Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Kamar Aurora yang bernuansa cream dan emas itu menjadi saksi bisu sebuah ledakan euforia. Begitu pintu terkunci rapat, Aurora melempar tasnya ke sembarang arah dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur king size-nya. Namun, rasa senang yang meluap-luap membuatnya tidak bisa diam.
"AAAAA! DEMI APA?!" Aurora memekik tertahan ke arah bantal, meredam suaranya agar tidak terdengar sampai ke kamar Haura di sebelah.
Ia kemudian berdiri di atas kasur, meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan kado impiannya. Rambutnya yang tertata rapi kini berantakan, tapi ia tidak peduli.
"Akhirnya! First kiss sama Mas Langit juga! Aurora, tenangin diri lo! Tarik napas... buang... tapi nggak bisa!" Aurora terus melompat sampai tiba-tiba—
"Aduhh... kaki aku!" Ia meringis saat tumpuan kakinya yang baru saja lepas gips terasa sedikit berdenyut. Ia segera duduk di tepi kasur, memegangi pergelangan kakinya. "Sakit dikit nggak apa-apa, yang penting tadi Mas Langit... ugh, kenapa dia ganteng banget pas lagi panik?"
Sambil senyum-senyum tidak jelas, Aurora meraih ponselnya. Jemarinya yang gemetar karena adrenalin langsung mencari kontak Mayang.
Chat WhatsApp: Aurora & Mayang
Aurora: KAK MAYYYYYYY!!!!!
Aurora: SOS! EMERGENCY! TAPI BUKAN DARURAT MEDIS!
Aurora: P
Aurora: P
Aurora: DIBALES DONG KAK! GUE BISA GILA!
Mayang: Apaan sih Ra? Gue baru mau maskeran. Lo kenapa lagi? Kaki lo sakit lagi?
Aurora: Kaki gue sakit dikit TAPI HATI GUE LAGI MELEDAK!
Aurora: Tadi... gue... sama... Mas... Langit...
Mayang: Apa? Berantem lagi? Dia blokir lo lagi?
Aurora: GUE CIUMAN SAMA DIA DI LOBI, KAK MAY! REAL CIUMAN! BUKAN MIMPI!
Mayang: HEH?! SERIUS LO?! DI RUMAH?! ADA PAPA LO NGAK?!
Aurora: Papa lagi mandi, makanya gue nekat! Tapi tadi hampir ketauan Pak Bambang... eh bukan hampir deng, KETAUAN beneran pas lagi adu bibir! Wkwkwk!
Mayang: Gila lo ya, Ra. Nekat banget. Kalau Pak Bambang lapor gimana? Karier Langit bisa tamat, Ra!
Aurora: Tenang, Pak Bam kan tim sukses gue. Dia cuma kaget sampe senternya jatuh. Tapi asli Kak, Mas Langit... ternyata nggak sekaku itu pas lagi ciuman. Dia bales meluk gue kenceng banget! Aaaa gue mau pingsan lagi kalau inget!
Mayang: Dasar bocah 'cegil'. Inget ya, jangan keterusan. Inget protokol!
Aurora: Bodo amat sama protokol! Besok gue mau minta lagi kalau ada kesempatan! Bye Kak May, mau guling-guling dulu!
Sementara itu, di Paviliun Ajudan...
Suasana di paviliun jauh dari kata heboh. Justru, kesunyian yang mencekam terasa di ruang tengah. Langit duduk di pinggir tempat tidurnya, masih mengenakan kemeja putih yang sedikit kusut di bagian kerah—bekas tarikan tangan Aurora tadi.
Ia menatap lurus ke arah tembok, namun pikirannya melayang ke lobi beberapa menit yang lalu. Rasa hangat dan lembut dari bibir Aurora seolah masih tertinggal di sana.
"Ngit, masih hidup?" suara Pak Bambang memecah keheningan. Pria tua itu bersandar di pintu kamar Langit sambil melipat tangan, menahan senyum ledekannya.
Langit menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Saya benar-benar malu, Pak Bam. Tindakan saya tadi sangat tidak profesional. Saya melanggar sumpah jabatan saya sendiri."
