Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit The Art Genesis Gallery memantulkan cahaya yang menyilaukan pada deretan lukisan kontemporer seharga jutaan dolar. Namun, begitu pintu kaca besar itu terbuka dan pasangan baru itu melangkah masuk, perhatian para kolektor seni dan sosialita Los Angeles seketika teralih dari kanvas-kanvas mahal itu.
Vivian Wheeler melangkah dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja mendapatkan kembali mahkotanya. Gaun backless hitamnya memeluk tubuhnya dengan presisi yang mematikan, memperlihatkan kulit punggungnya yang seputih porselen. Namun, yang membuat semua orang menahan napas adalah pria yang berada di sisinya.
Logan Enver-Valerio. Pemuda itu tampak sangat berbeda dari citra "berandal kampus" yang selama ini melekat padanya. Ia mengenakan setelan jas custom-made berwarna arang yang menonjolkan bahu bidangnya. Rambutnya disisir rapi, namun bekas luka tipis di alis kirinya tetap dibiarkan terlihat—memberikan kesan maskulin yang liar di balik tampilan formalnya.
Tangannya melingkar posesif di pinggang Vivian, jemarinya menekan lembut seolah sedang mengklaim wilayah miliknya.
"Bernapaslah, Vivian," bisik Logan tepat di telinga wanita itu, suaranya rendah dan menenangkan. "Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang, bukan seperti sedang berkencan."
Vivian tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang ia tujukan pada kamera paparazzi di kejauhan. "Aku sedang mencoba menyesuaikan diri dengan tanganmu yang terlalu rendah di pinggangku, Logan."
"Ini disebut akting, Sayang. Nikmati saja," jawab Logan dengan seringai smirk yang membuatnya tampak sepuluh kali lebih tampan.
Di mata Logan, Vivian malam ini adalah definisi dari wanita berpengalaman. Cara Vivian berjalan, cara dia menatap orang-orang dengan pandangan merendahkan namun elegan, membuat Logan yakin bahwa wanita ini telah melewati banyak hal dalam hidupnya.
Logan berpikir, wanita seperti Vivian pasti sudah mencoba berbagai hal dalam hubungan romantisnya. Dengan kecantikan dan kelas seperti itu, Vivian pasti adalah tipe wanita yang menguasai berbagai "gaya" dan tahu persis bagaimana cara membuat pria berlutut. Dia pasti sudah memberikan segalanya pada George, dan sekarang dia hanya sedang bermain-main denganku, pikir Logan dengan sedikit rasa panas di dadanya.
Sebaliknya, pikiran Vivian pun tidak jauh berbeda. Ia melirik Logan dari sudut matanya. Ia melihat bagaimana gadis-gadis muda di galeri itu menatap Logan dengan pandangan lapar. Vivian yakin, Logan adalah tipe pria yang sudah menghabiskan banyak malam dengan wanita-wanita yang menjadi kekasihnya. Kegantengannya yang berada di level "tidak masuk akal" itu pasti sudah memakan banyak korban.
Dia pasti pria yang sangat ahli di ranjang, mengingat betapa percayanya dia tadi saat membantuku memakai gaun, batin Vivian. Dia hanya bocah yang haus pengalaman, sementara aku... aku bahkan takut dia menyadari betapa amatirnya aku.
"Oh, Vivian! Senang melihatmu di sini," suara melengking seorang wanita memecah lamunan mereka.
Itu adalah Clarissa, salah satu saingan bisnis Vivian yang sangat hobi bergosip. Clarissa mendekat dengan mata yang langsung tertuju pada Logan.
"Dan siapa pria tampan ini? Aku tidak menyangka kau punya selera yang... begitu segar," sindir Clarissa dengan nada meremehkan.
Vivian tidak membiarkan keraguan muncul di wajahnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada Logan, membiarkan dadanya bersentuhan dengan lengan Logan. "Kenalkan, ini Logan Enver-Valerio. Kekasihku."
Logan mengambil alih pembicaraan dengan cara yang sangat dewasa. Ia mengulurkan tangannya pada Clarissa dengan gerakan yang sangat sopan. "Senang bertemu denganmu. Vivian banyak bercerita tentang rekan bisnisnya, tapi dia lupa menyebutkan bahwa teman-temannya sangat cantik."
Clarissa tersipu seketika. Serangan pesona Logan bekerja terlalu efektif. "Oh, kau sangat manis, Logan. Berapa lama kalian sudah bersama?"
"Cukup lama untuk menyadari bahwa aku tidak bisa berpaling darinya bahkan untuk sedetik pun," jawab Logan sambil menatap Vivian dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah hanya ada Vivian di ruangan yang luas itu.
