NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Gedung Grand Ballroom Mulia malam itu bertabur cahaya kristal yang memantul di atas lantai marmer setinggi lutut. Musik chamber mengalun tenang, mencoba menutupi aroma intrik dan ambisi yang memenuhi udara. Semua orang yang hadir di sana—para konglomerat, sosialita, dan pemburu berita—hanya memiliki satu topik di lidah mereka: kejatuhan tragis Aeryn Valerine.

Di sudut ruangan, Bianca Valerine berdiri dengan gaun merah menyala, menggandeng lengan Kaelan Dirgantara yang tampak kembali percaya diri. Mereka baru saja selesai menebar senyum kemenangan kepada kolega bisnis, yakin bahwa Aeryn saat ini sedang terbaring sekarat atau meratapi nasibnya yang hancur di sudut rumah sakit.

"Kau sudah memastikan suster itu tutup mulut?" bisik Kaelan rendah.

Bianca menyesap champagne-nya dengan anggun. "Jangan khawatir. Zat itu akan membuatnya lemas selama berhari-hari. Media sudah memegang narasi bahwa dia mencoba bunuh diri karena malu identitas aslinya terbongkar. Malam ini, Valerine Jewels adalah milik kita."

Namun, keheningan mendadak merayapi ruangan itu seperti ombak yang menarik diri sebelum tsunami. Pintu ganda ballroom terbuka lebar.

Seorang wanita melangkah masuk.

Aeryn tidak masuk dengan langkah seorang korban. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat dengan potongan minimalis yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada riasan berlebihan, hanya bibir merah bata yang tegas dan sorot mata yang sanggup membekukan api. Namun, yang membuat napas semua orang tertahan adalah apa yang melingkar di lehernya.

The Blue Seraph.

Berlian biru yang legendaris itu berkilau di bawah lampu gantung, memancarkan aura kekuasaan. Setiap langkah Aeryn adalah pernyataan perang.

Wajah Bianca memucat seketika. Gelas di tangannya hampir terlepas. "Tidak mungkin... Bagaimana dia bisa..."

Kaelan membeku, matanya terpaku pada perhiasan itu. "Itu... itu berlian yang hilang di lelang tiga tahun lalu. Bagaimana bisa dia memilikinya?"

Aeryn terus berjalan menembus kerumunan yang membelah secara otomatis. Ia berhenti tepat di depan Bianca dan Kaelan. "Kau terlihat seperti melihat hantu, Bianca. Apa kau kecewa karena aku tidak mati di tangan racun lilimu?"

"Aeryn, apa yang kau lakukan di sini?" geram Kaelan, mencoba meredam kegugupannya. "Kau seharusnya bersembunyi. Skandalmu sudah menghancurkan harga saham keluarga."

Aeryn menatap Kaelan dengan jijik. "Skandal yang kau buat dengan data palsu? Sayangnya, pasar lebih percaya pada kekuatan modal daripada gosip murahan. Aku di sini bukan sebagai Valerine, Kaelan. Aku di sini sebagai pemilik mayoritas saham yang kau jual di pasar gelap tadi pagi."

"Apa?!" Kaelan membelalak. "Pembelinya adalah perusahaan cangkang!"

"Perusahaan cangkangku," sapa Aeryn dengan senyum miring yang mematikan.

Bianca, yang merasa terpojok, berteriak untuk menarik perhatian media. "Jangan dengarkan dia! Dia hanya penipu! Wanita ini menikahi Xavier Arkananta hanya untuk menutupi statusnya sebagai anak narapidana! Ini semua hanya pernikahan kontrak untuk menyelamatkan mukanya sendiri!"

Wartawan yang sejak tadi bersiap langsung merubung. Kilatan lampu flash menyerang Aeryn tanpa ampun.

"Nyonya Arkananta, apa benar pernikahan Anda hanya strategi bisnis?"

"Apakah benar Anda menggunakan aset Arkananta secara ilegal untuk membeli saham keluarga Anda sendiri?"

"Bagaimana tanggapan Anda soal gosip pernikahan kontrak tanpa dasar cinta ini?"

Aeryn berdiri tegak di tengah kepungan mikrofon. Ia bisa merasakan adrenalinnya memuncak, namun hatinya tetap dingin. Ia baru saja akan membuka mulut untuk membantah, ketika Bianca kembali berteriak.

"Lihat! Dia bahkan tidak bisa menjawab! Xavier Arkananta tidak ada di sini bersamanya. Suami mana yang membiarkan istrinya diserang media jika ini bukan sekadar transaksi bisnis yang dingin? Tunjukkan pada kami, Aeryn! Mana bukti kalau kalian benar-benar suami istri?"

Situasi menjadi sangat terdesak. Para wartawan mulai mendesak maju, beberapa bahkan melontarkan pertanyaan yang sangat menghina tentang latar belakang ibunya. Aeryn merasa tangannya sedikit gemetar di balik lipatan gaunnya. Ia sendirian.

