NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Malam benar-benar telah jatuh di Ancol. Jarum jam tangan digital Sandi menunjukkan pukul 19.03 WIB, sebuah angka yang terasa mencekam bagi siapa pun yang kehilangan anggota kelompoknya di tengah lautan manusia. Cahaya lampu merkuri yang kuning redup mulai kalah oleh bisingnya kerumunan dan bayang-bayang orang yang lalu lalang. Sandi tidak lagi berjalan; ia setengah berlari, membelah kerumunan dengan bahu yang tegang.

"San! Sansan! Tungguin gue, napas gue mau putus nih!" teriak Anggita dari kejauhan. Suaranya tenggelam di antara dentuman musik dari wahana Dunia Fantasi yang sayup-sayup terdengar hingga ke bibir pantai.

Sandi seolah tuli. Fokusnya terkunci. Matanya menyisir setiap sudut trotoar, setiap sela bangku taman, dan setiap gerobak pedagang kaki lima. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang bercampur dengan rasa bersalah yang akut. Hingga di sebuah sudut yang agak temaram, tepat di samping penjual gulali kapas yang asap manisnya membubung ke udara, Sandi melihatnya.

Sesosok gadis dengan pakaian yang sangat familiar sedang meringkuk di pinggir trotoar. Ia memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya dalam-dalam seolah mencoba menghilang dari dunia yang tiba-tiba terasa sangat asing dan menakutkan bagi dirinya.

"SASKIA!" teriak Sandi, suaranya pecah karena lega dan cemas yang meledak bersamaan.

Gadis itu mendongak perlahan. Wajahnya kacau; rambut panjangnya yang tadi rapi kini berantakan, pipinya basah kuyup oleh air mata, dan hidungnya memerah. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok jangkung Sandi yang berlari kencang ke arahnya, tangis Saskia justru pecah semakin hebat. Itu bukan lagi tangis ketakutan, melainkan tangis seorang anak yang akhirnya menemukan rumahnya.

Saskia mencoba berdiri untuk menyongsong Sandi, namun seperti yang Sandi bilang, "Oneng tetaplah Oneng." Dalam keadaan panik dan kaki yang lemas karena terlalu lama menangis, ia tersandung ujung trotoar dan tersungkur ke depan.

"Sas!" Sandi dengan sigap menangkap lengan Saskia sebelum wajah gadis itu mencium aspal.

Begitu tangan Sandi menyentuh kulitnya, Saskia langsung menghambur ke pelukan Sandi. Ia mencengkeram kaos Sandi begitu erat, seolah-olah jika ia melepasnya sedikit saja, Sandi akan lenyap kembali. Tubuhnya gemetar hebat, isak tangisnya terdengar sesenggukan di dada Sandi.

Anggita tiba beberapa detik kemudian dengan napas tersengal-sengal. Ia terpaku diam, menatap pemandangan di depannya. Melihat bagaimana Saskia mempercayakan seluruh rasa takutnya pada pelukan Sandi, Anggita baru benar-benar paham mengapa Sandi bisa sebegitu "gila" saat mencari gadis ini. Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika ranking kelas di sana.

"Udah, tenang Sas... tenang. Ada gue di sini. Gue nggak bakal tinggalin lo lagi," bisik Sandi pelan, tangannya menepuk-nepuk bahu Saskia untuk meredakan getaran tubuhnya.

Saskia mendongak dengan wajah yang masih berantakan, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Aku... aku... takut banget, San. Aku takut nggak bisa pulang... aku takut sendirian di sini... aku takut jadi gembel Ancol!"

Mendengar kata "gembel Ancol" yang diucapkan dengan nada polos dan penuh kesungguhan itu, Sandi yang tadinya tegang seketika tak kuasa menahan tawa. Ia tertawa geli, sebuah tawa yang memecah ketegangan malam itu. Ia menoleh ke arah Anggita sambil menggelengkan kepalanya, seolah berkata, 'Tuh kan, lo liat sendiri seberapa oneng-nya dia.'

