan nyali palsu di dada saudari angkat Sabrina tersebut.

Sabrina menghentikan langkah. Tangan kirinya mencengkeram erat pegangan kuningan tangga. Hawa dingin logam itu menjalar ke telapak tangannya yang berkeringat.

"Minggir," ucap Sabrina rendah. Suaranya nyaris habis terkikis rasa sakit di perutnya.

"Nggak! Lo mau bikin malu keluarga kita di depan semua duta besar?" desis Kania menunjuk ke arah ballroom di bawah mereka. "Papa bakal murka kalau lihat kelakuan lo malam ini! Lo lupa lo itu masih bawa nama keluarga Tanjung? Jangan bawa-bawa kelakuan kampungan lo ke sini!"

"Anakku butuh oksigen." Sabrina menatap lurus menembus batang leher Kania. Otak pembunuhnya mulai mengalkulasi jarak serang. Titik vital di leher atau hantaman di tempurung lutut.

"Anak haram lo itu cuma caper!" Kania melangkah turun satu anak tangga. Telunjuknya mendorong kasar bahu Sabrina. "Sama persis kayak elo! Lo cuma pakai alasan bayi itu buat cari perhatian di tengah acara, kan?!"

Dorongan tak terduga itu membuat keseimbangan Sabrina goyah. Hak sepatu pendeknya terpeleset di bibir marmer. Luka di perut bawahnya berdenyut hebat hingga pandangannya mengabur sejenak.

Kuku Sabrina menancap di telapak tangannya sendiri hingga menembus kulit. Rasa perih baru itu memaksa kesadarannya tetap penuh. Tangan kanannya merogoh cepat lipatan sutra robek di pinggangnya. Ujung jarinya menyentuh gagang logam dingin. Pisau mikro taktis. Jika perempuan mabuk ini menolak menyingkir, memotong urat nadinya adalah efisiensi waktu terbaik.

Klik.

Bilah karbon hitam itu melenting setengah terbuka di balik kain gaun.

Namun sebelum otot lengan Sabrina menarik senjata itu, sebuah telapak tangan besar mencengkeram pinggang belakangnya. Aroma kuat tembakau cerutu dan musk langsung menelan indera penciuman Sabrina.

Adrian.

Pria itu menopang seluruh bobot tubuh Sabrina dari belakang. Genggamannya terlampau kuat, mengunci postur rapuh istrinya agar tetap tegak menantang gravitasi.

"Turunkan tanganmu, Kania," tegur Adrian. Suaranya tidak tinggi. Nadanya datar, berat, dan mematikan.

Orkestra di ballroom bawah seolah kehilangan wibawanya. Ratusan pasang mata tamu undangan dan dewan direksi kini menatap ke arah tangga utama. Tontonan elit yang jauh lebih menarik daripada ledakan kembang api di langit malam. Pertikaian antara istri tiran dan kakak angkatnya.

Kania memucat. Ia buru-buru menarik telunjuknya dari bahu Sabrina.

"Adrian, Sayang..." Kania tergagap, menelan ludah paksa. Matanya melirik panik ke arah bawah. "Gue cuma ngingetin dia. Sebagai kakak tertuanya, gue wajib negur. Tamu-tamu penting pada ngelihatin ke arah kita. Kelakuan dia ngerusak imej keluarga lo."

Adrian melangkah naik satu anak tangga. Ia melewati tubuh Sabrina, menempatkan postur menjulangnya tepat di depan Kania. Pria tiran ini sengaja memblokir pandangan seluruh ballroom terhadap tubuh istrinya yang gemetar menahan sakit.

"Imejku?" Adrian memiringkan kepalanya sedikit. Mata tajamnya menguliti Kania dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Sejak kapan kau punya otoritas membawa nama keluargaku, Kania Tanjung?"

"Gue... gue kakak angkatnya, Adrian." Kania memundurkan bahunya. Hak stilettosnya bergetar. "Sabrina itu adik gue. Gue peduli sama reputasi pernikahan kalian berdua."