Tepat saat Kaelan hendak memberikan komentar penghancur terakhir, sebuah kehadiran yang berat dan mengintimidasi terasa di belakang Aeryn.

Tap.

Sebuah tangan kokoh, dengan lengan kemeja yang masih menyisakan aroma maskulin dan dingin, merangkul bahu Aeryn dengan gerakan yang sangat posesif. Tekanan tangan itu begitu mantap, seolah memberikan seluruh kekuatannya kepada Aeryn.

Xavier Arkananta berdiri di sana. Mengenakan setelan tuksedo hitam yang sempurna, wajahnya sekeras pahatan marmer. Ia tidak menatap wartawan, melainkan menatap Aeryn sejenak, memberikan anggukan kecil yang berarti: Aku di sini.

Lalu, Xavier menarik Aeryn lebih dekat, merapatkan pinggul wanita itu ke tubuhnya hingga tidak ada celah tersisa di antara mereka. Keheningan yang mengerikan menyelimuti seluruh ruangan. Para wartawan menurunkan kamera mereka karena rasa segan yang murni terhadap sang Ice King.

Suasana di Grand Ballroom Mulia seketika berubah menjadi medan perang sunyi. Ratusan pasang mata terpaku pada satu titik: Xavier Arkananta yang merangkul Aeryn Valerine dengan otoritas yang tak terbantahkan. Gemerlap lampu kristal di langit-langit seolah kalah saing dengan kilauan The Blue Seraph di leher Aeryn, namun yang paling menyilaukan malam itu adalah ketegangan yang memancar dari tubuh Xavier.

Para wartawan, yang tadinya beringas seperti kawanan serigala yang menemukan luka, kini tertahan. Mereka tahu siapa yang mereka hadapi. Mengusik Aeryn berarti mengusik Arkananta, dan mengusik Arkananta berarti mengakhiri karier mereka sendiri.

Xavier melepaskan pandangannya dari Aeryn, beralih menatap kerumunan media dengan mata yang sedingin kutub.

"Kalian ingin bicara soal latar belakang?" suara Xavier memecah keheningan, datar namun memiliki gema yang mengintimidasi. "Dunia bisnis ini dibangun di atas kecerdasan, bukan di atas pohon silsilah yang belum tentu bersih. Saya menikahi Aeryn karena jiwanya. Saya menikahi Aeryn karena visinya yang tidak dimiliki oleh siapa pun di ruangan ini."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam sanubari setiap orang.

 "Jika ada yang memiliki masalah dengan masa lalu istri saya, maka kalian memiliki masalah dengan saya. Dan saya bukan orang yang suka memaafkan gangguan."

Di sudut ruangan, Kaelan Dirgantara tampak gemetar karena amarah yang memuncak. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Melihat pria yang paling ia benci memiliki segala yang pernah ia inginkan—kekuasaan, kekayaan, dan Aeryn—membuat akal sehatnya terbakar.

"Ini semua omong kosong!" Kaelan berteriak, suaranya pecah menembus kesunyian. Ia melangkah maju, mengabaikan tarikan tangan Bianca di lengannya. "Kalian semua tertipu! Xavier, kau hanya menggunakan dia untuk menguasai Valerine Jewels! Dan kau, Aeryn, kau hanya bersembunyi di balik ketiak Arkananta!"

Xavier tidak bergeming. Ia menatap Kaelan seolah-olah pria itu hanyalah debu yang mengganggu sepatunya.

"Kau bicara soal sandiwara, Kaelan?" tanya Xavier sinis.

"Ya! Lihat mereka!" Kaelan menunjuk ke arah Aeryn dan Xavier dengan jari yang bergetar. "Tidak ada cinta di antara mereka! Tidak ada kemesraan! Mereka bahkan tidak berani saling menatap dengan tulus. Ini pernikahan kontrak yang dingin! Aeryn, akui saja! Kau membayar pria ini dengan apa? Saham? Tubuhmu?"

Wartawan kembali berbisik. Beberapa kamera mulai menyorot wajah Aeryn, mencari tanda-tanda kebohongan atau keraguan. Bianca ikut memprovokasi dari belakang Kaelan. "Benar! Xavier Arkananta yang terkenal dingin tiba-tiba jatuh cinta pada putri narapidana? Itu cerita dongeng paling buruk yang pernah aku dengar."

Aeryn merasakan dadanya sesak. Ia ingin membalas, ingin meneriaki mereka, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Ia melirik Xavier. Pria itu tampak tetap tenang, namun rahangnya mengeras.

"Kau butuh bukti kemesraan, Kaelan?" tanya Xavier, suaranya kini melunak, namun memiliki nada yang jauh lebih berbahaya.

"Tunjukkan pada kami!" tantang Kaelan, matanya menyipit. "Tunjukkan pada dunia bahwa kalian bukan sekadar mitra bisnis yang saling memanfaatkan!"