Anggita yang tadi sempat merasa perih di hati, ikut terkekeh pelan. Rasa kasihan dan lucunya bercampur aduk. Ia melangkah mendekat, mengelus punggung Saskia dengan lembut. "Saskia? Kenalin, gue Anggita, temen sekelas Sandi. Ayo, kita pindah dulu dari sini. Malu dilihatin orang banyak, ntar dikira kita lagi syuting sinetron sedih. Pacar lo, Nanda, juga pasti udah mau gila nyariin lo. Kita balik ke jembatan kayu, ya?"

Saskia mengangguk pelan, mulai menyadari keberadaan Anggita. Ia melepaskan pelukannya dari Sandi namun tetap memegang ujung lengan baju Sandi dengan erat. Sandi membantunya berdiri tegak, memastikan kaki Saskia sudah cukup kuat untuk melangkah.

Mereka bertiga berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju titik temu awal. Langkah kaki mereka di atas paving trotoar Ancol terdengar ritmis, kontras dengan keriuhan musik panggung yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Angin malam yang membawa uap garam menerpa wajah, namun ketegangan yang tadi memuncak mulai mencair menjadi obrolan yang lebih intim. Sandi berjalan paling depan, postur tubuhnya tegap dengan tangan yang sesekali dimasukkan ke saku celananya, sementara ujung kaosnya masih digenggam erat oleh Saskia—seolah kain kusam itu adalah satu-satunya kompas yang ia miliki di dunia ini.

"San?" suara Saskia memecah keheningan, nadanya masih bergetar karena sisa isak tangis yang belum sepenuhnya reda.

Sandi tidak menoleh sepenuhnya, hanya memberikan gumaman pendek sebagai tanda ia mendengarkan. "Ya."

Saskia beralih menatap Anggita yang berjalan di sisi mereka, mencoba mengatur napasnya yang mulai stabil. "Makasih ya, Kak... eh, Anggita. Aku nggak tahu kalau jadinya bakal kacau begini."

Tawa renyah Sandi pecah, merobek kesunyian malam. "Udah biasa, Sas. Kelakuan lo dari zaman pake seragam merah-putih emang nggak pernah berubah. Tetep aja jadi ratu nyasar."

Saskia tertunduk, pipinya yang sembab kini memerah karena malu. "Aku tadi cuma mau nyari toilet, tau! Pas mau balik, eh... aku lupa tadi lewat jalan yang mana. Semuanya kelihatan sama kalau sudah ramai begini."

"Emang lo banget, Sas. Konsisten oneng-nya," ledek Sandi lagi.

"Iiih, Sansan mah! Jawabannya gitu mulu!" Saskia tidak tahan lagi dan melayangkan cubitan gemas ke pinggang Sandi. "Aku kan malu sama temen kamu!"

Anggita, yang sejak tadi mengamati interaksi organik di depannya, tertawa lepas. Dengan gaya tomboinya yang khas, ia merangkul bahu Saskia dengan akrab. "Sas, nggak usah malu sama gue. Gue justru seneng bisa punya tambahan temen, apalagi temen deket si Sansan ini. Kita anggep aja ini 'reuni darurat'. Jadi, enjoy aja, oke?"

Sandi menimpali sembari melirik Anggita. "Anggi itu walaupun penampilannya sangar kayak cowok, dia ini masih cewek tulen, Sas. Dia pasti ngerti perasaan cewek yang gampang panik kayak lo. Jadi lo nggak perlu sungkan."

"Anggita, kamu sekelas sama Sandi?" tanya Saskia penasaran.

"Iya, satu kelas. Sansan duduk di belakang gue sama Vino, sedangkan gue sebangku sama Andra. Kita berempat emang udah kayak paket hemat, selalu barengan," jelas Anggita.

"Andra sama Vino juga asyik orangnya, Sas. Nanti lo kenalan sama mereka, biar lo nggak kuper dan punya banyak temen lagi," tambah Sandi.

Saskia mengangguk tulus. "Makasih ya, San... Nggi. Oh iya, Nanda itu... dia pacarku yang baru. Dia yang ngajakin ke sini hari ini."

