Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Jejak Masa Depan dan Memori yang Hidup
Langkah kaki Ara terasa jauh lebih ringan pagi ini. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa membosankan, kini ia kenakan dengan rasa bangga yang aneh. Ada letupan kebahagiaan di dadanya; kesempatan bertemu kembali dengan kawan-kawan lama yang di tahun 2029 sudah sibuk dengan cicilan dan urusan rumah tangga masing-masing adalah kemewahan yang tak ternilai.
Namun, yang paling mencolok bukan hanya binar matanya, melainkan wajahnya. Berkat "kursus kilat" dari Martin di masa depan, Ara berhasil menyulap kosmetik lungsuran milik Ibunya menjadi riasan yang sangat natural namun berkelas. Alisnya terbingkai rapi meski tipis, dan bibirnya tampak sehat merona, sangat kontras dengan penampilan "polos-pucat" yang biasanya ia bawa ke sekolah.
Begitu ia melintasi gerbang dan memasuki koridor kelas, suasana mendadak berubah. Ara yang biasanya menunduk malu-malu, kini berjalan tegak dengan senyum lebar yang menular.
"Lho, ini beneran Ara?"
Suara melengking dari gerombolan siswi di depan kelas menghentikan langkahnya. Siska, teman sebangkunya yang paling vokal, sampai harus melepas kacamata dan mengucek matanya berkali-kali.
"Ra, kamu pakai apa? Kok... beda banget?" Siska mendekat, mengamati wajah Ara dari jarak beberapa sentimeter. "Biasanya kamu kalau nggak pucat ya mukanya penuh bedak padat putih banget. Ini kok kayak... bercahaya? Pakai skincare apa pas pingsan kemarin?"
Ara hanya terkekeh, suara tawanya terdengar jauh lebih dewasa dan tenang. "Cuma dandan sedikit, Sis. Masa mau UN muka kucel terus."
Di sudut lain, beberapa teman laki-laki yang biasanya sibuk bermain bola kertas mendadak terdiam.
Mereka saling lirik. Ara yang mereka kenal adalah gadis pendiam yang "invisible", namun pagi ini, ada aura kepercayaan diri yang membuat mereka enggan berpaling.
"Woi, Ara! Habis jatuh dari mana bisa jadi begini?" celetuk salah satu dari mereka, berusaha menutupi rasa kagumnya dengan candaan kasar. "Jangan-jangan kamu ketemu bidadari pas pingsan kemarin ya?"
"Bukan ketemu bidadari," sahut Ara sambil meletakkan tasnya di meja dengan gerakan anggun. "Cuma baru sadar kalau hidup itu terlalu singkat kalau nggak bahagia."
Sepanjang jam pelajaran pertama, perhatian teman-temannya tak kunjung surut. Mereka melihat Ara yang berbeda—bukan sekadar soal makeup yang lebih rapi, tapi soal cara ia berbicara, caranya menjawab sapaan, dan caranya menatap masa depan dengan mata yang berbinar. Di tahun 2012 ini, Ara bukan lagi sekadar pelengkap absen; ia adalah pusat gravitasi baru di kelas itu.
Di tengah keriuhan kelas dan suara kapur yang beradu dengan papan tulis, pandanganku perlahan bergeser. Mataku terpaku pada sosok pemuda yang duduk tenang di barisan ujung dekat jendela.
Rahman.
Duniaku seolah melambat saat melihatnya. Di masa depan—di lini masa yang baru saja kutinggalkan—Rahman telah berpulang lebih dulu. Penyakit merenggut nyawanya tepat setelah ia berhasil menyematkan gelar sarjana di belakang namanya.
Aku ingat betapa hancurnya perasaan kami saat mendengar kabar itu; terlebih bagiku yang saat itu tidak sedang berada di desa untuk memberikan penghormatan terakhir. Pertemuan terakhir kami hanyalah sisa ingatan dari acara reuni kelas dua tahun setelah kelulusan SMA.
Kini, melihatnya duduk di sana, menyimak penjelasan guru dengan dahi sedikit berkerut, membuat dadaku sesak luar biasa. Butiran bening mulai menggenang di sudut mataku, terasa berat dan panas. Aku harus menggigit bibir dalam-dalam agar isakku tidak pecah di tengah pelajaran Geografi ini.
"Ini benar-benar keajaiban... ataukah kutukan?" bisik batin yang bergejolak.
Saat berusia tujuh belas tahun dahulu, dunia yang kukenal hanyalah hamparan harapan yang indah. Tak pernah terlintas dalam bayangan bahwa teman sebangku atau saudara bisa pergi selamanya dalam usia muda. Namun, kedewasaan di tahun 2029 telah mengajarkanku bahwa kabar yang datang melalui ponsel sering kali bukan lagi soal undangan pesta, melainkan berita duka yang menyakitkan.
Melihat Rahman yang begitu "hidup" saat ini rasanya seperti menerima sebuah hadiah rahasia dari semesta. Aku tahu, dengan segala pengetahuan masa depanku, aku mungkin tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan takdir yang akan menjemputnya beberapa tahun lagi. Namun, aku juga sadar bahwa kehadiranku di sini memberiku satu kesempatan yang tak dimiliki orang lain: kesempatan untuk menghargai keberadaannya sekali lagi.
