Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di Hutan
Mereka berlari tanpa arah. Bambang tidak lagi peduli ke mana kakinya membawanya. Yang penting adalah menjauh. Menjauh dari pabrik. Menjauh dari makhluk-makhluk itu. Menjauh dari suara Herman yang tiba-tiba berhenti di tengah teriakan. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Dadanya sesak. Udara hutan yang lembab dan dingin membuat setiap tarikan napas terasa seperti menyedot air. Tapi dia tidak bisa berhenti. Tidak bisa.
Ucok berlari di depannya dengan langkah panjang yang tidak pernah Bambang bayangkan bisa dilakukan oleh tubuh sebesar itu. Ucok bergerak seperti binatang buas yang terbiasa dengan medan hutan. Dia melompati akar-akar pohon. Menyusup di antara semak-semak. Menghindari ranting-ranting rendah yang bisa mencabik wajah. Bambang berusaha mengikuti, tapi tubuhnya tidak sekapal Ucok. Setiap beberapa langkah dia hampir jatuh. Setiap beberapa langkah dia tertinggal.
Mereka berlari mungkin selama sepuluh menit. Mungkin dua puluh. Bambang tidak tahu. Yang dia tahu, hutan di sekitarnya mulai berubah. Pohon-pohon tidak lagi terlihat seperti pohon biasa. Batang-batangnya tampak meliuk-liuk seperti tubuh manusia yang kejang. Daun-daunnya berbisik di atas kepala mereka, suaranya seperti ribuan orang yang bicara sekaligus dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti. Bambang mencoba tidak memperhatikan. Tapi semakin dia berlari, semakin dia merasa bahwa hutan ini tidak seperti hutan biasa.
"Hutan ini hidup. Hutan ini melihat mereka. Hutan ini menunggu."
Ucok akhirnya berhenti di sebuah tempat di mana pohon-pohon agak jarang. Cahaya bulan yang tipis berhasil menembus kanopi, cukup untuk melihat wajah satu sama lain. Ucok membungkuk, tangannya bertumpu pada lutut, dadanya naik turun cepat. Bambang juga membungkuk, bahkan lebih rendah dari Ucok. Seluruh tubuhnya gemetar. Bukan karena lelah. Tapi karena ketakutan yang tertahan selama berlari kini meledak begitu saja.
"Kita harus istirahat," kata Ucok dengan napas tersengal.
"Joni," bisik Bambang. "Joni sudah berubah."
"Aku lihat."
"Dia tersenyum padaku, Ucok. Dia tersenyum kayak makhluk itu. Tapi di matanya... di matanya masih ada Joni. Aku lihat. Dia minta maaf."
Ucok tidak menjawab. Dia berdiri tegak dan menatap ke arah mereka datang. Pepohonan di belakang mereka gelap dan sunyi. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara karet diregangkan. Tapi itu tidak berarti mereka aman.
"Makhluk-makhluk itu tidak selalu mengeluarkan suara. Terkadang mereka diam. Terkadang mereka sudah di sampingmu sebelum kamu menyadarinya."
"Kita harus terus jalan," kata Ucok akhirnya. "Semakin lama kita di sini, semakin besar kemungkinan mereka menemukan kita."
"Ke mana?" tanya Bambang.
"Entahlah. Aku tidak pernah sejauh ini sebelumnya. Dulu kalau aku kabur, aku hanya sampai di pagar. Belum pernah masuk ke hutan sedalam ini."
"Maka kita tersesat."
"Kita tidak tersesat. Kita tinggal ikuti matahari besok pagi. Matahari terbit di timur. Selatan ada di kanan. Utara ada di kiri. Kita cari jalan ke selatan. Semakin ke selatan, semakin dekat dengan desa."
Bambang ingin percaya. Tapi hutan di malam hari tidak ramah pada orang yang ingin percaya.
"Hutan di malam hari hanya ramah pada mereka yang sudah menyerah."
Mereka berjalan lagi. Lebih pelan kali ini. Tidak berlari. Setiap langkah dipikirkan. Setiap suara dihindari. Ucok di depan, Bambang di belakang. Jarak di antara mereka tidak lebih dari dua meter. Cukup dekat untuk mendengar bisikan, cukup jauh untuk tidak mengganggu gerakan satu sama lain.
Setelah berjalan sekitar satu jam, Bambang mulai mendengar sesuatu. Bukan suara karet. Bukan suara langkah kaki. Tapi suara air. Air mengalir. Samar. Tapi jelas.
"Ucok, dengar itu?" bisik Bambang.
Ucok berhenti. Dia memiringkan kepala, seperti binatang yang mendeteksi bahaya.