Pak Bambang berjalan masuk dan duduk di kursi kayu dekat meja kerja Langit. "Lho, kok malah bahas sumpah jabatan? Ngit, kamu itu manusia, bukan robot buatan Jepang. Wajar kalau kamu luluh sama Non Aurora. Dia itu cantik, pinter nyari celah, dan yang paling penting... dia tulus sama kamu."
"Tapi Bapak... kalau Bapak sampai tahu, saya tidak hanya akan dipecat, Pak. Saya akan mempermalukan seluruh keluarga saya," suara Langit terdengar berat.
"Makanya, lain kali kalau mau begitu, jangan di lobi rumah anggota DPR," ledek Pak Bambang. "Tapi jujur ya, Ngit. Tadi pas saya liat kalian... saya malah seneng. Akhirnya kamu kelihatan punya 'nyawa'. Nggak cuma 'siap, siap, siap' terus."
Tiba-tiba, Bintang masuk ke dalam paviliun dengan wajah bingung karena melihat suasana yang aneh. "Ada apa sih? Kok pada serius banget? Pak Bam kenapa senyum-senyum gitu?"
Pak Bambang melirik Langit, memberi kode apakah rahasia ini boleh dibagikan. Langit hanya bisa pasrah.
"Si Langit habis dapet 'bonus' dari Non Aurora, Bin," celetuk Pak Bambang.
Mata Bintang langsung membelalak. "Bonus? Bonus apa? Uang lembur? Atau... jatah es krim?"
"Lebih manis dari es krim stroberi," jawab Pak Bambang sambil tertawa kecil.
Bintang terdiam sejenak, lalu ia melompat kegirangan saat menyadari maksudnya. "WAH! SERIUS BANG?! AKHIRNYA?! Pecah telor juga Abang kaku kita ini!"
"Bintang, suaramu!" tegur Langit dengan wajah memerah.
"Duh, Bang! Selamat ya! Berarti taktik 'Woo-seok' itu berhasil total!" Bintang duduk di sebelah Langit dan merangkul bahunya. "Terus gimana rasanya? Jantung Abang nggak copot kan?"
"Saya hampir pingsan karena kaget liat Pak Bambang," jawab Langit jujur, yang disambut tawa meledak dari kedua rekannya.
"Sudah, sudah," Pak Bambang menengahi. "Ngit, denger ya. Saya nggak akan lapor ke Bapak. Tapi saya minta kamu lebih hati-hati. Non Aurora itu tipe yang nggak takut api, tapi kamu... kamu itu jeraminya. Sekali kebakar, bisa habis semua."
Langit menatap Pak Bambang dengan tulus. "Terima kasih, Pak. Saya janji akan lebih menjaga diri dan Non Aurora."
"Menjaga diri sih boleh, tapi kalau diajak 'latihan' lagi di tempat sepi, ya jangan ditolak juga, Bang!" goda Bintang sambil lari keluar menghindari lemparan bantal dari Langit.
Setelah Pak Bambang dan Bintang keluar, Langit kembali sendirian. Ia merogoh ponselnya, melihat ada satu pesan baru dari Aurora.
Non Aurora: Mas... bibir aku masih kerasa manis es krim atau manis yang lain? Hehe. Tidur yang nyenyak ya, Calon Suami.
Langit menatap pesan itu dengan senyum kecil yang tak sanggup ia sembunyikan lagi. Ia mengetik balasan singkat, namun kali ini tanpa embel-embel "Non" di depannya.
Langit: Tidurlah, Aurora. Jangan meloncat-loncat lagi, kakimu belum sembuh total. Selamat malam.
Di lantai atas, Aurora melihat balasan itu dan kembali menjerit ke arah bantalnya. Malam itu, di bawah atap kediaman Widjaja yang megah, dua orang dengan dunia yang berbeda akhirnya mengakui bahwa mereka telah terikat oleh sesuatu yang jauh lebih kuat daripada protokol: sebuah rasa yang baru saja dimulai dengan sebuah ciuman di balik pilar lobi.
