Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di tempat lain, di puncak gedung tertinggi sebuah perusahaan ternama di kota Anggrek, Fattana Grup. Seorang laki-laki dalam balutan jas berwarna coklat, duduk di dekat jendela sembari memandangi gambar di sebuah figura kecil yang ia pajang di meja kerjanya.
"Rania, sampai saat ini aku masih tidak percaya kau sudah pergi meninggalkan aku dan anak kita. Kau tahu, anak kita tumbuh tanpa kasih sayang darimu. Tapi, kau tenang saja. Ada Shakira yang menyayanginya seperti anak sendiri. Kau beruntung mempunyai sahabat sepertinya. Sayangnya, dia memiliki temperamen yang keras. Tidak menyukai dunia luar, dia lebih menyukai dunianya sendiri. Aku harus bagaimana? Ku harap kau akan kembali lagi ke sisi kami, Rania," lirihnya.
Ia mengusap gambar Rania penuh rindu dengan ibu jarinya, kemudian mendekap figura itu ke dadanya. Pandangannya terangkat, menatap jalan raya yang dipadati kendaraan di bawah sana.
"Aku ingin bertemu dengan Hadrian!" Suara Shakira di depan pintu ruangannya menggema hingga ke dalam.
Hadrian melirik, tapi tak acuh. Ia tak ingin diganggu siapapun. Hari itu, entah kenapa hatinya teringat sang istri dan rindu kembali menggebu. Ia menitipkan anaknya kepada sang adik, karena selalu teringat pada Rania.
"Nona, tuan sedang tidak bisa diganggu untuk saat ini. Tuan tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke ruangannya. Tolong, jangan mempersulit saya," ucap sekretaris Hadrian yang menghadang Shakira di depan pintu ruangan.
"Kau lihat ini! Aku harus bertemu dengan Hadrian hari ini juga. Dia harus tahu apa yang telah dilakukan anaknya!" Suara Shakira yang menyebut tentang anak, membuat tubuh Hadrian menegang.
Ia beranjak perlahan, kembali ke balik meja kerja. Menyimpan figura di ujung meja. Lalu, membuka dokumen yang sejak pagi tak disentuhnya.
"Tapi, Nona ...."
"Biarkan dia masuk!" titah Hadrian dingin seperti biasanya.
Pintu ruangan terbuka, langkah Shakira terdengar memburu. Wanita itu langsung saja berdiri di samping kursi kebesaran Hadrian.
"Ada masalah apa lagi? Bukankah aku sudah mempercayakan Rasya kepada kalian? Apakah kalian tidak merawatnya dengan baik?" tanya Hadrian tanpa menoleh pada Shakira yang berdiri di sampingnya mencari perhatian.
Wajahnya ditutup plester setelah mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit pusat kota. Dia ingin Hadrian percaya bahwa Rasya mengalami gangguan mental dan membahayakan orang lain sehingga ia tidak akan disalahkan karena mengirim anak itu ke rumah sakit jiwa.
"Hadrian, kau harus melihat ini. Luka di wajahku ini cukup menggangu, dan aku takut akan meninggalkan bekas luka. Ini ulah Rasya, dia tiba-tiba mengamuk dan menyerang semua orang." Shakira memegangi tangan Hadrian, tapi laki-laki itu menepisnya dengan cepat.
Shakira memberengut, setelah tujuh tahun lamanya ia menunggu dan mencari perhatian, tapi hati Hadrian tak tergerak untuk meliriknya. Dia tetap dingin dan bersikap acuh tak acuh. Beberapa keluarga besar pun mengirimkan anaknya untuk mendapatkan hati Hadrian, tapi tak satu pun dari mereka menarik minat laki-laki itu. Di hatinya hanya ada satu wanita, yaitu istri yang tiba-tiba menghilang tujuh tahun lalu setelah melahirkan anak mereka.
Hadrian menoleh, menatap wajah Shakira yang terdapat luka gores. Lalu, dengan sengaja wanita itu juga menunjukkan tangannya yang terluka.
"Aku tidak tahu apa yang membuatnya mengamuk tadi malam. Tiba-tiba memecahkan vas bunga dan menyerang semua orang. Tukang kebun bahkan terluka parah saat menahannya. Entah bagaimana nasibnya sekarang. Aku tidak sempat melihatnya karena luka-luka di tubuhku," ucap Shakira berbohong.
Hadrian menatap cukup lama luka di tangan Shakira yang cukup dalam. Antara percaya dan tidak dengan apa yang diceritakan oleh sahabat istrinya itu. Ia menghela napas, berpaling kembali pada dokumen.
"Rasya baru saja menginjak tujuh tahun. Jika memang benar dia memiliki gangguan mental, rasanya tidak masuk akal jika sampai melukai orang dewasa seperti kalian," katanya tetap tenang, tidak tersulut emosi sama sekali.
Shakira menggeram, dia harus membuat Hadrian percaya bahwa anaknya memang tidak bisa dikendalikan.
"Jika kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya kepada adikmu. Dia dan istrinya ada di rumah malam tadi," katanya lagi.
Ia melirik cemas pada laki-laki dingin itu, berharap akan percaya. Helaan napas Hadrian terdengar panjang dan dalam. Memikirkan Rasya yang semakin hari semakin tidak terkendali.
"Besok, datangkan psikiater terbaik ke rumah untuk mengurusnya. Untuk sekarang, awasi dia dulu dengan ketat. Jangan mengganggunya saat dia sedang teringat ibunya," ucap Hadrian tanpa terduga.
Shakira menganga tak percaya mendengar jawaban laki-laki itu. Benar-benar di luar ekspektasinya. Dia berharap Hadrian akan marah setelah mendengar ceritanya.
"Kenapa kau terlihat tenang sekali? Anakmu semakin hari semakin tidak terkendali. Belajar tidak mau, setiap hari hanya melamun. Mentalnya terganggu, dia harus mendapatkan perawatan," ujar Shakira geram.
Brak!
Hadrian membanting dokumen ke atas meja dengan kuat hingga membuat wanita itu terhenyak kaget. Lalu, Hadrian menoleh dengan matanya yang menatap tajam dan dingin menusuk. Menghujam tepat di ulu hati Shakira.
"Jangan pernah berpikir untuk mengirim Rasya ke rumah sakit jiwa. Jika kau melakukan itu maka aku tidak segan untuk memusnahkan seluruh keluargamu," ancam Hadrian tidak main-main.
Glek!
Shakira meneguk saliva, tenggorokannya tiba-tiba saja menyempit. Rasanya perih dan sakit, juga sesak di dada.
"Pergi! Riko akan memberimu kompensasi," usir Hadrian tanpa menoleh padanya.
Shakira berbalik dan pergi membawa rasa kesal sekaligus takut akan ancaman Hadrian. Secepatnya dia harus ke rumah sakit jiwa dan membawa Rasya kembali ke rumah.
"Sial! Sungguh sial! Hadrian masih saja menyayangi anak itu!" umpatnya kesal.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