Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Malam Pertama Batal
Arsen baru saja mengenakan kausnya ketika ponselnya bergetar. Ia melirik layar, sebuah panggilan masuk.
Tanpa banyak bicara, Arsen langsung mengangkatnya.
“Ya.”
Suara di seberang terdengar cepat dan tegas.
“Tuan, sesuai perintah pria itu sudah kami keluarkan dari pekerjaannya.”
Arsen terdiam sejenak, matanya menyipit tipis. “Bagus,” jawabnya dingin. “Pastikan dia benar-benar tidak punya celah untuk kembali.”
“Baik, Pak.”
Panggilan terputus.
Arsen menurunkan ponselnya perlahan. Lalu, senyum tipis terukir di wajahnya.
“Rasakan penderitaanmu sekarang…” gumamnya pelan.
Tatapannya dingin, penuh perhitungan. Tiba-tiba...
Pintu kamar mandi terbuka.
Arsen refleks menoleh dan seketika ia membeku. Nayra keluar dengan rambut masih basah, ujung-ujungnya meneteskan air ke bahunya.
Ia mengenakan baju tidur sederhana yang tipis, membuat sosoknya terlihat begitu lembut dan berbeda dari biasanya.
Untuk beberapa detik, Arsen hanya terdiam menatap Nayra. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada Nayra.
“Cantik…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Nayra mengernyit. “Kenapa?”
Deg.
Arsen langsung tersadar. Ia berdeham kecil, mengalihkan pandangannya.
“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat. “Sebaiknya kamu istirahat saja. Saya masih ada pekerjaan.”
Nayra terdiam sejenak, matanya melirik ke arah ranjang. “Saya tidur di situ?” tanyanya pelan sambil menunjuk.
Arsen mengangguk singkat. “Iya.”
Nayra kembali ragu. “Kalau kamu… tidur di mana?”
Arsen menunjuk ke arah sofa bed di sudut ruangan. “Di sana.” Jawabannya sederhana. Tegas.
Nayra menatap ke arah sofa itu sebentar, lalu kembali ke Arsen. Tanpa banyak bicara lagi, ia hanya mengangguk.
“Baik.”
Ia berjalan menuju ranjang. Namun setiap langkahnya terasa aneh. Bukan karena tempatnya, tapi karena suasananya.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan merebahkan tubuhnya. Namun matanya tetap terbuka, langit-langit kamar terasa asing.
Sementara itu di sudut ruangan, Arsen duduk di sofa bed. Namun bukannya bekerja tatapannya justru kembali terarah ke Nayra.
“Ingat Arsen, ini hanya pernikahan kontrak…” gumamnya dalam hati.
Namun entah kenapa malam itu terasa berbeda. Bagi Nayra dan juga Arsen. Tanpa mereka sadari malam pertama mereka bukan tentang kedekatan fisik. Melainkan tentang jarak yang perlahan mulai menghilang.
Nayra memejamkan mata. Namun ia tidak benar-benar tidur. Pikirannya masih berputar, jantungnya masih terasa terlalu cepat berdetak.
Sementara itu... di sudut ruangan, suara ketikan terdengar pelan. Arsen masih sibuk dengan laptopnya. Namun beberapa kali ia menguap. Matanya mulai berat, tangannya sempat berhenti di atas keyboard.
“Hah…” ia menghembuskan napas panjang.
Nayra yang masih setengah terjaga mendengar itu. Perlahan ia membuka mata. Lalu bangkit dari ranjang. Langkahnya pelan menghampiri Arsen.
“Kamu ngantuk ya?” tanyanya lembut. “Sebaiknya kamu tidur saja?”
Arsen mengangkat wajahnya, menatap Nayra. “Ada laporan yang harus aku periksa,” jawabnya pelan. “Kamu kalau mau tidur, tidur saja.”
Nayra terdiam sejenak. “Kamu mau saya buatkan kopi?” tanyanya lagi.
Arsen langsung mengangguk kecil. “Iya, boleh.”
Nayra berbalik. “Ya sudah, kalau begitu... saya keluar sebentar.”
Namun tiba-tiba, tangan Arsen menarik pergelangan Nayra. “Nayra...”
Refleks, Nayra kehilangan keseimbangan. Dan duduk tepat di pangkuan Arsen. Mata mereka langsung bertemu. Sangat dekat, jantung Nayra langsung berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
“Astaga… ini dekat sekali,” batinnya panik. “Kamu mau apa?” tanyanya gugup.
Arsen menatapnya dalam. Tatapannya berbeda, lebih lembut. “Sekarang kamu sudah menjadi istriku,” ucapnya pelan. “Panggil aku Mas.”
Nayra terdiam.
“Dan jangan bilang saya lagi,” lanjut Arsen lirih. “Pakai aku.”
Nayra menelan ludah. “B-baik…” jawabnya pelan.