"Kakak angkat dari klan Tanjung." Adrian melontarkan fakta itu ke udara terbuka. Suaranya menggema, sengaja dirancang agar terdengar oleh jajaran direksi Halim di bawah. "Keluarga melarat yang merangkak meminta suntikan dana dariku bulan lalu."

Kania membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.

"Gaun merah yang kau pakai malam ini, siapa yang membayarnya?" Adrian menyentuh bahu Kania menggunakan ujung telunjuknya, lalu mendorongnya pelan namun sarat ancaman. "Sepatumu? Berlian di telingamu? Aku yang menebus tagihan hutang ayah angkatmu supaya kalian tetap terlihat pantas berdiri di dekat pestaku."

Kania menggeleng cepat. Air mata kepanikan mulai merusak riasan tebal di matanya. "Adrian, tolong jangan begini di depan umum..."

"Aku membeli keluargamu bukan supaya kau punya nyali mengatur istriku." Adrian memotong telak tanpa ampun. Otoritas patriarkinya menghancurkan harga diri Kania berkeping-keping. "Sabrina menyandang nama Halim lewat pernikahan yang sah. Dia melahirkan pewarisku. Posisi dia di atasmu dalam rantai makanan ini. Jika dia ingin membakar ballroom ini, tugasmu adalah mencarikannya korek api."

Kania terisak tertahan. Harga dirinya diruntuhkan batu demi batu di hadapan seratus tamu VVIP. Ratusan lensa kamera wartawan pasti merekam momen penghancuran karakternya ini.

"Tapi dia bikin kacau!" Kania berteriak putus asa. Naluri bertahannya yang hancur memicu serangan balik yang membabi buta. Ia menunjuk wajah Sabrina. "Gimana kalau anak itu bukan darah daging lo, Adrian?! Semua orang di bawah sana curiga! Tante Rosalinda dan seluruh dewan direksi nanya-nanya soal rahim perempuan itu!"

Keheningan mutlak langsung mencekik seluruh ruangan. Alunan biola dari panggung berhenti mendadak. Isu paling tabu baru saja dimuntahkan secara vulgar di tengah pesta.

Sabrina membuka matanya perlahan. Mode predatornya menganalisis situasi dalam hitungan mikrodetik. Kania baru saja menggali kuburannya sendiri, tapi sekaligus menanam bom waktu untuk besok pagi. Dewan direksi Halim tidak akan tinggal diam mendengar tuduhan langsung ini.

Adrian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria itu tidak terlihat terkejut. Senyum miring yang terlampau dingin tercetak di bibirnya.

"Jika dewan direksi punya masalah dengan rahim istriku, mereka bisa menyampaikannya kepadaku di ruang rapat." Adrian melirik tajam ke arah kerumunan tua-tua keluarga Halim di dekat meja prasmanan. Tatapan tiran itu mengunci nyali mereka satu per satu. "Bukan lewat gonggongan anjing liar sepertimu di tangga."

Kania mundur hingga punggungnya menabrak pilar pualam. Dadanya naik turun mencari pasokan udara. Tamat sudah riwayatnya mencari muka di keluarga ini.

Sabrina mengabaikan drama maskulin tersebut. Waktunya habis. Anak laki-lakinya sendirian di atas sana, dan suara isakannya mulai menghilang. Firasat buruk menyengat ulu hatinya. Ia melangkah menyamping, merapat ke arah pegangan tangga, memaksa sisa otot kakinya bekerja mengabaikan darah yang merembes di perut.

"Minggir." Sabrina menabrak bahu Kania cukup keras saat melewati tubuh wanita itu.

Kania yang masih dilanda keputusasaan buta, refleks mengangkat tangannya. Kebencian murni mengalahkan akal sehatnya. Ia mencoba meraup lengan Sabrina lagi, berniat menariknya kembali ke bawah. "Lo nggak boleh naik sebelum bersihin nama gue di depan mereka!"

Insting pembunuh Sabrina menyala. Tangan kanannya bersiap menarik pisau dari balik sutra.

Namun, Adrian bergerak lebih cepat dari kilat. Otoritas mutlaknya menolak melihat asetnya disentuh sampah.

Adrian mencengkeram kerah belakang gaun Kania. "Biarkan istriku lewat."

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!