Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kecurigaan yang Tumbuh
Menunggu adalah musuh terbesar bagi sebuah pikiran yang sedang dipenuhi oleh trauma.
Selama tiga jam sejak Arlan memaksakan diri keluar dari ruko tua ini dengan tubuh yang masih dijahit, aku hanya bisa mondar-mandir melintasi lantai kayu yang berderit. Sesekali aku mengintip dari balik tirai berdebu, menatap jalanan Kota Tua yang mulai diselimuti kabut malam dan lampu jalanan berwarna kuning redup.
Setiap kali ada suara ban mobil bergesekan dengan aspal, tanganku secara refleks meraba gagang pistol Glock-19 di pinggangku. Paranoia akibat peluru sniper sore tadi di Blok M masih membekas tajam. Aku terus membayangkan pasukan pembersih ayahku mendobrak masuk, atau lebih buruk lagi, membayangkan Arlan tidak pernah kembali karena lukanya terbuka dan ia tertangkap.
Pukul tujuh malam, suara decit pelan engsel pintu depan akhirnya memecah kesunyian.
Aku berputar cepat, menodongkan senjata.
Arlan berdiri di ambang pintu. Topi bisbol hitamnya basah oleh gerimis, dan masker medisnya sudah ia lepaskan, memperlihatkan wajah yang pucat pasi namun memancarkan kelegaan yang aneh. Ia menutup pintu, mengunci tiga lapis grendel bajanya, lalu bersandar lemas pada daun pintu.
"Kau kembali," helaan napasku meluncur panjang, menurunkan laras senjataku. Aku berjalan cepat menghampirinya, meraih lengannya untuk membantunya berjalan. "Kau benar-benar orang gila. Obat pereda nyeri itu hanya mematikan sarafmu, bukan menyembuhkan ototmu yang robek."
"Aku masih bisa berjalan, El," gumamnya, meski ia tidak menolak saat aku memapahnya menuju sofa kulit di tengah ruangan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal sofa, meringis pelan saat punggungnya menyentuh sandaran.
Aku menyalakan layar televisi tabung di sudut ruangan yang volumenya sengaja kutekan hingga nyaris bisu. Aku ingin memarahinya karena mengambil risiko bodoh, tapi kata-kataku tertahan saat sebuah tulisan merah besar melintas di bawah layar televisi.
SIARAN LANGSUNG: JAKSA TINGGI SURYA KUSUMA MENYERAHKAN DIRI KE KEJAKSAAN AGUNG.
Mataku terbelalak lebar. Aku berjalan mendekati layar, menaikkan volumenya sedikit.
Kamera berita menyorot sosok Surya Kusuma—salah satu Pilar Vanguard yang posisinya nyaris tak tersentuh oleh hukum—berjalan menunduk diapit oleh petugas kejaksaan. Pria yang biasanya tampil arogan itu kini tampak seperti orang tua yang hancur. Ia memegang sebuah koper berisi dokumen.
"...Dalam sebuah konferensi pers dadakan yang mengejutkan publik malam ini, Jaksa Tinggi Surya Kusuma menyatakan mundur dari jabatannya. Beliau menyerahkan diri sekaligus membawa puluhan bukti manipulasi peradilan dan pencucian uang yang diduga melibatkan nama-nama besar di dunia korporasi. Saat ditanya oleh wartawan mengenai motifnya, Surya Kusuma hanya menyatakan bahwa ia 'ingin menebus dosa sebelum dihakimi oleh bayangan masa lalu'..."
Aku menoleh perlahan ke arah Arlan. Pria itu sudah memejamkan matanya di atas sofa, napasnya berat karena kelelahan, tapi ada senyum tipis yang sangat samar di sudut bibirnya.
"Kau tidak membunuhnya," bisikku takjub. "Kau tidak menumpahkan setetes darah pun. Tapi kau berhasil memaksanya menghancurkan dirinya sendiri dan menyeret ayahku bersamanya."
"Catur, El," gumam Arlan tanpa membuka matanya. "Terkadang kau hanya perlu memblokir pergerakan Rajanya hingga ia tercekik oleh pionnya sendiri."
Rasa kagum yang kelam menyusup ke dalam dadaku. Dalam kondisi fisik yang hancur, Arlan masih mampu memanipulasi salah satu pikiran hukum paling tajam di negara ini. Ia benar-benar sang Joker.
Namun, seiring dengan rasa kagum itu, benih-benih kecurigaan yang dingin mulai tumbuh di dasar perutku.
