Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Harta Karun Di Balik Hutan Rimba
"Semua gara-gara Ibu! Kalau saja Ibu tidak menjebak Keyla dan berniat menjualnya seperti ini, Dominic tidak akan pernah bertemu dengannya!" seru Clara memecah kesunyian kamar hotel mewah tempat Siska menginap.
Napas Clara memburu, matanya merah padam menatap ibunya yang hanya terdiam membeku di sudut ranjang.
Siska terus menggigit ujung kukunya, sebuah kebiasaan saat ia merasa terpojok. Sejak kedatangannya sore tadi, Clara tidak memberi ruang bagi Siska untuk membela diri.
Barang-barang di meja rias, botol parfum mahal, kotak bedak, hingga vas bunga sudah berserakan di lantai akibat amukan Clara.
"Sekarang, Ibu harus bertanggung jawab! Lakukan cara apa pun agar Dominic berpisah dengan Keyla! Aku tidak mau jadi istri kedua, Bu! Aku tidak sudi diduakan suamiku sendiri, apalagi oleh jala-ng kecil itu!" Clara melempar bantal kursi ke arah cermin, meluapkan seluruh emosinya.
"Dengarkan Ibu dulu, Sayang!" sahut Siska. "Awalnya Ibu melakukan ini supaya gadis itu segera pergi dari kehidupan kita. Ibu ingin dia menghilang agar tidak ada yang tahu kalau dia adalah saudara tirimu! Apa kau mau, saat kariermu berada di puncak, semua orang tahu kalau ayahmu berselingkuh sampai menghasilkan anak ha-ram? Ibu melakukan ini demi menjaga namamu!"
"Ya, tapi tidak dengan menjebaknya bersama suamiku!" teriak Clara dengan wajah memerah.
"Ibu tidak pernah menjebaknya bersama Dominic! Mana Ibu tahu kalau Dominic yang masuk ke kamar itu!" Siska bangkit, suaranya ikut meninggi karena frustrasi. "Awalnya Ibu menjual Keyla pada Mr. Hanzo! Kau tahu kan siapa dia? Pria tua itu yang seharusnya meniduri Keyla, bukan suamimu!"
Clara tertegun. Ia sangat tahu siapa Hanzo. Milyarder kejam pesaing bisnis keluarga Dominic.
Entah bagaimana ibunya bisa berhubungan dengan pria berbahaya seperti itu. Jika benar Hanzo yang seharusnya berada di sana, berarti ada kesalahan fatal yang terjadi semalam.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Siska, menatap putrinya yang nampak hancur.
"Mana kutahu!" ketus Clara, ia mengusap air matanya kasar. "Besok aku harus terbang ke Paris untuk pemotretan internasional. Aku harus meninggalkan Dominic bersama jala-ng itu selama seminggu. Oh Tuhan, rasanya aku benar-benar tidak rela, Ibu!"
Clara mendekat dan mengguncangkan bahu ibunya dengan kasar. "Pikirkan sesuatu! Gunakan otakmu yang licik itu untuk menyingkirkannya selagi aku pergi!" lanjutnya.
Siska meringis kesakitan, namun matanya justru melirik ke arah tas mewah Clara.
"Lalu, bagaimana dengan uang bulanan Ibu? Kau tahu, biaya perawatan dan arisan sosialita ku sangat mahal," ucapnya.
Kalimat itu bagai bensin yang menyiram api. Clara melepaskan cengkeramannya dan menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.
"Ibu masih memikirkan uang saat putri Ibu sedang dikhianati suaminya?! Ibu masih memikirkan arisan saat posisiku terancam?!" maki Clara.
Siska bungkam dan kembali menunduk. Jika tidak meminta uang pada Clara, ia akan meminta pada siapa lagi? Ayah Clara hanya pensiunan yang hartanya sudah ia kuras habis.
"Ibu benar-benar mata duitan!" pekik Clara.
"Kau mau kemana?" tanya Siska saat melihat Clara berjalan cepat menuju pintu.
"Pulang! Aku tidak mau suamiku berduaan terus dengan Keyla di mansion itu. Ingat pesanku, pikirkan cara agar mereka berpisah. Kalau tidak, aku tidak akan mentransfer uang sepeser pun lagi padamu! Biar Ibu jadi gembel sekalian!" ancam Clara sebelum membanting pintu hingga getarannya terasa ke seluruh ruangan.
