Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama baik
Siang itu rumah Abah Dikun tidak pernah benar-benar sepi. Setelah tadi warga bubar, kini satu demi satu warga berdatangan. Ada yang mengaku ingin memastikan keadaan Ara. Ada yang membawa makanan. Ada pula yang hanya berdiri di depan warung sambil berbisik-bisik. Bisikan itu pelan. Namun cukup keras untuk sampai ke telinga Abah Dikun.
"Neng Ara sama anak pendatang itu." ucapnya sambil melirik Ziano yang tetap mengajari Yudi mengoperasikan komputer kasir.
"Katanya semalaman."
"Pak RT juga lihat sendiri." Meski mendengar tapi Ziano dan Yudi masa bodoh, mereka tetap fokus. Abah juga tetap membuka warung seperti biasa, meski Ara masih mengurung diri di kamar.
Ambu menggenggam erat sendok yang sedang dipakainya mengaduk teh. Wajahnya pucat. Bukan karena percaya. Melainkan karena tahu secepat apa gosip menyebar di desa kecil seperti ini.
Di dalam rumah, Ara belum keluar kamar, matanya bengkak. Sejak warga bubar, ambu memintanya untuk istirahat dan tak banyak pikiran, mereka yakin Ara tak salah. Ziano juga berulang kali mencoba menenangkan Ara, nanti abah akan mencoba berbicara dengan orang-orang yang dianggap berpengaruh, mereka pasti lebih bisa mengambil keputusan dengan waras dibanding RT dan Hansip yang gampang panas. Namun hasilnya tetap nihil, setiap Ara berusaha memejamkan mata yang terdengar hanya satu kalimat.
Nikahkan!
Nikahkan!
Nikahkan!
Tok.
Tok.
Tok.
"Ara." Suara Ambu dari balik pintu.
"Ayo keluar."
Pelan-pelan pintu terbuka. Ara langsung memeluk Ambu. "Ambu... Ara nggak salah."
Ambu mengusap kepala putrinya. "Ambu tahu."
"Terus kenapa orang-orang bilang begitu?"
Ambu tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang. "Karena kadang orang lebih percaya cerita daripada kenyataan."
Waktu semakin sore, Pak RT datang bersama beberapa tokoh desa.
"Kita musyawarah saja, Aki."
Abah mengangguk. Semua duduk di ruang tamu. Ziano ikut duduk paling pojok. Masih memakai kaos hitam sederhana. Wajahnya datar seperti biasa, di sampingnya ada Ara yang duduk bersama Ambu dengan wajah yang masih sembab.
Pak Hasim yang merupakan kyai di masjid desa membuka pembicaraan. "Saya percaya mereka tidak melakukan maksiat."
Ara langsung mengangkat kepala.
"Tapi..." Satu kata itu membuat jantungnya kembali berdebar.
"Fitnah sudah terlanjur menyebar."
"Sekarang bukan soal benar atau salah."
"Tapi soal nama baik."
Ibu Yudi yang ikut hadir menyela. "Nanti siapa yang mau melamar Neng Ara?"
Yang lain ikut menimpali. "Kalau tidak dinikahkan, nanti orang tetap ngomong."
"Warung Aki juga bisa sepi."
"Orang luar sudah mulai dengar."
Abah mengepalkan tangan. "Anak saya bukan barang rusak."
Suasana mendadak sunyi. Abah berdiri, tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Saya percaya anak saya, dan saya juga percaya Ano."
"Tapi kalian sudah memvonis sebelum mencari kebenaran."
Tak ada yang berani menjawab. Namun seorang lelaki tua berkata pelan.
"Justru karena kami menjaga nama baik Neng Ara, Ki."
Kalimat sederhana itu membuat Abah terdiam. Ia menoleh ke arah warung.Warung itu sumber penghidupan keluarga. Tempat banyak warga berutang. Tempat Ambu menghabiskan pagi sampai malam. Kalau benar warga memboikot...Yang paling menderita bukan dirinya, melainkan Ara, ambu, Lusi dan semua pekerja.
Abah menutup mata beberapa detik. Lalu duduk kembali. Suaranya berat. "Kalau..."
"Kalau memang itu satu-satunya cara menghentikan fitnah..."
Ara langsung berdiri. "Abah!"
Air matanya kembali jatuh. "Abah jangan..."
Abah memegang tangan putrinya. "Maafin Abah."
"Abah gagal melindungi kamu." lanjutnya.
Ara menggeleng keras. "Nggak! Ara nggak mau nikah!"
Semua mata beralih pada Ziano. Pemuda itu masih diam.
Pak RT berdehem. "No. Kamu gimana?"
Ziano mengusap tengkuknya pelan. "Saya sih masih bingung."
"Bingung kenapa belajar komputer bisa ujung-ujungnya akad nikah."
Beberapa orang langsung mendelik. Namun kali ini tak ada yang menyela. Tatapan Ziano perlahan berubah serius. Ia menoleh pada Ara yang menangis tanpa suara. Lalu pada Abah yang terlihat jauh lebih tua hanya dalam semalam. Kemudian pada Ambu yang sibuk memeluk Lusi agar tidak ikut menangis.
Lama.
Sangat lama.
Baru kemudian ia menarik napas. "Oke."
"Tapi saya punya syarat."
Ruangan kembali hening. "Saya nikahin Ara."
"Bukan karena saya merasa bersalah."
"Bukan karena takut sama omongan orang."
"Tapi karena saya nggak mau keluarga yang sudah nolong saya dihancurin cuma gara-gara fitnah."
Ara membeku. Air matanya berhenti. Ia menatap Ziano tidak percaya. Pemuda itu bahkan tidak menoleh sedikit pun.
"Satu lagi."
"Setelah nikah, jangan ada satu orang pun yang berani bilang Ara perempuan nggak bener."
"Kalau masih ada..."
Ziano tersenyum tipis. "Berarti nikah ini percuma."
Tak ada yang menjawab.
Sementara di luar rumah...
Marcel yang sejak tadi berdiri di balik pohon langsung melemas. Tangannya perlahan terlepas dari pagar bambu. Ia memang ingin Ziano pergi, bukan menjadi suami Ara. "Aku harus minta tolong Abi, Ara nggak boleh nikah sama Ziano. Nggak!"
kak net ini emang singkat banget ya tulisane apa aq kecepetan bacane???🙄
Marcel.... Marcel.... kamu yang bikin ulah , kamu yang bikin gara-gara , kamu yang menyulut api , tapi seolah kamu yang rela menolong Ara bak pahlawan kesiangan .
ingat aja Marcel.... saat Ara tahu bahwa semua karena perbuatanmu , dia pasti amat sangat kecewa dan bisa jadi dia akan membencimu .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
dah lama banget itu kata² gak aku denger semenjak tinggal di kota🤭
jadi rindu kampung halaman🥹