NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Setibanya di ruang keluarga, langkah Dian terhenti saat melihat pria tampan itu sudah berdiri menghadang langkahnya.

"Dian, bisa kita bicara?"ucap Alex.

"Silahkan anda mau bicara apa tuan?" ujar Dian yang kini membantu Alex berjalan menuju sofa.

"Di, terimakasih untuk bajunya,"ucap Alex.

"Hm.... Tapi maaf mungkin itu tidak senyaman pakaian anda selama ini tuan" balas Dian.

"Di, saya bahkan tidak ingat dengan itu. Dan saya yang sekarang merasa nyaman dengan pakaian yang kamu beri terimakasih"ucap Alex.

"Besok jadwal pemeriksaan lanjutan kan, bagaimana dengan lukanya, apa sudah membaik, apa perban nya sering diganti?"tanya Dian yang kini memeriksa bagian kepala Alex yang diperban dan juga bagian kaki nya.

"Bapak rutin menggantinya, kamu tidak usah khawatir, kata bapak lukanya sudah mulai mengering"ucap Alex.

"Syukurlah kalau begitu, ayah memang terbaik, apa anda sudah makan obat?"ujar Dian lagi.

"Sudah, yang belum makan itu cuma kamu"ucap Alex.

"Ah, saya tadi makan siang sedikit terlambat, itulah kenapa saat ini masih sangat kenyang"ucap Dian.

"Kerja mu sangat berat Di, tidak baik menunda waktu makan, bagaimana bisa punya tenaga?"ucap Alex.

"Saya sudah terbiasa dengan itu tuan, "ucap Dian.

"Apa tidak ada pekerjaan lain yang mungkin wajar untuk dilakukan seorang gadis seusia mu? tanya Alex.

"Jual diri maksud anda? Itu satu-satunya pekerjaan paling mudah untuk orang yang tidak berpendidikan tinggi seperti saya. Disini banyak yang seperti itu bahkan termasuk Nina, tapi tolong jangan bilang siapa-siapa saya berusaha untuk menutupi itu dari kedua orang tua saya... Saya tau Nina menjadi simpanan om-om di kota besar sana dari teman sekolah saya. Tapi ah sudahlah jangan sampai kedua orang tua saya tau tentang itu, jadi tuan dia yang katanya berpendidikan tinggi saja melakukan itu apalagi orang yang tidak berpendidikan seperti saya, itulah kenapa saya lebih memilih bekerja keras dibandingkan kerja seperti itu"ucap gadis cantik itu.

"Maksud saya jadi buruh pabrik atau semacamnya nona, kenapa kamu berfikir kesana?"ucap Alex yang reflek menyentil kening Dian yang kini membuat pemilik kening terbengong.

"Itu hukuman untuk pikiran kotor mu nona, ah sudahlah bukankah kita akan melihat Optimus frame?"ujar Alex.

" Kita?"tanya Dian.

"Ya, saya juga ingin melihatnya apa tidak boleh?"ucap Alex.

"Ah, tentu saja boleh, tapi ini sudah larut malam, tidak baik untuk anda keluar rumah"ucap Dian yang sebenarnya tidak nyaman dengan kebersamaan mereka.

Entah kenapa rasanya beda dengan saat Dian bersama dengan kelima teman nya itu. Saat bersama Alex perasaannya itu tak menentu.

"Bukankah yang tidak baik keluar rumah itu perempuan ya?"ucap Alex lagi.

"Siapa bilang, contohnya Miss K, dia keluyuran setiap malam tapi tidak ada yang melarang"ucap Dian yang kini membuat Alex terdiam sejenak mencerna perkataan Dian.

"Siapa miss K Di?"tanya Alex.

"Tuh bintang film horor"ucap Dian yang kini membuat Alex tersenyum dan untuk pertama kalinya Dian melihat pria itu tersenyum dan itu membuat Dian tak bergeming di tempatnya.

"Kamu ini bisa aja, Di..."ucap nya sambil bangkit dari duduknya dengan berpegang pada pinggiran sofa.