***
Pagi di kediaman Widjaja selalu dimulai dengan ritme yang teratur. Elang, putra sulung keluarga itu, sudah rapi dengan setelan jas navy yang pas di tubuhnya, siap berangkat ke kantor kementerian bersama sang ayah. Namun, langkahnya terhenti di koridor lantai satu saat melihat pemandangan yang menurutnya cukup menggelikan.
Di sana, di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pelataran parkir dan paviliun ajudan, Aurora sedang duduk manis. Gadis itu menopang dagu dengan kedua tangan, matanya lurus menatap keluar dengan binar yang sulit diartikan.
"Ngapain lo?" tanya Elang dengan nada datar khas kakak laki-laki yang gemar menginterupsi ketenangan adiknya.
Aurora tersentak kecil, lalu menoleh dengan wajah cemberut. "Eh, Kak Elang! Ngagetin aja sih. Bisa nggak kalau jalan itu pakai suara?"
"Suara gue udah gede, lo aja yang dunianya lagi pindah ke luar jendela," Elang menyandarkan bahunya di pilar, mengikuti arah pandang Aurora. "Lagi liatin apa sih? Burung gereja?"
"Lagi liatin masa depan aku lah," jawab Aurora enteng, kembali menatap ke arah luar di mana Langit sedang terlihat membantu Pak Bambang memeriksa mesin mobil dinas.
Elang mendengus, sebuah senyum sinis namun jenaka muncul di wajahnya. "Masa depan apaan? Langit lagi?"
Aurora memutar kursi rodanya—yang sebenarnya sudah jarang ia pakai tapi ia gunakan pagi ini karena malas berjalan jauh. "Iya. Kenapa? Mau protes? Mau bilang dia nggak level? Atau mau bilang dia cuma ajudan?"
"Gue nggak bilang gitu," Elang mengangkat kedua tangannya. "Gue cuma heran, seorang Aurora Widjaja yang biasanya dikejar-kejar anak pengusaha sampai aktor, malah hobi banget mantengin laki-laki yang hobi baris-berbaris tiap pagi."
"Karena dia beda, Kak. Dia nggak silau sama nama besar Papa, dan dia... ya pokoknya dia masa depan aku. Titik."
"Terserah lo deh, Ra. Tapi saran gue, mending lo siap-siap. Papa tadi bilang ada tamu penting jam sepuluh ini," ujar Elang sambil melirik jam tangannya.
"Tamu siapa? Klien?"
"Bukan. Teman sejawat Papa dari partai. Dan denger-denger... dia bawa anaknya." Elang memberikan tatapan penuh arti sebelum berjalan menuju pintu depan karena mendengar klakson mobil ayahnya.
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik memasuki gerbang. Aurora, yang sudah berganti pakaian menjadi blouse sutra berwarna lilac karena paksaan Melati, duduk di ruang tamu utama dengan wajah bosan.
Anggara masuk bersama seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa, dan di belakang mereka, muncul seorang pemuda seumuran Elang dengan gaya yang sangat "anak pejabat". Rambutnya klimis, jam tangannya berkilau, dan senyumnya terlihat begitu dipaksakan untuk terlihat ramah.
"Aurora, sini Nak," panggil Anggara. "Ini Om Darmawan, teman Papa di Komisi. Dan ini putranya, Roni."
Roni melangkah maju dengan percaya diri, mengulurkan tangannya ke arah Aurora. "Halo, Aurora. Saya Roni. Sering lihat kamu di billboard jalanan, tapi aslinya ternyata jauh lebih... menarik."
Aurora hanya menatap tangan Roni selama tiga detik sebelum akhirnya menjabatnya sekilas—sangat sekilas. "Aurora," jawabnya pendek. Suaranya datar, tanpa ekspresi, jauh berbeda dengan suara manjanya saat menggoda Langit kemarin sore.
"Roni ini baru pulang dari Australia, Ra. Dia baru selesai ambil Master di Melbourne," puji Anggara, mencoba mencairkan suasana.
"Oh," Aurora menanggapi singkat. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya beralih ke arah pintu lobi yang terbuka.
Di sana, di luar pintu, ia bisa melihat Langit berdiri tegak dalam posisi siaga. Meskipun kacamata hitam menutupi matanya, Aurora tahu Langit pasti sedang memperhatikan interaksi di dalam ruang tamu.