"Suara air," katanya pelan.
"Itu sungai. Kalau kita ikuti sungai, mungkin kita bisa sampai ke pemukiman."
"Atau kita bisa jatuh ke air terjun. Atau kita bisa ketemu beruang yang lagi minum. Atau kita bisa ketemu mereka yang lagi mandi."
Ucok menunjuk ke arah suara air.
"Mereka. Makhluk-makhluk itu."
Bambang menelan ludah. "Kamu pikir mereka di sungai?"
"Aku tidak tahu. Tapi kalau aku jadi mereka, aku akan tinggal di dekat air. Air itu penting. Bahkan makhluk kayak gitu butuh air."
"Maka kita hindari sungai."
"Kita tidak bisa. Kita butuh air minum. Botol kita sudah hampir habis."
Bambang memeriksa botol di sakunya. Benar. Airnya tinggal seteguk. Mungkin kurang. Kalau mereka tidak menemukan sumber air sebelum pagi, mereka akan kehausan. Dan kehausan di hutan sama mematikannya dengan makhluk-makhluk itu.
"Kita ambil risiko," kata Ucok. "Tapi hati-hati. Jangan membuat suara. Jangan nyalakan senter. Kita ambil air, lalu pergi secepatnya."
Mereka berjalan menuju suara air. Perlahan. Setiap langkah terasa seperti melangkah di atas telur. Bambang mencoba mengatur napasnya agar tidak terlalu keras. Tapi jantungnya berdebar begitu cepat sehingga dia yakin suaranya bisa terdengar sampai ke seberang hutan.
Sungai itu tidak terlalu lebar. Mungkin hanya tiga atau empat meter. Airnya mengalir pelan, hampir tidak bergerak. Di permukaan air, cahaya bulan membentuk pola-pola perak yang bergoyang lembut. Tepian sungai berlumpur. Bau tanah basah dan daun-daun yang membusuk sangat kuat di sini. Bau yang familiar. Bau yang sama seperti di dalam mobil box saat pertama kali dia datang ke pabrik.
Ucok berjongkok di tepi sungai. Dia mengeluarkan botol plastik dari sakunya dan mulai mengisinya dengan air. Gerakannya lambat. Hati-hati. Tidak membuat percikan.
Bambang melakukan hal yang sama. Dia jongkok di samping Ucok, membuka botolnya, dan mencelupkannya ke air. Airnya dingin. Dingin sekali. Sampai terasa seperti menusuk tulang.
Tiba-tiba Ucok membeku.
Bambang menoleh. Ucok tidak bergerak. Matanya terpaku pada sesuatu di seberang sungai.
Bambang mengikuti arah pandang Ucok.
Di seberang sungai, di balik semak-semak, ada bayangan. Hitam. Tinggi. Diam.
Bambang tidak berani bernapas. Tangannya yang memegang botol berhenti bergerak. Air sungai terus mengalir di antara jari-jarinya, tapi dia tidak merasakan dinginnya lagi. Yang dia rasa hanya ketakutan yang membekukan seluruh tubuhnya.
Bayangan itu tidak bergerak. Hanya berdiri di sana. Menatap. Menunggu.
Perlahan, tanpa suara, Ucok meletakkan botolnya di tanah. Tangan kanannya bergerak ke pinggang, meraih pisau. Mata Ucok tidak lepas dari bayangan itu.
Bambang melakukan hal yang sama. Pisau di ikat pinggangnya dia tarik keluar. Tangannya gemetar. Pisau itu terasa berat dan ringan sekaligus.
Bayangan itu mulai bergerak.
Bukan ke arah mereka. Tapi ke samping. Menyusuri tepian sungai. Seperti sedang berjalan-jalan santai. Seperti tidak ada dua manusia yang sedang membeku ketakutan di seberang sana.
Ucok menarik tangan Bambang.
"Ayo pergi," bisiknya nyaris tidak terdengar.
Mereka mundur perlahan. Tidak berbalik. Tidak membuang muka dari bayangan itu. Mereka tahu, kalau mereka berbalik, bayangan itu bisa menyerang kapan saja. Lebih baik tetap melihat. Lebih tahu posisi musuh.
Setelah mundur sekitar dua puluh meter, bayangan itu menghilang di balik pepohonan. Atau mungkin bayangan itu tidak pernah ada. Mungkin hanya ilusi. Mungkin hanya bayang-bayang pohon yang bergoyang tertiup angin.
"Tapi Bambang tahu itu bukan ilusi."
"Dia melihat dengan jelas."
Bayangan itu memiliki lengan. Panjang. Menjuntai sampai ke tanah. Seperti makhluk di monitor. Seperti Dul. Seperti Joni.