Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lanjutan
Biiiiiiiiip—__________
Suara monitor memanjang tanpa jeda.
“Tidak! Kita kehilangan!” dokter semakin panikk.
“Mulai CPR sekarang!”
Tubuh Kirana tidak bergerak.
Dingin.
Terlalu dingin untuk seseorang yang masih hidup.
Tapi itu hanya tubuhnya.
Karena di tempat lain
dia masih berdiri.
Ruang itu runtuh.
Retakan menyebar seperti kaca yang dihantam dari dalam.
Cahaya asing menekan masuk.
Memaksa.
Menyakitkan.
Dan di tengah semua itu
Kirana masih menggenggam tangan Li Wei.
Tidak lepas.
Tidak mau lepas.
Namun kali ini
sesuatu berubah.
Suara itu tidak lagi hanya terdengar.
Ia… hadir.
Retakan di udara melebar.
Bukan pecah.
Tapi terbuka.
Seperti pintu.
Dan dari sana
sesuatu keluar.
Bukan manusia.
Bukan bayangan.
Tapi bentuk yang terlalu mengerikan untuk dunia.
Sosok tinggi.
Hitam........
Siluetnya utuh.
Tanpa wajah yang jelas.
Tapi cukup untuk membuat napas Kirana berhenti.
Udara langsung membeku.
Gerakan retakan melambat.
Seolah seluruh ruang… tunduk.
Li Wei langsung menegang.
Genggamannya pada Kirana tanpa sadar menguat.
“…penjaga.”
Bisikannya hampir tidak terdengar.
Tapi cukup untuk membuat darah Kirana terasa semakin dingin.
Sosok itu tidak berjalan.
Dia hanya… ada.
Dan dalam satu detik,
jarak antara mereka hilang.
Dia sudah berdiri tepat di depan mereka.
Suara yang keluar darinya
bukan suara.
Tapi sesuatu yang masuk langsung ke kesadaran.
"Kamu melanggar berulang kali LI Wei ".
Jeda.
Lalu
Perlahan
kepala sosok itu mengarah ke Kirana.
Dan untuk pertama kalinya
Kirana merasa dirinya benar-benar “terlihat.”
Bukan sebagai manusia.
Tapi sebagai kesalahan
Tarikan datang lagi.
Lebih kuat.
Lebih brutal.
Tubuh Kirana tersentak ke belakang.
Namun kali ini
bukan hanya dia.
Li Wei juga ikut tertarik.
“Tidak!!!!!!” Li Wei langsung melangkah ke depan, menahan, “dia tidak seharusnya masuk ke sini!”
Penjaga itu tidak bergerak.
Tapi tekanan di sekitar mereka meningkat.eperti gravitasi yang dilipat berkali-kali.
Tangan Kirana mulai memudar lagi.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Seperti dihapus paksa.
Air matanya jatuh.
Tapi kali ini
bukan hanya karena takut.
Karena marah.
“…aku bukan kesalahan.”
Suaranya gemetar.
Tapi dia tidak mundur.
Penjaga itu diam.
Sepersekian detik.
Ruang langsung retak lebih keras.
Sakit menjalar ke seluruh tubuh Kirana.
Seolah keberadaannya sendiri sedang ditolak.
Li Wei menatapnya.
Panik.
Untuk pertama kalinya benar-benar kehilangan kontrol.
“Kirana, lepaskan! Ini bukan sesuatu yang bisa kita lawan langsung"
Kirana menggelengkan kepalanya sambil menatap Li wei
Perlahan.
Air matanya terus jatuh.
“…kamu juga tau kan…”
napasnya patah.
“…kalau kita lepas sekarang… kita akan kembali jadi ‘sebentar’ lagi.”
Hening.
Penjaga itu mengangkat tangannya.
Perlahan.
Dan saat itu
retakan berhenti.
Dunia… terkunci.
Cahaya tajam muncul di antara mereka.
Memotong.
Memisahkan mereka berdua.
Tangan Kirana dan Li Wei
mulai terdorong menjauh.
Bukan karena mereka melepaskan.
Tapi karena sesuatu memaksa mereka untuk tidak bisa bersentuhan.
Kirana menggertakkan gigi.
Menahan sakit.
Menahan tarikan.
Lalu
dia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya bisa dilakukan.
Dia melangkah.
Masuk.
Ke arah tekanan itu.
Untuk sesaat
semuanya berhenti.
Bahkan penjaga itu
tidak bergerak.
Kirana menatap langsung ke arah sosok itu.
Air matanya masih jatuh.
Tapi matanya
tidak lagi hanya takut.
“…kalau ini aturan kalian…”
suaranya pelan.
Tapi jelas.
“…aku juga bisa melanggarnya.”
Dan di detik itu
sesuatu berubah.
Perlawanan itu tidak hanya berasal dari Li Wei.
Tapi juga
dari Kirana.
Penjaga itu akhirnya bergerak.
Sedikit.
Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup untuk menunjukkan
ini pertama kalinya…
sesuatu di luar aturan…
membuatnya bereaksi.
Di dunia nyata
monitor tiba-tiba berbunyi lagi.
Bip
Garis lurus… bergetar.
Tunggu! Ada aktivitas!”
Di antara hidup dan hilang
dua orang yang tidak seharusnya bertemu
skarang tidak hanya bertahan.
Mereka mulai melawan.
Bersama.
Dan sesuatu
di luar sana
baru saja menyadari:
ini bukan lagi satu pelanggaran.
Ini awal dari sesuatu yang lebih besar.