Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak di Permukaan yang Tenang
Angin malam kembali berembus, kali ini membawa aroma tanah basah yang samar. Di permukaan danau, riak-riak kecil berkejaran, saling memecah sebelum sempat mencapai tepian. Erlangga masih di sana, terpaku pada bangku kayu yang mulai terasa dingin menusuk tulang.
Sudah satu jam ia di sana. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar.
Selama ini, hidup Erlangga adalah tentang presisi. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus memukul lawan bisnisnya, dan kapan harus mengambil risiko. Namun malam ini, ia mendapati dirinya seperti kapal yang kehilangan kompas di tengah samudera gelap. Ia tidak tahu harus merasa apa. Sedih? Kecewa? Atau mungkin, ia hanya sedang menertawakan ketololannya sendiri.
Suara gesekan langkah kaki di atas kerikil memecah keheningan itu. Erlangga tidak bergerak. Ia mengira itu hanya orang asing yang lewat, tiba-tiba seseorang yang mungkin sama seperti dirinya, sedang mencari pelarian dari bisingnya kota.
Langkah itu melambat, lalu berhenti tepat di sampingnya.
"Om..."
Suara itu ringan, sedikit serak, namun memiliki nada santai yang terasa asing di tempat sesunyi ini.
Erlangga tidak langsung menoleh. Dahinya berkerut dalam. Om? Seumur-umur, belum pernah ada orang yang memanggilnya sesantai itu di tempat umum.
"Om lagi ada masalah, ya?" tanya suara itu lagi, kali ini lebih dekat.
Erlangga akhirnya menoleh, lebih karena rasa terganggu daripada rasa ingin tahu. Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya. Dari perawakannya, mungkin ia baru menginjak awal dua puluhan. Hoodie abu-abu yang sedikit kebesaran, jeans pudar, dan sepatu kets yang solnya mulai menipis. Rambutnya diikat asal-asalan, menyisakan helai-helai nakal yang menutupi wajah lelahnya.
Namun, matanya berbeda. Ada binar rasa ingin tahu yang tidak tertutup oleh rasa canggung sedikit pun.
"Kenapa kamu panggil saya Om?" tanya Erlangga datar, suaranya sedingin angin danau.
Gadis itu berkedip, lalu sebuah senyum kecil terbit di bibirnya. "Ya, habisnya... Om kelihatan jauh lebih tua dari saya, mungkin umur om udah 30 tahun ya."
Jawaban yang jujur, sekaligus menyebalkan. Erlangga membuang muka, kembali menatap air. "Kalau cuma mau mengejek umur, kamu bisa pergi sekarang."
Bukannya pergi, gadis itu justru melangkah mendekat dan duduk di ujung bangku yang sama. Tidak terlalu dekat untuk dianggap lancang, tapi cukup untuk membuat Erlangga menyadari kehadirannya.
Hening sempat menyergap selama beberapa detik.
"Hehe... maaf ya, Om. Saya ganggu," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Saya cuma lagi butuh teman cerita, sebenarnya."
Erlangga tetap diam, namun ia tidak mengusirnya. Ada sesuatu pada nada bicara gadis ini yang membuatnya urung untuk kembali bersikap kasar.
"Tapi kayaknya, Om malah lebih butuh didengerin daripada saya, ya?" Ia tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting yang memecah kesunyian.
Erlangga menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya. "Ada perlu apa sebenarnya? Jangan membuang waktu saya."
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia menatap permukaan danau yang hitam, seolah sedang mencari sesuatu di sana. "Kadang... capek ya, Om?"
Kalimat itu sederhana. Singkat. Namun di telinga Erlangga, kata-kata itu terasa seperti sebuah pengakuan yang jujur.
"Saya juga lagi pusing banget," lanjutnya tanpa diminta. "Bapak sudah nggak ada, Ibu masih harus berjuang di rumah sakit, dan saya..." Ia menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam. "...saya masih bingung besok harus cari biaya dari mana lagi."