Wajah Arsen perlahan mendekat. Seperti memberi ruang bagi Nayra untuk tidak menjauh dan menariknya untuk tetap diam.
Napas mereka mulai tidak teratur, mata Nayra refleks terpejam. Jarak mereka kini hampir tidak ada. Namun tepat saat itu, tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar dari luar. Keduanya langsung tersentak. Arsen berhenti, Nayra membuka mata dengan cepat, wajahnya langsung memerah.
Tok! Tok!
“Mama?”
Suara dari luar terdengar jelas. Suasana yang tadi hangat seketika pecah. Arsen menghela napas panjang, menahan sesuatu dalam dirinya.
Nayra langsung berdiri dari pangkuannya dengan gugup. “A-aku… buka pintu dulu,” ucapnya cepat.
Namun sebelum ia melangkah, Arsen menahan tangannya sebentar. Tatapannya dalam.
“Malam ini…” gumamnya pelan.
Nayra menatapnya bingung. Namun Arsen hanya menggeleng kecil. “Tidak apa-apa. Buka saja.”
Nayra mengangguk, lalu berjalan menuju pintu. Sementara di belakangnya, Arsen menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya terpejam sesaat, menahan sesuatu yang nyaris terjadi.
Pintu terbuka. Di depan sana, Raya berdiri dengan wajah panik.
“Mama!” ucapnya cepat. “Alea nangis… perutnya sakit!”
Wajah Nayra langsung pucat.
“Apa?” suaranya bergetar.
Arsen yang mendengar langsung bangkit dari sofa. “Ada apa?” tanyanya tegas.
“Alea… perutnya sakit,” jawab Nayra panik.
Tanpa menunggu lagi, Arsen langsung melangkah cepat keluar kamar. Nayra menyusul di belakangnya. Langkah mereka terburu-buru menuju kamar Raya dan Alea.
Di dalam kamar, Alea terlihat meringkuk di atas ranjang kecil. Tangannya memegang perutnya, wajahnya meringis kesakitan.
“Mama…” rengeknya pelan.
Nayra langsung menghampiri, duduk di sampingnya. Ia memeluk Alea dengan hati-hati.
“Sabar ya sayang, Mama di sini…” ucapnya lembut, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri gemetar.
Sementara itu, Arsen sudah mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat ia menghubungi dokter keluarga.
“Dok, saya butuh Anda datang sekarang,” ucapnya tegas. “Anak saya sakit perut.”
Di sisi lain langkah kaki mulai berdatangan. Pintu kamar terbuka lagi. Kakek Sanjaya masuk lebih dulu, diikuti oleh Bu Ambar dan Pak Arya.
“Ada apa ini berisik sekali!” suara Bu Ambar terdengar ketus.
Namun belum sempat suasana memanas, Kakek Sanjaya langsung menegur.
“Diam kamu, Ambar!”
Suasana langsung hening sejenak. Kakek Sanjaya berjalan mendekat, lalu duduk di samping ranjang.
Ia memeluk Alea dengan penuh kasih. “Sini sama eyang, cicit eyang kenapa, hmm?”
Alea meringis manja. “Perut aku sakit, eyang…” ucapnya pelan. Raut wajah Kakek Sanjaya langsung berubah khawatir.
"Arsen, cepat hubungi Dokter Erik sekarang," ucap Kakek Sanjaya.
Arsen menoleh kearahnya. “Sudah Opa, saya sudah hubungi Dokter Erik. Sekarang belau sedang dalam perjalanan.”
Kakek Sanjaya mengangguk. Lalu mengusap kepala Alea, berusaha menenangkan. "Sabar ya, sayang," ucapnya lembut.
Pak Arya ikut mendekat, wajahnya terlihat panik. “Kenapa bisa begini? Apa tadi dia salah makan?” tanyanya cemas.
Belum sempat ada jawaban, Raya tiba-tiba menyela. “Itu pasti karena Alea kebanyakan makan,” celetuknya tanpa berpikir. “Dari tadi di acara dia terus makan sih.”
Lalu Bu Ambar mulai berbicara. “Makanya jangan jadi anak jangan rakus. Sekarang sakit kan perutnya? Lagi pula catering yang Mommy pesan itu kualitasnya bagus, perut anak ini saja yang kampungan,” tambahnya ketus dan meremehkan.
Ucapan itu langsung membuat suasana membeku. Nayra yang sejak tadi duduk di samping Alea perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya langsung menatap Bu Ambar. “Alea bukan rakus…” ucap Nayra pelan, tapi tegas. "Tapi dia tidak pernah melihat makanan seperti itu, apa salah jika dia exctied ingin mencicipinya," bantah Nayra.
"Kalau Ibu mau memarahi, lebih baik Ibu marahi saya saja. Jangan anak saya," lanjut Nayra dengan suara yang serak.
"Cukup!"
semangat, lanjut thoor😄👍