NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penaklukan

Udara terasa pengap, berbau debu, besi tua, dan aroma anyir yang tajam. Di tengah ruangan luas yang hanya diterangi cahaya remang dari celah atap seng, sebuah drama brutal baru saja mencapai puncaknya.

​Reno berdiri tegak di tengah lingkaran debu. Napasnya memburu, keluar masuk dari dadanya dengan suara berat yang tidak beraturan. Buku-buku jarinya merah, sebagian kulitnya robek, dan cairan merah kental menetes pelan dari sela jemarinya ke lantai semen yang retak. Di hadapannya, seorang siswa bertubuh gempal dengan seragam yang sudah koyak tergeletak tak berdaya. Siswa itu adalah pentolan dari sekolah seberang yang baru saja dihabisi Reno dalam duel satu lawan satu yang sangat tidak seimbang.

​Dengan gerakan lambat dan penuh ancaman, Reno berjongkok. Ia meraih kerah baju siswa yang sudah setengah sadar itu, menariknya hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.

​"Sekarang... lu jadi bawahan gua."

​Ucapan Reno rendah, serak, namun mengandung otoritas yang dingin. Siswa itu mencoba menggumamkan sesuatu, namun hanya darah yang keluar dari mulutnya. Reno tidak peduli. Ia melepaskan cengkeramannya hingga kepala siswa itu terbentur kembali ke lantai semen, lalu ia berdiri tegak. Tawanya tiba-tiba menggema di ruangan kosong tersebut, sebuah tawa yang terdengar hambar namun penuh kemenangan yang dipaksakan. Reno bukan lagi sekadar jagoan sekolah yang mencari validasi; ia telah berubah menjadi mesin perekrut yang digerakkan oleh satu tujuan tunggal: memuaskan kehendak Satya Wijaya.

​Ingatan Reno melayang kembali ke pertemuan rahasianya dengan Satya di dalam mobil mewah tempo hari. Satya tidak meminta Reno untuk membalas dendam secara membabi buta kepada Jalal. Satya jauh lebih cerdik dari itu.

​"Reno, pasukan yang kuat tidak dibangun dari jumlah, tapi dari potensi," ucap Satya saat itu sambil membolak-balik tablet tipis yang berisi data para petarung jalanan di kota ini. "Aku butuh jenderal-jenderal kecil. Pergilah, cari mereka yang memiliki api di matanya. Pukul mereka sampai mereka sadar bahwa mengikuti kita adalah satu-satunya cara untuk tetap berdiri. Rekrut setiap siswa yang berpotensi dalam baku hantam. Aku ingin membangun sebuah legiun."

​Perintah itu adalah titah suci bagi Reno. Sejak hari itu, ia menjelajahi tempat-tempat kumuh, pinggiran terminal, dan belakang gedung sekolah, bukan untuk sekadar berkelahi, tapi untuk melakukan seleksi alam. Siapa pun yang mampu bertahan lebih dari lima menit melawan pukulannya, akan mendapatkan tawaran yang tidak bisa ditolak.

​Reno melangkah keluar dari pabrik tua itu, meninggalkan siswa yang terkapar di belakangnya. Di luar, dua orang anak buahnya yang setia sudah menunggu di samping motor-motor besar mereka. Mereka menatap Reno dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan. Mereka melihat bagaimana Reno berubah menjadi lebih agresif, lebih haus akan dominasi sejak berada di bawah bayang-bayang keluarga Wijaya.

​"Bawa dia ke klinik. Pastikan dia bisa jalan besok pagi. Kasih dia jaket kita," perintah Reno tanpa menoleh.

​Ia menyalakan motornya, deru mesin yang kencang memecah keheningan sore. Reno melaju membelah jalanan kota, pikirannya terfokus pada target berikutnya. Satya telah memberikan daftar nama, dan Reno adalah algojo yang bertugas mengetuk pintu mereka satu per satu.

​Di sisi lain kota, di sebuah kafe eksklusif yang terletak di lantai atas gedung pencakar langit, Satya Wijaya duduk dengan tenang. Di depannya tersedia secangkir teh earl grey yang uapnya masih mengepul halus. Kacamata hitamnya terpasang, tongkatnya ia letakkan di atas meja cafe.

​"Bagus, Reno. Kau adalah anjing pemburu yang sangat berbakat," gumam Satya, setelah menerima laporan.