"Satu sekolah?" tanya Sandi singkat, matanya fokus menatap jalan di depan.

"Nggak, dia di SMP Global Nusantara. Dia kelas tiga," jawab Saskia polos.

Sandi dan Anggita sontak saling pandang. "Global Nusantara? Gila, itu mah sekolah elit tingkat dewa!" seru Sandi.

"Gila banget! Gue aja dulu mau daftar di sana nggak jadi gara-gara dana dialihin buat kakak gue yang mau masuk kuliah," timpal Anggita dengan nada iri yang jujur.

Sandi tersenyum getir, menatap langkah kakinya sendiri. "Yah, kalau lo berdua sih masalah dana masih bisa diatur. Beda sama gue. Gue harus bantu Nyokap cari duit buat bayar SPP. Syukurnya otak gue masih bisa diajak kompromi buat dapet beasiswa tiga besar."

"Justru gue yang iri sama lo, San," sela Anggita. "Gue yang ranking satu malah nggak dapet beasiswa karena status keluarga gue dianggap masih mampu. Ironis, kan?"

Sandi terkekeh, lalu kembali fokus pada Saskia. "Terus gimana ceritanya lo bisa kenalan sama si Nanda itu, Sas?"

"Dia anak rekan bisnis Papa. Sering diajak papanya main ke rumah kalau ada urusan kerjaan," jawab Saskia pelan.

Sandi mengangguk mantap, ada nada sinis yang terselip di balik suaranya. "Emang bener kata orang, orang kaya jodohnya nggak bakal jauh dari orang kaya juga. Udah garisnya begitu."

Anggita menangkap getaran minder dalam suara Sandi. Ia merasa Sandi seolah sedang membangun tembok raksasa di hadapan perasaannya sendiri. "Sas? Menurut lo, Sansan itu orangnya kayak gimana sih?" tanya Anggita tiba-tiba, memancing reaksi.

Sandi tersentak, langkahnya sedikit goyah. "Ngapain lo nanya-nanya gitu, Nggi? Nggak penting!"

"Lah, kan gue penasaran! Emang nggak boleh nanya pendapat temen lama?" balas Anggita menantang.

Saskia tersenyum tipis, matanya menatap punggung Sandi dengan tatapan yang sangat dalam. "Nggak apa-apa kok. Sansan itu... menurutku orang yang paling bisa ngertiin aku. Dia baik, perhatian, dan dia paham banget kelakuanku tanpa aku harus jelasin. Aku ngerasa aman kalau ada dia. Inget nggak, San? Dulu pas SD aku nangis gara-gara permen lolipopku jatuh ke pasir, kamu langsung kasih punya kamu buat aku. Terus tiap istirahat, kamu mau buatin aku istana pasir... walaupun abis itu kamu langsung kabur main bola dan ninggalin aku sendirian."

Sandi terdiam. Ia tidak menyangka detail sekecil itu masih tersimpan rapi dalam memori Saskia. "Berarti lo nggak pelupa-pelupa amat ya, Sas. Gue kira otak lo isinya cuma daftar barang hilang doang."

"Hal-hal kayak gitu aku inget terus, San. Kalau lagi panik aja aku jadi lupa semuanya," jawab Saskia jujur.

Anggita melihat celah untuk memancing lebih jauh. "Berarti lo suka dong sama Sandi?"

Sandi menghentikan langkahnya secara mendadak. Wajahnya menegang. "Nggi! Stop! Jangan nanya yang aneh-aneh sama dia!"

Namun, Saskia justru menyela dengan suara yang jernih. "Iya, aku suka sama Sansan kok."

Deg! Jantung Sandi terasa seperti berhenti berdetak sesaat. Jawaban itu terlalu jujur, terlalu polos, dan terlalu menyakitkan untuk didengar dalam situasinya sekarang.

"Hah! Lo suka sama cowok tengil kayak gini, Sas?" seru Anggita, pura-pura terkejut.

Saskia menggeleng yakin. "Sandi emang tengil, tapi dia perhatian, Nggi."

