NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan apa?, makan cinta?

Rasa kehilangan. Hancur. Berantakan.

Semua numpuk jadi satu di dada Cika. Jadi trauma.

Dulu, Cika adalah pusat perhatian. Dari kecil, Ayahnya paling manjain dia. Mau boneka? Dibeliin. Mau ikut Ayah ke kantor? Boleh. Mau tidur dipangkuan Ayah sambil denger dongeng? Setiap malam. Cika selalu jadi yang diutamakan. Yang diprioritaskan. Yang ditanya "Cika mau makan apa hari ini?"

Namun setelah Ayahnya pergi, 2 tahun lalu karena kecelakaan, dunianya juga ikut pergi. Hilang. Gelap.

Ibunya sibuk ngurus perusahaan peninggalan Papa. Dari pagi sampai malam rapat. Pulang cuma buat tidur. Apalagi kedua kakaknya. Kak Eric, CEO baru Wijaya Group, isinya kerja, kerja, kerja. Kak Chindy, sibuk sama butiknya di Senayan, jadwal fitting artis lebih penting dari ulang tahun adik sendiri.

Diperparah Vivian yang dulu. Vivian versi novel. Yang dingin, yang ketus, yang selalu bilang, "Kamu udah gede, Cika. Jangan manja. Mandiri." Mental Cika yang hancur dipaksa bangkit. Dipaksa kuat. Dipaksa ngerti kalau sekarang gak ada yang bisa dia andalin kecuali dirinya sendiri.

Tiba-tiba jadi orang yang dianggap paling bisa dalam hal apapun. Padahal di dalam, Cika cuma anak 17 tahun yang kangen dipeluk Papanya.

_BRAK!_

Pintu kamar Cika kebanting kencang. Dia ngunci dari dalam. Terus lari ke ranjang, nelen muka di bantal, nangis. Bahunya guncang. Gak ada suara. Cuma isak yang ketahan.

Di luar, suasana rumah besar Wijaya yang biasanya sepi, sekarang jadi lebih dingin.

Satu keluarga kumpul di ruang tengah, kecuali Cika yang masih ngurung dirinya di kamar lantai dua. Eric duduk dengan rahang mengeras. Bu Ratna remas sapu tangan. Chindy yang biasanya nyolot, sekarang diem, nunduk. Alea dokter, duduk kaku, ngerasa salah tempat.

"Pokoknya, apapun yang bagus kasih Cika dulu, jangan terlalu khawatir sama bayinya, utamain Cika," ucap Vivian memberi arahan. Suaranya tegas. Gak ada negosiasi. Dia berdiri di tengah ruangan, satu tangan masih megang perut.

Semua orang cuman diam. Bahkan Chindy, yang dulu paling sering debat sama kk iparnya, sama sekali gak bantah. Gak ada yang berani buka suara.

Semuanya sadar kesalahan mereka setelah Vivian jelasin kondisi mental Cika yang gak baik-baik saja. Baru sadar, anak bungsu yang mereka kira "udah besar, udah ngerti" itu ternyata rapuh. Udah retak dari lama.

"Kamu punya cara biar Cika membaik?" Tanya Bu Ratna pelan. Suaranya bergetar. Dia ibunya. Tapi dia tak sadar anaknya gak baik-baik saja. Tak sadar anaknya tiap malam nangis di kamar. Tak sadar surat undangan rapat itu ditaruh di meja rias karena Cika udah gak berani ngomong langsung.

Vivian natap Bu Ratna. Lama. Bukan marah. Kasihan. "Sebentar lagi ulang tahunnya yang ke-17, Bu," sahut Vivian. "Kasih dia pesta yang gak pernah kalian kasih setelah Papa meninggal. Pesta yang rame. Buat dia jadi pusat perhatian lagi. Biar dia tau... dia masih penting."

Eric mengangkat kepala. "Pesta?"

"Iya. Pesta ulang tahun. Yang besar. Undang temen-temen sekolahnya. Undang keluarga. Biar dia ngerasa dirayain. Bukan diabaikan." Vivian ngelus perutnya. "Cika gak butuh dikasih tau 'kamu udah besar'. Dia butuh dipeluk, dirayain, dibilang 'kamu berharga'."

Hening lagi. Chindy gigit bibir.

.....

Di lantai dua, Vivian masuk ke dalam kamar Cika. Pelan dan hati-hati. Dia gak ngetok. Langsung pake kunci cadangan yang dia minta dari Bi Ijah.

Kamar Cika gelap. Gorden ditutup. AC mati. Cuma ada cahaya temaram dari celah pintu. Dan suara isak kecil dari arah ranjang.

Langkah Vivian langsung ke arah ranjang di mana Cika nangis, tubuhnya meringkuk, punggungnya ke arah pintu. Bantalnya udah basah.

