NovelToon NovelToon
Putri Penguasa Yang Terlupakan

Putri Penguasa Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere Lumiere

Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.

Bagaimana kelanjutan cerita ku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Mati Sebelum Aku Menghakimimu

Nathan menekan kening Shopia dua hari lalu saat anak itu tidak sadari dari syok nya, matanya meneliti dengan seksama keadaan san adik yang tidak dia sukai itu. Nathan sengaja mengendap-endap keluar dari sarangnya selama ini menjadi pelindungnya dari dunia luar, demi melihat seseorang yang dia benci ini.

Entah gejolak apa yang membuat melangkah keluar dan melangkah ke kandang singa itu, "Hey... Apakah kau sudah mati?! Kau jangan mati dulu, aku belum membunuh mu dengan tangan ku sendiri," geram Nathan datar, mencengkram tangannya kuat.

Dia kemudian menyentuh hidung Shopia untuk memeriksa apakah masih ada nafas yang membuat adiknya itu tetap hidup. Nathan menyadari bahwa hidung itu masih bernafas yang membuatnya terlihat lega tiba-tiba.

Nathan menatap wajah itu dengan sinis seolah mengatakan beberapa lama adiknya bertahan. Hingga sebuah langkah kaki memasuki ruangan itu, 'Itu Lisa,'. Dia tau tentang perempuan itu dari beberapa pelayan yang terus membicarakannya.

"Nona, kapan Anda bangun? Tuan sangat khawatir," tutur Lisa mengenggam tangan itu.

Sedangkan Nathan sekarang bersembunyi di bawah ranjang itu dan mendengarkan semua perkataan yang dilontarkan oleh Lisa. Anak laki-laki itu sedikit mencibir karena selama ini ayah mereka tidak pernah peduli akan anak-anaknya.

Tidak berselang lama, dia melihat siluet seseorang mendatangi dengan sepatu pantofel nya yang nampak mengkilap, dia menghampiri sisi ranjang yang berada dirinya, Lisa dan Shopia.

"Bagaimana keadaan anak itu?!" ketusnya yang terdengar jelas di telinga Nathan.

Nathan tau siapakah pria itu, dia adalah Lucas, ayahnya. Dia ingat jelas ketika suara itu menyudutkannya ketika ibunya dulu masih hidup. Rahang Nathan mengeras, dia memukul lantai marmer itu dengan baik. Dia jelas tau pria itu hanya pura-pura baik dengan Shopia.

Lisa mengelengkan kepala dengan kencang, "Belum tuan, tapi tenang saja tuan, dokter Rosa mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan,"

"Baguslah kalau begitu," tutur Lucas seola tidak ingin berbasa-basi dengan situasi itu. Kemudian meninggalkan tempat itu begitu saja.

Lisa hanya melihatnya dari sisi ranjang itu dengan menautkan kedua tangan erat dan ekor matanya terus mengikuti arah Lucas hingga pria itu benar-benar dari pandangannya. Lise menatap kembali pada wajah pucat Shopia, lalu mengelus surai sang nona dengan lembut.

"Tuan, masih saja keras kepala," gumam Lisa dengan pelan, "Padahal selama Nona terbaring, dia terus datang untuk memastikan Nona sudah sadar atau belum. Namun, tetap saja mulut tajam, dan tidak mau mengakui kalau dia khawatir.

Lisa kemudian bangkit dari jongkoknya dan merapikan selimut Shopia, dia bersiap untuk mengambil baskom dan air kompres di dapur, "Nona, saya akan pergi sebentar ya," ucap Lisa dan kembali mengelus surai Shopia sebagai penang. Lisa kemudian berjalan keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar itu.

Kini, kamar itu benar-benar sepi. Hanya ada Shopia yang berbaring diam di atas ranjang empuk milik kediaman utama. Sedangkan, di bawah ranjang masih ada Nathan yang menahan nafas.

"Aku tidak percaya dia begitu peduli pada anak kandung, pasti aku sedang mimpi," ujar Nathan mengosok matanya, dan mencubit tangannya sendiri untuk memastikan adanya kesalahan atau tidak, "Auh!... ternyata tidak bohong, aku benar melihat nya tadi, atau jangan-jangan..."