Siska kelabakan. Wajahnya pucat pasi. "Astaga, jangan sampai! Bisa-bisa aku disingkirkan dari grup sosialita ku kalau tidak punya uang," gumamnya panik.
*
*
Diego baru saja pulang kerja dan langsung disambut kabar panas soal putra bungsunya.
"Kau tidak sedang bercanda, kan, Sayang? Dominic menikah lagi?" tanya Diego. Pria paruh baya itu masih nampak sangat gagah dengan setelan jas kerjanya, ia memeluk Elise dari belakang saat istrinya sedang menyisir rambut di depan cermin.
"Tentu saja tidak, Diego. Aku saja shock saat dia datang membawa gadis kecil itu tadi siang," ucap Elise, berbalik di pelukan suaminya dan mengusap wajah Diego yang nampak lelah. "Namanya Keyla. Aku merasa kasihan padanya, meski Clara bilang dia hanya gadis pekerja klub malam."
Diego mendengus, ia melepaskan pelukannya dan melonggarkan dasi. "Cih! Bisa-bisanya bocah itu mencari gadis pekerja klub. Apa dia kurang dipuaskan oleh istrinya sampai harus jajan sembarangan?"
Plak!
Elise memukul lengan Diego dengan cukup keras. "Jaga bicaramu! Putra kita tidak sepicik itu. Pasti ada alasan kuat di balik keputusannya. Kita tidak boleh memihak hanya pada satu orang. Kita harus melihat dari kedua sisi sebelum mengambil keputusan," ucap Elise.
Diego terkekeh, ia menarik Elise kembali ke dalam pelukannya. "Aku percaya pada penilaianmu, Sayang. Ngomong-ngomong, kau masak apa? Aku lapar sekali," ucap Diego sembari mengecup sekilas bibir istrinya.
"Makanan kesukaan penghuni rumah, tentu saja. Sekarang cepatlah mandi dan bersiap. Kita akan turun untuk makan malam bersama mereka. Aku ingin melihat bagaimana Dominic memperlakukan istri barunya di depan kita," ucap Elise sembari mendorong suaminya menjauh.
"Mandikan aku," rengek Diego dengan nada manja yang sama sekali tidak cocok dengan wajah sangarnya.
"Hei, Pak Tua! Berkaca lah, kau sudah punya tiga cucu! Malu pada Zoey!" Elise tertawa.
"Bodo amat! Cucu ya cucu, istri ya istri!" balas Diego sembari menarik paksa Elise ikut masuk ke dalam kamar mandi mereka, mengabaikan segala ketegangan yang sedang terjadi.
"Kakek! Nenek! Cepat tulun! Zoey ndak tahan lagi, cacing-cacing di dalam pelut Zoey cudah kelapalan!" teriakan melengking itu menggema tepat di depan pintu kamar, diikuti gedoran keras tangan mungil Zoey.
Diego yang baru saja hendak mengunci pintu kamar mandi langsung membeku. Wajah sangarnya mendadak pias.
"Sial! Bocah itu lagi-lagi mengganggu!" gerutu Diego sembari memijat pelipisnya.
"Kepala atas pusing memikirkan Dominic, kepala bawah pusing karena diganggu cucu sendiri!"
Elise terkekeh melihat ekspresi frustrasi suaminya. Ia dengan cekatan merapikan kembali kancing blusnya yang sempat terbuka satu.
"Rasakan itu! Sudah kubilang kunci pintu dulu sebelum kau berani meminta jatah di jam makan malam!" ucap Elise sembari menjulurkan lidah ke arah Diego.
"Ya, ya, Sayang. Tertawa lah sekarang," Diego mendesis gemas sembari menarik turunkan alisnya dengan tatapan menggoda. "Aku pastikan nanti malam kau tidak akan bisa lari ke mana pun. Tidak ada Zoey, tidak ada siapapun, hanya kita."
"Kakek! Nenek! Ayo cepat! Zoey mau makan ayam goleng!"
Gedoran pintu semakin brutal.
Diego akhirnya menyerah dan membuka pintu kamar. Di sana, Zoey sudah berkacak pinggang dengan pipi menggembung.
"Lama cekali! Kakek cedang main petak umpet ya cama nenek di dalam?" tanya Zoey curiga sembari mengendus aroma parfum neneknya.
"Kakek sedang... sedang mencari harta karun di balik hutan rimba," jawab Diego asal sambil menggendong cucunya itu.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