NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKU HARUS PULANG

BAB 14 — AKU HARUS PULANG

Musim semi akhirnya datang menyapa Kanada.

Selimut putih tebal yang menyelimuti bumi selama berbulan-bulan perlahan mencair, meninggalkan genangan air yang memantulkan cahaya matahari. Taman-taman kembali menghijau, bunga-bunga kecil mulai bermekaran dengan warna-warni yang indah, dan udara pun tak lagi terasa menusuk tulang seperti musim dingin kemarin.

Namun anehnya, hati Keisha justru terasa semakin berat dan sesak.

Pagi itu, ia sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur ketika ponsel di meja berdering nyaring.

Nama yang muncul di layar sentuh membuat jantungnya seketika berhenti berdetak sesaat.

Ibu.

Sudah lima tahun berlalu, dan mereka memang rutin berkomunikasi lewat telepon atau panggilan video. Namun selalu singkat, selalu seperlunya saja. Keisha selalu berusaha membatasi waktu bicara. Ia takut jika terlalu lama, rasa rindu yang membuncah akan membuatnya goyah. Ia juga takut ibunya mulai bertanya hal-hal yang tak sanggup ia jawab dengan jujur.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.

“Halo, Bu...” sapanya pelan.

Suara di seberang sana terdengar lebih lemah dan pelan dari biasanya.

“Sha... kamu lagi sibuk?”

“Enggak kok, Bu. Lagi bikin sarapan di dapur.”

“Sudah makan?”

“Sudah, Bu.”

Ada jeda hening yang panjang di antara sambungan telepon itu. Jeda yang terasa aneh dan mencekam.

Lalu suara ibunya terdengar bergetar hebat, seakan sedang menahan tangis yang tertahan bertahun-tahun.

“Ibu kangen kamu, Sha... kangen banget.”

Keisha langsung memejamkan mata rapat-rapat, dadanya terasa diremas-remas sakit.

Sudah lima tahun.

Lima tahun ia tidak pulang ke tanah air.

Lima tahun ia hanya bisa melihat wajah orang tuanya lewat layar kaca.

Lima tahun ia bersembunyi di balik ribuan alasan: pekerjaan, visa, cuaca, dan kesibukan yang tak ada habisnya.

Padahal alasan sebenarnya hanya satu: Ia takut pulang membawa seorang anak tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia takut menghadapi kenyataan pahit.

“Keisha juga kangen Ibu... kangen banget...” jawabnya lirih, air mata mulai jatuh tanpa suara.

“Kalau bisa... pulanglah sebentar, Nak.” Kali ini suara ibunya pecah. “Ayahmu sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Dia memang keras kepala dan enggak pernah bilang apa-apa, tapi Ibu tahu... dia rindu sekali sama kamu. Dia sering duduk lama di depan kamar kamu yang di Jakarta.”

Jantung Keisha serasa mau copot mendengarnya.

“Ayah sakit, Bu? Sakit apa?” tanyanya panik.

“Cuma darah tinggi dan asam urat biasa. Tapi kan usianya sudah bertambah, Sha. Badan sudah tidak sekuat dulu lagi.”

Keisha tak mampu menjawab sepatah kata pun. Air matanya mengalir deras membasahi pipi, bercampur dengan rasa bersalah yang luar biasa besar.

 

Setelah sambungan telepon terputus, Keisha duduk terpaku lama di kursi meja makan. Pikirannya kacau balau.

Leo yang sedang asyik menyusun balok mainan di lantai menyadari perubahan wajah ibunya. Anak itu berhenti bermain.

“Mama kenapa?” tanyanya polos.

Keisha buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan dan berusaha tersenyum.

“Enggak apa-apa, Sayang. Mama cuma...”

Leo bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekat dengan langkah gagah.

Anak itu kini tumbuh tinggi untuk ukuran anak seusianya. Wajah tampannya semakin hari semakin jelas terbentuk. Kadang Keisha bahkan tak sanggup menatapnya terlalu lama, karena setiap lekuk wajah, bentuk hidung, dan tatapan matanya... terlalu banyak mengingatkannya pada seseorang yang ingin ia lupakan.

Leo memeluk pinggang ibunya erat-erat.

“Mama sedih ya?”

Keisha memeluk balik tubuh kecil itu dengan penuh rasa syukur.

“Sedikit saja kok.”

“Nih, Leo bikin Mama senyum ya?”

Anak itu mendongak, menunjukkan gigi-gigi kecilnya yang rapi sambil tersenyum lebar dan ceria, matanya menyipit lucu.

Melihat tingkah lucu itu, Keisha tertawa di sela-sela tangisnya.

“Iya... Leo memang selalu bisa bikin Mama senyum.”

 

Malam harinya, Keisha menceritakan segalanya pada Bibi Rina.

Wanita paruh baya itu mendengarkan dengan tenang dan penuh pengertian, sambil menuangkan teh hangat ke cangkir keponakannya.

“Kamu tahu sendiri jawabannya apa, Sha,” katanya lembut setelah mendengar seluruh cerita.

Keisha menundukkan wajah, memainkan ujung syal yang ia pakai.

“Aku takut, Bi...”

“Takut apa? Takut orang tuamu marah besar?”

“Bukan... aku takut mereka kecewa berat sama aku. Aku takut melihat mata sedih mereka.”

“Nak, mereka sudah menunggu anaknya pulang selama lima tahun. Kekecewaan terbesar mereka bukan karena kamu punya anak, tapi karena kamu menjauh dan tak pernah pulang selama ini,” ujar Bibi Rina bijaksana.