"Itu kenyataan nya tuan"ucap Dian.

"Ah sudahlah, ayo kasihan ayah mu menunggu kita di luar"ucap Alex.

"Ayah diluar?"ucap gadis cantik itu menatap tak percaya pada laki-laki yang ada di hadapannya.

"Ya, sejak tadi pak Hasan belum masuk rumah"ucap Alex yang kini berjalan dengan sangat hati-hati berdampingan dengan Dian.

"Tuan sini pegang saja biar gak terlalu membebani kaki anda yang sakit, "ucap Dian menawarkan bahunya pada Alex agar Alex berpegangan.

"Kamu sudah terlalu lelah seharian ini, tidak mungkin saya tega membebani mu lagi, tidak apa-apa, lagipula cepat atau lambat saya harus segera sembuh dan bekerja. Agar tidak terus membebani mu dan keluarga"ucap pria tampan itu.

"Setelah anda sembuh total saya ingin anda kembali ke keluarga anda yang mungkin sudah sangat merindukan dan mencemaskan anda tuan, mungkin istri anda sedang mencari keberadaan anda"ucap Dian yang kini membuat Alex menghentikan langkahnya dan menatap lekat wajah cantik itu.

"Di, apa kamu yakin kalau saya punya istri?"tanya Alex.

"Mungkin saja, kan saya tidak tahu itu"ucap Dian sambil memapah pria yang kini menatap kearah Dian.

"Di seandainya saya belum menikah, apa kamu mau menjadi pasangan hidup saya?"ucap Alex yang membuat langkah Dian terhenti.

"Tuan bercanda anda keterlaluan, ah sudahlah ayo lanjutkan jalan nya"ucap Dian sambil memegangi lengan kekar pria itu.

"Di saya serius,"ucap Alex.

"Tuan Alex, maaf saya bukannya tidak suka membahas tentang itu, tapi saya tidak suka berandai-andai. Jadi tolong jangan membahas hal yang belum pasti"ucap Dian yang memang tidak mau peduli dengan pertanyaan Alex, dia tidak ingin terluka karena harapan palsu.

Mereka pun sampai di teras rumah dimana pak Hasan kini sedang menunggu mereka sambil menikmati kopi yang terlihat manis mengeluarkan asap.

"Ayah kenapa duduk di luar, si Optimus tidak akan pergi meskipun tidak dijagain"ucap Dian yang kini tersenyum pada sang ayah yang juga balas tersenyum padanya.

"Ayah masih sangat mengaguminya nak, setelah sekian lama mobil tua yang hampir berkarat ini bisa kembali seperti baru, semua berkat kerja keras mu. Mungkin besok ibumu akan minta jalan-jalan terus"ucap pak Hasan.

"Itu bagus yah, kalian berdua harus bahagia. Meskipun kebahagiaan itu dengan cara yang sangat sederhana. Maafkan Dian yang belum bisa membahagiakan ayah"ucap Dian.

"Kamu salah nak, kamu bahkan sudah memberi banyak terhadap ayah dan keluarga kita. Justru ayah yang malu sama kamu dan almarhum ibu mu nak, ayah tidak bisa memberikan kehidupan yang layak setelah kepergian nya. Dan juga malah kamu selalu berkorban untuk kebaikan ayah dan ibu Arini... Maafkan ayah"ucap pak Hasan.

"Ah, ayah, ini momen bahagia kenapa harus buat Dian nangis sih, Dian sayang ayah... Apapun akan Dian lakukan untuk kebahagiaan ayah"ucap Dian sambil memeluk erat pria yang merupakan cinta pertamanya itu.

"Mobilnya warna hitam ya?"ucap Alex sengaja ingin mencairkan suasana.

"Anda tidak buta warna juga kan tuan, jelas-jelas itu warnanya kuning" ucap Dian yang kini membuat Alex dan pak Hasan terkekeh.