Anggita tertawa penuh kemenangan. "Kalau lo suka, kenapa lo nggak pacaran aja sama dia?"

Sandi meledak. Ia langsung menghampiri Anggita, menyodorkan telapak tangannya untuk membungkam mulut sahabatnya itu. "Nggi! Pe'a lo ya! Dia udah punya pacar! Pacarnya kaya, sekolahnya elit! Ngapain lo banding-bandingin sama gue yang ga punya apa-apa selain motor ninja warisan bokap gue!"

Anggita menepis tangan Sandi, tawanya masih meledak. "San! Gue malah salut sama dia! Dia lebih berani daripada gue sekalipun yang nggak berani ngomong sejujur itu!"

"San!" panggil Saskia lirih.

Sandi tidak menggubris. Ia masih sibuk mencoba mendorong Anggita agar menjauh, berharap sahabatnya itu berhenti mengobok-obok harga dirinya.

"San!" panggil Saskia.

Sandi masih berusaha menahan Anggita yang cengengesan untuk pertanyaan-pertanyaan konyolnya.

"Sansan!" panggil Saskia lagi, kini dengan nada yang lebih tinggi.

Sandi baru saja hendak melepaskan tangannya dari tangkapan Anggita, Saskia sudah melangkah maju dengan cepat.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Sandi. Suara benturan kulit itu menggema, membuat Anggita terdiam seribu bahasa sembari menutup mulutnya dengan tangan. Mata Sandi membelalak. Pipi kirinya terasa panas dan berdenyut.

"Apa-apaan lo, Sas?! Kenapa gue yang ditampar?!" sentak Sandi kaget.

Plak!

Tamparan kedua mendarat lebih keras. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Saskia. "Aku benci sama kamu, San! Aku benci karena kamu selalu banding-bandingin status sosial dan selalu merasa jadi orang paling miskin di dunia ini!"

Sandi terpancing emosi. "Lo nggak berhak ngomong kayak gitu, Sas! Karena lo nggak pernah ngerasain hidup di posisi gue! Lo nggak tahu rasanya harus cari uang receh setiap hari cuma buat sesuap nasi!"

Saskia hendak melayangkan tamparan ketiga, namun kali ini Sandi menangkap pergelangan tangan gadis itu dengan kasar. Napasnya memburu. "Lo nggak usah ikut campur masalah hidup gue! Lo nggak akan pernah ngerti rasanya kelaparan! Lo nggak akan pernah tahu rasanya tangan dan kaki kapalan sampai berdarah-darah cuma buat ngumpulin uang seribuan!"

Sandi menghentakkan tangan Saskia dengan kasar hingga gadis itu terhuyung. Ia lalu menoleh tajam ke arah Anggita. "Semua gara-gara lo, njing!" umpatnya kasar.

Tanpa menoleh lagi ke arah jembatan kayu tempat teman-temannya menunggu, Sandi berbalik arah menuju tempat parkir motor dengan langkah seribu. Ia tidak peduli lagi pada Nanda yang masih mencari, atau pada Anggita yang terpaku merasa bersalah, apalagi pada Saskia yang kini kembali tertunduk dengan bahu yang berguncang hebat karena tangis yang lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Suara mesin Ninja 2-tak itu meraung liar, memecah kesunyian malam Ancol. Asap putih tipis membubung saat Sandi memacu motornya sekuat tenaga, meninggalkan luka yang menganga di tengah simfoni yang kini benar-benar hancur berantakan.

Raungan mesin Ninja 150R milik Sandi membelah kesunyian jalur bypass Jakarta Timur dengan beringas. Jarum RPM melonjak hingga menyentuh garis merah, menciptakan jeritan logam yang melengking tinggi, seolah mesin 2-tak itu sedang meneriakkan amarah dan luka yang tertahan di dada pemiliknya. Angin malam menampar wajah Sandi dengan kasar, namun ia tak peduli. Ia terus memuntir gas, berusaha melarikan diri dari bayang-bayang wajah Saskia yang sembab dan tatapan Anggita yang penuh rasa bersalah.