Keisha terdiam, merenungi kata-kata itu.

“Dan kamu juga tidak bisa terus-menerus lari dan bersembunyi di sini selamanya, Sha. Kamu harus menghadapi kenyataan.”

Kalimat itu menghantam tepat di ulu hatinya.

Ia menoleh, menatap Leo yang sudah tertidur pulas di sofa dengan boneka beruang kecil di pelukannya.

“Aku juga takut, Bi...” suaranya mengecil pelan. “Kalau aku pulang ke Jakarta... lalu tak sengaja bertemu sama dia.”

Bibi Rina tak perlu bertanya siapa yang dimaksud.

“Lima tahun itu waktu yang sangat panjang, Sayang. Banyak hal bisa berubah. Bisa jadi dia sudah menikah, sudah punya keluarga, atau bahkan sudah melupakan kamu sama sekali.”

Entah kenapa, dada Keisha terasa dihimpit batu berat mendengar kemungkinan itu. Ada rasa lega yang muncul... namun disusul oleh rasa perih yang tak terjelaskan.

 

Malam semakin larut.

Keisha masuk ke kamar tidur Leo, lalu duduk perlahan di sisi ranjang kecil anak itu.

Dengan tangan penuh kasih sayang, ia mengusap lembut rambut hitam lebat putranya.

“Leo...” panggilnya pelan.

Anak itu hanya menggeliat kecil, tersenyum dalam tidurnya, namun tak bangun.

Keisha tersenyum tipis, lalu membisikkan keputusan besar itu.

“Kita pulang ke rumah Mama ya, Nak? Kita ketemu Kakek dan Nenek.”

 

Keesokan paginya, begitu mendengar kabar itu, Leo melompat kegirangan penuh semangat.

“Naik pesawat terbang besar?!” serunya antusias.

“Iya, naik pesawat.”

“Ke tempat Kakek sama Nenek?”

“Iya, di sana panas kayak di pantai lho.”

“Panas banget enggak, Ma?”

Keisha tertawa melihat wajah penasaran anaknya.

“Lumayan panas. Tapi seru.”

Leo langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Leo mau! Leo mau pergi!”

Melihat semangat yang terpancar dari mata anaknya, beban di hati Keisha terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin... ini memang saat yang tepat.

Saatnya untuk pulang.

 

Beberapa minggu kemudian, semua persiapan telah rampung.

Tiket pesawat sudah dipesan dan tertera jelas di tangan.

Dokumen-dokumen dibereskan rapi.

Koper-koper besar sudah diisi dengan pakaian mereka berdua.

Rumah Bibi Rina tampak ramai dengan tumpukan barang yang akan dibawa pulang.

Malam terakhir sebelum keberangkatan, Keisha berdiri sendirian di depan jendela besar, menatap langit Kanada yang tenang dan berbintang.

Lima tahun lalu, ia datang ke negeri ini sebagai seorang gadis muda yang ketakutan, lari dari kenyataan dan rasa malu.

Kini, ia akan pulang sebagai seorang wanita dewasa dan seorang ibu yang kuat.

Namun satu ketakutan lama perlahan bangkit kembali menghantui pikirannya.

Bagaimana jika takdir mempermainkannya?

Bagaimana jika Arsen mengetahui keberadaan mereka?

Bagaimana jika pria itu melihat wajah Leo dan menyadari segalanya?

Bagaimana jika dia datang dan menuntut haknya sebagai ayah, lalu merebut anaknya darinya?

Keisha menutup mata rapat-rapat, menarik napas panjang berusaha menenangkan diri.

Tidak.

Jakarta itu kota besar.

Jutaan orang tinggal di sana.

Kita tidak mungkin bertemu.

 

Di belahan dunia lain, kota Jakarta sedang diguyur hujan deras disertai angin kencang.

Arsen baru saja melangkah keluar dari gedung utama perusahaannya yang megah. Jas hitam yang ia kenakan membuat auranya tampak semakin dingin dan tak tersentuh.

Asisten pribadinya berlari kecil mendekat sambil membawa payung.

“Tuan Arsen, jadwal makan malam besok malam dengan keluarga Wijaya untuk membahas kerjasama... tetap jadi kan, Tuan?”

“Batalkan.”

“Tapi tadi Ibu Anda sudah menelepon memastikan—”

“Aku bilang BATALKAN!” suara Arsen terdengar rendah namun penuh penekanan yang membuat asistennya langsung diam dan menunduk tak berani membantah.

Arsen membuka pintu mobil limosin hitamnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Entah kenapa, malam itu dadanya terasa sangat gelisah dan tidak tenang tanpa alasan yang jelas.

Seperti ada sesuatu yang besar sedang mendekat.

Sesuatu yang berasal dari masa lalu yang terkubur.

Ia masuk ke dalam mobil, duduk di kursi empuknya, lalu menatap butiran air hujan yang mengalir turun di kaca jendela.

“Siapkan mobil. Ke bandara besok pagi.”

“Untuk menjemput tamu penting, Tuan?” tanya asistennya bingung.

Arsen menatap lurus ke depan ke arah kegelapan malam, matanya tampak kosong.

“Tidak. Aku ingin keluar kota sebentar. Aku butuh istirahat.”

Tak satu pun dari mereka berdua yang menyadari...

Bahwa di waktu yang sama, di langit yang berbeda, sebuah pesawat besar sedang bersiap mengudara, membawa seorang ibu dan anak laki-lakinya... menuju Jakarta.

Bersambung...

1
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!