Arlan beroperasi dengan tingkat presisi yang mengerikan. Ia memiliki data rekening lepas pantai. Ia tahu jadwal mutasi penjaga. Ia tahu rahasia terdalam setiap targetnya. Persiapan seperti ini tidak dilakukan dalam waktu satu atau dua bulan. Ini adalah hasil dari pemantauan obsesif selama bertahun-tahun.
Aku memandangi wajahnya yang kini tertidur karena kelelahan ekstrem. Obat yang kuberikan tadi siang pasti mulai menariknya kembali ke fase tidur nyenyak.
Sambil melangkah pelan agar tidak membangunkannya, aku berjalan ke arah meja kerja kayunya yang berantakan oleh tumpukan map dan kabel. Aku ingin mencari kain kasa baru di laci bawah untuk mengganti perbannya besok pagi.
Aku menarik laci terbawah. Macet.
Ada mekanisme kunci ganda yang menahannya. Sebagai detektif, rasa ingin tahuku otomatis menyala. Jika ini hanya laci obat, mengapa harus dikunci dengan sistem hidrolik tersembunyi?
Aku meraba bagian bawah meja, mencari sakelar atau tuas tersembunyi. Jari-jariku menyentuh sebuah lekukan kecil di kayu bagian belakang. Aku menekannya. Terdengar bunyi klik pelan, dan laci terbawah itu akhirnya meluncur terbuka.
Laci itu sama sekali tidak berisi obat-obatan.
Di dalamnya, terdapat sebuah kotak berbahan logam hitam yang tebal. Aku menahan napas, mengangkat kotak itu ke atas meja. Tidak ada kunci gembok, hanya selot besi biasa.
Aku membukanya secara perlahan.
Benda pertama yang kulihat adalah setumpuk buku catatan bersampul kulit tua. Tulisan tangan di dalamnya sangat rapi, berisi jurnal observasi. Namun, bukan jurnal itu yang membuat aliran darah di tubuhku seolah membeku.
Di bawah buku-buku catatan itu, terhampar puluhan... tidak, ratusan lembar foto.
Aku mengambil tumpukan foto itu dengan tangan yang mulai bergetar.
Itu bukan foto ayahku. Bukan foto Jenderal Sudiro atau Jaksa Surya Kusuma.
Itu adalah foto-fotoku.
Foto pertama menampilkan diriku lima tahun yang lalu, mengenakan seragam akademi kepolisian pada hari kelulusanku. Foto itu diambil dari jarak jauh, menggunakan lensa telefoto, tersembunyi di balik barisan pepohonan.
Foto kedua diambil sekitar tiga tahun lalu. Aku sedang duduk di kedai kopi langgananku, membaca berkas kasus pembunuhan pertamaku. Sudut pengambilannya dari gedung seberang jalan.
Foto ketiga, keempat, dan seterusnya... Semuanya adalah rekam jejak hidupku. Mulai dari aku berjalan keluar dari apartemenku, saat aku sedang berlatih menembak di lapangan, hingga foto di mana aku sedang menangis di depan makam ayah angkatku saat peringatan hari kematiannya tahun lalu.
Paru-paruku serasa dihimpit beton. Udara pengap di ruko ini mendadak membuatku mual.
Arlan telah mengintaiku. Bukan sejak ia menitipkan kartu badut di meja kelab malam waktu itu. Bukan sejak ia muncul di galeri seni sebagai investor yang menawan. Ia telah mengawasiku seperti seekor elang yang mengintai mangsanya... selama lima tahun penuh.
Aku menjatuhkan foto-foto itu ke atas meja. Tanganku meremas tepi meja kayu hingga buku-buku jariku memutih.
Semua memori tentang pertemuan kami berputar cepat di dalam kepalaku. Pertemuan pertama kami yang "kebetulan" di bar The Obsidian. Bagaimana ia tahu persis minuman kesukaanku. Bagaimana ia tahu cara berbicara yang membuatku merasa dimengerti. Bagaimana ia selalu memiliki jawaban yang tepat untuk meruntuhkan dinding pertahananku.
Semuanya adalah kalkulasi. Semuanya telah dilatih dan direncanakan.
Aku menarik napas dengan putus asa, merogoh lebih dalam ke dalam kotak logam hitam tersebut. Di bagian dasarnya, terdapat sebuah flashdisk dan secarik kertas usang yang sudah menguning, dilipat menjadi empat bagian.
Aku membuka lipatan kertas itu.