Vivian merasa jantungnya melakukan lompatan kecil. Aktingnya luar biasa, pikirnya.
Mereka menjalankan drama itu dengan sangat baik. Di sepanjang galeri, Logan tidak pernah membiarkan Vivian sendirian. Saat Vivian berbicara dengan kolektor seni, Logan akan berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya di bahu Vivian atau sesekali membisikkan komentar lucu tentang lukisan di depan mereka yang membuat Vivian tertawa tulus.
Mereka terlihat seperti pasangan sempurna: wanita karier yang sukses dan berkelas dengan kekasih muda yang memuja dan protektif.
Suasana semakin memanas saat mereka tanpa sengaja berpapasan dengan George yang ternyata juga hadir bersama istrinya. Wajah George berubah pucat, lalu merah padam saat melihat betapa serasinya Vivian dan Logan.
George menatap Logan dengan pandangan penuh penghinaan, namun Logan hanya membalasnya dengan tatapan dingin dan datar. Logan menarik Vivian lebih dekat, mencium pelipisnya dengan lembut di depan George.
"Kau terlihat haus, Sayang. Mau ku ambilkan minuman?" tanya Logan, mengabaikan keberadaan George sepenuhnya.
"Terima kasih, Logan," jawab Vivian lembut.
Saat Logan berjalan menuju bar, George segera mendekati Vivian. "Kau benar-benar tidak punya malu, Vivian! Membawa anak ingusan ini ke acara seperti ini?"
Vivian menatap George dengan pandangan yang tenang. "Anak ingusan ini baru saja membuatku merasa lebih dihargai dalam semalam daripada yang kau lakukan dalam setahun, George. Sekarang, tolong pergi sebelum kekasihku kembali dan melakukan sesuatu yang mungkin akan kau sesali."
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh kembali melingkar di pinggang Vivian. Logan sudah kembali, membawa segelas champagne.
"Ada masalah di sini, Tuan?" tanya Logan, suaranya terdengar sangat berbahaya meski ia tetap tersenyum.
George hanya mendengus dan menarik istrinya pergi dengan terburu-buru.
Setelah acara selesai, mereka berjalan menuju parkiran. Angin malam Los Angeles yang sejuk menyentuh kulit mereka yang hangat. Vivian merasa lelah secara emosional, namun ada rasa puas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kita melakukannya dengan baik," ucap Vivian saat mereka sampai di depan mobilnya.
Logan bersandar pada pintu mobil, menatap Vivian dengan intensitas yang berbeda dari saat di dalam galeri. "Kau pikir itu hanya drama?"
Vivian terdiam. "Bukankah itu yang kita sepakati dalam kontrak?"
Logan maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. Ia tidak menyentuh Vivian lebih dari sekadar meletakkan tangannya di atas kap mobil di belakang Vivian, namun kehadirannya terasa sangat mendominasi.
"Kau wanita yang luar biasa, Vivian. Kau pikir aku bisa berakting menatapmu seperti itu jika aku tidak benar-benar merasakannya?" bisik Logan.
Pikirannya kembali pada asumsinya bahwa Vivian adalah wanita berpengalaman. Ia ingin sekali menyentuh wanita ini lebih jauh, namun ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan. Ia ingin menjaga Vivian, ia ingin menjadi pria yang berbeda bagi wanita ini.
"Kau pasti sudah sering melakukan ini pada wanita-wanita lain, kan?" tanya Vivian, suaranya sedikit bergetar. "Panggilan video, perhatian kecil, sandiwara di depan umum..."
Logan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jujur. "Percaya atau tidak, Kak... kau adalah wanita pertama yang membuatku ingin melakukan semua drama ini dengan serius. Aku mungkin berandal, aku mungkin tidak sesempurna pria matang pilihanmu dulu. Tapi aku tidak pernah berbohong soal bagaimana aku menatapmu malam ini."
Malam itu berakhir dengan Logan yang mengantarkan Vivian sampai ke depan pintu apartemennya. Tidak ada sentuhan panas yang terjadi, namun ketegangan di antara mereka justru semakin menguat karena rasa penasaran dan asumsi masing-masing.
Logan pergi dengan motornya, menyisakan Vivian yang berdiri di balik pintu, menyentuh bibirnya yang tidak sempat dicium Logan malam itu, namun ia merasa jauh lebih "penuh" daripada sebelumnya. Mereka berdua terjebak dalam pikiran masing-masing tentang pengalaman dan masa lalu, tanpa menyadari bahwa mereka berdua sebenarnya sedang memulai sesuatu yang baru dan suci di tengah-tengah dunia yang penuh kepalsuan.
gimana bisa ada gunung Argopuro ya