Vivian duduk di pinggir ranjang. Gak langsung nyentuh. Dia biarin Cika nangis dulu. Dia tau, kalau luka udah lama dipendem, harus dikeluarin dulu semuanya.

"Cika," panggil Vivian lembut. "Maksud Kak Eric gak gitu." Ucap Vivian memberi pengertian. Suaranya hati-hati, takut salah lagi.

"Enggak!" Sahut Cika, wajahnya masih dibenamkan di bantal. Suaranya sember, kesela isak. "Dari dulu mereka gak sayang aku. Cuman Papa yang sayang aku. Papa doang..."

Dada Vivian nyeri dengernya.

"Aku gak mau di sini," ucapnya lagi. Lebih pelan. Lebih hancur. "Aku mau ikut Papa. Papa pasti mau jemput aku, kan? Papa gak bakal biarin aku sendirian..."

Kalimat itu. _Aku mau ikut Papa._

Vivian langsung panik. Gak pake mikir. Dia ngambil kepala Cika paksa, narik pelan dari bantal, terus dia simpan di pangkuannya. Dipeluk. Erat.

"Eh, eh, gak boleh ngomong gitu," bisik Vivian. Suaranya ikut bergetar. Tangannya ngelus rambut Cika pelan, ngelus-ngelus kepangnya yang udah acak-acakan. Jempolnya ngapus air mata di pipi Cika yang panas. "Istighfar, Sayang. Papa udah tenang di sana. Papa gak mau lihat Cika ngomong gitu."

Cika masih nangis di pangkuan Vivian. Kayak anak kecil umur 5 tahun.

"Semua orang sayang Cika kok," ucap Vivian. Dia tunduk, keningnya nempel ke kepala Cika. "Cuman mereka ngak tau cara ngungkapin perasaannya. Kak Eric diem, tapi dia yang bayarin les biola Cika. Ibu galak, tapi Ibu yang pastiin rekening Cika gak pernah kosong. Kak Chindy jutek, tapi dia yang marah-marah kalau ada yang bully Cika di sekolah."

Vivian narik napas. "Cika sekolah biayanya dari siapa? Makan, minum, uang jajan, baju bagus, kamar AC, dari siapa? Kalau mereka cuman di sini meluk Cika seharian, gak kerja, Cika mau makan apa? Makan cinta?"

Dia lagi mencemari otak polos Cika dengan ilmu matre-nya. Tapi perlu. Vivian tau, wanita gak boleh tunduk sama cinta doang. Cinta gak bisa bayar listrik. Cinta gak bisa beli obat pas sakit. Dia cuman bakal tunduk sama uang, sama kemandirian. Biar Cika gak gampang dibodohin orang nantinya.

Cika diem. Isaknya mulai reda. Tapi masih sesenggukan.

"Udah, jangan nangis lagi," ucap Vivian lagi. Ngelap sisa air mata di ujung mata Cika pake ibu jari. "Cika udah besar. Sebentar lagi usia Cika pas 17 tahun. Anak gadis gak boleh cengeng. Malu sama alis. Nanti cantiknya luntur."

Cika kecupan. Narik napas. "Tapi... sakit, Kak..."

"Kakak tau," bisik Vivian. "Makanya kita obatin pelan-pelan ya? Janji?"

Cika ngangguk kecil di pangkuan Vivian.

Vivian senyum. Terus, buat mengalihkan pembicaraan, dia nanya, "Kalo nanti bayinya lahir, Cika mau jadi bibi atau kakak?"

Cika diem sebentar. Masih sesenggukan. Terus jawab, biarpun suaranya masih bergetar, "Aku... aku bakal jadi bibinya. Tapi sayang sama dia... kaya kk kandungnya. Boleh ya, Kak?"

Vivian ketawa kecil. Lega. "Boleh banget. Pasti boleh. Nanti bantuin Kakak momong ya? Gantian gendong."

Cika ngangguk lagi. Kali ini ada senyum tipis. Kecil. Tapi ada.

Di luar kamar, Eric masih duduk. Kepalanya nunduk. Tangannya ngeremas sandaran sofa sampe buku-buku jarinya putih.

Kalimat Cika tadi, _Dari dulu sampai sekarang, aku memang tak pernah dianggap penting_, muter terus di kepalanya. Kayak kaset rusak.

Bu Ratna nutup muka pake tangan. Chindy gigit bibir sampe berdarah.

Mereka keluarga. Tapi mereka baru sadar, mereka gagal jadi rumah buat anak bungsu mereka.

Dan Vivian, menantu yang dulu mereka anggap gak penting, sekarang jadi satu-satunya yang bisa buka pintu kamar Cika. Satu-satunya yang dipeluk Cika.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!