Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.
Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Kini Fandy memasang wajah malu, seraya menunduk kan kepala nya. Tapi Fandy terus mencuri pandang ke arah Qiandra dengan pandangan wajah yang sangat sulit untuk di arti kan.
Tak berselang lama pun rombongan para dokter itu pun terlihat pamit, mereka ingin kembali ke rumah sakit Dewandaru. Karena jam berkunjung dokter yang Julia bayar kan telah selesai.
Qiandra dengan wajah kucel dan juga rambut acak acakan sedang menyusui Felix sambil rebahan. Karena tadi Felix mengacak acak dan memain kan rambut nya.
Kini otak Qiandra terasa begitu berat, padahal dia sedang tidak memikir kan apa pun.
Sampai diri nya tidak sadar, jika kamar nya sekarang benar benar dalam keadaan sepi. Karena para dokter spesialis Neurologi sudah meninggal kan kamar nya.
"Qian, apa kepala mu pusing? atau dahi mu itu terasa sakit atau bahkan perih?" Tanya Julia yang tiba tiba sudah berdiri di samping nya. bahkan dengan lembut Julia sedang mengelus elus pucuk kepala menantu nya. Julia memasang wajah khawatir ke arah menantu nya.
"Eh Mommy mertua." Lamunan Qiandra seketika buyar.
"Gimana? Apa yang kamu rasa kan sekarang? Apa kah kepala mu itu terasa sakit atau bahkan pusing? Tolong kata kan yang sejujur nya pada Mommy!" Ucap Julia dengan nada serius, sembari melihat ke arah anak nya yang kini tertidur pulas, saking pulas nya Felix sampai sudah melepas kan puting Qiandra dari mulut nya.
"Apa? Kepala ku memang kenapa?" Tanya Qiandra polos sembari memegang dahi nya. Akhir nay Qiandra sadar, jika hal buruk yang di alami nya tadi pagi bukan lah sebuah mimpi.
Julia hanya mengedip kan mata nya berkali kali. Saat melihat respon bodoh dan lola yang menantunya tunjuk kan. 'Oh, Tuhan. Bukan kah itu hanya sebuah luka yang berada di luar kepala nya. Tapi kenapa otak nya yang asli nya memang bodoh malah menjadi tambah bodoh.' Batin Julia sembari menggeleng geleng kan kepala nya. Dia tidak menyangka menantu yang punya wajah dan juga kulit yang cantik nya melebihi bidadari. Bisa bisa nya mempunyai otak yang begitu bodoh.
'Apa kah memang Tuhan memang maha Adil. Menantu ku itu memang sangat bodoh, bahkan mempunyai IQ di bawah rata rata. Tapi tanpa perawatan yang mahal. Qiandra mempunyai wajah sangat cantik dan juga manis. Kulit putih, bersih, mulus dan juga kenyal. Bahkan gigi nya begitu rapi dan juga rata. Tubuh nya juga langsing, badan nya juga termasuk tinggi.' Batin Julia lagi.
"Kepala mu itu terluka, bahkan berdarah darah. Sampai kamu tidak sadarkan diri. Para petugas medis yang ada di UKS begitu panik dengan keadaan mu. Karena mereka sudah berusaha membangun kan mu. Tapi tubuhmu benar benar tidak merespon. Jadi saat mommy sedang sibuk bekerja, pihak sekolah terus menghubungi dan meminta mommy untuk datang dan membawamu ke rumah sakit."
Qiandra kini tampak diam mematung, dia masih berusaha mencerna ucapan mertua nya.
"Tapi maaf, mommy mu ini tidak bisa membawa mu ke rumah sakit. Karena di rumah para pembantu menghubungi mommy. Jika Felix sudah sadar dari koma nya. Jadi mommy memutuskan untuk membawamu pulang ke rumah dulu, dan memanggil dokter spesialis neurologi. Bisa saja kamu yang tidak segera sadarkan diri, karena ada masalah di otak mu. Seperti anak mommy sekarang. Makanya tadi yang datang bukan hanya satu dokter, karena mommy memanggil lima dokter sekaligus. Tapi sayangnya dokter yang bisa datang ke sini semua nya laki laki. Tiba tiba mommy merasa tidak rela, jika tubuh mu itu dipegang oleh laki-laki lain. Tapi untungnya kamu sudah sadar. Sekarang mommy obati sendiri saja ya, luka luka mu itu." Ucap Julia dengan nada tulus.
"Makasih banyak mommy." Qiandra pun berterima kasih kepada mommy mertua nya, dengan mata yang berkaca kaca.
Lalu Julia pergi ke arah lemari kecil yang berisi kotak P3K dan perlengkapan medis lain nya yang memang tersedia di kamar anak nya.
Dia mengobati luka di dahi dan juga tangan Qiandra yang terluka. Qiandra terus menatap ibu mertua nya. Sebuah rasa yang selama ini Qiandra rindukan dari ibu kandungnya. Qiandra sampai sulit untuk mendeskripsi kan perasaan nya saat ini. Intinya dia sangat sangat merasa bahagia.
"Akhir nya udah selesai. Sekarang minum obat pereda nyeri ini dulu." Ucap Julia sembari menyerah kan sebuah obat yang sudah di buka. Dia juga memberi kan segelas air putih yang tadi memang tersedia di atas meja.
Dengan patuh Qiandra pun meminum obat itu. Julia mengambil gelas yang sudah kosong di tangan menantu nya, lalu menaruh nya kembali di atas meja di samping ranjang tempat tidur.
"Hiks hiks hiks, Qiandra sangat menyayangi mommy." Tiba tiba Qiandra memeluk ibu mertua nya. Bahkan air mata begitu deras menetes di kedua pelupuk mata nya.
Julia pun bingung, bagaimana dia merespon menantu nya kini. Karena sikap Julia memang cuek dan begitu dingin, bahkan dia tidak segan membunuh orang orang yang membuatnya marah. Walau pun itu saudara kandung nya sendiri.
Tapi demi membuat menantu nya senang. Julia pun memilih merespon dengan mengusap usap punggung menantu nya. Sungguh sifat nya sama persis seperti anak nya Felix.
"Sudah jangan menangis, kalau begitu mommy pamit mau balik ke kamar. Karena mommy mu ini merasa sangat capek. Semua pekerjaan Felix mulai sekarang mommy yang handle, sampai dia sembuh dan otak nya bisa kembali normal." Ucap Julia sembari melepas kan pelukan menantu nya dengan gerakan lembut.
"Baik mommy," ucap Qiandra patuh.
"Oh iya, satu lagi. Jangan lupa nanti setelah Felix bangun. Kamu mandikan dia di kamar mandi. Karena dia bukan orang koma lagi."
"Aku sama dia, ke kamar mandi mommy?" Tanya Qiandra memastikan. Sembari melirik ke arah suami nya yang sedang tidur dengan pulas.
"Iya benar, kan tadi kamu dengar sendiri. Apa yang dokter katakan. Jika otak Felix ke reset dan kembali seperti anak yang berumur 7 tahun. Karena Felix itu anak yang sangat manja, sejak kecil sampai berumur 10 tahun, mommy lah yang memandikan nya."
"Ba baik mommy," ucap Qiandra patuh sembari menatap kepergian ibu mertua nya.
Qiandra pun duduk di tepi ranjang milik nya.
"Kata mommy kan dia manja, jangan jangan dia juga tidak bisa melepas baju sendiri lagi, waktu kecil," Gumam Qiandra dengan mata yang membulat sempurna.