Aku mengusap sudut mataku dengan ujung seragam, mencoba mengalihkan pandangan sebelum Rahman menyadari aku sedang memperhatikannya. Di tahun 2012 ini, Rahman masih punya waktu, dan aku akan memastikan setiap sapaan atau senyum yang kuberikan padanya kali ini adalah bentuk penghormatan untuk persahabatan kami yang singkat namun berharga.
Bel istirahat berdentang, memecah kesunyian kelas yang sedari tadi terasa mencekam bagiku. Teman-teman yang lain segera berhamburan menuju kantin, meninggalkan keriuhan kecil di koridor. Namun, aku masih terpaku di kursiku, jemariku meremas pinggiran meja kayu yang kasar.
Rahman masih di sana, di ujung kelas. Ia sedang membereskan buku-bukunya dengan gerakan tenang yang sangat kukenali. Di masa depan, aku hanya bisa menatap fotonya di bingkai duka, namun kini, ia berdiri hanya beberapa meter dariku. Napasnya nyata, gerakannya nyata.
Aku memaksakan kakiku untuk melangkah. Setiap senti terasa berat, seolah aku sedang berjalan menembus ruang dan waktu yang padat.
"Rahman," panggilku pelan saat jarak kami tinggal dua langkah.
Ia menoleh, sedikit terkejut karena biasanya aku, Ara yang pendiam, jarang menyapanya duluan tanpa urusan penting. "Eh, Ara. Kenapa, Ra? Ada tugas yang ketinggalan catatannya?"
Mendengar suaranya yang ramah dan jernih, air mata yang tadi kutahan nyaris tumpah lagi. Aku segera berdeham, mencoba menetralkan getaran di tenggorokanku.
"Enggak, Man. Cuma... mau tanya, apa kabar? Sehat, kan?" tanyaku, terdengar bodoh di telinga sendiri karena kami baru saja duduk di kelas yang sama selama dua jam.
Rahman tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang belum terbebani oleh rasa sakit yang akan merenggutnya nanti. "Sehat, Ra. Tumben nanya kabar? Kamu sendiri yang habis pingsan tiga hari, harusnya aku yang tanya begitu."
"Aku sudah baik, Man. Sangat baik," jawabku dengan senyum paling tulus yang bisa kuberikan. "Cuma mau bilang... semangat ya belajarnya. Jaga kesehatan juga. Jangan terlalu diforsir."
Rahman mengerutkan dahi sejenak, menatapku dengan heran namun kemudian mengangguk sopan. "Iya, Ra. Makasih ya pengingatnya. Kamu juga, jangan pingsan-pingsan lagi."
Ia berpamitan untuk menyusul teman-teman yang lain ke kantin. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan rasa sesak yang perlahan mengurai menjadi kelegaan.
Aku tahu aku tidak bisa mengubah garis takdir yang sudah tertulis di tahun-tahun mendatang, tapi setidaknya di tahun 2012 ini, aku punya kesempatan untuk memberikan perhatian kecil yang dulu tidak sempat kusampaikan.
Bagi Rahman, itu mungkin hanya sapaan basa-basi dari teman sekelas. Tapi bagiku, itu adalah penebusan atas rasa kehilangan teman.
Langkah kakiku membawa raga tujuh belas tahun ini menyusuri koridor sekolah yang terasa seperti lorong waktu. Di genggamanku, sebuah ponsel batangan tanpa kamera, hasil rengekan mautku saat kenaikan kelas dua dulu.terasa begitu ringan. Tak ada aplikasi pesan instan, tak ada media sosial. Hiburan termewahku hanyalah fitur radio FM yang kabel earphone-nya seringkali kusut.
Saat jam istirahat kedua, aku mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari nomor asing. Aku mengabaikannya tanpa niat menelepon balik; pulsaku hanya cukup untuk paket SMS mingguan. Lagipula, siapa yang mencariku di tahun 2012 ini?
Aku memutuskan naik ke lantai tertinggi gedung sekolah. Mataku menjelajahi setiap sudut, melakukan ritual nostalgia yang nyata. Aku mengunjungi perpustakaan, menghirup aroma kantin yang khas, hingga berdiri lama menatap mading di depan ruang guru. Semuanya terasa begitu menyenangkan, seolah aku sedang menonton film tentang masa mudaku sendiri.
"Mbak! Mbak Ara!"
Suara yang ku kenal itu membuyarkan lamunanku. Bian berdiri di ambang pintu perpustakaan. Aku hampir lupa, di tahun-tahun ini, setiap istirahat kedua adalah jadwal rutin Bian "meminjam" namaku untuk mengambil buku.
Peraturan sekolah hanya mengizinkan satu siswa meminjam satu buku, maka namakulah yang ia gunakan sebagai tumbal.
Daftar pinjamanku di perpustakaan pasti terlihat sangat intelektual: Fisika kuantum, biologi sel, hingga otobiografi ilmuwan dunia yang judulnya saja membuat kepalaku berdenyut. Padahal, aku hanya membaca judulnya saja, sementara Bian-lah yang melahap isinya sampai habis.