"Kamu suka berkuda ya, Ra? Papa kamu bilang kemarin kamu sempat jatuh. Sudah sembuh?" tanya Roni, mencoba membuka percakapan sambil duduk di sofa depan Aurora.
"Sudah," jawab Aurora singkat.
"Lain kali kalau mau berkuda, kabari saya saja. Saya punya beberapa koleksi kuda thoroughbred di ranch pribadi keluarga di Puncak. Lebih aman kalau ada yang menemani," Roni tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih.
"Aku lebih suka berkuda sendiri. Atau sama orang yang emang aku percaya buat jaga aku," sindir Aurora halus. Matanya tetap tertuju pada Langit di luar sana.
Suasana menjadi sedikit canggung. Anggara berdehem, merasakan sikap cuek putrinya. "Roni ini juga tertarik dengan dunia properti, Ra. Mungkin kalian bisa ngobrol banyak."
"Aku lagi nggak tertarik investasi apa-apa, Pa. Kecuali investasi perasaan," celetuk Aurora asal, membuat Roni sedikit mengernyit bingung.
"Maksudnya?" tanya Roni.
"Nggak ada. Cuma lagi pengen jujur aja," Aurora berdiri dari sofanya, meski langkahnya masih sedikit hati-hati. "Pa, Om Darmawan, Roni... Maaf ya, aku harus minum obat jam segini. Dokter bilang nggak boleh telat."
"Lho, kan bisa dibawa ke sini obatnya, Ra?" tanya Anggara.
"Obatnya ada di kamar, Pa. Dan aku butuh ketenangan buat minumnya," Aurora memberikan senyum palsu yang paling manis yang pernah ia buat, lalu berjalan keluar dari ruang tamu.
Saat melewati lobi, Aurora sengaja melambatkan langkahnya di dekat Langit. Roni dan para orang tua masih bisa melihat punggungnya dari ruang tamu.
"Mas," bisik Aurora saat posisinya sudah sejajar dengan Langit.
Langit tetap pada posisi tegapnya, namun rahangnya tampak mengeras. "Ya, Non?"
"Tamu di dalem membosankan banget. Mukanya kayak kertas ujian, bikin pusing," gerutu Aurora dengan suara rendah. "Mas lebih ganteng sepuluh ribu kali lipat."
"Non, tolong kembali ke kamar. Jangan memancing keributan," jawab Langit dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun matanya tetap lurus ke depan.
"Kenapa? Mas cemburu ya liat dia deketin aku?" Aurora tersenyum penuh kemenangan. Ia melihat Langit mengepalkan tangannya di samping tubuh—sebuah tanda bahwa sang ajudan sedang berusaha keras menahan emosi.
"Saya tidak berhak cemburu, Non."
"Halah, bohong. Bibir Mas kemarin nggak bilang gitu," goda Aurora sebelum akhirnya tertawa kecil dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Di ruang tamu, Roni menatap ke arah lobi dengan dahi berkerut. Ia melihat bagaimana Aurora sempat berhenti sebentar di dekat ajudan ayahnya. Ada sebuah rasa tidak nyaman yang merayap di hati anak DPR itu.
"Ajudan itu... sudah lama kerja di sini, Om?" tanya Roni pada Anggara.
Anggara menoleh ke arah Langit. "Baru beberapa bulan. Kenapa, Ron?"
"Nggak apa-apa. Kelihatan sangat... disiplin," jawab Roni, meski dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang janggal dari cara Aurora menatap pria berseragam itu.
Sementara itu di kamarnya, Aurora merebahkan diri di kasur sambil memandangi langit-langit. "Mau sejuta Roni yang dateng bawa kuda dari Australia pun nggak akan mempan, Pa. Karena pawang naga yang satu ini cuma ada satu, dan dia lagi berdiri di depan pintu lobi."
Aurora meraih ponselnya, berniat mengirim pesan "teror" lagi pada Langit, memastikan bahwa meskipun ada tamu terhormat di dalam rumah, perhatiannya tetap hanya terkunci pada satu orang: sang ajudan kaku yang baru saja memberinya ciuman manis di balik pilar.