Xavier tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memutar tubuh Aeryn sepenuhnya hingga wanita itu menghadapnya. Jarak mereka menghilang. Aeryn bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Xavier, sebuah sensasi yang membuatnya pusing seketika.

"Xavier..." bisik Aeryn, matanya membelalak mencari petunjuk di balik mata gelap pria itu.

Xavier tidak melepaskan tatapannya. Tangannya yang besar bergerak perlahan, membelai pipi Aeryn dengan ibu jari. Gerakan itu begitu lembut, begitu kontras dengan suasana yang penuh kebencian di sekeliling mereka.

"Tutup matamu, Aeryn," bisik Xavier, napasnya terasa hangat di bibir Aeryn. "Biarkan aku yang menangani sisanya."

Aeryn menurut. Ia memejamkan matanya tepat saat tangan Xavier berpindah ke tengkuknya, jemarinya terselip di sela-sela rambutnya, menarik kepalanya sedikit ke atas.

Dalam satu gerakan yang sangat terencana namun terasa begitu mendesak, Xavier menundukkan kepalanya.

Bibir mereka bertemu.

Seketika, suara bising dari kamera, teriakan Kaelan, dan bisik-bisik seolah lenyap menjadi ruang hampa. Ciuman itu tidak terasa seperti akting. Itu adalah ciuman yang dalam, posesif, dan penuh dengan tuntutan yang tak terucap. Xavier tidak hanya sekadar menyentuhkan bibirnya; ia mencium Aeryn seolah-olah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya, memastikan setiap orang di ruangan itu tahu bahwa Aeryn adalah miliknya sepenuhnya.

Aeryn terkesiap di tengah ciuman itu. Jantungnya berpacu hebat, seirama dengan detak jantung Xavier yang bisa ia rasakan di dadanya yang menempel erat pada pria itu. Ini bukan detak jantung pria yang sedang bersandiwara. Ada gairah yang nyata, ada amarah yang tersalurkan, dan ada sesuatu yang lebih dalam.

Cahaya lampu flash meledak-ledak di sekeliling mereka seperti kembang api di malam tahun baru. Ratusan foto diambil dari berbagai sudut, mengabadikan momen yang akan mengubah peta kekuatan sosial di Jakarta selamanya.

Kaelan membeku. Bianca memalingkan wajahnya dengan rasa muak yang bercampur kekalahan. Mereka baru saja menyaksikan kehancuran rencana mereka sendiri secara total. Dengan ciuman itu, Xavier tidak hanya membungkam rumor; ia mengangkat Aeryn ke posisi yang tak terjangkau oleh siapa pun.

Xavier melepaskan tautan bibir mereka perlahan, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahi mereka masih bersentuhan. Napas mereka saling memburu, menyatu di udara yang terasa panas.

"Masih merasa ini palsu, Kaelan?" tanya Xavier tanpa mengalihkan pandangan dari mata Aeryn yang masih tampak linglung.

Kaelan tidak bisa menjawab. Ia berbalik dan pergi menembus kerumunan dengan langkah serampangan, diikuti oleh Bianca yang mencoba menutupi rasa malunya. Mereka telah kalah telak.

Xavier menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Aeryn dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kepuasan kemenangan dan sesuatu yang menyerupai kasih sayang yang enggan diakui. Ia kembali merangkul pinggang Aeryn, membimbingnya menuju pintu keluar.

"Pesta ini sudah berakhir," ucap Xavier pada kerumunan media yang masih terpaku. "Dan mulai malam ini, siapa pun yang berani mengganggu ketenangan Nyonya Arkananta, akan berhadapan langsung dengan saya di pengadilan."

Aeryn berjalan di samping Xavier, kaki-kakinya terasa seperti melayang di atas awan. Ia bisa merasakan tatapan kagum, iri, dan takut dari semua orang yang mereka lewati. Namun, saat mereka masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup, keheningan menyergap.

Xavier kembali ke posisi duduknya yang tegak, matanya menatap ke depan, kembali menjadi sosok yang dingin seolah ciuman panas tadi tidak pernah terjadi.

"Lakukan bagianmu besok, Aeryn," ucap Xavier datar, suaranya kembali seperti es. "Peluncuran Valerine’s Secret harus sempurna. Jangan biarkan investasi yang kuberikan malam ini terbuang percuma."

Aeryn menyentuh bibirnya yang masih terasa panas. Ia menatap profil samping wajah Xavier yang keras. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak lagi takut pada Kaelan atau ayahnya. Ia justru mulai takut pada pria di sampingnya, pria yang sanggup memberikan dunianya hanya dengan satu ciuman, namun bisa kembali menjadi orang asing dalam hitungan detik.

Ia adalah Ratu di Jakarta malam ini, namun ia masih menjadi tawanan di dalam labirin hati Xavier Arkananta.

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!