"Ya nona, penglihatan saya masih normal kok, tapi bukankah Optimus itu warnanya biru dan abu ya?"tanya Alex.

"Ya, tapi saya suka warna kuning"ucap Dian.

"Hm....

...*****...

Hari demi hari pun terlewati seperti biasanya, Dian akan pergi pagi pulang malam untuk mengais rezeki.

Sementara pak Hasan sibuk dengan kegiatan nya mengangkut penumpang seperti biasanya disaat waktu panen usai. Berbeda dengan Dian yang punya banyak lowongan pekerjaan di ladang atau pun sawah saat musim bercocok tanam tiba.

Dian bisa menanam padi di sawah, bersih-bersih ladang, atau pun ikut kelima teman nya bekerja di penggilingan padi.

Sudah hampir tiga bulan lamanya Alex tinggal bersama mereka, dan kini dia sudah sembuh total, terkadang Alex membantu pak Hasan yang kini menjadi penjual buah keliling, dan Alex yang mengemudikan mobilnya dengan begitu keuangan keluarga pak Hasan semakin berkembang pesat, karena tidak jarang ibu-ibu atau gadis-gadis yang tinggal di kampung pinggiran kota itu memborong berkilo-kilo buah segar yang mereka jajakan karena ingin mendapatkan perhatian Alex yang begitu dingin saat berhadapan dengan mereka kecuali dengan Dian dan Nina.

Ngomong-ngomong tentang Nina, dia yang kini berada di kampung untuk menikmati liburan akhir pekan pun ikut dengan pak Hasan dan juga Alex yang selama ini selalu perhatian terhadap dirinya.

Nina tidak seperti Dian yang selama ini selalu bersikap tenang, gadis cantik itu bahkan selalu mencoba untuk menggoda Alex dengan kemolekan tubuhnya yang dihasilkan dari hasil perawatan tubuh tersebut. Namun Alex tidak sedikit pun tergoda. Justru dia bersikap cuek dan pura-pura tidak melihat itu.

Hari ini kedua gadis cantik dengan gaya yang berbeda itu pun sedang berada di rumah, dan pak Hasan yang belum berangkat untuk jualan pun masih bercengkrama dengan mereka semua.

"Mas, saudara ku di luar kota mengundang kita untuk menghindari pernikahan anak nya. Apa tidak sebaiknya kita datang hari ini saja biar lebih awal mumpung Nina libur?" ucap bu Arini.

"Tapi bu, tanggung mas sudah belanja buah untuk jualan hari ini,"balas pak Hasan.

"Ayah pergi saja, biar Dian yang jualan, lagipula Dian tidak nguli hari ini"ucap Dian.

"Tapi nak, kamu akan sendirian di rumah ini"ucap pak Hasan.

"Ada saya disini pak, tidak usah khawatir"ucap Alex.

"Mas Alex ikut Nina saja, Nina tidak punya pasangan disana"ucap Nina yang kini membuat Alex menatap kearah Dian, sementara Dian terlihat cuek dan fokus pada handphone nya.

"Kalian pergi saja, Dian bisa sendiri di rumah. Lagian ini bukan yang pertama kali aku tinggal di rumah sendirian"ucap Dian yang kini bangkit dan berjalan menuju kamar sempit nya untuk mengambil jaket dan tas Selempang nya juga topi dan masker untuk bersiap pergi jualan, tapi saat akan keluar dari kamar langkahnya terhenti saat melihat pria tampan itu berada di sana.

"Di, kenapa kamu tidak ikut dengan mereka? Dan malah menyetujui keinginan Nina?"lirihnya.

"Tuan seperti yang anda tau bahwa keinginan tuan putrinya harus selalu dipenuhi karena kalau tidak ayah yang akan menjadi sasaran kemarahan ibu ratu, saya tidak bisa membiarkan itu terjadi"ucap Dian.

"Tapi kamu kakak nya, kenapa kamu terus mengalah sesekali beri dia pengertian."ucap Alex yang masih tidak terima.

