Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENALU DALAM SILSILAH.
Sinar mentari pagi yang menerobos masuk ke dalam kamar tidur utama seolah tidak mampu mengusik kenyamanan Fardan. Ia masih bergeming di balik selimut, menumpu kepalanya dengan satu tangan sembari menatap Alisha yang sedang merapikan hijab di depan cermin. Sesekali, Fardan memainkan alisnya, memberikan kode nakal yang sudah sangat dipahami oleh istrinya.
"Sayang, sepertinya hari ini cuacanya terlalu bagus untuk bekerja. Bagaimana kalau kita memperpanjang waktu istirahat di sini?" goda Fardan dengan suara serak khas bangun tidur.
Alisha menoleh melalui pantulan cermin, lalu mendengus pelan sambil menahan senyum. "Jangan mulai lagi, Yang. Tadi malam kau bilang hanya sekali, tapi ternyata lebih dari tiga kali. Sekarang lihat, pinggangku rasanya mau patah. Aku harus ke kantor, banyak dokumen yang perlu kutandatangani."
Fardan langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Pinggangmu sakit? Kemarilah, biar suamimu yang hebat ini memberikan pijatan refleksi paling mutakhir. Dijamin langsung bugar."
"Aku tahu akal bulusmu. Pijatannya hanya lima menit, sisanya pasti berujung pada hal lain," protes Alisha sembari menyambar tas kerjanya. "Cepat mandi, Dewa pasti sudah menunggumu di bawah."
Fardan akhirnya menyerah dengan tawa kecil. Ia tahu Alisha benar. Dewa sudah mengirimkan pesan singkat sejak subuh tadi bahwa ada aktivitas mencurigakan yang mencoba menembus pertahanan siber Raffansyah Group. Demi keamanan, Fardan meminta Alisha berangkat dengan pengawalan ketat salah satu pengawal terbaiknya, sementara ia dan Dewa meluncur dengan mobil berbeda menuju kantor pusat.
Suasana di ruang kendali sistem Raffansyah Group tampak tegang saat Fardan tiba. Beberapa ahli IT terlihat berkeringat dingin menatap layar monitor yang berkedip merah. Hacker kali ini bukanlah amatir. Mereka berhasil melewati beberapa lapis enkripsi yang bahkan sempat diperkuat oleh Ghifari beberapa waktu lalu.
Di layar utama, muncul sebuah pesan singkat yang tertulis dengan huruf kapital yang mencolok: LEPASKAN BASTIAN JIKA INGIN PERUSAHAAN INI NORMAL KEMBALI.
Fardan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang mengerikan. "Jadi mereka pikir bisa mengancamku dengan cara murahan seperti ini?"
Tanpa banyak bicara, Fardan mengambil posisi di kursi utama kendali. Jari-jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sebagai orang yang memiliki kemampuan setara dengan Ghifari, Fardan tidak butuh waktu lama untuk memetakan jalur serangan lawan.
"Kau pikir kau jago?" gumam Fardan dingin.
Ia tidak hanya memulihkan sistem, tetapi juga meluncurkan serangan balik berupa virus "Trojan Horse" yang dirancang khusus untuk membakar perangkat keras pengirimnya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, layar monitor kembali normal dan koordinat pengirim pesan telah terkunci.
"Sudah selesai, Bos?" tanya Dewa yang berdiri di belakangnya.
"Hanya gertakan kecil. Sekarang, mari kita temui tamu-tamu kita di bawah tanah. Aku ingin tahu siapa yang memberi mereka keberanian sebesar ini," ujar Fardan sembari bangkit berdiri.
Mereka melangkah menuju ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik lift khusus. Di sana, di sebuah ruangan kedap suara dengan pencahayaan minim, Sebastian dan Guntur duduk terikat di kursi besi. Wajah Sebastian masih dipenuhi memar biru akibat hantaman Fardan semalam, namun matanya masih memancarkan kebencian.
Fardan menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan Sebastian. Suasana ruangan itu seketika menjadi mencekam, hanya terdengar suara tetesan air dari pendingin ruangan.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuh Alisha?" tanya Fardan tenang, namun nada suaranya mengandung ancaman maut.
Sebastian hanya meludah ke samping, menolak untuk membuka suara. Guntur di sebelahnya sudah gemetar ketakutan, namun ia juga masih memilih untuk bungkam karena ancaman lain yang mungkin lebih besar.
Fardan memberi isyarat pada Dewa. Dengan sigap, Dewa mendekat dan menekan luka memar di rahang Sebastian dengan ibu jarinya, membuat pria blasteran itu mengerang kesakitan hingga urat lehernya menonjol.
"Aku tidak punya banyak waktu. Jika kau tidak bicara, aku akan memastikan kau membusuk di sini tanpa pernah melihat cahaya matahari lagi," tegas Fardan.
Akhirnya, Sebastian menyerah. Napasnya tersengal-sengal saat ia mulai bicara dengan suara parau. "Kau pikir ini hanya soal dendam pribadi? Tidak, Fardan. Alisha adalah penghalang bagi keluarga kami."
"Keluarga siapa yang kau maksud?" cecar Fardan.
"Keponakan kandung istri Henry," jawab Sebastian akhirnya. "Mereka merasa tidak adil. Henry memberikan perusahaan besar di Jakarta pada Alisha, seorang anak angkat yang tidak punya hubungan darah sama sekali. Sementara mereka, keponakan sah dari istrinya, tidak diberikan apa-apa selain uang jajan bulanan."
Fardan mengernyitkan dahi. "Jadi ini soal warisan?"
"Mereka ingin Henry Corp jatuh ke tangan mereka. Caranya adalah dengan menghancurkan reputasi Alisha atau melenyapkannya sekalian. Aku hanya pion yang dijanjikan saham jika berhasil menyingkirkannya," lanjut Sebastian sembari tertawa getir.
Fardan berdiri, amarahnya kini bercampur dengan rasa jijik. Ia tidak menyangka bahwa keluarga Henry memiliki benalu yang begitu rakus hingga tega mencelakai Alisha demi harta.
"Dewa, simpan rekaman pengakuan ini. Terus awasi mereka," perintah Fardan.
Ia berjalan keluar dari ruang bawah tanah dengan pikiran yang berkecamuk. Ia harus segera memberitahu Henry tentang pengkhianatan ini. Ternyata, ancaman bagi Alisha bukan hanya datang dari musuh-musuhnya, tetapi juga dari orang-orang yang merasa memiliki hak atas kekayaan ayah angkatnya.
Fardan segera merogoh ponselnya dan menghubungi Alisha untuk memastikan istrinya baik-baik saja di kantor. Saat mendengar suara Alisha yang sedang sibuk bekerja, Fardan merasa sedikit lega. Namun, ia bersumpah dalam hati bahwa siapapun yang berani mengusik ketenangan keluarganya demi harta, mereka akan menghadapi kehancuran yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Ayang, ada apa?" tanya Alisha di seberang telepon.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Aku hanya merindukanmu. Ingat, jangan makan siang sendirian. Tunggu aku menjemputmu," ucap Fardan, menyembunyikan badai yang sedang ia siapkan untuk para musuh istrinya.
ga adab thor,alisha udah solehah harus manggil suami dgn panggilan yg beradab