Ia tertawa getir, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi kerapuhan. "Lucu ya, Om. Saya malah curhat ke orang asing. Maaf ya, mungkin saya cuma butuh mengeluarkan beban ini supaya nggak meledak."
Erlangga menoleh perlahan. Ia memperhatikan profil samping wajah gadis itu di bawah cahaya lampu jalan yang remang. Tidak ada drama, tidak ada air mata yang sengaja ditunjukkan. Hanya sebuah kejujuran dari seseorang yang sedang dihimpit hidup.
"Nama kamu siapa?" tanya Erlangga, memutus keheningan.
Gadis itu sedikit terperanjat, seolah tidak menyangka Erlangga akan bertanya balik. "Zea. Zea Anindhita Kirana."
Erlangga mengangguk pelan, seolah sedang mencatat nama itu di dalam kepalanya. "Erlangga."
"Om Erlangga?" Zea menaikkan sebelah alisnya.
"Panggil nama saja," potong Erlangga cepat.
Zea tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Iya deh... Langga."
Mendengar namanya diucapkan tanpa embel-embel jabatan atau gelar formal oleh seorang gadis asing di pinggir danau memberikan sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Namun, Erlangga tidak merasa marah.
"Langga lagi kenapa?" tanya Zea santai.
Erlangga terdiam cukup lama. "Gagal," jawabnya singkat. "Melakukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan sejak bertahun-tahun lalu."
Zea mengangguk-angguk kecil, seolah ia benar-benar memahami rasa sakit itu meski mereka baru saja bertemu. "Ya sudah... berarti memang bukan jodohnya."
Erlangga menoleh tajam. "Mudah sekali kamu bicara seperti itu."
Zea mengangkat bahu dengan cuek. "Memang. Tapi kalau dia benar-benar jodoh, sejauh apa pun kamu melangkah, atau selambat apa pun kamu bergerak, dia pasti akan ada di sana. Kalau dia pergi, ya berarti kursinya memang bukan buat kamu."
Sederhana. Terlalu sederhana bagi orang seperti Erlangga yang terbiasa dengan strategi rumit. Namun, kalimat itu memberikan rasa lega yang tak terduga, seperti sebuah beban yang perlahan terangkat dari pundaknya.
"Langga orang kaya, ya?" Zea tiba-tiba beralih topik, matanya tertuju pada pergelangan tangan Erlangga. "Jamnya kelihatan mahal banget."
Erlangga melirik jam tangannya sekilas. "Kamu cukup jeli."
"Terpaksa," Zea nyengir. "Hidup udah susah, harus bikin mata saya jadi setajam elang kalau melihat barang yang bisa dipakai buat bayar kosan."
Untuk pertama kalinya malam itu, Erlangga hampir tersenyum. Nyaris.
Waktu seolah melambat di sekitar mereka. Percakapan itu tidak berisi teori bisnis atau janji masa depan, namun bagi Erlangga, itu jauh lebih bermakna daripada pesta mewah yang baru saja ia tinggalkan.
Zea akhirnya berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celananya. "Kayaknya saya harus pulang. Ibu pasti nungguin kabar."
Erlangga ikut berdiri secara refleks.
"Terima kasih ya, Langga," Zea tersenyum tulus. "Walaupun awalnya Om—eh, Langga keliatannya serem banget, tapi makasih sudah mau dengerin."
"Kamu terlalu banyak bicara," komentar Erlangga, namun nadanya tidak lagi dingin.
"Biar dunianya nggak terlalu sepi, Langga," sahut Zea sambil mulai melangkah pergi. "Semoga masalah kamu cepat selesai, ya."
Erlangga tetap berdiri di sana, memperhatikan punggung Zea yang perlahan tertelan kegelapan malam. Ia mengulang nama itu dalam hati. Zea.
Beberapa jam yang lalu, ia merasa dunianya runtuh. Namun sekarang, ia merasa ada sesuatu yang baru saja bergeser. Malam ini memang tentang kehilangan, kehilangan Lea, namun mungkin, ini juga tentang ruang kosong yang mulai dipersiapkan untuk sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.