"Tuan usia kami tidak jauh berbeda, hanya beda satu minggu saja. Dan saya bukan tidak punya keberanian untuk memberinya pelajaran. Tapi saya tidak ingin ayah saya terbebani dengan itu jadi anggap saja saya tidak pernah ada seperti mereka yang selama ini tidak pernah menganggap saya ada, jadi untuk apa saya hadir disana"ucap Dian yang kini membuat Alex terdiam.

Dian pun buru-buru keluar dan menemui ayahnya dan meminta kunci mobil nya.

"Yah, Dian sudah bersiap untuk berjualan, jika ayah dan yang lainnya ingin berangkat, titip kunci pada mamanya Afandi saja ya"ucap Dian.

"Nak kamu tidak ikut?"tanya pak Hasan dengan tatapan mata penuh kesedihan.

"Tidak Yah, lebih baik Dian jualan saja. Sayangkan kalau tidak dijual"ucap Dian.

Sementara Alex kini mengepalkan tangannya di dalam saku celananya, Alex merasa tidak habis pikir dengan gadis yang selama ini selalu bersikap dingin terhadap nya saat Nina ada di rumah nya.

Bahkan Dian tidak terlihat cemburu atau iri sama sekali, tidak seperti Nina saat melihat Alex memberikan perhatian terhadap Dian. Dian justru terlihat semakin dingin dan cuek saat melihat dia bersama Nina.

Alex yang sejak pandangan pertama telah jatuh hati pada gadis pekerja keras itu, ingin sekali melihat Dian cemburu atau minimal menunjukkan rasa tidak sukanya. Namun Dian justru tidak memperlihatkan itu dan kini pun sama.

"Sudah siap?"ujar Afandi.

"Tuh lihat,"ucap Dian yang kini menunjuk kearah mobil pick up yang dipenuhi oleh buah-buahan.

"Ya sudah ayo, di perbatasan ada yang sedang hajatan, siapa tau ada yang borong"ucap Afandi.

"Hm... Gas"ujar Dian yang kini meraih tangan sang ayah dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.

"Hati-hati dijalan nak,"ucap sang ayah.

"Ya ayah, ayah juga"ucap Dian tanpa melirik kearah yang lain termasuk pada Alex.

Dian pun memasuki mobil bersama Afandi yang kini akan menemani Dian berjualan. Dan Alex sangat cemburu melihat kedekatan mereka berdua.

Mobil pun berlalu membawa kedua insan dan muatan yang akan dijual oleh mereka berdua.

Sementara Nina dan ibunya sibuk berkemas dan berdandan rapi, sementara Alex sedang berusaha untuk mencari alasan agar tidak jadi ikut supaya dia punya waktu untuk bisa bersama Dian dan mencurahkan segala rasa yang tersimpan selama ini.

Waktu pun terus berlalu, dan mereka pun berangkat kecuali Alex yang tidak jadi pergi dengan alasan sakit perut, pria tampan itu berhasil mengelabuhi ketiganya yang kini sudah berangkat ke luar kota.

Alex sendiri kini sudah berusaha untuk menghubungi Dian dengan ponsel jadul milik pak Hasan yang sengaja dipinjamkan kepada Alex saat ini, tapi panggilan tersebut masih tidak direspon oleh Dian yang kini entah sedang apa yang jelas Alex semakin dibuat tidak karuan.

Sampai saat malam tiba, Dian belum juga pulang, Alex pun terpaksa makan malam sendirian dengan menu yang simple yang dia buat sendiri.

Sampai saat jam makan malam berakhir barulah suara mobil pick up itu pun terdengar memasuki halaman rumah sederhana itu.

Alex pun bangkit dari berjalan menuju teras rumah, dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata gadis cantik yang terlihat sangat lelah itu.

"Tuan,"lirih Dian sambil berjalan kearah Alex untuk memasuki rumah.

"Kenapa baru pulang di jam segini?dan kenapa kamu tidak merespon panggilan saya?"ucap Alex.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!