NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH KECIL DI ANTARA RIUHNYA DOA

Suasana Pesantren Al-Hidayah pagi ini jauh lebih padat dari biasanya. Bus-bus besar terparkir rapi hingga ke luar gerbang desa. Hari ini adalah Haul Akbar, peringatan tahunan yang dihadiri oleh ribuan alumni dan jamaah dari berbagai daerah. Masjid utama sudah penuh sesak, meluber hingga ke halaman yang ditutupi tenda-tenda raksasa.

Di atas panggung utama yang megah, Abah Kyai duduk di tengah, diapit oleh para ulama sepuh. Gus Zikri berada di barisan kedua, tampak khidmat dengan sorban hijau botol yang melingkar di bahunya. Suasana begitu sakral; suara selawat menggema, menciptakan getaran yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.

Namun, di balik panggung, di dalam kediaman utama, seorang bocah kecil sedang merencanakan "debut" besarnya.

Muhammad Zayan Al-Fatih kini sudah berusia satu tahun. Ia baru saja menemukan kekuatan di kedua kaki mungilnya. Baginya, berjalan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah petualangan untuk menaklukkan dunia.

Mentari sedang sibuk di dapur bersama **Hafizah**, menyiapkan konsumsi untuk para tamu VIP. Ia merasa aman karena telah memagari area bermain Zayan dengan bantal-bantal besar.

"Tari, kamu lihat Zayan?" tanya Hafizah sambil menuangkan teh.

Mentari menoleh ke arah ruang tengah. Kosong. "Lho, tadi dia lagi main sama robot kayu pemberian Bondan!"

Ternyata, Zayan telah berhasil melewati "benteng bantal" itu. Dengan langkah yang masih goyah seperti penguin yang baru belajar berdansa Zayan merayap keluar pintu samping yang tidak terkunci rapat oleh panitia. Ia tidak menuju ke dapur, melainkan mengikuti arah suara pengeras suara yang sangat menarik perhatiannya.

Di masjid, Abah Kyai sedang memulai ceramah intinya. Ribuan jamaah terdiam, menyerap setiap kata hikmah yang keluar dari lisan sang guru besar. Gus Zikri menunduk khidmat, mendengarkan wejangan sang ayah.

Tiba-tiba, dari arah samping mimbar, muncul sesosok makhluk kecil berbaju koko putih dan peci yang miring ke kiri. Zayan berjalan dengan percaya diri, kedua tangannya terangkat ke samping untuk menjaga keseimbangan.

*Dug... dug... dug...*

Langkah kakinya yang mengenakan sepatu bayi berbunyi mencicit setiap kali menyentuh lantai marmer. Jamaah di barisan depan mulai saling berbisik, menahan tawa.

Zayan tidak berhenti. Ia melihat Abah Kyai yang sedang bicara. Baginya, itu adalah kakeknya yang biasanya memberinya kurma. Dengan suara lantang, Zayan berteriak di tengah kesunyian masjid.

"BAH! DAAAA!" (Abah! Dada!)

Abah Kyai berhenti bicara. Beliau menoleh ke bawah dan melihat cucunya sedang berdiri tegak sambil melambaikan tangan dengan semangat. Gus Zikri yang menyadari kehadiran putranya langsung membelalak. Wajahnya merah padam antara malu dan ingin tertawa.

Bukannya marah karena ceramahnya terputus, Abah Kyai justru tersenyum sangat lebar. Beliau merunduk, merentangkan tangannya, dan membiarkan Zayan berjalan (hampir lari) menuju pelukannya.

"Sini, cucu Abah yang paling pintar," ucap Abah Kyai melalui mikrofon, suaranya menggema ke seluruh pesantren.

Jamaah yang tadi tegang seketika meledak dalam tawa dan seruan "Masya Allah". Zayan dengan sukses duduk di pangkuan sang Kyai, mencoba meraih mikrofon seolah-olah ia juga ingin ikut memberikan tausiyah.

Gus Zikri maju dengan langkah cepat untuk mengambil Zayan, namun Abah Kyai memberi kode agar membiarkannya. "Biarkan dia di sini, Zikri. Ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa agama itu indah dan membawa keceriaan, bukan hanya ketegangan."

Zayan akhirnya duduk tenang di pangkuan Abah, sesekali memainkan tasbih besar milik kakeknya, sementara Abah melanjutkan ceramahnya dengan tema "Mendidik Generasi yang Mencintai Masjid".

Di belakang panggung, Mentari dan Bondan baru saja tiba dengan napas terengah-engah setelah mencari Zayan ke seluruh penjuru rumah. Mereka terpaku melihat pemandangan di layar monitor besar yang menyiarkan langsung suasana di dalam masjid.

"GILA! Zayan bener-bener legend!" seru Bondan sambil menepuk jidatnya. "Dia baru bisa jalan langsung naik panggung utama Haul Akbar! Gue aja yang udah puluhan tahun di sini belum pernah duduk di pangkuan Abah Kyai pas lagi ceramah!"

Mentari menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aduh... malu banget! Itu kan acara formal, Bon!"

Fahma datang sambil membawa balon. "Tari, jangan sedih. Liat deh, semua orang malah senyum-senyum. Zayan itu kayak malaikat kecil yang lagi bikin adem suasana."

Setelah acara selesai, Zikri membawa Zayan kembali ke rumah. Zayan sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah melakukan "orasi" singkatnya.

"Mas... maaf ya, aku lalai jagain Zayan," ucap Mentari penuh sesal.

Zikri meletakkan Zayan di tempat tidur, lalu merangkul Mentari. "Tahu tidak, Sayang? Tadi Abah bilang, kehadiran Zayan di panggung adalah momen terbaik dalam haul tahun ini. Orang-orang melihat bahwa seorang pemimpin besar seperti Abah tetaplah seorang kakek yang penuh kasih sayang."

Zikri mencium kening Mentari. "Anak kita punya jalannya sendiri untuk berdakwah, bahkan lewat langkah kakinya yang masih belum tegak."

Malam itu, Mentari menulis satu paragraf tambahan dalam naskah buku keduanya:

"Kadang kita terlalu sibuk mengatur protokol kehidupan agar terlihat sempurna di mata manusia. Namun, Tuhan seringkali mengirimkan langkah-langkah kecil yang berantakan untuk mengingatkan kita, bahwa kesempurnaan sejati adalah ketulusan."

Di luar, bintang-bintang di langit pesantren tampak bersinar lebih terang. Muhammad Zayan Al-Fatih telah memulai perjalanannya, bukan dengan pidato hebat, melainkan dengan sebuah lambaian tangan yang meruntuhkan kekakuan ribuan hati manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!