Itu adalah sebuah bagan struktur yang digambar dengan tinta pena. Mirip dengan papan gabus di dinding ruko ini, namun lebih tua. Di puncak bagan itu, terdapat nama Darmawan Salim. Panah-panah ditarik menuju kelima pilar bawahannya.
Lalu, mataku menangkap sebuah garis merah yang ditarik dari nama Darmawan, meluncur ke samping, menuju sebuah lingkaran kecil. Di dalam lingkaran itu, tertulis namaku: ELARA.
Di bawah namaku, terdapat sebuah catatan yang ditulis dengan tulisan tangan Arlan, menggunakan tinta yang terlihat sudah sangat lama:
Kelemahan emosional terbesar sang Raja. Dia tidak akan bisa dihancurkan dari luar. Dia harus dihancurkan oleh darahnya sendiri. Pion yang paling sempurna untuk memegang pisau eksekusi.
Kertas itu terlepas dari tanganku, melayang jatuh ke lantai seperti daun mati.
Kakiku kehilangan daya topangnya. Aku mundur terhuyung-huyung, punggungku menabrak rak besi di belakangku hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
Pion.
Bidak catur.
Itulah aku di matanya.
Arlan tidak menyelamatkanku di gudang Marunda karena ia mencintaiku. Ia menyelamatkanku karena pionnya belum selesai dimainkan. Ia mempertaruhkan nyawanya sendiri karena aku adalah kunci utama untuk memberikan pukulan paling menyakitkan bagi Darmawan Salim. Ia membuatku jatuh cinta padanya, membuatku membuang lencana kepolisianku, membuatku membenci ayahku, agar aku yang akan menghancurkan Vanguard dari dalam.
Setiap sentuhan hangatnya, setiap pelukan saat aku menangis, setiap tatapan tulusnya di bawah hujan... apakah semua itu hanyalah sebuah akting dari sang sosiopat yang sempurna?
Aku menoleh menatap pria yang sedang tertidur di sofa. Dada bidangnya yang terbalut perban bergerak naik turun dengan damai. Wajahnya yang terlihat rapuh kini terasa seperti topeng yang jauh lebih mengerikan daripada topeng porselen putihnya.
Monster itu tidak bersembunyi di balik riasan badut. Monster itu bersembunyi di balik senyum prianya yang penuh empati.
Aku menarik pistol Glock-ku dari sarung dengan gerakan mekanis yang kaku. Aku berjalan pelan menghampiri sofa. Sepatuku tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Aku berdiri di dekat kepalanya, menodongkan laras senjataku lurus ke arah dahinya. Tanganku yang biasanya stabil kini bergetar sangat hebat hingga laras pistol itu berguncang pelan. Air mata pengkhianatan yang jauh lebih panas dari api mana pun mengalir deras membasahi pipiku, menetes jatuh mengenai bajuku.
Perasaan dikhianati oleh ayah kandungku sendiri sudah menghancurkan sebagian jiwaku. Namun, mengetahui bahwa pria yang menjadi alasan terakhirku untuk bertahan hidup di kota gila ini hanyalah mempermainkanku sebagai alat balas dendamnya... itu membakar habis sisa kemanusiaanku.
Darmawan Salim adalah iblis. Tapi Arlan Wiratama adalah iblis yang merayuku dengan janji keselamatan sebelum melemparkanku ke dalam kawah neraka.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan ruko yang sunyi, kelopak mata Arlan terbuka.
Ia tidak tersentak kaget. Ia tidak mengangkat tangannya untuk membela diri. Matanya yang merah menatap ujung laras pistolku, lalu bergerak naik menatap wajahku yang basah oleh air mata. Ia lalu memiringkan kepalanya sedikit, melihat tumpukan foto-foto pengintaian dan kertas bagan yang berserakan di atas mejanya di kejauhan.
Ia tahu aku sudah menemukan semuanya.
Tidak ada kepanikan di wajahnya. Tidak ada upaya untuk merangkai kebohongan baru. Ia hanya menatapku dengan keheningan yang mematikan.
"Bangun," bisikku parau, menarik pelatuk senjataku hingga setengah jalan. Otot rahangku mengeras hingga gigiku terasa ngilu. "Bangun dan berikan aku satu alasan kenapa aku tidak boleh meniup isi kepalamu sekarang juga."
Arlan tidak bergerak. Ia membiarkan ujung senjataku yang dingin menyentuh kulit keningnya.
"Sejak kapan, Arlan?" suaraku pecah menjadi isakan yang menyayat hati. "Sejak kapan kau mulai menjadikanku bidak caturmu?"