​Baginya, pergerakan Reno adalah langkah catur yang krusial. Satya tahu bahwa kekuatan fisik Jalal tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan kerumunan siswa sekolah biasa. Ia butuh petarung yang memiliki mentalitas predator. Dengan mengumpulkan para jagoan dari berbagai sekolah di bawah satu panji, Satya sedang menciptakan sebuah ekosistem kekerasan yang akan memaksa Jalal keluar dari persembunyiannya.

​Namun, ada hal lain yang mengusik pikiran Satya. Jalal terlihat terlalu santai, ia melihat langsung dengan telinganya, bagaimana beberapa tukang pukulnya dipermainkan.

Telepon Satya bergetar. Sebuah nama muncul di layar Alexa Ibunya. Satya mengangkat teleponnya.

"Ya, ada apa, Bu?"

"Ada masalah yang tidak bisa ibu selesaikan, ibu tunggu di kantor."

Satya menutup telpon, tanpa menjawab. Ia melangkah keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan cafe. "Ke kantor!" ucapnya pelan namun tajam. Sopir menyalakan mobil, lalu melaju membelah jalan raya yang masih sepi.

----

​Kembali ke jalanan, malam mulai merayap naik. Reno tiba di sebuah area perumahan kelas menengah yang tampak tenang. Ia memarkir motornya di depan sebuah rumah dengan pagar kayu yang sudah mulai lapuk. Ia tahu siapa yang tinggal di sini. Seorang siswa kelas dua belas yang dikenal memiliki pukulan seberat beton, namun jarang terlibat tawuran karena lebih suka menghabiskan waktu bekerja di bengkel.

​Reno melepas helmnya, memperlihatkan wajahnya yang masih menyisakan noda darah yang sudah mengering. Ia melangkah maju dan menggedor pagar dengan keras.

​"Woi! Keluar!" teriak Reno.

​Seorang pemuda keluar dari arah bengkel di samping rumah, tangannya hitam karena oli. Ia menatap Reno dengan pandangan tidak suka. "Siapa lu? Mau servis motor? Bengkel sudah tutup."

​Reno tersenyum sinis. "Gua nggak butuh servis motor. Gua butuh tangan lu buat mukul orang."

​Pemuda itu mengerutkan kening. "Gua nggak tertarik sama urusan anak sekolah. Pergi sebelum gua panggil warga."

​Tanpa peringatan, Reno melancarkan serangan. Sebuah pukulan lurus ke arah rahang. Pemuda bengkel itu bereaksi dengan cepat, menepis tangan Reno dan memberikan balasan berupa sikutan yang nyaris mengenai hidung Reno. Reno melompat mundur, matanya berkilat senang.

​"Nah, itu dia. Refleks yang bagus," ucap Reno. "Nama gua Reno, Lu punya pilihan: ikut gua dan dapet uang lebih banyak dari hasil benerin motor rongsok ini, atau gua bakal bakar bengkel ini besok pagi."

​Pemuda itu terdiam. Ia melihat keseriusan di mata Reno. Ia juga melihat jaket hitam dengan simbol naga yang dikenakan Reno, sebuah simbol yang belakangan ini mulai ditakuti di jalanan.

​Reno merogoh sakunya, mengeluarkan selembar amplop tebal berisi uang tunai dan melemparkannya ke lantai. "Itu uang muka. Besok pagi, temui gua di depan sekolah Bina Rimba. Kita ada kunjungan resmi."

​Reno tidak menunggu jawaban. Ia kembali ke motornya dan menderu pergi, meninggalkan pemuda bengkel itu yang masih terpaku menatap amplop di lantai. Reno merasa sangat berkuasa. Perintah Satya telah memberinya tujuan hidup yang baru. Ia bukan lagi sekadar preman sekolah yang mencari musuh; ia adalah pembangun kerajaan.

​Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada satu ketakutan yang tidak bisa ia hilangkan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia teringat tatapan Jalal di persimpangan jalan itu. Tatapan yang penuh duka, seolah Jalal sedang melihat seorang pria yang sudah mati.

​Reno menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Ia memacu motornya lebih kencang, membelah kegelapan malam Jakarta. Ia yakin, dengan legiun petarung yang sedang ia bangun, tidak ada seorang pun yang bisa bertahan, termasuk si buta yang pandai bersembunyi itu.

​Sementara, di waktu bersamaan, seorang kakek-kakek berpakaian compang-camping, menatap Reno dan komplotannya dari kejauhan.

"Mata Malaikat sedang mengumpulkan pasukan. Entah bagaimana nasib dunia ini." Kakek itu kembali berjalan pelan, melewati orang-orang yang seperti tidak melihatnya.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!