'Itu hanya pemainan pria itu untuk memastikan bahwa Shopia mati dengan cara yang tenang agar orang-orang tidak curiga. Ya, aku sudah curiga, dasar munafik,' gerutu Nathan dalam hati.

Nathan dengan perlahan merangkak keluar dari persembunyiannya. Debu-debu yang berada di bawah ranjang itu menempel pada tubuh nya meskipun tidak seberapa Nathan mengibaskan tangannya dia tas bajunya hingga anak laki-laki itu merasa tidak ada satupun debu menempel sekarang.

Selepas memastikan debu di tubuhnya telah menghilang, kini dia melangkahkan kakinya dengan pelan ke tepi ranjang sang adik. Dia menatap lekat-lekat wajah Shopia yang terlihat masih pucat dan penuh denga luka samar dan adapula yang masih baru.

"Hmph, Dasar lemah, untuk apa kau mengorbankan dirimu demi anak lain. Cuma syok begini saja kau sudah pingsan berhari-hari. Aku juga sering jatuh tapi tidak seperti kau," geram Nathan menyentuh kening Shopia yang terlelap dengan telunjuknya.

"Kalau kau mati, nanti tidak ada orang yang bisa kau benci lagi," gumam Nathan menyipitkan matanya mengawasi pintu keluar, takut ada seseorang melihat dirinya.

"Mulai sekarang, jangan mati, aku belum selesai melihat penderitaan kau, kau harus merasakan penderitaan karena menjadi anak Lucas," gertak Nathan, meskipun orang yang sedang diomelinya masih menutup matanya dengan rapat, dia ingin segera memberitahu ketidaksukaan agar Shopia tahu bahwa bukan dirinya sendiri yang menguasai tubuh kecil itu.

Tiba-tiba, kelopak mata Shopia bergerak liar, seolah Shopia kan segara terjaga. Nathan panik melihat tak atau harus berbuat apa, namun di tengah kepanikan Nathan terdengar suara lirih dari bibir Shopia, "Tidak, biarkan aku pergi!"

Nathan yang mendengar terjerembab kebelakang, menatap nanar pada tubuh Shopia seakan dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya dengan menyerahkan dirinya untuk terjun langsung dari gedung tinggi itu.

'Ini pasti bohong,' pikir Nathan sebab dirinya masih ingin bertahan dan hidup panjang bahkan untuk sekedar balas dendam pada ayah kandungnya sendiri. Namun, sebelum Nathan berfikir lebih jauh dan menyentuh lagi tubuh mungil penuh luka. Suara pintu kamar di buka terdengar lagi.

Klek!

Nathan reflek berdiri, matanya liar mencari tempat untuk bersembunyi. Namun, sudah terlambat, sebab pintu sudah hampir terbuka sempurna. Dia melihat siluet Lisa yang akan masuk kedalam, dia cukup lega sebab bukan Lucas yang datang tapi tetap saja dia tidak ingin di ketahui oleh wanita itu.

Akhirnya dengan sigap Nathan melompat di balik tirai jendala dan keluar lewat jendela. Dia yang sudah terbiasa memanjat, tidak kewalahan dengan balkon ruangan itu, kemudian turun dari sana dengan selamat.

Kakinya mendarat dengan pelan diatas rumput halaman belakang, dia menyentuhnya yang kini naik turun seakan berpacu dengan kencang. Dia kemudian membersihkan lututnya, dan berdiri dengan tegak di balik rimbunnya semak mawar milih ibunya yang makin lebatnya sepeninggalnya wanita itu.

Nathan masih menoleh pada jendela yang baru saja dia turuni, "Dasar bodoh, bodoh sekali, apakah yang dipikiran selama ini hanya mati?!"geram Nathan selepas mendengarkan rintihan Shopia yang ingin meninggalkan dunia ini.

Dia kemudian menghempaskan tangan dengan kasar, dan ingin kembali kediamannya untuk mencari strategi agar Shopia bisa bertahan lebih lama. Nathan kemudian meninggalkan tempat itu dengan tangan lebarnya, rahangnya mengeras dan tangan kembali mencengkram seakan diri nya sangat marah sekarang.

1
Cty Badria
👍
Rere Lumiere
Cerita ini kalau sepi pembaca akan di hapus pada bab 20, jadi yang suka cerita ini tolong ramaikan ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!