Sandi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha keras membendung air mata yang mendesak keluar. Ia benci dirinya sendiri. Ia benci kenyataan bahwa ia begitu rapuh di hadapan sebuah pengakuan jujur. Di tengah kecepatan yang nyaris gila itu, Sandi mendongak dan berteriak sekuat tenaga.

"BANGSAAAAT!!!"

Suaranya hilang ditelan angin dan deru knalpot, namun sesak di dadanya tak kunjung luruh. Sebelum mencapai rumahnya di Jatinegara, Sandi memelankan laju motornya dan menepi di puncak flyover Klender. Ia turun dari motor, membiarkan mesin panasnya berdetak pelan mendinginkan diri, sementara ia melangkah ke tepi pembatas beton.

Dari atas sana, ia menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip seperti permata yang tak terjangkau. Angin malam yang dingin menyapu rambutnya yang berantakan. Sandi mengepalkan tangannya di atas besi pembatas hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa emosi negatif yang sempat meledak di Ancol tadi. Logikanya mulai kembali—ia tahu ia kasar, tapi egonya sebagai laki-laki yang hidup dalam keterbatasan selalu menjadi tameng yang terlalu berduri.

Setelah merasa cukup tenang, ia kembali memacu motornya dengan lebih stabil menuju pemukiman padat di Jatinegara. Begitu sampai di rumah kontrakan mungilnya, Sandi mematikan mesin dan melangkah masuk dengan sisa-sianya rasa lelah yang amat sangat.

"Sandi pulang, Bu," ucapnya pelan saat melihat sosok ibunya duduk di balai-balai kayu sambil memijit kakinya sendiri yang tampak bengkak.

Wanita paruh baya itu menoleh, menyunggingkan senyum tulus yang selalu menjadi obat bagi Sandi. "Gimana jalan-jalannya, Nak? Seru di pantai?"

Sandi memaksakan sebuah senyum, menyembunyikan badai yang baru saja ia lalui. "Seru, Bu. Anginnya kencang."

Sandi segera berlutut di lantai semen yang dingin, mengambil alih tugas ibunya untuk memijit kaki yang kelelahan itu. "Ibu sudah makan belum?" tanya Sandi lembut, tangannya yang kapalan memijat perlahan otot-otot kaki ibunya yang mengeras karena terlalu lama berdiri mencuci.

"Belum, Nak. Ibu nungguin anak Ibu yang ganteng ini pulang, biar kita bisa makan bareng," jawab ibunya pelan.

Sandi menatap wajah ibunya yang mulai dihiasi kerutan halus. "Emang Ibu masak hari ini?"

Ibunya menggeleng pelan. "Enggak sempat masak tadi. Pekerjaan Ibu Ratna baru selesai sore, terus lanjut setrika pakaian Pak Haji Romli. Ada yang minta dikecilkan celananya juga, jadi Ibu seharian di depan mesin jahit dan papan setrika. Tapi alhamdulillah, tadi Pak Haji Romli pas ambil pakaian ngasih nasi kotak dua. Makanya Ibu tunggu kamu."

Hati Sandi mencelos. Di saat ia sibuk bertengkar soal harga diri dan kasta di Ancol, ibunya justru berjuang mengais rupiah dengan peluh di rumah. Ia merasa sangat kecil.

"Kalau gitu ayo kita makan, Bu. Sandi lapar juga. Ibu jangan telat makan, nanti masuk angin," ujar Sandi sambil bangkit dan membantu ibunya berdiri.

Mereka berdua duduk di lantai beralaskan tikar pandan, membuka dua nasi kotak pemberian Pak Haji Romli. Malam itu, di bawah temaram lampu bohlam 15 watt, Sandi menikmati setiap suapan nasi itu bersama ibunya. Kesederhanaan ini, meski pahit dan penuh perjuangan, adalah satu-satunya realitas yang ia miliki—sebuah simfoni tentang bertahan hidup yang jauh dari gemerlapnya Pondok Indah.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!