Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Asap Hitam
Mobil sport perak Feng Yan melesat membelah jalanan kota Kulai dengan kecepatan yang tidak logis bagi kendaraan darat. Di kursi penumpang, Lin Diya mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, wajahnya pucat bukan karena takut kecepatan, tapi karena melihat rekaman CCTV di tablet yang masih menyala di pangkuannya.
"Tuan Feng, secara teknis dan hukum fisika... asap tidak bisa memegang benda padat," ucap Diya, mencoba menenangkan logikanya yang mulai retak. "Tapi di video ini, asap hitam itu mengangkat Kotak Pandora seolah benda itu tidak berbobot sama sekali. Apa sebenarnya isi kotak itu? Dan kenapa disimpan di gudang Mandala, bukan di pusat keamanan Feng Group?"
Feng Yan tetap fokus pada kemudi, tatapannya tajam menembus kaca depan. "Karena Mandala Group punya sistem peredam energi Yin yang paling tua di kota ini, Diya. Ayahmu dulu membangun gedung itu di atas titik nadi bumi yang netral. Aku pikir itu tempat teraman untuk menyembunyikan 'kesalahan masa lalu' keluarga Feng."
"Kesalahan masa lalu?" Diya menoleh tajam. "Jangan bilang itu senjata biologis atau semacamnya."
Feng Yan tertawa kecil, tapi tawanya terdengar getir. "Lebih buruk dari itu. Di dalam Kotak Pandora itu ada Chip Frekuensi Jiwa. Hasil eksperimen gagal kakekku yang mencoba menggabungkan teknologi digital dengan gelombang otak manusia. Jika chip itu diaktifkan, pencurinya bisa mengendalikan siapa pun yang memiliki perangkat pintar di tangannya. Bayangkan seluruh kota ini menjadi zombi digital dalam satu klik."
Diya tertegun. "Dan sekarang benda itu ada di tangan 'asap'?"
"Bukan asap biasa," sela Feng Yan sambil membanting stir masuk ke area pergudangan Mandala yang sudah dipasangi garis polisi. "Itu adalah teknik Manipulasi Bayangan. Ada seseorang di luar sana yang punya kemampuan 'Akses Langit' tapi versi gelap. Dan mereka tahu persis kapan aku sedang lengah karena drama pengumuman CEO tadi."
Mobil berhenti dengan suara decitan ban yang memilukan. Reyhan sudah menunggu di depan pintu gudang yang hancur. Pintunya tidak didobrak, tapi terlihat seperti meleleh karena panas yang luar biasa.
"Yan, kau harus lihat ini," ucap Reyhan sambil menunjuk ke arah lantai gudang.
Di tengah ruangan, ada bekas serbuk hitam yang membentuk pola lingkaran aneh. Di tengah lingkaran itu, ada sebuah kartu nama berwarna perak dengan simbol yang sangat familiar bagi Diya: Logo Firma Hukum Mandala yang dicoret tinta merah .
"Mereka tidak hanya mencuri, Tuan Feng," ucap Diya sambil berjongkok, suaranya bergetar karena marah. "Mereka menantang saya. Ini adalah simbol internal yang hanya diketahui oleh dewan direksi Mandala sebelum akuisisi. Ada pengkhianat di dalam kantorku sendiri."
Feng Yan mendekati Diya, meletakkan tangannya di bahu wanita itu. "Secara logika, pengkhianat itu adalah orang yang membocorkan jadwal pengosongan gudang pagi ini. Siapa yang memegang kunci akses cadangan, Diya?"
Diya terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat memindai daftar stafnya. "Hanya ada satu orang. Sekretaris Han. Tapi dia orang kepercayaan Feng Yao!"
"Persis," Feng Yan menyeringai mematikan. "Feng Yao hanyalah boneka yang berisik. Sekretaris Han adalah dalang yang sebenarnya. Dia bukan kabur karena takut, dia kabur karena misinya mencuri chip itu sudah berhasil."
Tiba-tiba, ponsel Diya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya sebuah koordinat lokasi dan satu kalimat pendek:
"Selamat atas pertunangannya, Nona Pengacara. Datanglah ke Pelabuhan Tua jam dua pagi jika ingin melihat calon suamimu tetap memiliki tahtanya. Bawa 'Kunci Utama' atau kota ini akan tidur selamanya."
"Kunci Utama?" Diya menatap Feng Yan dengan bingung. "Apa maksud mereka?"
Feng Yan menarik napas panjang, ia membuka kancing kerah kemejanya, menampakkan sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk silinder logam yang bercahaya keemasan. "Kunci utamanya ada padaku. Chip itu tidak bisa aktif tanpa kode manual dari liontin ini. Mereka memancing kita ke pelabuhan."
"Yan, ini jebakan murni," potong Reyhan tegas. "Aku akan siapkan pasukan penembak jitu di sana."
"Jangan, Rey," cegah Feng Yan. "Jika mereka melihat polisi, mereka akan langsung mengaktifkan protokol penghancuran chip itu secara paksa. Radiasinya bisa membunuh separuh penduduk Kulai. Aku dan Diya akan pergi berdua."
"Berdua?!" Diya protes. "Tuan Feng, saya ini pengacara, bukan agen rahasia!"
Feng Yan menatap Diya dalam-dalam, tatapan yang membuat perdebatan Diya langsung sirna. "Kau adalah pengacara yang baru saja menandatangani kontrak takdir denganku, Mutiara. Secara logika, permaisuri tidak akan membiarkan rajanya bertarung sendirian, kan?"
Diya menghela napas pasrah, tapi tangannya mengepal kuat. "Baiklah. Tapi setelah ini, saya minta kenaikan asuransi jiwa dan satu unit apartemen baru di pusat kota!"
"Sepuluh unit pun akan kuberikan," sahut Feng Yan santai sambil menarik Diya kembali ke mobil.
Malam itu, di bawah langit kota Kulai yang mulai mendung, dua orang paling berpengaruh di kota itu bergerak menuju pelabuhan tua. Mereka tidak tahu bahwa di balik asap hitam itu, ada kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar Sekretaris Han. Kotak Pandora telah terbuka, dan harapan satu-satunya kini ada di tangan seorang CEO narsis dan pengacara galaknya.