NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. HIJRAH SI GADIS BAR BAR

"Ayini... kamu oke?" tanya Adinda ragu-ragu sambil menyentuh dahi Ayini.

"Nggak panas kok."

"Astagfirullah alazim, Dinda! Gue itu lagi berusaha jadi anak sholehah. Katanya si 'Gus Kulkas' mau bukti lewat tindakan, ya udah, ini tindakan gue," jawab Ayini sambil merapikan mukenanya.

Ayini tidak main-main. Ia mulai mengubah penampilannya. Jilbabnya yang biasanya diselempangkan asal-asalan hingga rambutnya terlihat, kini ia ganti dengan jilbab yang lebih lebar dan rapi.

Ia bahkan meminjam bros milik Layila untuk memastikan jilbabnya tidak bergeser.

Meskipun mulutnya terkadang masih pedas jika ada santriwati lain yang sengaja menyenggolnya, ia mulai berusaha menahan diri.

"Woi, kalau jalan pakai mata! Eh... maksud saya, tolong hati-hati ya, Ukhti," ucap Ayini dengan nada yang dipaksakan lembut saat seseorang menabraknya di jalan menuju kelas.

Zia yang mendengar itu hampir tersedak air minumnya. "Ayini, itu beneran kamu?"

"Diem lu, Zia! Gue lagi akting jadi bidadari surga nih, biar Gus Alvaro khilaf terus ngelamar gue," bisik Ayini dengan kerlingan mata nakalnya yang masih tersisa.

Pagi itu, di kelas kitab, Gus Alvaro masuk dengan langkah yang sama. Namun, saat matanya yang terjaga itu tanpa sengaja menangkap sosok di barisan depan, langkahnya sempat goyah sedetik.

Ayini duduk dengan sangat rapi, menunduk melihat kitab, dan tidak mengeluarkan suara cempreng sama sekali.

Alvaro berdehem, mencoba menetralkan suasana hatinya. "Hari ini kita bahas pasal tentang sabar..."

Sepanjang penjelasan, Alvaro sesekali melirik (tetap dengan menjaga pandangan) ke arah depan.

Ia merasa ada yang aneh. Tidak ada interupsi, tidak ada pertanyaan centil, dan tidak ada pulpen yang dijatuhkan dengan sengaja.

Ayini benar-benar diam dan mencatat dengan tekun.

Setelah kelas usai, Alvaro tidak langsung pergi. Ia berdiri di depan pintu, menunggu para santri keluar.

Saat Ayini lewat dengan menunduk sopan, Alvaro memanggilnya dengan suara rendah.

"Ayini."

Ayini berhenti, jantungnya berdegup kencang.

"Iya, Gus?"

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Alvaro singkat.

Pandangannya ke arah pilar asrama, tidak ke wajah Ayini.

"Gus kan bilang, buktiin pakai tindakan. Ini Ayini lagi bertindak, Gus. Ayini mau jadi murid yang baik, biar Gus nggak kecewa lagi sama Ayini," jawab Ayini.

Suaranya terdengar tulus, tanpa ada nada mengejek.

Alvaro terdiam cukup lama. Ada keheningan yang menyiksa di antara mereka.

Alvaro merasa dadanya sedikit sesak, bukan karena marah, tapi karena rasa kagum yang ia tekan kuat-paku.

"Pertahankan. Semoga istiqomah," ucap Alvaro akhirnya sebelum melangkah pergi dengan cepat.

Ayini tersenyum lebar. "Tuh kan, dia pasti mulai terpesona sama gue!" soraknya dalam hati.

Di sisi lain pondok, tepatnya di asrama putra, Hazian Alkevin sedang mengalami masa-masa sulit.

Berbeda dengan Ayini yang sibuk mengejar cinta Gus Alvaro, Kevin justru merasa tertekan dengan aturan pondok yang membatasi ruang geraknya.

Ia rindu balapan motor di Muara Teweh, ia rindu nongkrong di kafe sampai tengah malam.

Sore itu, Kevin tertangkap basah oleh ustadz pengawas sedang memanjat tembok belakang.

Tapi kali ini bukan untuk beli pentol seperti Ayini, melainkan ia kedapatan membawa sebuah surat dari luar yang dititipkan melalui tukang kebun.

Gus Alvaro yang mendapatkan laporan itu langsung memanggil Kevin ke ruangannya.

"Duduk, Kevin," perintah Alvaro.

Kevin duduk dengan gelisah. Ia sangat segan pada kakak sepupu Ayini yang satu ini.

Wibawa Alvaro benar-benar membuatnya tidak berkutik.

"Surat ini dari siapa?" Alvaro meletakkan surat beramplop biru itu di meja.

Kevin menelan ludah. "Itu... itu dari temen, Gus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!