"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Dinding-dinding perpustakaan pusat universitas biasanya menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa mengejar gelar. Namun bagi Zoya, tempat itu kini terasa seperti labirin yang penuh dengan ranjau tak kasat mata.
Aturan "Tiga Meter" yang ditetapkan Arvin telah membuatnya menjadi paria di lingkungan kampusnya sendiri. Mahasiswa pria menjauh karena takut, sementara mahasiswi lain mulai mencibirnya sebagai wanita sombong yang merasa eksklusif.
Sore itu, beban di pundak Zoya terasa dua kali lebih berat. Draft skripsinya baru saja dicoret habis-habisan oleh dosen pembimbing, dan ia hanya punya waktu satu jam sebelum supir Arvin datang menjemput. Di tengah tumpukan buku referensi dan layar laptop yang buram oleh air mata, pertahanan Zoya runtuh.
Ia terisak di pojok meja perpustakaan yang remang. Tubuhnya bergetar, mencoba meredam suara tangis agar tidak melanggar keheningan ruangan.
Liam, yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan dengan hati yang hancur, tidak bisa lagi menahan diri. Ia tidak peduli pada ancaman pria misterius di balik mobil mewah itu. Ia tidak peduli pada aturan jarak gila yang pernah diucapkan Zoya. Baginya, melihat sahabatnya menderita adalah siksaan yang lebih besar.
"Zoya..." Liam mendekat.
"Liam, jangan... tiga meter..." bisik Zoya dengan suara parau, tangannya gemetar mencoba memberi jarak.
"Persetan dengan tiga meter!" Liam melanggar batas itu.
Ia berdiri tepat di samping Zoya, matanya memancarkan kemarahan sekaligus empati yang dalam. Melihat air mata yang mengalir deras hingga membasahi cadar Zoya, Liam secara refleks mengulurkan tangan.
Ia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Zoya. Hanya sebuah sentuhan singkat. Sebuah gestur manusiawi dari seorang teman yang ingin menguatkan.
"Jangan menangis karena dia, Zoya. Kamu wanita yang kuat," bisik Liam.
Di saat yang bersamaan, di balik rak buku filsafat, seorang mahasiswi bernama Cindy, yang sudah lama menaruh dendam karena beasiswanya pernah kalah bersaing dengan Zoya, tersenyum licik.
Ia mengarahkan kamera ponselnya, membingkai wajah Liam yang sangat dekat dengan wajah Zoya, dan jari pria itu yang menyentuh area mata Zoya.
Cekrek.
Sudut pengambilan gambar itu membuatnya tampak seolah-olah Liam sedang membelai wajah Zoya dengan penuh kasih sayang.
Malam itu, penthouse Arvin tidak dipenuhi oleh amarah yang meledak-ledak. Tidak ada suara barang pecah. Tidak ada teriakan yang menggelegar. Justru, keheningan yang mematikan menyambut kedatangan Zoya.
Zoya masuk ke ruang tengah dan melihat Arvin sedang duduk di sofa tunggal, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Di atas meja kopi, layar tablet Arvin menyala, menampilkan foto kedekatan di perpustakaan tadi sore.
Jantung Zoya seolah berhenti berdetak. "Tuan... itu bukan seperti yang kau pikirkan."
Arvin tidak bergerak. Ia bahkan tidak berkedip. "Tiga meter, Zoya. Aku hanya meminta satu hal sederhana untuk menjaga apa yang menjadi milikku. Dan kau membiarkan dia menyentuh wajahmu di depan umum."
Suara Arvin terdengar sangat rendah, dingin, dan tenang, sebuah kedinginan yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahannya yang biasanya. Pria itu berdiri perlahan, mengambil tabletnya, lalu berjalan menuju ruang kerjanya tanpa menoleh sedikit pun.
"Tuan Arvin, dengarkan aku! Aku sedang stres karena skripsi, dan Liam hanya..."
BRAK!
Pintu ruang kerja itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Malam itu menjadi siksaan batin bagi Zoya. Ia memasak makanan kesukaan Arvin, sup iga hangat yang rempahnya ia racik sendiri untuk menenangkan saraf suaminya. Ia mengetuk pintu ruang kerja itu berkali-kali.
"Tuan, tolong makanlah sedikit. Aku sudah menyiapkan makan malam," ucap Zoya lembut di depan pintu.
Hening. Tidak ada jawaban.
Zoya meletakkan nampan makanan itu di depan pintu. Namun, satu jam kemudian, saat ia kembali, nampan itu masih utuh. Arvin menolak makan. Ia menolak bicara. Ia menolak keberadaan Zoya.
Kedinginan itu membuat Zoya merasa sangat bersalah, seolah-olah ia telah melakukan dosa besar yang tak terampuni, padahal ia hanyalah korban dari sebuah gestur persahabatan yang disalahpahami.
Pukul dua pagi. Zoya masih terjaga, duduk di lantai bersandarkan pintu kayu ruang kerja Arvin. Air matanya sudah mengering, menyisakan rasa perih di pipinya.
"Tuan... aku mohon, keluarlah," bisik Zoya dengan suara serak. "Jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Puku saja aku, maki aku, tapi jangan diamkan aku. Aku merasa seperti tidak ada di dunia ini jika kau mengabaikanku."
Zoya mulai terisak lagi. Kelelahannya karena tugas kuliah, tekanan aturan jam malam, dan kini penolakan Arvin, membuatnya merasa berada di titik nadir. "Aku hanya milikmu di rumah ini. Jika Kau menutup pintu ini, aku tidak punya tempat untuk pulang..."
Tiba-tiba, suara kunci pintu terbuka terdengar.
Ceklek.
Pintu terbuka ke dalam, membuat tubuh Zoya yang bersandar hampir terjatuh ke belakang.
Arvin berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jas, hanya kemeja putih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung. Wajahnya tampak kuyu, namun matanya memancarkan api yang gelap.
Zoya segera berdiri, wajahnya penuh harap. "Tuan Arvin..."
Tanpa sepatah kata pun, Arvin merangsek maju. Ia mencengkeram pinggang Zoya dan menarik tubuh wanita itu dengan kasar ke dalam pelukannya.
Pelukan itu begitu kuat, begitu posesif, hingga Zoya kesulitan bernapas. Ini bukan pelukan cinta yang lembut, ini adalah pelukan penuh rasa putus asa dan klaim kepemilikan yang menyakitkan.
"Sakit, Tuan..." rintih Zoya.
Arvin membenamkan wajahnya di ceruk leher Zoya, menghirup aroma istrinya dengan rakus. "Kau ingin aku berhenti diam? Ini hukumanmu, Zoya. Aku akan memelukmu sampai kau tidak bisa bernapas, sampai kau ingat bahwa setiap inci kulitmu, setiap tetes air matamu, adalah milikku. Bukan milik pria itu!"
"Dia hanya menghapus air mataku, Tuan! Aku berani bersumpah!"
"Diam!" Arvin mempererat pelukannya, tangannya mencengkeram punggung Zoya seolah ingin menyatukan tubuh wanita itu ke dalam tubuhnya. "Aku membencimu karena kau membuatku merasa ketakutan seperti ini. Aku benci karena kau membuatku merasa seperti pecundang yang tidak bisa menjaga miliknya sendiri!"
Arvin melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap mata Zoya dengan pandangan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kau bilang ini penjara? Kau benar. Dan malam ini, aku akan memperketat penjara ini. Jangan pernah berharap aku akan melepaskanmu, Zoya. Semakin kau mencoba lari ke arah pria lain, semakin kuat aku akan menjeratmu."
Arvin mencium dahi Zoya dengan kasar, sebuah ciuman yang lebih terasa seperti segel kepemilikan daripada kasih sayang.
Zoya terpaku, air matanya kembali mengalir. Ia berada di dalam pelukan suaminya, namun ia merasa lebih kesepian daripada sebelumnya.
Ia menyadari bahwa Arvin tidak sedang mencintainya. Arvin sedang terobsesi untuk tidak kehilangan satu-satunya hal yang menurutnya benar-benar tulus dalam hidupnya.
"Tuan..." bisik Zoya di tengah dekapan posesif itu. "Sampai kapan kau akan memperlakukan cinta sebagai sebuah hukuman?"
Arvin tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, mendekap Zoya lebih erat lagi seolah-olah dunia akan berakhir jika ia melonggarkan tangannya barang sedetik saja.
Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta, seiring dengan air mata pernikahan yang terus menetes di balik kemewahan penthouse itu.
...----------------...
To Be Continue ....